Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Badai Mungkin Belum Usai


__ADS_3

Belum sempat Adam menutup pintu, Haura masuk ke dalam kamar mandi. Ditatapnya mata lelaki yang berkaca-kaca itu. Ia mendekati Adam. Diraihnya cream untuk bercukur. Ia memijit tube cream perlahan hingga isinya keluar. Di oleskannya di dagu dan sekitar bibir Adam. Dengan cekatan, ia mengambil pisau cukur. Tanpa ragu, wanita itu mencukur jambang dan kumis suaminya. Adam hanya bisa meneteskan air mata. Betapa kasihannya dirinya. Betapa mengenaskannya kehidupannya tanpa Haura.


"Kenapa menangis? Apa Rara membuat dagu Mas Adam terluka?" Haura memperhatikan dagu dan pipi suaminya betul-betul. Takut jika apa yang tengah ia kerjakan melukainya. Namun tak ada sedikit pun goresan yang ia ciptakan. Adam hanya menggelengkan kepala karena rasa malunya lebih besar. Terlihat pengecut di depan Haura.


"Ra."


"Hem," jawab wanita itu masih fokus melakukan pekerjaanya.


"Terima kasih." Haura hanya tersenyum enggan.


"Terima kasih sudah sudi kembali ke rumah ini."Haura hanya diam saja, matanya terpusat pada pisau cukur yang ia pegang. Membuat Adam gemas dibuatnya.


Adam menyentuh pipinya yang telah dilumuri cream cukur. Dan dengan jahilnya ia mengoleskan ke pipi Haura dengan jari telunjuknya. Haura hanya sepersekian detik menatap mata suaminya, mengabaikan tingkah usil Adam dan melanjutkan pekerjaannya.


Adam semakin gemas melihat wajah Haura yang sangat dekat dengannya. Ingin ia mengecup bibir merah itu dengan sayang, namun lagi-lagi Adam harus menelan salivanya. Perkataan Ray dan Medina bahwa ia harus sabar terngiang jelas di telinganya. Atau ia akan mendapatkan konsekuensinya. Dan mungkin saja jika wanita itu terkena serangan panik, akan membuat segalanya hancur lagi.


Adam memulai lagi keusilannya, berharap dapat memecah kekakuan di antara keduanya. Kali ini hidung Haura yang ia jadikan sasaran kejahilannya.


"Ck ...." Haura berdecak pelan dan mengusap hidungnya yang terkena cream. Masih enggan menanggapi suaminya. Haura tetap fokus, tak ingin sampai melukai wajah Adam. Adam semakin gemas dibuatnya. Ia mencolek lebih banyak cream dan mengoleskan ke wajah Haura lagi. Hingga wanita itu merasa terganggu.


"Ck, Mas ...," protes Haura kesal.


"Aw ...." Adam meringis ketika kedua mata pisau itu tak sengaja menggores pipinya. Haura yang terusik kehilangan konsentrasi karena gangguan Adam, tak sengaja menggores pipinya hingga terluka. Ada sedikit darah mengalir di sana. Haura jadi panik sendiri.


"Aduhhh, bagaimana ini?" Haura kalang kabut membasuh wajah suaminya yang berdarah dan segera mengeringkannya dengan handuk. Untung saja, wajah Adam sudah bersih dan rapi.


"Tidak apa-apa, Ra."


"Diam! Ini semua gara-gara Mas Adam. Kalau saja Mas Adam tak menggangguku terus, tak mungkin Mas Adam akan terluka," omel Haura seraya menyeka darah yang masih keluar. Adam merasa bahagia, seolah luka tak seberapa itu tak terasa. Adam merasa dirinya sudah gila. Hanya dengan mendengar omelan istrinya, hatinya sungguh berbunga-bunga.


"Ayo, Mas! Kita obati dulu. Mandinya nanti saja." Haura menarik paksa Adam untuk keluar dari kamar mandi.


"Mas betul-betul tidak apa-apa, Ra."


"Tidak! Kita harus bersihkan lukamu. Baru Mas boleh lanjutkan mandinya," jawab Haura tak ingin dibantah. Sesungguhnya ia merasa bersalah, karenanya wajah suaminya terluka.


"Baiklah ...." Adam akhirnya mengalah. Ia membiarkan Haura membersihkan lukanya dengan alkohol dan merawatnya dengan telaten.


"Aw ...." Adam pura-pura kesakitan ketika Haura menempelkan kapas yang sudah diberi alkohol.

__ADS_1


"Ah, sakit sekali kah?" tanya Haura khawatir. Ia menggigit bibirnya sendiri, seolah ikut merasakan pedih luka Adam. Adam menggeleng pelan. Begitu senang usahanya mencari perhatian berhasil.


Tiba-tiba Adam menggenggam tangan Haura erat erat."Ra, mungkin Mas terdengar tidak tulus. Tapi Mas ingin minta maaf soal malam itu. Mas benar-benar menyesal. Mas tahu apa yang sudah Mas lakukan itu begitu hina. Hukum aku Ra. Hukum aku agar kamu lega."


"Sudahlah Mas. Kita lupakan saja. Dan Rara juga akan berusaha melupakan semuanya."


"Benarkah kamu akan memaafkanku? Benarkah kamu tak akan meninggalkan aku lagi?" tanya Adam sendu.


"Iya Mas, Rara akan berusaha menjadi istri yang baik."


"Mas juga akan berusaha menjadi suami yang baik. Jika memang Mas bersalah atau khilaf, ingatkan Mas Ra. Mas ingin berubah, Mas ingin menjadi orang yang lebih baik."


"Iya Mas, mari kita mulai semuanya dari awal."


"Bo-bolehkah aku memelukmu Ra?" tanya Adam ragu.


"I-iya," jawab Haura yang juga penuh keraguan.


Adam memeluk tubuh istrinya erat-erat. Meluapkan rasa rindunya, melepaskan rasa bersalahnya yang selama ini bergitu menyiksa. Haura sendiri hanya memejamkan mata. Ia berusaha menepis ingatan-ingatan buruk di malam itu, yang dirinya sendiri pun tak tahu sanggup atau tidak untuk menghilangkan ketakutannya.


***


"Kamu ada di sini?" tanya Elsa.


"Aku sedang cuti," jawab Alvian yang kini sudah berdiri di hadapan Elsa.


"El, katakan padaku. Apa yang terjadi pada Haura."


"Eh, apa? Kenapa memangnya?" Elsa berusaha sebisa mungkin untuk bersikap wajar.


"Tak usah berbohong atau berpura-pura tidak tahu El. Aku tahu Haura tak pernah bahagia menikah dengan si brengs*k Adam itu. Aku tahu dia menderita."


"Vian, kamu bukan siapa-siapanya. Lebih baik jangan ikut campur!" hardik Elsa kesal.


"Aku tak akan pernah ikhlas jika pengorbananku yang sudah melepas dia sia-sia. Dia harus bahagia, walaupun bukan denganku. Aku tak akan rela jika si brengsek itu menyakiti Rara."


"Mak-sudmu apa, Vian?"


"Aku tahu Tuan Adam menduakan Rara. Dan aku tak tahu apa yang terjadi kala itu Tuan Adam kebingungan mencari Rara. Aku yakin ada sesuatu buruk yang terjadi." Wajah Elsa menjadi pias mendengar perkataan Alvian.

__ADS_1


"Mung-mungkin hanya pertengkaran kecil," ucap Elsa gugup. Ia masih berusaha menyembunyikan segala yang terjadi.


"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu."


"Ti-dak! Apa yang harus aku sembunyikan?"


"Katakan El! Apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tak dapat membohongiku. Kita bertiga bukan setahun dua bersahabat. Aku, Rara dan kamu tak akan pernah bisa membohongi satu sama lain."


"Sebaiknya kita tak ikut campur,Vian."


"Jadi itu benar? Kamu tahu sesuatu? Dan hanya aku seorang yang tidak tahu menahu apa pun."


"Bukan begitu ...."


"Kalau bukan begitu, ceritakan semua El! Aku berhak tahu. Aku tetap sahabat Rara juga."


"Hahhhhh ...." Elsa menghembuskan nafas kesal. Ia sungguh tak ingin membuka aib sahabatnya.


"Gara-gara Haura bertemu denganmu di pantai ini waktu itu, Tuan Adam cemburu. Dan dia gelap mata menyiksa dan ... memperkosa Haura," ucap Elsa sangat terpaksa.


"Breng ...."


"Apa?" Suara serak itu bertanya dengan bergetar dan penuh rasa tak percaya. Kedua insan yang mengobrol itu menoleh ke sumber suara dan menyesal telah membicarakan aib sahabatnya itu. Namun, terlambat. Badai mungkin akan segera datang.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf jika membuyarkan khayalan kalian. Seperti biasa minta dukungannya ya...


__ADS_2