Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kemana lagi Harus Mencarimu?


__ADS_3

"Ya sudah cepat katakan!" ucap Elsa dingin. Ia enggan menatap wajah lelaki yang sekarang tengah berdiri di hadapannya itu. Wanita itu sangat membenci lelaki yang sudah membuat hidup sahabatnya begitu menderita.


"El, kamu tahu kan dimana Rara berada?" tanya Adam.


"Kenapa kamu harus mencarinya? Belum puaskah kamu menyakitinya? Apakah Haura harus mati dulu, agar kamu berhenti menghancurkan sahabatku itu?" tanya Elsa penuh emosi.


"Kalau pun aku tahu di mana Rara berada, aku tak sudi memberitahumu. Dan apa kamu masih punya muka untuk menemui Haura?"


"Aku menyesal El. Mendengar kamu yang begitu membenciku, aku yakin kamu mengetahui keberadaan Rara. Please kasih tahu aku El. Aku ingin meminta maaf dan menebus dosaku," ucap Adam memohon.


"Kalau kamu benar-benar menyesal, kamu ceraikan Haura. Tinggalkan dia, jangan ganggu Rara lagi. Biar dia hidup bahagia." Ucapan Elsa yang tak berbeda jauh dari apa yang Papanya katakan membuat Adam sakit hati. Sedalam itukah ia sudah menorehkan luka di hati istrinya?


"Sudah! Jangan temui aku lagi! Lebih baik kamu kembali kepada kekasih tercintamu itu. Isabella," sindir Elsa meninggalkan Adam seorang diri.


"Kemana lagi aku harus mencarimu, Ra? Maafkan aku Ra. Maaf ...," gumam Adam seorang diri.


***


Adam berniat kembali ke rumah Ray dan Medina untuk mencari informasi tentang Haura. Jika cara baik-baik tak berhasil, ia ingin mengikuti kedua orang tuanya diam-diam. Karena Adam yakin, orang tuanya tahu keberadaan istrinya.


Ia sengaja menyewa mobil untuk mengelabuhi orang tuanya. Seharian penuh pria itu mengintai dari dekat rumah orang tuanya. Namun, rumah itu begitu senyap. Adam sangat tidak sabar menunggu, hingga akhirnya Mikha bersama Bik Imah pulang entah dari mana. Adam segera turun dari mobil dan mengintai dari pagar. Berharap dapat menangkap pembicaraan penting antara Mikha dan Bik Imah.


"Bik, besok pagi suruh Pak Anto bersihkan kamar tamu yang ada di dekat kamar Mikha ya? Catnya diganti dengan warna biru saja. Biar fresh. Perkakas dalam kamar beli baru semua. Dan ingat pesan Mama tadi, Bik! Singkirkan semua foto Kak Adam. Masukkan ke kamar Kak Adam dan kunci. Jangan sampai lupa ya Bik. Besok lusa adalah hari kepulangan Kak Rara. Mikha mau semuanya sempurna," ucap Mikha dengan panjang lebar.


"I-iya Non," jawab Bik Imah yang bahkan entah bisa tidak mengingat kata-kata yang Mikha ucapkan karena terlalu panjang.


Adam yang mendengarkan percakapan mereka diam-diam merasa sakit hati. Tak menyangka sejauh itu orang tuanya ingin memisahkannya dengan Haura. Sampai-sampai harus menyingkirkan semua benda yang berkaitan dengannya. Namun Adam tahu, ia pantas untuk dibenci. Semua ini terjadi karena ulahnya sendiri. Karena perbuatan bejat yang sudah ia lakukan.


"Ya sudah, Bibik istirahat. Besok pagi-pagi sekali kita ke rumah sakit lagi. Biar Papa dan Mama gantian pulang istirahat."


"Baik Non. Kalau sudah tak ada lagi yang perlu Bibik kerjakan, Bibik pamit."


"Iya Bik. Selamat malam."


"Selamat malam Non." Mikha masuk ke rumah dan Bik Imah masuk ke paviliun tempat ia dan keluarganya tinggal.


Adam yang mendengarkan sedari tadi, bertanya-tanya. Siapa yang sakit? Rumah sakit mana? Adam berjanji dalam hati untuk kembali besok pagi, dan mengikuti Mikha yang akan pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Karena hari sudah larut malam dan ia sendiri juga sudah penat, Adam memutuskan mengakhiri pengintaiannya. Adam harus pulang dan beristirahat, ia berniat untuk kembali pagi-pagi buta. Agar ia tak kehilangan jejak Mikha. Apa pun caranya, kali ini ia harus berhasil menemukan Hauranya. Sebenarnya bisa saja ia mencari ke satu per satu rumah sakit yang ada di kota itu. Namun bukan tidak mungkin Ray sudah mengatur segalanya agar ia tak dapat menemukan istrinya. Ray bisa saja meminta pihak rumah sakit menjaga privasi keluarga mereka.


***


Saat ini Adam tengah mengikuti sebuah mobil Avanza yang tengah melaju di depannya. Adam sangat fokus, karena tak ingin kehilangan jejak. Semua pekerjaan kantornya ia serahkan pada Ardi. Karena misi ini lebih penting daripada segalanya.


Setelah tiga puluh menit melaju, mobil yang diikutinya masuk ke dalam sebuah rumah sakit di kota itu. Adam semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Namun pemikirannya buyar ketika ia teringat kembali pada Mikha. Ia tak boleh kehilangan jejak Mikha.


Setelah memarkirkan mobil, ia mengendap mengikuti langkah adiknya. Dan setelah berjalan selama kurang lebih lima menit, akhirnya Mikha berhenti di depan sebuah kamar rawat. Dan masuk ke dalam. Adam mengendap dan mengintip melalui jendela. Mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kakak ... gimana? Sudah enakan?" tanya Mikha penuh perhatian.


"Iya sayang Kakak sudah baik-baik saja kok. Kamu nggak capek harus bolak-balik ke rumah sakit?" tanya Haura merasa sudah sangat merepotkan keluarga suaminya.


"Nggak kok. Mikha seneng bisa menemani Kak Rara di sini. Lihat Mikha belikan buah untuk Kakak."


"Iya, makasih ya Mikha."


"Hanya terima kasih saja?" ucap gadis itu mengernyit tak suka.


"Terus, Kak Rara harus apa dong?" tanya Haura kebingungan karena Mikha terlihat kecewa.


"Kasih hadiah pelukan dong Kak!"Mikha menghambur memeluk kakak iparnya.


"Kakak bau. Kakak belum bisa mandi sayang."


"Nggak kok. Kakak nggak bau. Hehe." Mikha mengeratkan pelukannya. Haura bahagia dengan kehangatan yang di berikan oleh keluarga itu.


"Pa, Ma ... lebih baik Papa dan Mama pulang deh. Kalian pasti capek kan? Biar Mikha yang jaga Kak Rara. Baru nanti malam, Papa dan Mama yang gantian jaga Kak Rara."


"Pa, Ma ... benar apa yang Mikha katakan. Lebih baik kalian pulang. Rara juga sudah tidak apa-apa, Rara bisa kok di sini sendirian. Maaf ya Ma, Pa. Rara merepotkan kalian terus."


"Apa yang kamu katakan, Nak? Kamu tidak pernah merepotkan kami. Dan kami keluarga kamu, bukan orang asing."


"Makasih ya Ma, Pa." Ketiganya berpelukan haru. Setiap musibah yang terjadi bukan hanya menimbulkan luka atau kesedihan saja. Namun, di baliknya banyak hikmah yang terkandung. Dan terkadang terasa sangat indah.


"Ya sudah. Papa dan Mama pulang dulu. Nanti sore, Papa kembali ke sini lagi." Haura menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Mikha! Jaga Kakak baik-baik. Awas saja kalau kamu nakal! Papa potong uang jajan kamu sebulan, eh tiga bulan," ancam Ray.


"Iya Papa. Akan Mikha pastikan Papa tidak akan pernah memotong uang jajan Mikha. Bahkan, Papa akan menambah nominalnya," gurau gadis itu.


"Dasar anak nakal!" Ray mengacak rambut putrinya dengan gemas.


"Papa ... lihat! Rambut Mikha jadi berantakan nih!" protes gadis itu dengan bersungut-sungut. Ia memonyongkan mulutnya pertanda ia kesal akibat ulah papa tersayangnya.


"Iya maafkan Papa my princess. Sudah ah, kalau berdebat sama kamu, emang nggak akan ada habisnya. Kalau begitu Mama dan Papa dulu."


"Yuk pulang Ma. Mumpung Mikha nggak ada di rumah kita bisa ... aw ...," erang Ray yang menerima hadiah cubitan dari Medina.


"Papa, malu Pa. Ingat umur."


Semua yang ada di ruangan itu tertawa.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author tepat janji buat kasih double up


Hampir saja lupa, mau up. Author ngga ingat ini hari minggu, happy weekend all. Walau banyak yang di rumah aja kan ya? 😂😂😂


Oh iya, thanks banget udah vote banyak-banyak. Ada yg vote hampir seribu poin minggu ini. Love you all.

__ADS_1


Sore nanti up 1 eps lagi sekitar jam 4-6 sore seperti biasa.


Nggak usah panjang kali lebar deh ah (udah terlanjur sih 😂) Semoga readers suka 😘😘😘


__ADS_2