
Hari sudah sore menjelang malam. Pukul lima petang akhirnya Pak Anto menjemputnya di kampung Ibrahim, setelah Ray meminjam ponsel Haura untuk menghubungi keluarganya.
Mereka sekeluarga mengantarkan Ray sampai ke halaman rumah. Disana Pak Anto sudah menunggu Ray di dalam mobil. Anak-anak Ibrahim sedikit takjub, ternyata orang yang ditolong ayahnya adalah orang kaya.
"Terima kasih banyak ya Bang, atas bantuan Abang sekeluarga. Terima kasih sudah memperlakukan saya selayaknya kerabat sendiri," kata Ray menjabat tangan Ibrahim.
"Iya Ray sama-sama. Jika ada waktu luang, datanglah kemari. Kita bisa memancing ikan bersama-sama," kata Ibrahim.
"Iya Bang, InsyaAllah jika saya ada pekerjaan di daerah sini lagi saya akan mampir. Kalau Abang kapan-kapan pergi ke Bandung, bolehlah singgah ke gubuk saya," kata Ray merendah. Tentu saja gubuk yang dimaksud bukanlah gubuk yang sebenarnya.
"Aisshh ... saya ke Bandung mau ke tempat siapa Ray? Tak ada sanak saudara atau kenalan dari Bandung."
"Itu dulu, sekarang ada Bang. Ray sekarang adalah keluarga Abang. Jika Abang memerlukan bantuan Ray. Hubungi saja Ray. Tak usah segan."
Mereka tertawa bersama. Rasanya bahagia memiliki kenalan yang seperti keluarga.
"Baiklah Ray. Hati-hati di jalan."
"Baik Bang, terima kasih."
"Haura, kamu sudah simpan kan nomor Paman? Jangan ragu untuk meminta bantuan. Paman dengan senang hati akan membantu jika kalian memerlukan sesuatu."
"Baik Paman, terima kasih."
Anak-anak Ibrahim menjabat tangan Ray dengan penuh hormat sebelum Ray masuk ke dalam mobil. Ray meninggalkan tempat itu dengan begitu bahagia. Ray bahagia karena bisa bertemu dengan orang-orang sebaik keluarga Ibrahim. Anak-anak Ibrahim juga sangat sopan dan berbakti. Ray berjanji dalam hati akan sering mengunjungi mereka, orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam lebih, akhirnya Ray sampai juga di kota tempat ia tinggal. Ray bernafas lega, akhirnya akan bertemu dengan keluarganya lagi. Tentu mereka sangat khawatir dan shock ketika mendengar berita kecelakaannya. Ray merasa ini mukjizat, ia terseret arus sungai beberapa puluh kilometer selama seharian penuh sampai di laut. Namun, Allah masih menyayanginya, ia kembali tanpa kekurangan suatu apa.
"Pak, bagaimana keadaan rumah? Semua baik-baik saja kan?" tanya Ray setelah memasuki area perkotaan.
" Eh, iya Tuan. Tapi ...."
"Tapi kenapa Pak?" tanya Ray mengerutkan keningnya.
"Waktu mendengar berita Tuan hilang, Nyonya sempat pingsan. Tapi kondisi Nyonya sudah mendingan sejak anda menghubungi rumah tadi pagi. Selama tiga hari ini Nyonya bersedih." Ray mangut-mangut, tahu jika istrinya pasti akan sangat terpukul.
"Pak, mampir ke Piza Hot dulu ya Pak. Saya mau belikan untuk Mikha," pinta Ray ketika mereka akan melewati sebuah restoran siap saji itu.
"Baik Pak." Pak Anto menepikan mobilnya menuju tempat tersebut.
"Tunggu di sini sebentar ya Pak Anto," kata Ray keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam restoran siap saji itu.
Selang dua puluh menit Ray menenteng tiga kotak pizza. Dengan wajah bahagia ia masuk kembali ke mobil dan perjalanan pun dilanjutkan.
__ADS_1
Lima belas menit, mereka memasuki kawasan tempat tinggal Ray. Dalam hati pria itu berdebar karena bahagia. Ia begitu merindukan istri dan anak-anaknya.
Apalagi ketika mobil sudah masuk pekarangan rumah, Ray begitu bersyukur dapat kembali ke rumah itu lagi. Ingin segera memeluk orang-orang yang ia kasihi.
"Pak Anto terima kasih sudah menjemput saya. Ini untuk Bapak, anda boleh istirahat sampai besok. Baru lusa datang bekerja seperti biasa ya?" Ray menyerahkan satu kotak pizza yang tadi ia beli, pada Pak Anto.
"Semua sudah menjadi kewajiban saya Tuan. Untuk makanannya saya ucapkan terima kasih Tuan." Pak Anto terharu, tuannya memang selalu baik pada semua orang tanpa pandang bulu.
"Ya sudah Bapak silakan istirahat."
Kemudian Ray segera turun dari mobil. Dan meninggalkan Pak Anto masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum ...." Ray membuka pintu yang tidak terkunci.
"Waalaikumsalam ... Papa ...." Dua wanita yang menjadi pemilik hatinya menghambur memeluknya dan menangis.
"Sudah, sudah ... Papa kan baik-baik saja, jadi princess dan Queen Papa jangan nangis lagi ya?" kata Ray terharu.
"Papa kemana saja? Kami takut Pa ... tiga hari Papa menghilang. Hanya Mama yang memiliki keyakinan kuat bahwa Papa akan segera pulang. Hu hu hu ...." Gadis manja itu menangis tersedu-sedu.
"Hei, My Princess yang biasanya kuat kenapa cengeng sekali?" tanya Ray seraya mengusap air mata di wajah cantik putrinya.
"Jangan pergi lagi Pa ... jangan membuat lelucon seperti ini lagi. Mikha nggak suka." Gadis itu bersungut-sungut.
"Kakak kamu mana sayang?" tanya Ray mengingat Adam yang tak menyambutnya.
"Ada di kamar Pa. Papa mau bertemu? Biar Mikha panggilkan."
"Nggak usah, nanti saja. Nah, bawa ke dapur dan ajak kakak makan bersama."
"Papa mau ke kamar dulu." Dengan bahagia Mikha menerima kotak berisi pizza kesukaannya. Memang ayahnya terbaik, selalu mengetahui apa yang sedang ia inginkan.
Ray masuk ke kamar diikuti oleh Medina. Medina segera menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk suaminya. Ray segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan yang lebih bersih.
"Mas ...." Medina memeluk Ray yang tengah menyisir rambutnya. Ia menangis.
"Kenapa sayang?" tanya Ray khawatir karena istrinya menangis.
"Jangan buat aku menderita seperti ini lagi Mas. Me tak akan bisa hidup tanpa Mas Ray. Kamu tak pernah tahu, rasanya jantung Me mau copot ketika mendengar berita itu."
"Apalagi saat polisi bilang kemungkinan Mas Ray untuk selamat hanya kecil."
" Me ... jangan menangis lagi. Mas kan sudah di sini sekarang. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah Me, karena mukjizatnya juga Mas bisa selamat. Mas terseret arus sampai puluhan kilometer tapi Alhamdulillah Mas kembali tanpa suatu kekurangan apapun."
__ADS_1
"Apa?" ucap Medina tak percaya.
"Untung saja Mas diselamatkan oleh nelayan yang baik hati, "Ray tersenyum mengingat keluarga Ibrahim yang sederhana.
"Alhamdulillah, Allah masih menyayangi kita Mas."
"Mas, bisakah Mas mengontrol perusahaan dari rumah saja? Seperti kamu memantau bisnis Amerika dari sini. Bukankah bisnis di Amerika berjalan baik di tangan Cristian? Kamu bisa menyerahkan urusan bisnis pada Adam. Me sangat takut jika Mas harus bepergian jauh-jauh," bujuk Medina yang trauma jika sesuatu sampai menimpa suaminya.
"Sabar ya Sayang. Semua yang kita punya nantinya juga akan menjadi milik anak-anak kita. Adam dan Mikha. Mas akan membaginya secara Adil. Tapi karena usia Mikha yang belum dewasa Mas tetap harus ikut campur di perusahaan. Sedangkan Adam masih sangat labil. Mas punya firasat buruk tentang wanita yang bernama Isabella. Mas ada satu rencana, Mas harap kamu akan menyetujuinya."
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers..
Ramaikan lapak aku yang lain yukk.. Ada dua novel seru lainnya. Dijamin nggak bosenin deh. Coba intipΒ² dulu
Minah I Love You
Dua Polisi Tampan
Mampir ya.. Please πππ
Aku berharap, π©
Kalau novelku yang dua ramai, nanti aku kasih double up deh... Beneran deh,
Oh ya Sekali-kali absen napa, siapa yang baca sampai episode sinetron, azab, pembalasan, muterΒ² πππ
aku juga mau kenal pembacaku
__ADS_1
yuklah komen siapa yang baca sampai episode 88 ini