Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Apa Aku Sudah Memaafkanmu?


__ADS_3

Seminggu sudah Haura tinggal di rumah Ray dan Medina. Kondisi wanita itu sudah membaik. Ia sudah kembali ke keadaannya yang sedia kala. Berkat keluarga yang sangat menyayanginya, Haura cepat pulih dari depresinya.


Medina dan Ray bernafas lega, sepertinya mereka tak perlu khawatir lagi dengan kondisi kejiwaan menantunya. Namun, mereka akan tetap melanjutkan pengobatan dan terapi psikis untuk menantunya. Sampai Haura benar-benar sembuh dari traumanya.


Saat ini Mikha dan Haura tengah berada di taman belakang rumah merawat tanaman milik Medina. Haura sangat menyukai taman mertuanya itu. Karena ia memang sangat menyukai bunga.


"Kak, kapan-kapan kita keluar yuk?" ajak Mikha di sela-sela kegiatan mereka. Mikha yang biasanya malas berkebun karena panas, kini harus rela membiarkan kulitnya gosong tekena paparan matahari. Peluh sebesar biji jagung juga mengalir di kening gadis manis itu.


"Memangnya kita mau kemana, sayang?" tanya Haura.


"Ke mall atau ke mana gitu? Mikha bosan, oh iya beberapa hari lagi ulang tahun Kak Kei juga. Mikha mau beli hadiah. Kak Rara mau kan menemani Mikha?" tanya gadis itu memasang wajah terimutnya, berharap kakak iparnya mau menemaninya jalan-jalan.


"Kakak kayaknya malas deh sayang. Kamu ajak teman kamu saja ya?" tolak Haura yang sebenarnya enggan.


"Yahh ... padahal Mikha mau minta pendapat Kakak soal barang yang akan Mikha beli untuk kak Kei," ucap gadis itu cemberut.


"Iya deh, tapi kamu ya yang minta izin sama Mama?" pinta Haura.


"Okay, serahkan saja pada Nona muda 'Mikhaila Azzahra Dewanto' yang paling cantik ini." Mikha menepuk dadanya. Tingkah dan perkataan Mikha mengundang gelak tawa Haura yang masih sibuk membersihkan ranting kering.


"Kakak, sudah yuk! Panas, biar dilanjutkan Pak Anto saja," ajak Mikha menutup wajahnya dari sengatan matahari. Pipinya yang putih bersih kini memerah karena sengatan sang surya.


"Kamu masuk duluan saja. Tinggal sedikit kok. Kak Rara selesaikan dulu."


Akhirnya mau tak mau gadis itu membantu kakak iparnya. Berkali-kali Haura menyuruh Mikha berteduh namun gadis itu menolak jika Haura juga tak beristirahat. Lima belas menit kemudian kegiatan mereka selesai.


"Hahhh ... hahh ... panas." Gadis itu mengeluh seraya meminum sebotol air mineral yang ia ambil dari lemari es.

__ADS_1


"Kak, Mikha mau cuci muka dulu." Gadis itu mengibaskan tangannya di kedua pipinya yang memanas.


"Jangan dulu!"


"Eh, kenapa? Mikha kan kepanasan Kak?" keluh gadis itu tak tahan panas. Rasanya kedua pipinya terbakar.


"Sayang, saat ini kan suhu tubuh kamu meningkat. Keringat juga masih bercucuran. Jangan basuh dulu wajah kamu sampai suhu tubuhmu normal kembali. Karena, jika kamu melakukannya. Akan muncul flek-flek hitam di wajah kamu."


"Eh, masa sih Kak?"


"Iya, makanya sini kita duduk dulu. Kita cooling down dulu." Haura yang duduk bersila mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Kayak mesin aja Kak. Cooling down," ucap gadis itu seraya tertawa cekikikan.


"Dasar! Kalau dibilangin ngeyel ya kamu." Haura mencubit pipi Mikha yang memerah menggemaskan.


"Aw ... kakak!" protes gadis itu.


"Ma-maaf Kak. Mikha nggak sengaja," sesal gadis itu. Raut wajah penuh penyesalan kini ia tunjukkan pada iparnya. Mikha takut jika kata-katanya akan membuat kakak iparnya sedih. Namun di luar dugaan, kakak iparnya biasa saja. Tak lagi histeris seperti tempo hari.


"Nggak Papa kok, sayang. Kakak sekarang sudah lebih baik. Kalau hanya sekedar mendengar nama 'itu'."


"Jadi kakak sudah memaafkan Kak Adam?" tanya gadis itu kegirangan.


"Eh, eh ka-kakak nggak tahu," jawab Haura gugup.


"Iya Kak. Mikha tahu kok Kak Adam keterlaluan. Mungkin akan sulit bagi Kak Haura untuk memaafkannya. Eh, sudahlah bicarakan yang lain saja. Nggak usah bicarakan hal yang membuat sedih." Mikha berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Memaafkan? Apakah aku sudah memaafkanmu? Bagaimana aku harus bersikap jika suatu hari nanti kita bertemu lagi?" batin Haura.


***


"Dam! Jangan begini terus dong? Kalau kamu memaksakan tubuhmu seperti ini lama-lama tubuhmu nggak akan tahan. Kamu manusia bukan robot!" Ardi sangat kesal karena tingkah sahabatnya. Sudah seminggu ini Adam bekerja sampai larut malam, jarang makan dan kadang tidur di kantor. Ardi sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.


"Harusnya kamu senang, Di! Berkat kerja lembur yang aku lakukan, kita banyak menarik investor baru. Dan harga saham kita meningkat pesat. Tahun ini untung banyak, Bro."


"Pers*tan dengan semua uang dan keuntungan itu. Jangan sampai pengorbanan Papamu yang sudah memberikan satu ginjalnya untukmu menjadi sia-sia. Kalau kamu paksakan tubuhmu lagi, kamu akan sakit."


Ucapan Ardi yang membawa-bawa nama Papanya membuat dirinya tersadar, benar kata Ardi.


"Hahhhh ... aku harus bagaimana Di? Aku hampir gila karena cinta dan perasaan bersalah. Aku bekerja siang dan malam agar bisa melupakannya. Namun, sedetik pun wajahnya tak pernah lenyap dari pikiranku, otakku ini." Adam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu tak ingin mencoba menemuinya lagi? Siapa tahu istrimu sudah tak takut lagi padamu?" tanya Ardi yang iba terhadap penderitaan sahabatnya.


"Rasanya aku tak punya muka, Di. Apa yang aku lakukan benar-benar hina. Dan Papa juga sudah mengharamkan aku untuk menginjakkan kaki di rumah Papa." Perkataan Adam yang seribu persen benar membuat Ardi hanya bisa menghela nafas panjang.


"Sabar ya, Dam. Semoga ada jalan keluarnya." Ardi menepuk punggung sahabatnya, berusaha memberi semangat pada bos sekaligus sahabatnya itu.


"Bagaimana jika kamu diam-diam datang menjenguknya? Cukup melihat dari jauh. Siapa tahu hatimu lebih tenang setelah tahu keadaannya?"


***


"Iya Kak. Mikha tahu kok Kak Adam keterlaluan. Mungkin akan sulit bagi Kak Haura untuk memaafkannya. Eh, sudahlah bicarakan yang lain saja. Nggak usah bicarakan hal yang membuat sedih." Mikha berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kak Rara. Sebentar ya aku mau ke sana. Kakak di sini saja ya? Ingat di sini saja," pinta Mikha beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh menuju pohon bougenville yang rimbun di dekat pagar.

__ADS_1


"Mau ngapain Dek?" tanya Haura bingung. Mikha tak menjawab malah mempercepat langkahnya.


Mikha mengambil sebuah batu dan menggenggamnya erat-erat. Dengan langkah yang mantap, ia semakin mendekati pohon bougenville. Ia mempertajam penglihatan dan pendengarannya. Konsentasi penuh terhadap apa yang entah ingin ia lakukan. Ia mengangkat tangannya siap menimpuk sesuatu di dekat tanaman yang rimbun itu. Hingga pandangan matanya menangkap bayang seorang yang ia kenal, membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengayunkan batu itu.


__ADS_2