
"Pa, sini tendang bolanya Pa," kata bocah berusia tujuh tahun itu pada ayahnya.
"Okay, siap-siap ya?" Ray menendang bola dengan pelan. Tak terlalu kuat, hanya sekiranya Adam bisa menangkapnya.
Ayah dan anak itu sedang asyik bermain bola. Seperti biasa Ray akan menemani Adam bermain di akhir pekan. Keduanya kompak, sangat suka dengan permainan sepak bola.
Hari sangat terik. Peluh membasahi seluruh tubuh kedua orang itu, namun keasyikan mereka mengalahkan rasa panas yang mendera. Tak menjadikan halangan untuk tetap bermain.
"Sudah mainnya, sini! Mama buatin carrot susu kesukaan Adam," teriak Medina membawa dua gelas jus wortel dicampur susu.
"Capek Pa, Adam mau minum dulu," kata Adam dengan nafas yang memburu. Dadanya naik turun kembang kempis karena panas, juga karena lelah berlarian.
"Iya, Papa juga mau minum. Keburu kamu habiskan semua." kini Ray dan Adam mendekat ke arah Medina yang membawa baki berisi minuman.
"Aku Ma. Yang esnya banyak," rengek Adam meraih gelas yang berada di baki.
"Adam ... semua sama saja. Mama nggak kasih esnya banyak-banyak. Cuaca panas banget, Nak. Nggak boleh banyak minum es," nasehat Medina. Adam menggerutu karena mamanya yang mengaturnya.
"Hmmm ... tetap saja enak. Walau esnya cuma sedikit," kata Adam setelah meneguk habis minumannya.
"Makanya rasakan dulu, baru komplain," jawab Medina.
Adam memperhatikan gelas papanya yang masih berisi separuh. Adam meneguk salivanya. Bocah itu menginginkan kembali, belum puas hanya dengan satu gelas.
"Kenapa lihat Papa sebegitunya? Pengen?" tanya Ray menyodorkan gelas ke arah Adam.
"Makasih Pa." Adam tersenyum dan langsung mengambil gelas Ray setelah menyerahkan gelas kosongnya pada Medina. Ray menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah putranya.
"Ya ampun sayang. Kan sudah habis satu gelas tadi. Bentar lagi makan siang, nanti kamu kekenyangan sayang," tegur Medina.
"Sudahlah. Biarkan saja. Adam kan memang masih dalam masa pertumbuhan. Sebentar juga sudah lapar lagi," bela Ray.
Adam berlari mengambil bolanya kembali dan bermain lagi.
"Kamu tuh ya Mas. Belain Adam terus," kata Medina geram.
"Kan nggak ada salahnya sayang? Jika benar maka Mas bela. Sudah jangan marah dong," kata Ray memeluk istrinya.
"Ih, nggak mau ah. Mandi sana bau." Medina menghindar.
__ADS_1
"Nggak bau kok." Ray mencium dirinya sendiri.
"Sudah. Sana mandi! Atau nggak ada peluk-peluk," ancam Medina.
"Adam, Papa udahan mainnya. Ibu bos sudah marah," teriak Ray masuk ke rumah ingin mandi. Ia melambaikan tangan ke arah putranya.
"Papa ini bucin deh, disuruh Mama udahan langsung menurut," gerutu Adam.
"Adam sayang, udahan mainnya. Kamu juga harus mandi," perintah Medina.
"Kalau Adam nggak mau mandi, biar bolanya Mama berikan sama si Kei," ancam Medina.
"Ishh.. Mama kenapa sih sebut-sebut anak yang kayak lem gitu," kata Adam kesal.
"Memangnya kenapa? Keira baik kok," tanya Medina keheranan dengan sikap Adam yang tidak menyukai Keira, anak Zaskia.
"Habisnya dia ngikutin Adam kemana-mana Ma, sampai semua teman meledek Adam. Jadinya Sofia nggak mau sama Adam," jawab Adam sebal. Medina menahan tawanya mendengar cerita Adam. Jika saja Adam tahu, ada niatan untuk menjodohkan mereka ketika sudah dewasa nanti, pasti bocah itu akan marah.
"Ya sudah. Iya nggak, Mama nggak akan sebut-sebut Keira. Asal kamu mandi, trus kita makan."
Adam menurut, ia menghentikan permainannya dan mengikuti Medina masuk rumah.
"Adam, kamu yang pimpin doanya!" perintah Ray.
"Baik Pa." Adam membacakan doa sebelum makan dengan fasih. Sesuai ajaran Ray.
Ting tong ting tong.
Suara bel berbunyi menghentikan kegiatan makan mereka. Medina segera membukakan pintu untuk tamunya. Ketika kembali Medina bersama sahabatnya, Arif dan Zaskia. Ada juga putri mereka Keira yang ikut datang.
"Arif, Kia ... mari kita makan," ajak Ray.
"Iya Nak, mari makan sama-sama," ajak Oma Lidya.
"Kami sudah makan Ray. Kami tunggu saja di depan."
"Terimakasih Oma, kami sudah makan di rumah tadi. Mungkin di lain waktu," kata Arif tersenyum.
Disamping Arif ada seorang gadis kecil yang imut menggenggam jemari sang ayah. Gadis kecil itu menatap Adam intens.
__ADS_1
"Papa, Kei mau main sama kak Adam," kata Keira meminta persetujuan ayahnya.
"Adam lagi makan Kei," jawab Arif. Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Adam, nanti kalau kamu sudah makan main sama Kei ya?" pinta Zaskia setelah melihat anaknya yang ngambek. Adam mengangguk malas dan menghabiskan makannya. Medina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap dingin anaknya.
"Kak Adam, kenapa sih nggak suka sama Kei?" tanya Keira sedih setelah mereka bermain di kamar Adam.
"Kamu kan cewek, jangan ngejar-ngejar aku dong. Di sekolah menempel di rumah juga menempel. Adam risih tahu nggak?" kata Adam ketus. Keira yang mendengar perkataan Adam menjadi sedih dan menangis.
"Hei, diam dong? Nanti dikira aku yang membuat kamu menangis." Adam kecil takut kena marah. Keira semakin menangis tersedu-sedu.
"Lho kok menangis? Sudah Keira sayang. Maafin kakak Adam ya?" Medina datang memeluk erat gadis kecil itu. Gadis kecil itu mengangguk. Medina memelototkan mata ke arah Adam.
"Dasar drama queen," kata Adam cuek.
Medina membawa Keira ke ayah ibunya ketika Ray membukakan pintu untuk tamu yang baru datang. Ray terkejut, namun sebisa mungkin ia bersikap ramah pada orang tersebut.
"Mari Om, silakan masuk." Ray mempersilakan dengan sopan. Ilham mengikuti langkah Ray menuju ruang tamu. Arif dan Kia yang melihat ada tamu penting segera pamit pulang.
"Ray, kami pulang dulu ya? Kasihan Keira. Mungkin dia ngantuk," kata Arif membuat alasan tak ingin mengganggu privasi mereka . Gadis kecil itu menyerukan wajahnya di leher ibunya.
"Okay lah bro.. Hati-hati ya?" kata Ray mengantarkan Arif dan Kia sampai depan pintu. Selesai mengantar Arif, Ray kembali menemui Ilham.
"Maaf Om, ada perlu apa Om kemari?Ada yang bisa Ray bantu?" tanya Ray sopan.
"Rika sakit, dia tak henti-henti mencari Adam. Kedatangan Om kemari ingin menjemput Adam. Untuk tinggal di rumah kami sementara," kata Ilham to the point.
"Ta ...."
"Apa? Maaf saya tak mengizinkan anak saya Om bawa pergi," potong Medina yang baru saja dari dapur dengan tegas.
"Me, Om mohon. Cuman Adam yang bisa membuat Rika pulih. Hanya Adam yang bisa membuat Rika membaik. Jangan egois Me! Rika membutuhkan Adam saat ini." Ilham memohon.
"Tidak Om, kalian bisa menemuinya di sini tanpa harus membawanya pulang ke rumah kalian," kekeh Medina.
"Om mohon sama kamu, sekali ini ... saja," kata Ilham menghiba. Membuat Medina akhirnya tak tega.
"Baiklah Om, kami yang akan datang mengantar Adam menjenguk Tante. Tapi saya tidak mengizinkan Om membawa Adam,"
__ADS_1
kata Medina akhirnya membuat keputusan.