
"Sebenarnya kita mau kemana sih mas?" tanya Medina setelah mobil yang dikendarai Ray sudah beberapa menit melaju.
"Ada deh ...."
"Me, kamu sudah siap belum jika kita mempunyai anak lagi?" tanya Ray tanpa menoleh, ia tetap fokus mengemudi.
"Ya ... siap saja sih Mas. Kok tiba-tiba Mas Ray bicara soal anak?" tanya Medina.
"Em.. Nggak papa sih. Nanya aja, "
"Terus pertanyaan Me kok nggak dijawab? Kita ini mau kemana Mas?" tanya Medina merasa tak adil.
"Sebentar saja kok, nanti kamu juga tahu," kata Ray pura-pura acuh. Ray diam-diam tersenyum melihat istrinya yang kesal.
Setengah jam kemudian, baru mereka sampai di sebuah rumah sakit terbesar di kota itu. Medina semakin kebingungan. Untuk apa Ray mengajaknya ke rumah sakit dan siapa yang sakit. Ia juga sedikit kesal, percuma Medina sudah dandan cantik-cantik kalau ternyata Ray hanya mengajaknya ke rumah sakit.
"Ayo turun, kamu mau tetap di sini?" goda Ray seraya membuka pintu mobilnya. Dengan kesal Medina membuka pintu mobil dan keluar.
"Mas Ray kenapa sih aku tanya diam saja?Aku penasaran tahu nggak?"
"Sudah ayo..ikut mas."
Medina akhirnya memilih menurut dan diam tak bertanya lagi. Ray tersenyum-senyum seraya menggandeng lengan istrinya. Mereka terus berjalan hingga sampai ke ruangan obgyn.
"Kok kesini?" tanya Medina bingung.
"Sudah, sini tunggu aja kita dipanggil."
"Nyonya Medina, Tuan Rayga," panggil suster beberapa menit kemudian.
"Ayo sayang!" Ray menggenggam erat jemari Medina.
Akhirnya mereka berdua segera masuk. Mereka disambut oleh seorang dokter cantik yang kelihatannya sebaya dengan Ray.
"Ray.. Silakan duduk!" sapa dokter itu dengan ramah. Ray dan dokter itu berjabat tangan.
"Apa kabar? Lama ya, kita tidak bertemu? "
"Iya. Baik-baik saja. Kamu sendiri?" tanya Ray.
"Ya begini saja Ray. Lempeng-lempeng aja. Sibuk mengurusi ibu hamil sampai lupa menikah," jawab dokter Almira tertawa. Medina merasa sedikit terabai.
"Makanya cepat nikah dong," kata Ray.
"Susah cari yang kayak kamu," kata dokter Almira sukses membuat Medina memanas.
"Bisa aja kamu." Ray tertawa.
"Anda istri Ray ya? Perkenalkan saya Almira, teman lama Ray." Dokter cantik itu mengulurkan tangan tanda perkenalan. Medina menyambut dengan enggan. Ia merasa cemburu, tak menduga Ray memiliki teman secantik itu selain Aurel.
__ADS_1
"Medina," jawab Medina singkat.
"Mari silakan duduk!" Dokter Almira tersenyum.
"Begini Mir, kami ingin memeriksa kesuburan kami dan juga berencana ingin ikut program hamil," kata Ray membuat Medina membelalakkan mata karena terkejut.
"Okay ...."
"Baiklah, apakah anda pernah pakai kontrasepsi nyonya?" tanya dokter Almira.
"Karena anda teman suami saya, anda panggil saja nama saya, Medina," jawab Medina sedikit canggung.
"Baiklah kalau begitu Medina. Kamu juga bisa panggil saya Mira." Almira tersenyum ramah.
"Saya pakai kontrasepsi IUD," jawab Medina.
"Sudah dipasang berapa tahun?"
"Lima tahun."
"Sekarang masih ada?" tanya dokter lagi.
"Iya Mir, masih ...."
"Kalau begitu saya akan melepasnya,apakah kamu setuju?" Medina mengangguk dan tersenyum.
"Ehm.. Okay silakan berbaring disana. Saya akan melepasnya," kata dokter Almira tersenyum.
"Iya Mir," jawab Ray sedikit gelisah.
Beberapa menit kemudian, proses pelepasan alat kontrasepsi sudah selesai. Medina kembali duduk bersama suaminya.
Setelah itu Medina dan Ray menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan.
"Mungkin butuh waktu untuk mengembalikan kesuburan istri kamu, sekitar 4 sampai 6 bulan. Kalian bersabar ya?" lagi-lagi Almira menatap Ray intens. Medina menjadi semakin panas.
"Selain itu kalian harus menjaga pola hidup sehat. Banyak makan makanan yang mengandung vitamin E, dan untuk kamu Medina. Jangan stress. Aku sudah menuliskan resep vitamin untuk kalian," kata Almira tersenyum.
"Kalian jangan khawatir, hasil pemeriksaan semua bagus.Tak ada masalah. Tinggal banyak berdoa dan banyak berusaha," kata dokter itu lagi.
"Masalah usahanya, saya nggak usah jelaskan kan Ray?" kata Almira tertawa penuh arti.
"Kalau masalah itu, kamu jangan khawatir," kata Ray melirik Medina dengan tatapan nakal.
"Ehm ... ya sudah kalau begitu kami pamit ya Mir. Atas bantuannya kami ucapkan terimakasih,"bkata Ray menjabat tangan Almira berpamitan. Medina juga melakukan hal yang sama seperti yang Ray lakukan.
Begitu keluar dari ruangan itu, Medina yang kesal langsung pergi meninggalkan Ray begitu saja. Ray mempercepat langkahnya menyusul Medina.
"Sayang ... tunggu dong!"!panggil Ray namun Medina tak menggubrisnya. Ray menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Heran dengan sikap Medina. Akhirnya Ray membiarkan istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu marah?" tanya Ray setelah mereka berdua di dalam mobil.
"Apa karena aku membawa kamu ke dokter dan melepas kontrasepsi kamu?" tanya Ray merasa bersalah tak membicarakan lebih dulu. Medina masih bungkam dengan wajah yang cemberut.
"Aku minta maaf jika melakukan hal ini tanpa membicarakan dengan kamu lebih dulu. Maaf aku tak bertanya dulu bagaimana keinginan kamu sayang. Aku tak menyangka kamu akan marah. Padahal Mas cuma mau kasih adik buat Adam. Mas juga ingin punya anak yang berasal dari benih Mas." Ray meluapkan semua perasaannya. Raut wajah Ray menjadi sedih. Laki-laki itu begitu mendambakan kehadiran seorang anak lagi. Meskipun ia menyayangi Adam sepenuh hati, tak dapat di pungkirinya bahwa ia juga ingin memiliki anak sendiri.Yang merupakan darah dagingnya.
Medina menjadi merasa bersalah ketika mendengar penuturan suaminya dan menatap wajah sedih Ray. Ia baru menyadari bahwa ia mengabaikan perasaan Ray selama ini. Medina salah, ia mengira Ray sudah cukup bahagia dengan kehadiran Adam.
"Mas, Me tidak bermaksud seperti itu. Me nggak masalah kok soal melepas alat kontrasepsi. Maafkan Me ya, Mas ? Me kurang memperhatikan perasaan kamu," kata Medina menangis.
"Me baru menyadari kalau Mas Ray merindukan kehadiran bayi kecil. Keturunan kita. Maaf Me tidak peka." Medina terisak.
"Shh ... jangan menangis Me. Mas sudah cukup bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang. Jadi jangan menangis lagi." Ray menyesal sudah meluapkan isi hatinya. Membuat istrinya terluka.
"Nggak Mas, kamu salah. Aku juga pengen kok. Aku juga merindukan kehadiran bayi mungil. Dan masalah ke dokter tadi Me juga nggak masalah," jawabnya sembari menghapus air mata.
"Lalu kenapa kamu marah?" tanya Ray kebingungan.
"Karena kita nggak ke dokter yang biasanya."
"Maksud kamu? Kan dokter sama saja Me. Aku memilih konsultasi ke Almira Karena banyak teman-temanku yang bilang dia hebat. Banyak yang dinyatakan sulit mengandung, bisa hamil berkat dia. Itu saja," kata Ray heran.
"Aku nggak suka cara dia menatap kamu, Mas,," jawab Medina mengerucutkan bibir.
"Ap-apa? Jadi istri Mas ini cemburu? Ya Allah ... Aku kira ...." Ray tertawa bahagia. Tak menyangka Medina yang biasanya datar mempunyai rasa cemburu untuknya.
" Sudah jangan tertawa!" Medina sangat malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pengetahuan author kurang kalau ada yang janggal maap yah. Author udah browsing kok biar nggak aneh. 😂😂😂
jangan lupa klik like and favorite.
Aku tunggu vote dan komentar kalian.
__ADS_1
Terimakasih