Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Tak Pernah Menyadari


__ADS_3

"Huhhh ...." Adam membetulkan posisi tangan istrinya, diletakkannya di perut wanita itu.


Pandangan Adam teralih ke sebuah buku novel romance berjudul 'Revenge' karya penulis dalam negeri. Adam mengernyit, tak menyangka istrinya yang terlihat alim dan kampungan membaca novel adult romance seperti itu. Tak sengaja, sudut bibir Adam terangkat melihat buku itu.


Adam yang masih dalam posisi berjongkok di dekat Haura dengan iseng membuka novel istrinya. Ia membaca acak dan tersenyum, rupanya istrinya menyukai novel romance yang penuh dengan kata-kata yang indah. Tak lama, Adam meletakkannya di meja.


Adam kembali menatap Haura yang tertidur pulas. Wanita itu begitu manis dan imut.


Ternyata kamu cantik juga ya Ra. Manis dan imut, seperti anak-anak. Begitu polos, tapi indah. Kenapa selama ini aku tak pernah menyadari kecantikanmu? Walau tanpa riasan kamu begitu mempesona. Argh, betapa ruginya aku menyia-nyiakan kamu selama ini.


Tangan Adam terulur dengan pelan menyentuh puncak kepala Haura. Dengan ragu ia mengelus surai milik istrinya yang lembut dan halus. Ia menatap wajah cantik istrinya dengan intens. Ketika tatapannya tertuju pada bibir ranum milik istrinya. Merah dan basah, terlihat begitu menggoda. Adam menjadi terbakar gairah. Ingin rasanya ia menyambar bibir itu dengan ganas. Dan menghisapnya penuh nafsu. Apalagi sudah lama ia tidak menikmati indahnya bercinta. Adam merindukan nikmatnya seorang wanita. Jakun Adam naik turun, dengan susah payah ia menelan salivanya. Rasanya ia ingin menerkam wanita itu saat ini juga.


Gerakan lembut Adam di kepala Haura, membuat Haura sangat kaget hingga ia membuka matanya kembali. "Ap-apa yang Mas lakukan?" tanya Haura gugup dan refleks menepis tangan Adam yang masih berada di kepalanya.


"Jangan tidur di sini. Kembali ke kamarmu sana," ucap Adam sedikit ketus, menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan tengah memperhatikan istrinya. Ia memalingkan wajahnya yang memerah, tak ingin Haura melihatnya yang sudah terbakar gairah. Wajar, ia laki-laki normal. Miliknya akan mengeras melihat kemolekan seorang wanita.


"Maaf, Rara terlalu nyaman membaca hingga ketiduran." Haura mengerjapkan mata sebentar. Tak lama ia bangkit dari tidurnya dan mengikat rambutnya yang tergerai. Lagi-lagi Adam harus bersusah-payah menelan salivanya melihat leher jenjang Haura yang putih dan mulus menggodanya.


"Jangan biasakan membaca dengan tiduran. Tidak baik untuk mata," nasehat Adam berlagak bijak. Sungguh berat rasanya ia menahan gairahnya saat ini sehingga tanpa sengaja ia mengatakan hal-hal yang menurutnya tak penting. Dalam hati Adam merutuki dirinya sendiri.


"Iya Mas, ya sudah Rara naik dulu ke atas. Rara mengantuk. Atau Mas Adam mau Rara buatkan minum?" tanya Haura sembari menguap.


"Tidak, sana pergilah ke kamar," ucap Adam tanpa menatap mata Haura. Ia masih merasa malu dan gairahnya sudah berada di ubun-ubun.


"Ya sudah. Rara tidur ya Mas. Selamat malam Mas."


"Hmm ...," jawab Adam dingin.

__ADS_1


Pikiran kotor kini memenuhi otak Adam. Sedari Haura masuk ke kamar, ia masih tak tenang. Ia begitu menginginkan wanita itu. Pesona Haura terngiang di kepalanya. Wajah cantiknya, leher putih dan jenjang, kakinya yang putih mulus, gestur tubuhnya yang seksi. Ingin ia mengecup bibir merah itu. Ingin ia menghisap leher yang putih itu hingga berubah menjadi merah. Ingin ia memeluk tubuh yang sangat indah itu dan ... Arggh, Adam kini terobsesi pada istrinya sendiri. Sayang, ia sendiri yang sudah bodoh menolak wanita itu.


"S**t!" umpat Adam merasa frustasi. Miliknya yang sudah tertidur, mengeras lagi hanya dengan mengingat kemolekan Haura. Wanita yang pernah ia tolak mentah-mentah.


Selama ini ia buta tak dapat melihat kecantikan istrinya. Atau mungkin ia tak menyadarinya karena Haura sering memakai baju yang longgar dan asal-asalan.


"Sialan ... apa yang barusan aku lakukan? Huh, haruskah aku mandi lagi untuk menenangkanmu?" ucap Adam seorang diri seolah bertanya pada miliknya yang masih menegang.


Lama Adam termenung, ia mengingat kembali bahwa pada kenyataannya Haura adalah istrinya. Ia berhak untuk meminta istrinya melayaninya. Hubungan suami istri bukan hal yang tabu untuk mereka. Wajahnya yang semula kusut kini sedikit cerah. Dengan langkah pelan, Adam menaiki tangga dan masuk ke kamar Haura yang tidak terkunci.


Dengan mengendap ia mendekat ke ranjang istrinya. Wanita itu sudah terlelap dengan selimut tebal menutupi tubuhnya sampai leher.


Adam duduk dan meneguk salivanya. Ia benar-benar tak tahan lagi untuk segera menerkam Haura. Dan menikmati rasanya bercinta dengan istrinya. Haura yang belum menyadari kehadiran Adam masih terlelap dalam mimpi.


Adam mendekatkan wajahnya pada Haura dan mengecup bibir istrinya. Tak ada penolakan, Adam mulai berani mem*gut dan menggigit kecil bibir ranum itu. Rasanya begitu manis dan kenyal. Adam yang menikmati kegiatannya sampai memejamkan mata. Rasanya begitu nikmat. Haura yang terkejut, terbangun dan langsung mendorong dada bidang Adam.


"Ayolah Ra! Aku suamimu, layani aku. Aku ingin kamu memberikan hakku yang belum aku ambil selama ini," ucap Adam sekenanya. Otaknya sudah tak dapat berpikir jernih karena tertutup kabut gairah.


"Jangan Mas. Rara tak mau," tolak Haura yang menahan tubuh Adam yang ingin menciumnya. Adam masih belum menyerah ingin menc*mbu istrinya.


"Ayolah Ra. Aku tak tahan lagi. Sudah cukup lama aku bersabar untuk tak menyentuhmu. Ayo Ra, layani aku!" bujuk Adam lagi tanpa rasa malu.


"Sudahhh ... jangan Mas! Rara bilang tak mau. Keluarrr! Keluarr aku bilang ...." Haura mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong Adam hingga terjengkang ke belakang. Adam jatuh dari ranjang, dan membuat kesadarannya kembali.


"Keluar Mas, keluarrr!" usir Haura yang kini sudah berlinangan air mata. Adam kesal dan pergi meninggalkan kamar Haura dengan emosi.


"Arrhhhh.." erang Adam setelah keluar dari kamar Haura. Adam begitu frustasi. Yang ia butuhkan saat ini adalah pelepasan. Dan Isabella adalah jawaban yang tepat untuk mengatasi gairahnya saat ini.

__ADS_1


Adam meraih kunci mobilnya dan menuju rumah kekasihnya. Kekasih yang sudah empat bulan lebih tak ia temui.


Setelah memarkirkan Mobilnya di halaman rumah Isabella, Adam masuk ke rumah begitu saja. Kebetulan wanita itu tak mengunci pintu. Ia ingin segera bertemu dengan Isabella dan menuntaskan hasrat birahinya.


Ia berjalan tergesa-gesa menaiki tangga. Hasratnya sudah di ubun-ubun ingin segera bercinta dengan Isabella, kekasihnya. Namun, setengah perjalanan. Ia mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Isabella.


Kadang wanita itu tertawa, kadang mendesah dan meracau tak menentu. Wajah Adam memerah karena marah, pikiran buruk memenuhi kepalanya. Tapi ia tak ingin berasumsi sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai readers, mungkin dua minggu ke depan saya tak bisa up setiap hari.Tapi tak pasti lagi. jika kemungkinan ada tabungan naskah aku aka setor. Jadi pantengin terus ya.


Untuk yang mau bertanya alasan saya boleh join di grup chat

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2