
"Tidur di kamar Mas saja, Ra. Kamar atas belum dibersihkan. Kan lama tidak digunakan. Kamu jangan takut. Mas nggak akan melakukan apa pun. Mas janji tidak akan mengganggu kamu," ucap Adam menghentikan langkah Haura yang menapak di anak tangga pertama. Haura menarik senyum di bibirnya dengan terpaksa.
"Baiklah, Rara istirahat Mas." Haura memutar badannya dan akan masuk ke kamar Adam.
"Oh iya, ini kerudung Rara. Rara ambil kembali," ucap gadis itu berbalik dan menyaut jilbab yang tadi dipeluk Adam. Adam melongo dibuatnya.
Setelah Haura menutup pintu kamarnya, Adam duduk termangu seorang diri. Menatap mi instan dalam mangkok yang baru saja ia buat. Adam tertawa miris, bagaimana mungkin istrinya mau makan makanan yang dibuat orang yang telah menyakitinya. Diletakkannya mi itu diatas meja dan Adam menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Ia tertawa dan menangis bersamaan, layaknya orang yang sudah kehilangan akal sehat.
Wanita itu kini telah kembali, bukan berarti masalah telah usai. Semua baru dimulai. Perjuangannya mungkin masih panjang untuk mendapatkan maaf yang tulus dari Haura. Meski tak mudah, Adam takkan menyerah. Ia harus mendapatkan maaf dari wanita itu.
Adam mengingat semua dosa dan kesalahan yang ia buat. Kini hatinya merasa sangat sedih. "Ya Allah seberapa buruk diriku di masa lalu. Hidup dalam gelimang dosa. Bermandikan lumpur hina. Sungguh aku tak pantas mendapatkan semua ini. Ampuni aku Ya Allah. Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang. Setelah apa yang telah aku lakukan, limpahan kasih sayang dan karunia-Mu masih selalu ada untukku."
"Aku menyesal Ya Allah ... aku bertaubat. Ampuni aku. Hamba-Mu yang hina ini. Jadikan aku manusia baru yang lebih baik. Bimbinglah aku. Jadikan aku suami dan imam yang baik. Bantu aku untuk berubah. Bantu aku untuk menghapus luka dihatinya dan menggantinya dengan hari-hari yang bahagia. Aamiinn," doa Adam dalam hati.
Ia bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang lebih bertanggung jawab. Ia harus menebus dosanya pada Haura. Adam ingin menyembuhkan goresan-goresan yang ia torehkan di hati Haura. Menghapus perih pedih yang pernah tercipta karenanya.
Tiba-tiba Adam ingat pada Ray. Ia harus menelepon papanya. Orang paling berjasa dalam hidupnya. Entah apa yang akan terjadi padanya jika tak ada Ray. Dengan segera ia menekan nomor telepon Ray. Banyak hal yang ingin ia ucapkan pada ayahnya.
"Assalamualaikum," jawab Ray dari seberang sana.
"Waalaikumsalam Pa."
"Ada apa, Dam?"
"Bagaimana kabar Papa dan Mama?"
"Kami baik-baik saja, Nak. Kamu baik juga kan? Haura sudah sampai di rumah?" tanya Ray berbasa-basi dengan nada lembut. Tak ada amarah seperti sebulan yang lalu. Tak ada nada kasar seperti waktu itu. Ray yakin menantunya sudah sampai rumah. Apalagi melihat Adam yang sudah lama tak menghubunginya tiba-tiba menelepon.
__ADS_1
"I-iya."
"Ehem, Papa titip Haura. Jaga dia! Perlakukan dengan baik."
"Iya Pa, baik."
"Jika Papa sampai mendengar kamu menyakitinya walau seujung rambut pun. Jangan harap kamu bisa melihat wajahnya lagi. Kalau hal itu terjadi, Papa akan benar-benar membawa dia pergi darimu sejauh-jauhnya."
"Iya, Pa. Adam janji tidak akan pernah menyakitinya. Adam akan selalu membuatnya bahagia."
"Bagus. Ya sudah Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa."
"Eh, tunggu Pa."
"Iya, apa lagi?"
"Adam minta maaf karena selalu membuat masalah dan menyusahkan Papa. Maafkan Adam yang belum bisa menjadi anak yang berbakti. Dan terima kasih karena Papa selalu ada untuk Adam. Terima kasih sudah menjaga Haura selama ini."
"Papa terima ucapan maaf dan terima kasih kamu asal ... mulai sekarang jadilah lelaki yang baik dan bertanggung jawab."
"Baik Pa. Terima kasih. Kalau ada waktu luang, mari kita minum kopi sama-sama."
"Baik, tak masalah. Ya sudah, perlakukan istrimu dengan baik. Dan sabar, Dam. Ingat kejiwaan Haura masih sangat rapuh. Jaga dia! Jangan sampai Papa benar-benar memisahkan kalian."
"Iya Pa. Adam akan lakukan yang terbaik."
"Bagus. Ini baru anak Papa."
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Adam bernafas lega, seolah batu besar yang berada di pundaknya kini telah menghilang.
"Terima kasih Pa. Terima kasih untuk segalanya. Walau Papa bukan papa kandung Adam. Papa selalu memberikan yang terbaik. Kini Adam tahu maksud ucapan Mama. Adam paham bagaimana bisa Mama dan Mikha sangat menyayangi dan menghormati Papa. Setelah apa yang terjadi. Bukan hanya sekali aku membuat kesalahan, tapi berkali-kali. Papa selalu memaafkanku. Selalu menyayangiku. Tuan Sempurna, semoga Adam bisa jadi sepertimu."
Adam merebahkan dirinya di sofa. Mengabaikan mi instan yang kini sudah mengembang tiga kali lipat dari ukuran semula. Dengan melipat tangan di depan dada ia menatap ke arah langit-langit dan merenung.
Adam memikirkan bagaimana caranya ia meminta maaf kepada Haura dengan cara yang baik. Ia sungguh bingung, rasanya akan terlihat tidak tulus jika ia hanya mengajaknya makan malam atau memberikan sesuatu.
"Arggghhh, aku tak tahu apa yang akan terjadi esok. Biarlah! Kepalaku terlalu pusing untuk memikirkannya." Adam melirik ke arah pintu kamarnya dan menatap tanpa berkedip. Rasanya ingin ia masuk dan memeluk istrinya erat-erat. Mengucapkan kata maaf dan memohon ampunan. Namun Adam ingat, ia harus bersabar. Ia tak ingin Haura ketakutan dan meninggalkan dirinya lagi. Ia memilih tidur di sofa itu, mengabaikan rasa rindu yang menyiksa batinnya. Bukan nafsu, tapi dengan melihat senyumnya saja. Rasanya hatinya dingin dan sejuk, seolah tersiram air es.
***
"Mas, bangun!" Adam mengerjapkan matanya mendengar suara lembut itu kembali menyapanya.
"Rara sudah bilang, jangan tidur di sini kan? Kenapa masih dilakukan?" ucap Haura dengan cerewet, seolah tak pernah terjadi apa pun.
"Maaf." Adam yang baru kembali kesadarannya segera duduk. Matanya tak henti memandang istrinya yang terlihat cantik.
"Sana mandi, Mas. Rara akan menyiapkan sarapan untuk kita." Adam menganggukkan kepala beberapa kali dan bangkit menuju ke kamar mandi yang ada dikamarnya.
"Jangan lupa bercukur!" perintah Haura dengan ragu. Entah Adam mendengarnya atau tidak.
Adam masuk ke dalam kamar mandi, ia menatap wajahnya sendiri yang terlihat sangat kumal. Sangat tak terawat dan jambang tak beraturan memenuhi wajah dan dagunya. Membuat Adam terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Adam menertawakan dirinya sendiri.
Belum sempat Adam menutup pintu, Haura masuk ke dalam kamar mandi. Ditatapnya mata lelaki yang berkaca-kaca itu. Ia mendekati Adam. Diraihnya cream untuk bercukur. Ia memijit tube cream perlahan hingga isinya keluar. Di oleskannya di dagu dan sekitar bibir Adam. Dengan cekatan, ia mengambil pisau cukur. Tanpa ragu, wanita itu mencukur jambang dan kumis suaminya. Adam hanya bisa meneteskan air mata. Betapa kasihannya dirinya. Betapa mengenaskannya kehidupannya tanpa Haura.
__ADS_1