Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kamu Obatnya


__ADS_3

"Alhamdulillah, hari ini dapat banyak cumi. Hana dan Fauzan pasti senang," ucap Ibrahim yang baru pulang melaut dengan wajah yang berbinar-binar. Pasalnya hari ini ia mendapatkan banyak cumi hasil tangkapan. Setelah sebagian dijual, ia menyisakan sedikit untuk kedua anaknya. Hana dan Fauzan sangat menyukai hasil olahan cumi.


Ibrahim berjalan menuju rumahnya, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Elsa dari kejauhan. Wajahnya semakin berbinar. Ingin menyapa gadis itu dan menanyakan kabar Haura. Ibrahim semakin mendekat ke arah Elsa.


Belum sempat ia memanggil Elsa, langkahnya kaku dan membatu mendengar apa yang Elsa ucapkan. Dan ternyata gadis itu tak sendirian. Ada Alvian bersamanya.


"Gara-gara Haura bertemu denganmu di pantai ini waktu itu, Tuan Adam cemburu. Dan dia gelap mata menyiksa dan ... memperkosa Haura," ucap Elsa sangat terpaksa. Ibrahim dapat menangkap jelas kata demi kata yang Elsa ucapkan.


"Apa?" Suara serak itu bertanya dengan bergetar dan penuh rasa tak percaya. Tubuh Ibrahim lemas mendengar perkataan Elsa. Buruk, sungguh berita buruk.


Kedua insan yang mengobrol itu menoleh ke sumber suara dan sangat terkejut. Ayah Haura tanpa sengaja mendengar semua perkataannya. Elsa sungguh menyesal telah membicarakan aib sahabatnya itu. Namun, terlambat. Ayah Haura sudah mengetahui semuanya. Dan mungkin kehidupan sahabatnya akan semakin rumit. Dia menyebabkan satu masalah lagi untuk sahabatnya.


"Katakan, Nak! Apa yang kamu katakan itu tidak benar kan?" tanya Ibrahim dengan pikiran bercampur aduk. Antara marah, kecewa dan sangat syok.


"Pa-paman, ini salah paham." Elsa berusaha mengelak.


"Tidak Nak. Paman rasa ini bukan salah paham. Dan telinga orang tua ini masih cukup tajam, tak mungkin salah dengar."


"Benarkah apa yang Paman dengar? Katakan pada Paman apa yang terjadi, Nak! Jangan ada yang kamu tutupi."


"Maaf Paman." Elsa menundukkan kepala dipenuhi rasa bersalah. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah tanpa sengaja mengatakan hal sialan itu.


"Ceritakan, Nak. Haura putri Paman. Paman berhak tahu apa pun yang terjadi."


Elsa dengan sangat terpaksa menceritakan semua yang terjadi di hadapan Alvian dan Ibrahim. Alvian mengepalkan tangan karena marah. Juga merasa bersalah, sebab dirinya hal buruk itu menimpa Haura. Ibrahim hanya melemas mendengar cerita Elsa. Dugaannya jika putrinya berbahagia salah. Lalu, sikap mesra yang mereka tunjukkan ketika berkunjung itu apa artinya? Apakah kedua anak dan menantunya bersekongkol untuk menipunya? Agar mereka terlihat bahagia?


"Padahal Nak Adam terlihat baik. Setiap bulan ia mengirimi uang untuk Paman. Ia juga bersikap sopan. Ketika berkunjung kemari, mereka juga terlihat baik-baik saja. Lalu berita apa yang Paman dengar ini?" ucap Ibrahim menangis.


"Paman, maafkan Elsa. Elsa tak bermaksud untuk membuat Paman sedih. Dan Paman tenang dulu ya? Haura sekarang baik-baik saja. Tuan Adam juga sudah tak ada hubungan dengan wanita lain. Dan Elsa rasa semua sudah membaik. Hubungan mereka baik-baik saja." Gadis itu sendiri ragu, benarkah Haura baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, Nak. Sudahlah mungkin lebih baik Paman pulang." Dengan hati yang perih lelaki tua itu bangkit dan menenteng cumi yang ia bawa tadi menuju ke rumah.


"Ya Allah ... apa yang sudah aku lakukan?" sesal Elsa frustasi.


"Maafkan aku El. Gara-gara aku, Paman Ibrahim jadi tahu," ucap Alvian merasa bersalah. Padahal ia hanya ingin tahu tentang Haura, dan malah menyebabkan masalah lebih rumit lagi.


"Sudahlah! Aku juga ingin pulang." Elsa bangkit dan meninggalkan Alvian seorang diri. Ia marah pada dirinya sendiri juga pada Alvian, yang menyebabkan masalah ini terjadi.


"Maafkan aku Ra. Maafkan aku yang selalu membuat masalah untukmu," sesal Alvian.


***

__ADS_1


"Mas, mari kita makan bersama," ajak Haura kepada Adam yang tengah mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Em, sebentar ya sayang. Mas selesaikan ini sedikit lagi," jawab Adam tanpa memalingkan muka dari layar laptop.


"Baiklah." Haura berlalu ke dapur menyiapkan peralatan makan untuk mereka berdua.


Tak lama, terlihat Adam menuruni tangga dan berjalan ke arahnya. "Em, kelihatannya sedap," puji Adam terhadap menu makan malam yang Haura siapkan. Haura memasak udang balado kesukaan Adam. Haura tersenyum dan masih sibuk menata makanan.


"Mari makan!" Adam segera duduk dan Haura menyendokkan nasi dan lauk untuk suaminya.


"Terima kasih sayang." Setelah berdoa, mereka makan dalam keheningan.


"Kamu tak ingin pulang menjenguk ayah?" tanya Adam memecah kesunyian di antara mereka.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Aku tak ingin menjadi fitnah lagi. Dan timbul masalah baru lagi," ucap Haura dengan nada penuh kepahitan.


"Ma-maafkan aku Ra. Semua salahku, aku benar-benar tak tahu kalau waktu itu kamu bersama Hana dan Uzan."


***


Adam tengah membongkar selimut baru yang ia simpan di dalam almarinya. Ia akan membawanya ke ruang keluarga. Tempatnya sementara tidur, sampai Haura benar-benar nyaman untuk tidur bersamanya.


"Mas, mengapa mengeluarkan selimut baru?"


"Mas, mau pakai sayang," ucapnya ingin membawa selimut ke ruang keluarga.


"Lalu Mas mau kemana?" tanya Haura bingung. Haura mengira, Adam ingin mengganti selimut mereka dengan yang baru.


"Tidur. Sudah malam," tunjuk Adam pada jam dinding yang menunjuk pukul sepuluh malam.


"Dimana?"


"Di ruang keluarga. Jangan takut Ra. Mas tidak akan menyakitimu. Jika kamu tak percaya, kunci saja pintunya," ucap Adam sungguh-sungguh.


"Tak perlu Mas. Tidur saja di sini. Ini kan kamar Mas Adam." Adam terhenyak, tak menyangka jika Haura akan memintanya tetap tinggal.


"Baiklah, Mas akan tidur di lantai." Adam tersenyum dan hendak membentangkan karpet untuknya tidur.

__ADS_1


"Tidur saja di atas Mas. Ranjangnya luas. Untuk apa Mas tidur di bawah?" tanya Haura sungguh tak enak hati. Adam adalah pemilik rumah dan kamar itu, tidak seharusnya lelaki itu tidur di lantai.


"Kamu yakin? Kamu tak takut dengan Mas?" tanya Adam sungguh-sungguh.


"I-iya mungkin."


"Bagaimana jika Mas menginginkanmu? Mas hanya lelaki biasa. Segala kemungkinan bisa terjadi."


"Eh, eh ...." Wanita itu ragu dan takut secara bersamaan.


"Sudahlah sayang. Jangan memaksakan diri. Mas akan tidur di bawah." Dengan cepat Haura menggelengkan kepalanya dan menahan lengan suaminya yang kekar.


"Jangan! Bantu Haura."


"Hm?" Adam mengernyitkan keningnya.


"Bantu aku melenyapkan semua bayang kelam malam itu. Bantu aku untuk melupakannya dan mengenyahkannya dari pikiranku ini."


"Kamu sungguh-sungguh?"


"Iya Mas. Bantu Rara. Rara ingin sembuh."


"Tapi Mas tidak tahu bagaimana caranya Ra. Perlukah kita ke dokter?"


"Tidak! Mas Adam yang sudah membuat aku begini. Aku ingin Mas juga yang akan menjadi obatnya," ucap wanita itu dengan mantap.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2