
Author berusaha untuk menggunakan kata-kata yang halus. Tapi tetap saja kan? Sedikit menyinggung area dewasa. Disarankan untuk membaca setelah berbuka puasa. Bagi yang nekat, Author tidak tanggung jawab ya 😂😂. Besok update setelah Magrib saja, dih author takut dosa. Tapi gimana ya mau ngga lanjut sayang.
happy reading
.
.
.
.
.
.
.
Tapi Mas tidak tahu bagaimana caranya Ra. Perlukah kita ke dokter?"
"Tidak! Mas Adam yang sudah membuat aku begini. Aku ingin Mas juga yang akan menjadi obatnya," ucap wanita itu dengan mantap. Adam jadi bingung di buatnya. Lama ia merenung, tak tahu harus bagaimana.
"Mari tidur!" ajak Haura dengan wajah yang memerah. Adam masih mematung belum bergerak dari tempatnya berdiri. Masih memikirkan perkataan Haura yang sepenuhnya belum ia pahami. Apakah ini pertanda lampu hijau atau bagaimana.
"Mas tak ingin tidur? Berapa lama akan berdiri di situ?"
"Ah, eh iya."
Adam mengembalikan selimutnya ke dalam almari dan segera naik ke atas ranjang. Ia berbaring di samping istrinya yang sudah terlebih dahulu menutup mata, namun Adam yakin Haura belum tidur.
Semula Adam tidur telentang namun karena tak nyaman ia mengubah posisinya menjadi menyamping. Membelakangi istrinya. Walaupun tekadnya kuat untuk tak menginginkan hal lebih, ia takut khilaf. Ia tetaplah laki-laki biasa yang normal. Ia mencoba untuk tidak menatap istrinya, mengenyahkan semua hawa nafsu dalam dirinya. Adam takut ia akan merusak segalanya. Ia takut kehilangan jarum pengendalian diri.
Sedangkan Haura yang pura-pura sudah tidur, sama gelisahnya. Wanita itu bimbang. Dia ingin sembuh, tapi takut. Haura sendiri jadi bingung dengan hatinya. Bukan sekali ini saja ia akan tidur bersama lelaki itu. Bahkan, seumur hidupnya mungkin jika Tuhan menghendaki mereka terus bersama. Dan setiap hari pula, ia harus melayani suaminya. Lalu haruskah ia menghindar terus? Bagaimanapun juga 'itu' adalah kewajibannya. Mau tak mau, sudi tak sudi harus ia jalankan. Adam berhak seratus persen atas dirinya. Tapi bagaimana jika rasanya menyakitkan lagi? Bagaimana jika ia ingat lagi malam naas itu?
Satu jam berlalu namun keduanya masih belum bisa terlelap. Mata terpejam dengan batin yang tersiksa. Kegelisahan benar-benar mempermainkan keduanya. Saling menahan diri dan pura-pura baik-baik saja.
Lama-kelamaan Haura bergerak dengan gelisah. Berkali-kali ia mengubah posisi tidurnya. Berusaha setenang mungkin tak membuat kegaduhan, namun tetap saja berhasil membuat Adam semakin galau.
"Ra? Kamu belum tidur?" tanya Adam tanpa membalikkan badan. Tak tahan lagi untuk berdiam diri karena kegusaran istrinya.
"I-iya. Rara belum bisa tidur. Rara mengganggu tidur Mas ya?"
"Tidak. Mas juga belum bisa memejamkan mata. Apa kamu takut karena ada Mas? Kamu tak nyaman tidur bersama Mas? Kalau memang begitu, Mas akan keluar."
"Bu-bukan begitu."
__ADS_1
"Kalau begitu, mau Mas peluk? Siapa tahu kamu akan nyaman." Kini lelaki itu membalikkan badannya dan menatap sayu ke arah wanita bertubuh mungil itu. Ada rasa malu ketika ia menawarkan diri. Dalam hati Adam merutuki mulutnya yang lancang.
"Eh ...."
"M-mas akan menahan diri Ra. Jangan takut." Adam sangat malu dan juga khawatir jika Haura takut padanya.
Tanpa menjawab, wanita itu merapatkan tubuhnya ke dada Adam. Merasakan dengan jelas detak jantung Adam yang sama menggilanya seperti dirinya. Menghirup aroma yang selama ini ia rindukan. Mencari kehangatan dalam peluk lelaki itu. Ia juga melingkarkan tangan kecilnya di pinggang Adam. Adam menjadikan lengannya sebagai bantal Haura dan satu lengan lagi mendekap kepala istrinya. Keduanya terdiam dengan detak jantung yang saling berlarian.
Adam berusaha menahan diri, walaupun ia yakin ada sesuatu yang tumbuh besar di bawah sana. Apalagi ketika tubuh mereka bergesekan. Juga ketika ia merasakan dengan jelas bagaimana bibir Haura menempel di dadanya yang hanya terbungkus kaus putih tipis. Sungguh, ini cobaan yang berat untuknya.
"Brengs*k, hilangkan pikiran kotormu itu. Atau segalanya akan hancur," batinnya kesal.
"Ba-bagaimana Ra? Ada yang tak nyaman?" Haura hanya menggelengkan kepalanya dalam keheningan.
"Kalau begitu, tidurlah sayang. Jangan takut."
Haura menggeser tubuhnya lebih dekat lagi, menginginkan rasa nyaman yang lebih. Dan fatal, ia dapat merasakan bagaimana Adam junior tumbuh. Wajah Haura memerah dalam kegelapan. Juga perasaan bersalah menyelimutinya. Pasti lelaki itu sangat tak nyaman dan tersiksa. Dan Haura tak yakin dapat melakukan hal 'itu' untuk suaminya.
"Mas ...."
"Hem?"
"Maafkan Haura."
"Kenapa meminta maaf sayang?"
"Takut pada Mas?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Rara takut tak bisa jadi istri sempurna Mas. Rara takut selamanya tak akan bisa menjalankan kewajiban Rara. Rara cacat Mas. Rara ...."
"Sttt ... istriku, bidadariku sempurna. Tidak ada kecacatan sedikit pun. Mas yakin kamu bisa. Mas yang sudah membuatmu begini, Mas juga yang akan berusaha untuk mengobati luka ini. Kamu akan sembuh sayang. Atau Mas akan hidup dalam penyesalan seumur hidup Mas."
"Tapi ...."
"Sudahlah Ra, tak usah lagi bicarakan hal yang membuat kita sedih."
"Ba-bagaimana jika selamanya Rara tak bisa menjalankan kewajiban Rara?"
"Kenapa? Kamu tak menginginkannya?" tanya Adam dengan nada penuh kekecewaan.
"Bukan, hanya saja ... Rara takut. Rara takut bayang kelam itu datang lagi."
__ADS_1
"Maukah kamu mencobanya? Jika kamu tak kuat, katakan! Mas akan berhenti." Haura mengangguk pelan, sungguh ia ingin keluar dari traumanya. Ia ingin menjadi istri baik yang dapat menjalankan kewajibannya.
"Apakah kamu takut jika berdekatan dengan Mas?"
"Tidak!" jawab wanita itu cepat.
"Apakah jika Mas memelukmu seperti ini kamu akan takut?" Haura menggeleng. Adam tersenyum lega.
Adam mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir Haura. Hanya sebuah kecupan singkat.
Cup
"Apakah kamu takut jika aku berbuat begini?" Haura menggeleng lagi. Adam tersenyum lebar, ada kemungkinan wanita itu akan sembuh dari traumanya.
Tiba-tiba Adam memagut bibir Haura dan memaksa Haura membuka bibirnya. Haura terkejut, namun ia bertahan. Mencoba mengenyahkan semua pikiran buruk dalam otaknya. Ia memejamkan mata, merasakan bagaimana suaminya menggigit kecil bibirnya dengan penuh kelembutan. Dan bagaimana rasanya mereka bertukar saliva. Lama-kelamaan Haura terlihat rileks, terbukti dari tubuhnya yang melemas tidak tegang lagi. Baru setelah kehabisan nafas, Adam melepaskan ciuman mereka.
"Apakah kamu tak nyaman Ra?" Tanya Adam dengan nafas memburu. Rasanya hasratnya sudah di ubun-ubun. Haura menggeleng lemah.
"Ingin Mas berhenti atau lanjut?" Haura diam saja dengan wajah memerah. Sepertinya wanita itu juga sudah diselimuti kabut gairah. Begitu malu untuk mengiyakan.
"Mas lanjutkan ya Ra?" Haura menggangguk dengan malu-malu.
"Tidak usah malu. Mas adalah suamimu, kamu milikku dan kamu adalah bagian dari diriku Ra."
Adam melepaskan kancing baju istrinya dengan perlahan dan penuh kelembutan. Hingga menampakkan kedua bagian itu. Adam meneguk salivanya dengan susah payah. Berusaha untuk tetap waras. Berpikir dengan akal sehatnya, agar tak menyakiti Haura.
Adam merengkuh Haura dalam pelukannya dan kembali memagut bibir istrinya. Kedua tangannya mulai bergerilya dengan penuh kelembutan. Tubuh Haura yang sedikit menegang kini berangsur melemas dan menikmati sentuhan suaminya. Ia menyerahkan diri pada suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author: Kasih likenya ya?
__ADS_1
Readers: Bawel lu thor, karya nggak bagus minta like terus
Author: 😂😂😂