
"Apa yang kamu lakukan?" Suara yang selama puluhan tahun selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang, kini terdengar menggelegar. Memenuhi pendengaran Adam yang masih setia memeluk tubuh lemas istrinya dalam kepanikan.
Ada nada kemarahan dari pertanyaan yang Ray ucapkan. Kilatan emosi menyala-nyala di matanya. Kepalanya terasa panas karena amarah. Tak rela jika putri kesayangannya tersakiti lagi. Pemandangan Haura yang pingsan di pelukan Adam membuat Ray berpikiran buruk hingga semarah itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang fatal pada menantunya?
Ray mendekat dan mengambil alih tubuh Haura dan membaringkannya di ranjang. Adam hanya diam saja memandang apa yang dilakukan oleh Papanya. Tak mampu sekedar bersuara atau mencegah, ketika istrinya direnggut dari pelukannya. Hampa dan sakit terasa di hati pria itu, ketika ia dipisahkan dari wanitanya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa hanya berdiam diri seperti orang. bodoh? Panggilkan dokter!" perintah Ray kasar. Kemarahan Ray membuatnya mengeluarkan kata-kata yang belum pernah sekali pun terucap pada Adam. Sebesar apa pun kemarahan lelaki itu, biasanya ia akan berlaku lembut kepada kedua anaknya. Sebesar apa pun kesalahan Mikha dan Adam, Ray tak pernah sekali pun membentak atau berlaku kasar.
"Bangun Nak. Bangun sayang! Jangan buat Papa khawatir," ucap Ray dengan suara yang bergetar. Jika sampai terjadi sesuatu pada Haura, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Adam berlari keluar dan memanggil dokter. Tak lama, ia kembali dengan dokter yang merawat Haura.
"Ada apa ini, Pa?" tanya Mikha yang baru saja kembali dari toilet memandang wajah kakak iparnya yang lemas dengan raut wajah yang panik.
"Dari mana saja kamu, Mikha? Lihatlah! Keadaan Rara jadi begini. Papa kan sudah bilang, jangan tinggalkan Rara sendirian walau hanya sedetik pun," ucap Ray dengan emosi. Karena panik, ia mengabaikan perasaan Mikha. Ray begitu terbakar emosi, seakan kepalanya mendidih tak dapat berpikir dengan jernih. Yang ada hanya di pikirannya hanya satu, semoga menantunya baik-baik saja. Sungguh Ray takut terjadi sesuatu pada Haura.
"Ma-maaf Pa. Tadi Mikha sakit perut dan Mikha harus ke toilet. Karena toilet di kamar ini sedang dalam perbaikan, jadi Mikha harus ke toilet yang ada di ujung sana."
"Ya sudah, Papa maafkan. Lain kali jaga kakakmu dengan benar. Jangan pernah biarkan Adam menemui Rara." Ucapan Ray membuat Mikha mengerti jika Haura mendapatkan shock lagi gara-gara kakaknya.
"Mau apa lagi? Keluar! Putriku tak ingin sekilas pun melihat wajahmu," ucap Ray berpaling dari Mikha memandang wajah Adam dengan enggan. Ucapan Ray benar-benar membekas dan menyakiti perasaan Adam. Adam merasa Ray kini juga benar-benar membencinya. Dengan lunglai Adam keluar dan duduk di kursi tunggu depan kamar Haura. Tak ingin membuat keributan yang lebih runyam lagi dengan menentang perkataan ayahnya.
Namun tak semudah itu Adam meninggalkan rumah sakit. Ia tak akan pulang sebelum mengetahui keadaan wanita kesayangannya. Sekali pun ayahnya akan mengusir ia berkali-kali, ia tak akan pergi. Ia harus mengetahui kondisi istrinya agar sedikit lega. Dan karena kejadian tadi, Adam menjadi semakin merasa bersalah. Karena dirinyalah, Haura menjadi seperti itu.
__ADS_1
Mikha tak mampu berkata-kata. Seumur hidupnya belum pernah melihat amarah sang ayah. Ray yang biasa lembut dan sabar hilang entah kemana. Mikha memandang kasihan ke arah kakaknya yang keluar dengan lunglai. Namun, Mikha tak dapat sekedar menghibur dan memberi semangat pada kakaknya. Karena Adam adalah sumber dari segala kekacauan yang terjadi ini. Mungkin kali ini kakaknya memang harus menanggung apa yang telah ia perbuat.
"Maaf Tuan. Jika sampai Nyonya Haura shock lagi. Kami tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena kondisi kejiwaan Nyonya Haura semakin mengkhawatirkan." Suara dokter yang memeriksa Haura terdengar sangat jelas di telinga Adam. Membuat ia bertanya-tanya, ada apakah dengan istrinya.
"Maafkan saya, Dok. Semua terjadi karena kelalaian saya. Ke depannya saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi."
"Baik Tuan. Tolong jaga emosi dan psikis putri Anda. Usahakan jangan biarkan ia melihat orang atau benda yang membuat ia mengingat hal-hal yang membuatnya sedih dan depresi. Oh iya jika tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi Tuan," pamit dokter itu.
"Baik Dok, terima kasih banyak." Ray menjabat tangan dokter itu, sebelum dokter itu pergi dari hadapan Ray.
"Untuk apa kamu masih di sini? Tak ada yang mengharapkanmu berada di tempat ini," ucap Ray keluar dari kamar Haura dan mendapati putranya yang tak kunjung pergi.
"Tapi Adam suami Rara, Pa ...."
"Baru sadar jika kamu suaminya? Seorang suami tugasnya melindungi dan menjaga istrinya. Bukan sebaliknya, hanya tahu membuat luka di hati istrinya hingga dia seperti ini."
"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan kamu benar-benar sudah terlambat. Tak ada yang bisa diperbaiki lagi. Kamu tak pantas lagi untuk bersanding dengan Haura. Karena kamu terlalu banyak membuat luka di hatinya. Pergilah! Jangan pernah lagi kamu menemui Haura."
"Tidak Pa, Adam mohon. Jangan lakukan ini. Adam akan berusaha untuk memperbaiki sikap Adam. Tapi Adam mohon jangan pernah pisahkan kami."
"Hanya dengan melihatmu saja Rara histeris seperti tadi. Bagaimana bisa kalian bersatu lagi? Jalan terbaik satu-satunya adalah dengan berpisah dan menempuh jalan masing-masing. Kamu tahu apa kata dokter? Kalau sampai Haura histeris dan shock lagi, maka akan membahayakan nyawanya. Atau kemungkinan terburuknya, Haura bisa gila. Dan ini semua karena siapa? Karena kamu. Wanita polos tak berdosa itu trauma akibat perbuatan kejammu. Kamu mau membahayakan nyawa wanita yang kamu cintai?" Ray menghela nafas panjang, terlalu sesak dadanya mengingat kondisi Haura saat hari pertama di rawat di rumah sakit.
"Kalau kamu benar-benar mencintai dan peduli terhadap Haura. Pergilah! Untuk sementara waktu jangan temui dia. Papa dan Mama akan membawanya pulang ke rumah. Dan ketika Haura kami bawa ke rumah, kamu Papa haramkan untuk sekedar menginjak halaman rumah Papa," ucap Ray dengan terpaksa.
__ADS_1
"Haruskah seperti ini? Apakah semua telah berakhir?" Adam menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Ray yang melihat Adam begitu frustasi menjadi sedikit tercubit. Tapi apalah dayanya, nasi sudah menjadi bubur. Putranya harus menanggung apa yang telah ia perbuat.
"Maafkan Papa Nak. Papa harus melakukan ini demi kebaikan kalian berdua," batin Ray sedih.
"Ehem, sebaiknya kamu pulang Dam. Tolong kasihanilah Haura! Merenunglah! Pahami apa kesalahan kamu selama ini. Jangan sampai di hari esok kamu melakukan kesalahan fatal lagi akibat emosi kamu itu. Dan kamu akan lebih menyesal lagi dari saat ini." Ray menepuk punggung putranya dan masuk ke dalam kamar rawat Haura lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf akan banyak drama di season kedua ini. Author kebanyakan makan bawang 😂😂😂
__ADS_1
Oh ya maafkan author juga jika dalam menyebutkan istilah kedokteran kurang betul dan terlihat aneh. Mungkin yang mempunyai pengetahuan tentang ilmu kedokteran atau kejiwaan bisa japri author.😂😂😂
Maafkan daku yang minim pengetahuan.