
Hari berganti, minggu juga berlalu. Adam yang sudah pulih kini sudah kembali ke rumah. Betapa bahagianya mereka, dengan musibah itu kini Adam bisa berada lagi di tengah-tengah mereka. Semua menyayangi Adam tanpa terkecuali.
Semenjak Isabella memutuskannya, mereka tak pernah lagi saling menghubungi. Adam masih kecewa dengan sikap Isabella ketika ia jatuh miskin.
Malam itu Medina ingin membicarakan masalah pernikahan Adam dan Haura yang sudah terlalu lama tertunda. Untuk itu Medina berbicara dari hati ke hati dengan Adam. Hanya empat mata.
"Nak, bisakah kamu mengabulkan permintaan Mama? Setelah ini Mama tak akan menuntut apapun dari Adam."
"Iya Ma. Bilang saja."
"Mama ingin kamu menikahi Haura. Mama ingin punya menantu seperti Haura."
"Haruskah Adam melakukannya?" Adam menghela nafas. Lagi-lagi mamanya harus membahas gadis kampung itu.
"Iya Nak. Karena Mama dan Papa ingin kamu mendapatkan wanita yang terbaik. Dan Hauralah yang terbaik untuk Adam."
"Kenapa Ma? Apakah ini maksud kebaikan Papa Ray? Hanya agar Adam membayarkan hutang budi Papa?"
"Kamu salah. Semua karena Papa Ray sayang kamu."
"Sayang? Apakah Papa pernah memaksa Mikha seperti memaksa Adam?" Medina menggeleng.
"Karena Mikha selalu menuruti apa kata papa. Mikha tak pernah membiarkan air mata papa jatuh. Papa memperlakukan kalian sama. Bahkan ... menurut Mama, Papa lebih mengistimewakan kamu."
"Istimewa? Apanya yang istimewa Ma?" cibir Adam.
"Kamu mungkin tak pernah merasakannya, Nak. Tapi Papa sudah memberikan harta terbesarnya untuk kamu."
"Harta terbesar? Maksud Mama apa?"
"Mungkin Mama harus mengingkari janji pada Papa. Untuk merahasiakan semua. Mama benar-benar harus mengatakan padamu. Semoga Papa memaafkan Mama yang sudah ingkar janji."
"Apa maksud Mama? Jangan buat Adam bingung Ma," tanya Adam tak sabar.
"Yang memberikan kamu kehidupan adalah Papa Ray. Karena ginjal yang sekarang berada di sini, adalah ginjal milik Papa." Medina menyentuh perut bagian kanan Adam.
"Ap-apa?"
"Iya Nak. Ini bukti cinta Papa kepadamu. Tahukah kamu Nak, apa yang Papa katakan? "
__ADS_1
"Bahkan jika papa harus memberikan keduanya, papa rela." Medina kini menangis, tak mampu lagi menahan air matanya.
"Masihkah kamu bilang Papa tak mencintaimu? Siapa yang merawat kamu sewaktu kecil? Pernahkah Papa membentakmu, Nak? Ketika Adam terpuruk dulu, siapa yang membantu Adam untuk keluar dari lubang hitam? Dan sekarang, lihat apa yang papa berikan. Apa kasih sayang Papa masih kurang Nak?" Medina menangis tersedu-sedu.
Adam merasa dunianya serasa berhenti berputar. Dadanya terasa sesak, kata-kata medina terdengar berulang-ulang di telinganya. Ia begitu terkejut dengan pengorbanan yang Ray lakukan. Yang belum tentu ayah tiri lainnya akan lakukan. Adam ikut menangis, menangisi sikapnya yang buruknya pada Ray. Benar kata mamanya, tak pernah sekali pun papanya membentaknya. Sebaliknya, Ray begitu sayang dan lemah lembut.
Perasaaan Adam kacau, ia menghambur memeluk ibunya. Mengucapkan kata maaf yang berulang-ulang.
"Maafkan Adam Ma, maaf...," isak pria tampan itu.
"Bukan pada Mama kamu harus minta maaf, tapi pada orang yang sudah memberikan dunianya padamu Nak." Medina memeluk dan mengelus punggung putranya yang kini sudah dewasa.
"Baiklah Ma. Adam akan menikah dengan Haura." Adam mengurai pelukan dan menghapus air mata ibunya. Ia ingin mewujudkan keinginan orang tuanya walau terpaksa.
"Benarkah yang kamu katakan?" Adam mengangguk.
"Ya, Adam ingin sekali saja membahagiakan kalian. Walau mungkin tak mudah, Adam akan berusaha menerima Haura."
"Alhamdulillah ... terima kasih sayang." Medina memeluk putranya dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang lakukan tugas kamu. Minta maaflah pada papa. Dan ingat Nak, jangan pernah ragukan kasih sayang kami. Mungkin saat ini kami terdengar egois ketika memaksamu menikah dengan Haura. Tapi Mama yakin, suatu saat nanti kamu akan mengerti."
Tok tok tok.
Pintu diketuk, mereka berdua segera menyeka air mata yang menetes.
"Me, sayang.. Mari kita tidur. Bicaranya dilanjutkan besok lagi saja. Mas ngantuk, tapi tak bisa tidur tanpa kamu," teriak Ray setelah mengetuk pintu.
"Iya Mas. Masuk saja." Ray membuka pintu dan masuk ke kamar Adam.
"Lho kok kalian kayak habis menangis?" tegur Ray yang melihat mata sembab anak dan istrinya.
"Papa ...." Adam berlari menghambur memeluk kaki Ray yang baru mau melangkah masuk kamar Adam.
"Eh, apa-apaan ini Nak?" Ray menunduk dan membangunkan Adam yang berlutut di kakinya.
"Tempat kamu bukan di kaki Papa Dam. Tapi di sini, di hati Papa. Jadi yang benar seperti ini." Ray menunjuk dadanya dan memeluk Adam erat-erat.
"Maaf Pa dan ... terima kasih," ucap Adam di sela tangisannya. Adam tak menyangka sebesar itu rasa sayang Ray. Selama ini ia dibutakan entah oleh apa sehingga tak dapat melihat sedikit saja kasih sayang papanya.
__ADS_1
"Emm.. Kalau sudah begini, Papa yakin Mama ingkar janji. Sudah Dam, jangan menangis lagi. Kamu sudah berada di usia tak pantas untuk menangis. Karena kamu lelaki," hibur Ray.
"Kamu tak perlu mengucapkan terima kasih Nak. Karena semua tugas dan kewajiban Papa untuk menjaga kalian sebagai ayah dan kepala keluarga. Dan kamu harus berjanji untuk menjadi pria yang baik. Jangan kabur-kaburan seperti ini lagi." Adam mengangguk dan mengusap air matanya. Setelah ia mendengar ucapan Ray, ia merasa malu.
"Mama sayang, ini semua gara-gara perbuatan Mama. Lihat anak kita jadi menangis. Untuk itu Mama harus menerima hukuman nanti malam." Ray mengedipkan sebelah matanya menggoda Medina. Berharap kesedihan istrinya akan menghilang. Dan benar saja, Adam menjadi terkikik geli mengingat kemesraan kedua orang tuanya.
"Sudah deh Pa, jangan mulai lagi. Jangan lupakan anak bujang kalian yang masih ada di sini," gerutu Adam mengerucutkan bibirnya pura-pura sebal. Ray dan Medina tertawa.
"Tenang saja sayang. Sebentar lagi juga nggak bujang lagi," kata Medina penuh arti.
"Maksud Mama apa?" tanya Ray bingung.
"Karena sebentar lagi Adam akan menikahi Haura seperti permintaan Papa dan Mama," kata Adam sebelum Medina sempat menjelaskan.
"Benarkah? Kamu tidak bercanda kan, Dam? "tanya Ray setengah tak percaya. ia sangat bahagia.
"Nggak Pa. Adam akan menikahi Haura," jawab Adam terpaksa.
"Bagus Dam. Terima kasih, Nak. Terima kasih ...." Ray sangat bahagia dan memeluk Adam erat-erat.
"Minggu depan kita akan berkunjung untuk melamar Haura secara resmi. Malam ini biar Papa bicara dengan Bang Baim. Bagaimana, apakah Haura bersedia," ucap Ray berbinar.
"Iya Pa. Adam ikut kemauan Mama dan Papa saja. Kalian atur saja semua. Adam tinggal menjalaninya."
"Bagaimana bisa wanita kampung itu menolak jika dijodohkan dengan lelaki sepertiku? Aku tampan, kaya, pandai dan keren." Batin Adam sombong.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.