Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Cincin Itu


__ADS_3

"Medina, jika kamu percaya pada kesempatan kedua. Ikutlah saya kerumah sakit," kata Ilham beranjak dari duduknya.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa memberikan kesempatan kedua untuk Gibran." Medina pergi meninggalkan tuan Ilham dan menolak tawaran agar menikah dengan Gibran.


Di sebuah restoran.


"Aku tahu dia berbohong, Aku sudah lama mengenalnya. Dia memang sangat keras kepala, Ray. Sampai mulutku berbusa pun dia tak akan mau mendengar kata-kataku. Dia bilang dia tak mau menyusahkanmu. Dia bilang, kamu masih mencintai Aurel dan juga tak mau menjadi perusak hubunganmu dengan Aurel. Entah bagaimana aku harus membujuknya lagi," ungkap Zaskia yang kini sedang makan siang bersama Ray dan Arif kekasihnya.


"Ah, iya Ray. Aku hampir saja lupa. Medina menitipkan cincin ini untukmu," kata Zaskia menyerahkan cincin berlian yang dipakai Medina.


Ray menatap cincin bermata berlian yang sangat cantik itu dengan wajah sedih. Teringat kembali percakapannya dengan Medina. Membuat Ray senyum-senyum sendiri mengingat kenangan manis mereka.


Flashback On


"Dinn, ada hal penting yang kita lupakan." Ray berbisik di telinga Medina. Medina memandang dengan tatapan bingung.


"Cincin kawin Din. Kita lupa untuk membelinya tadi," ucap Ray panik. Mulut Medina terbuka karena terkejut, kemudian ia menepuk keningnya.Mereka kebingungan di depan gerbang.


"Bagaimana ini Mas?" Medina bingung mau mencari cincin kemana, kepalang tanggung. Karena mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Medina. "Sial ... kenapa bisa lupa?" batin Medina kesal dan panik.


"Em, ya sudah deh. Aku pinjamkan dulu cincinku ini. Ehem, sebenarnya ini kubeli khusus untuk calon tunanganku. Tapi dengan terpaksa kupinjamkan ke kamu. Mau bagaimana lagi? Tak ada waktu untuk membelinya. Kamu tolong jaga ya Din? Jangan sampai hilang! Dua minggu lagi, aku akan mengambilnya kembali dari kamu." Ray sedikit ragu dan tak rela menyerahkan cincin kepada Medina.


"Aku tahu cincin ini sangat berarti bagimu. Jadi nggak perlu Mas. Nanti bisa aku beli setelah kita istirahat." Medina Merasa tak enak hati karena terus merepotkan lelaki baik hati yang sudah menolongnya itu. Ia meletakkan kembali kotak cincin di genggaman Ray.


Ray membuka kotak cincin dan mengambil cincin berlian simpel namun sangat cantik dan menyelipkan ke jari manis Medina. "Nggak papa Din. Kamu pakai saja dulu. Ribet dan mana sempat mau beli?"


"Nah, kebetulan pas sekali. Tau tidak, Mas beli cincin ini dengan mengukur jari kelingking Mas sendiri. Orang bilang kalau pas di jari manis sang mempelai wanita itu artinya berjodoh," goda Ray sambil tersenyum.


"Nggak lucu deh bercandanya, Mas, aku kan bukan mempelai wanitanya," jawab Medina mengerucutkan bibir.


Flashback off


"Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus bantu aku menjalankan rencanaku," kata Aurel tak mau dibantah.


"Nggak, aku nggak mau menyakiti orang sebaik Ray. Apa yang kamu lakukan ini salah sayang, masih ada cara yang lain agar Ray menikahimu. Please kamu sadar Rel," jawab Reno menolak keinginan Aurel secara halus.

__ADS_1


"Oh ... jadi kamu nggak mau ya membantuku? Baiklah kalau begitu, aku akan menggugurkan bayi ini. Aku bersumpah akan menggugurkannya." Dengan penuh emosi Aurel ingin menyalakan rokoknya.


"Please sayang, jangan lakukan ini! Aku takut jika sampai kamu keguguran dan membahayakan nyawa kamu atau kemungkinan terburuknya bahkan ...." Perkataan Reno dipotong langsung oleh Aurel.


"Bahkan aku nggak bisa hamil lagi begitu? Iya? Kamu sekarang sedang mengkhawatirkan aku, begitu?


"Iya sayang aku takut ...."


"Aku nggak peduli kalau bayi ini mati. Aku tak peduli kalau aku juga harus mati ataupun aku nggak akan bisa punya anak lagi. Kalau ada hal buruk yang terjadi. Semua ini gara-gara kamu," kata Aurel marah-marah.


"Tapi aku peduli padamu, sayang. Aku benar-benar tak ingin ada sesuatu yang buruk menimpa kalian," ucap Reno khawatir.


"Aku bisa saja tidak menggugurkan bayi ini. Tapi ada harga yang harus kamu bayar untuk itu. Kamu harus membantu aku menjalankan rencana untuk membuat Ray segera menikahiku," perintah Aurel yang tak bisa dibantah oleh Reno.


Tanpa mereka sadari ada seorang lelaki muda yang mendengar pembicaraan rahasia mereka berdua. Lelaki itu puas karena mendapatkan info yang berharga.


"Nyonya, seperti itulah hasil dari penyelidikan saya. Lebih baik Nyonya segera membuat keputusan. Wanita itu tak layak untuk Tuan muda Nyonya," kata Yasin melaporkan.


"Hahhh ...." Nyonya Lidya menghembuskan nafas kasar.


"Anda tinggal membuat keputusan Nyonya. Dan saya akan melakukan apa pun untuk anda."


Wanita tua itu termenung memikirkan langkah apa yang selanjutnya harus ia lakukan.


***


Entah mengapa Medina sangat penasaran dengan kondisi Gibran. Bagaimanapun juga laki-laki itu pernah mengisi hatinya. Ia menyusuri lorong rumah sakit mencari ruangan tempat Gibran dirawat.


Nama Pasien : Gibran Ilyansyah


Ruang Kapulaga No. 3


Medina berhenti di depan ruang VIP itu, ia ragu antara ingin masuk atau tidak.


"Medina!" panggil seseorang dari arah belakang Medina. Hingga membuat ia terkejut.

__ADS_1


"Ah, Nyonya Rika rupanya? Kebetulan bertemu di sini," kata Medina mengulas senyum.


"Panggil saja Tante Rika, Nak."


"Baiklah Tan. Kenapa Tante ada disini?"


"Medina, ada yang ingin Tante katakan kepadamu. Sebenarnya Tante adalah mama Gibran, Nak. Maaf Tante menyembunyikan hal ini sebelumnya." Senyum di wajah Medina menghilang mendengar penjelasan Rika.


"Gibran ada di dalam. Mari Nak, kita masuk! Kalau Gibran sadar, pasti dia akan bahagia mengetahui kamu menengoknya," kata Rika membuka pintu dan masuk ke dalam ruang rawat.


"Bagaimana keadaan Gibran, Tante?"


"Beginilah Nak, sampai sekarang belum sadar juga," kata Rika.


"Lalu, apa yang dokter katakan?" tanya Medina lagi.


"Dokter bilang belum dapat dipastikan. CT scan juga sudah dilakukan dan kata dokter hasilnya baik. Tapi entah mengapa sampai sekarang Gibran belum bangun juga, Nak." Rika menjelaskan sambil menangis.


Medina hanya menganggukkan kepala dan ikut merasa sedih. Sungguh lelaki itu tampak kurus dan pucat. Ia juga kasihan dengan Tante Rika yang juga sayu dan terlihat lelah. Walaupun lelaki itu sudah menghancurkan hidupnya, ia tetap merasa sedih untuknya. Ia tetaplah wanita yang juga mengerti perasaan wanita lain. Ia paham, Tante Rika pasti sedih melihat kondisi anaknya seperti itu. Ia juga masih ingat dulu ia pernah mengecap indahnya cinta dengan lelaki itu.


.


.


.


.


.


.


Up lagi.


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote ya..

__ADS_1


Terima kasih 😊😊


__ADS_2