
"Ra, lalu bagaimana keputusanmu?" tanya Elsa setelah mengobati luka di tubuh sahabatnya itu.
"...." Wanita itu membisu, hanya menggelengkan kepalanya lemah. Sesekali bulir bening masih mengalir di sudut matanya. Terkadang, tubuh wanita itu bergetar hebat mengingat kejadian buruk yang terjadi tadi malam. Begitu membekas di ingatannya, meninggalkan luka dalam bagi Haura. Yang entah kapan akan membaik seperti semula.
"Ra, dengarkan aku! Kamu sebaiknya pulang. Katakan pada Paman Ibrahim bahwa kamu ingin berpisah dengan suamimu. Katakan saja sejujurnya apa yang terjadi."
Haura yang menangis seketika menghentikan tangisnya dan menatap Elsa tajam.
"Tidak bisa El. Aku tak ingin melukai hati ayah. Aku tak sanggup untuk menyakiti hatinya. Menghancurkan harapan ayah yang menginginkan Rara hidup bahagia dengan lelaki itu," ucap Haura enggan menyebut nama suaminya.
"Tapi Ra ...." protes Elsa, karena sangat kasihan dengan sahabatnya itu.
"El, maafkan aku. Tapi bisakah kita membahas ini nanti. Hem? Aku ingin menjernihkan pikiranku dulu." Gadis itu menangis lagi. Membuat Elsa bingung dan semakin kasihan terhadap Haura.
"Hhhhh ...." Elsa mengambil nafas panjang, rasanya dadanya sesak melihat kondisi sahabat karibnya tak kunjung membaik. Hatinya ikut teriris melihat Haura yang bergitu terpuruk.
"Ya sudah kamu istirahat dahulu. Maaf ya Ra? Siang ini aku ada pemotretan. Aku harus pergi. Jangan kemana-mana! Ingat! Jangan kemana-mana sampai aku kembali. Urusan makanan, nanti biar aku orderkan untukmu," omel Elsa layaknya seorang ibu bagi Haura. Elsa terpaksa harus meninggalkan Haura seorang diri di apartemennya. Karena ia harus profesional. Pekerjaannya sebagai model sudah menanti.
Senyuman Haura terbit menghiasi wajah kuyunya mendengar omelan Elsa yang seperti biasanya. Membuat Elsa sedikit lega. Berharap sahabatnya itu segera kembali seperti sedia kala.
"Ra, seberat apa pun masalah kamu. Ingat satu hal, ada aku 'Elsa' untukmu. Aku yakin, setelah ini akan ada kebahagiaan untukmu." Elsa mendekap erat kepala Haura dan meletakkannya di dadanya.
"Terima kasih El, terima kasih," ucap Haura terharu. Hatinya menghangat oleh kasih sayang yang Elsa berikan.
Haura bagi Elsa adalah segalanya. Begitu juga sebaliknya. Terlalu rapat hubungan persahabatan mereka. Terlalu erat dan dalam kasih sayang di antara keduanya. Sehingga jika salah satu bahagia, maka yang lain akan ikut bahagia. Dan jika salah satunya terluka, maka keduanya akan berduka.
***
Seharian penuh, lelaki itu tak dapat memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Rasa bersalah kini memenuhi hatinya. Ia begitu gundah. Dan Adam menjadi ragu, benarkah Haura mengkhianatinya dengan Alvian?
__ADS_1
Ardi sampai bingung dan geram dengan Adam. Apa pun yang ia katakan, tak sedikit pun Adam dapat mencernanya. Alhasil, Ardi harus berkali-kali menjelaskan kepada Adam.
Adam memutuskan untuk bertemu Aldo sekali lagi. Untuk memastikan segalanya. Namun, sebelum itu ia akan pulang ke rumah pada jam makan siang karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Adam memacu kendaraannya dengan tak sabar. Rasanya ia ingin segera melihat wajah istrinya. Dua puluh menit, akhirnya ia sampai di rumah. Namun, hatinya hampa ketika istrinya tak ada di rumah. Apalagi ketika koper wanita itu sudah tak ada di tempatnya. Adam lemas, menerima kenyataan bahwa istrinya sudah meninggalkannya. Lama lelaki itu duduk di lantai merutuki semua perbuatannya. Usahanya untuk mendapatkan hati dan memperbaiki hubungan mereka selama ini, hancur hanya dalam waktu semalam.
Dering ponsel Adam, menyadarkan Adam dari rasa bersalah dan menyesal. Tertera nama Aldo di layar ponsel, membuat ia mengingat janjinya dengan Aldo untuk bertemu. Lelaki itu penasaran dengan kebenarannya. Ia mengangkat panggilan dari Aldo dan memacu mobilnya ke tempat yang sudah disepakati.
"Sini Bro," panggil Aldo tatkala Adam sudah sampai di tempat yang disepakati. Ia melambaikan tangan ke arah Adam.
Adam yang melihat sahabatnya sudah datang, mempercepat langkahnya. Seolah tak sabar.
Dengan nafas memburu dan wajah memerah, Adam duduk di hadapan sahabatnya itu. Lelaki itu begitu kacau dan kusut, seolah tak tidur dalam beberapa hari.
"Dam, kenapa? Lo kok kusut begini?" tanya Aldo to the point.
"Do, gue mau tanya. Tapi jawab yang jujur ya?" tanya Adam dengan wajah serius.
"Do, apakah kamu benar-benar melihat istriku di pantai bersama lelaki itu? Kamu nggak bohong kan, Do?" tanya Adam tak percaya.
"Sumpah Dam. Foto-foto itu real, bukan hasil editan. Kalau lo nggak percaya, bawa saja ke ahlinya. Untuk memastikan kebenarannya."
"Hahhhhh ...." Adam mengacak rambutnya frustasi. Entah ucapan siapa yang harus ia percayai.
"Kenapa Dam? Lo nggak melakukan hal yang aneh-aneh terhadap istrimu, 'kan?" tanya Aldo mulai curiga.
"Justru itu Do, aku melakukan kesalahan fatal. Dan sekarang, Haura pergi dari rumah," sesal Adam.
"Oh iya, apakah ketika kamu mengambil foto ini, ada orang lain di tempat itu selain mereka berdua?" Adam mengingat perkataan Haura yang mengatakan bahwa ia menemani Hana dan Fauzan bermain.
__ADS_1
"Tidak, hanya mereka berdua."
"Eh ... ada dua orang anak kecil bermain di belakang mereka berdua. Itu tidak termasuk kan? Kenapa sih Dam? Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?"
"Ap-apa? Jadi benar, ada dua orang anak kecil yang berada di tempat itu?" tanya Adam memastikan lagi.
"Iya, ada. Satu laki-laki kira-kira berusia 12 tahun. Dan satu lagi perempuan yang kira-kira berusia 16 tahun."
"Arggggghhhhh ... kenapa kamu tak memberitahukan aku tentang anak-anak itu? Mereka adalah adik istriku. Ternyata semua ucapan istriku benar, dia tak pernah mengkhianatiku. Apa yang harus aku lakukan?" Adam menjambak rambutnya hingga kusut. Kini perasaaan bersalah memenuhi rongga dadanya. Ia mengingat kembali perbuatan bejatnya, kali ini ia yakin istrinya tak akan memaafkannya.
"Cari istrimu! Minta maaflah, Bro!"
"Cari kemana, Do? Wanita itu bahkan hanya tahu rumah kami dan rumah mama."
"Mungkin dia pulang ke kampungnya? Coba kamu cari ke sana!" ucap Aldo.
"Apakah kamu pikir, aku masih ada muka untuk bertemu dengan mertuaku? Setelah apa yang aku lakukan pada putrinya?" tanya Adam dengan nada putus asa.
"Coba kamu cari Alvian atau siapa namanya sahabatnya itu. Siapa tahu dia mengetahui keberadaan istrimu."
"Benar, aku harus menemui Vian. Mungkin saja pria itu tahu di mana Haura."
"Ya sudah, Do. Aku harus pergi." Adam meraih kunci mobil yang tergeletak di meja mereka dan meninggalkan Aldo yang menatap punggung sahabatnya dengan menggelengkan kepala.
"Dam ... Dam ... Di umurmu yang matang ini, masih saja kamu selabil ini," gumam pria itu seorang diri.
Assalamualaikum readers,
Jika saya selaku author banyak salah mohon maaf ya. Maafkan salah silap kata yang terucap. Maaf jika kadang saya nge-gas ketika menanggapi komen negatif kalian.
__ADS_1
Semoga puasa kita diberi kelancaran. Emmm berhubung bulan puasa saya akan lebih jarang update mungkin. Takut makruh atau bagaimana.
Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏🙏