
"Dan Rara bercerita jika seumur pernikahan mereka, Adam tak pernah sekali pun menyentuhnya. Bahkan, mereka tidur di kamar yang berlainan. Adam hanya menganggap Haura sebagai penunggu rumah saja, tak lebih."
Perkataan demi perkataan Elsa menghancurkan seluruh hati Medina. Ia benar-benar tak menyangka begitu menderitanya menantunya selama ini.
"Dua minggu yang lalu, Rara bercerita jika hubungan mereka membaik. Tapi Elsa juga tak tahu pasti, mengapa Adam memperkosa Haura. Maaf jika cerita saya membuat Tante bersedih. Sebenarnya saya juga tak ingin menjelekkan Adam di depan Tante. Tapi saya terpaksa, karena semua demi Haura," ucap Elsa merasa bersalah. Elsa tahu, saat ini hati Medina pasti hancur lebur karena putranya.
"Tak apa, Nak. Terima kasih sudah membantu Haura selama ini. Mungkin kamu lebih baik pulang, karena hari sudah larut. Tante akan menghubungi sopir Tante untuk mengantar kamu pulang," ucap Medina dengan nada bergetar. Medina berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Ia harus kuat demi Haura, menantunya.
"Tidak perlu repot-repot Tan, El bisa naik taksi," tolak Elsa tak enak hati.
"Jangan Nak! Ini sudah larut malam, Tante sudah mengirim pesan pada Pak Anto. Dan sekarang sopir Tante sudah menunggu kamu di depan. Pulanglah, biar Tante dan Om yang menjaga Rara."
"Baiklah kalau begitu. El pulang dulu ya Tan. Besok InsyaAllah El akan kembali ke sini. Terima kasih ya Tan. El titip Rara. Dan ... sebaiknya Om dan Tante jangan memberitahu Paman Baim tentang kondisi Rara. Karena Rara tak ingin ayahnya bersedih."
"Iya Nak. Tante tak akan memberitahu Bang Baim. Kami juga tak punya muka untuk mengatakan padanya. Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya?" Elsa mengangguk dan segera pulang meninggalkan Medina yang masih duduk termangu di kantin rumah sakit. Ia masih terlalu shock mendengar semua kenyataan yang Elsa katakan.
Setelah beberapa menit Medina tenang kembali. Ia segera kembali ke ruang rawat Haura. Ia harus mengatakan semua pada Ray. Ia harus membicarakan hal itu dengan Ray, suaminya.
Sesampai di ruang rawat, ia mendapati menantunya yang belum sadar karena pengaruh obat penenang. Dan suaminya menunggunya dengan wajah yang sedih.
"Pa ...," panggil Medina.
"Iya Ma, mana Nak Elsa?" tanya Ray karena tak melihat keberadaan Elsa.
"Mama suruh Nak Elsa pulang. Kelihatanya dia capek banget, dan dia masih shock juga dengan kejadian yang menimpa menantu kita." Medina mengelus puncak menantunya yang kini tak terbungkus oleh hijab, seperti biasanya.
"Kita bicara di depan yuk Pa! Mama ingin menceritakan semua yang Elsa katakan pada Mama."
__ADS_1
Ray mengangguk dan mengikuti langkah Medina. Keduanya lalu duduk di kursi tunggu depan ruang rawat.
"Apa yang Nak Elsa katakan, Ma?"
Medina menceritakan semua yang Elsa katakan dari awal sampai akhir dengan menangis. Tak sanggup lagi wanita paruh baya itu menahan kesedihannya. Begitu dalam luka yang putra mereka torehkan. Ray ikut menangis, rasa bersalah semakin memenuhi rongga dadanya. Mencipta rasa sesak yang begitu menyiksa. Yang Ray tahu, ialah yang menjadi sumber luka yang saat ini dirasakan oleh Haura. Jika saja ia tak menjodohkan mereka semua tak akan jadi seperti ini. Jika saja ia tak memaksa Adam menikah, putranya tak akan menjadi semakin liar seperti itu.
Ray mengepalkan tangannya penuh emosi. Membayangkan perbuatan bejat yang dilakukan oleh putra mereka. Putra yang selalu menjadi kebanggaan mereka, kini sudah sangat keterlaluan. Rasanya tak ada ampunan lagi untuk pria itu. Ray berjanji akan membuat Adam menyesal. Ia akan sekuat tenaga menjaga Haura, putrinya.
"Ma, kamu jaga menantu kita. Papa ingin memberi pelajaran pada putra kita. Ini sudah keterlaluan, Papa tak bisa memaafkannya begitu saja Ma. Maaf Ma, Papa harus melakukan hal ini. Bukan karena Papa tak menyayanginya, bukan karena Adam bukan darah daging Papa. Tapi Papa rasa anak itu perlu diberi pelajaran agar tak lagi berbuat sesuka hatinya," ucap Ray penuh emosi. Ia benar-benar marah dengan apa yang dilakukan oleh Adam pada Haura. Ia seperti merasakan rasa sakitnya sebagai seorang ayah yang putrinya dizalimi.
"Pa, sabar ya Pa? Mama tahu Papa saat ini sedang marah. Bahkan sangat marah, iya kan? Mama juga marah, Pa. Rara putri Mama juga. Tapi ini sudah larut malam. Jangan sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan. Kita tunggu besok pagi. Biar emosi Papa mereda dulu. Kita dinginkan kepala dulu dan tenangkan hati kita. Baru besok kita berdua pergi ke rumah Adam. Mama juga tak terima jika putri kita diperlakukan begini," bujuk Medina. Ia belum pernah melihat kilatan amarah yang begitu menyeramkan dari mata Ray seperti saat ini. Ray yang semula ingin pergi, kini terduduk lemas dikursi tunggu. Semua yang Medina katakan benar. Ia dalam kondisi yang panas terbakar emosi.
"Apa Papa benar-benar bukan ayah yang baik ya, Ma? Kenapa Papa rasa Papa selalu gagal menjadi ayah untuk Adam? Kenapa jadi begini?" Kini Ray tertunduk pilu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi.
"Jangan katakan itu Pa! Papa adalah ayah dan suami terbaik untuk anak-anak dan Medina." Medina memeluk punggung Ray dan ikut menangis.
"Apa yang terjadi dengan kakak, Ma? Kenapa Kak Adam tak di sini?" tanya gadis manis itu yang kini sudah ada di ruang rawat Haura. Gadis itu terkejut mendapati kakak iparnya dalam kondisi yang seperti itu.
Pagi itu Medina dan Ray menelepon Bik Imah dan Mikha untuk menemani Haura di rumah sakit. Mereka takut jika Haura sadar akan histeris dan mencoba melakukan hal yang nekat lagi.
"Sayang, kamu bisa kan jaga Kak Rara. Mama dan Papa harus ke luar sebentar. Jangan pernah meninggalkan kakak sendirian. Dan jangan pernah membicarakan Kak Adam. Okay?" pinta Medina mengabaikan pertanyaan Mikha. Mikha yang sebenarnya masih bingung dan penasaran hanya bisa mengiyakan. Pengalihan pembicaraan yang mamanya lakukan, membuat ia sadar bahwa ia tak boleh bertanya lebih lanjut.
"Iya Ma. Mama dan Papa hati-hati ya?"
"Iya sayang, ya sudah Mama mau bicara dengan Bik Imah sebentar dan langsung pergi."
"Bik, tolong jaga menantu saya. Sebelum kami kembali, jangan pergi kemana pun. Bibi singkirkan semua benda tajam yang ada di ruangan ini. Kalau ada apa-apa segera panggil dokter dan hubungi kami," perintah Medina.
__ADS_1
"Iya Nyonya," jawab Bik Imah masuk ke ruang rawat Haura dan majikannya segera pergi dari rumah sakit.
Pagi itu mereka harus menyelesaikan segalanya. Ia harus membuat putra mereka menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum,
maaf baru bisa update lagi.
InsyaAllah mulai besok saya akan update rutin. Terima kasih atas kesabaran readers menantikan novel ini update.
Love You All 😘😘😘
__ADS_1