Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Apa Ini Cinta?


__ADS_3

"Kamu jahat Mas. Rara pikir, Mas Adam benar-benar membuangku. Aku berpikir aku akan kehilangan Mas Adam lagi. Rasanya jantung Rara akan lepas." Haura menyeka hidungnya yang beringus dan memerah karena tangis sembari bersungut-sungut. Kesal karena suaminya mengerjai dirinya.


"Maaf ya sayang. Mas tak menyangka kamu akan bereaksi seperti ini." Adam tertawa bahagia menatap istrinya yang sangat takut kehilangan dirinya. Namun Ada sedikit rasa bersalah telah membuat wanita itu menangis.


"Mulai malam ini Mas tidak akan membiarkan setetes air mata pun mengalir dari mata indah ini. Mas berjanji akan menjagamu dan melindungimu sayang."


"Berjanjilah Mas. Jangan pernah meninggalkan aku. Jangan buat lelucon seperti ini lagi. Karena hati Rara lemah dan akan mudah hancur."


"Iya sayang. Mas berjanji. Akan selalu menyayangimu. Sudah dong jangan nangis lagi?" Adam merasa sangat bersalah.


"Ehm, ada satu kejutan lagi untuk kamu sayang."


"Apa lagi Mas? Bisa-bisa Rara mati jantungan."


"Tidak akan. Mari ikut Mas." Adam menuntun Haura menuju ke lantai atas. Namun sesampainya di lantai tiga, Adam masih saja mengajaknya naik lagi.


"Mas, kita mau kemana?"


"Sudah ikut saja."


Haura terkesima ketika sampai di atap. Ratusan lilin memenuhi tempat itu. Di tengahnya terdapat sebuah tenda berukuran sedang. Dari sana dapat melihat keindahan bulan dan bintang yang bertebaran. Angin sejuk berhembus sepoi-sepoi menambah kenyamanan malam itu.


"Ra, sementara Mas baru bisa mengajak kamu berwisata dan berbulan madu di sini. Mungkin lain kali kita bisa ke luar negeri. Ke swiss, Oakland, Sidney atau mana pun yang kamu inginkan. Tapi kita harus mengatur jadwal dulu. Karena Mas punya tanggung jawab pada perusahaan."


"Mas, Rara tak perlu bulan madu atau liburan atau apa pun itu. Yang Rara inginkan hanya kasih sayang Mas Adam. Rara hanya ingin Mas Adam mencintai Rara. Itu sudah cukup." Haura memeluk tubuh kekar suaminya erat-erat.


"Ayo Ra. Kita masuk ke tenda. Mas sudah susah payah membuatnya seharian lho."


"Jadi ini kegiatan yang Mas lakukan selama Rara pergi tadi sore? Sampai-sampai ketika Rara masuk rumah keadaan begitu kosong?"


"Iya, bukan ini saja. Kan makan malam tadi Mas juga yang persiapkan," ucap. Adam bangga.


"Em begitu. Ayo kita masuk." Haura menarik Adam mendekati tenda.


"Mas, adakah orang berkemah menggunakan kasur setebal ini?" tanya Haura ketika membuka tenda.

__ADS_1


"Itu ... itu karena Mas khawatir punggung kamu akan sakit jika tidur tanpa alas."


"Maksud Mas, kita akan tidur di sini?"


"Iya Ra. Mas ingin melalui malam ini di sini bersamamu. Dibawah hamparan bintang di langit dan dengan udara alami dari alam ini. Aku ingin melewati malam berkesan ini bersamamu."


"Mas ingin bercinta denganmu sayang," bisik Adam.


"Apaan sih Mas." Haura menyembunyikan wajahnya di dada Adam karena malu.


"Ra, sebelum itu Mas ingin menceritakan diri Mas yang buruk ini. Mas akan katakan semua padamu. Dan mengenai kamu akan menerima Mas atau tidak itu terserah kamu. Karena Mas tak ingin ada rahasia sedikit pun di antara kita."


"Jangan bilang begitu Mas. Manusia tidak ada yang sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki diri. Dan di masa depan kita harus menjadi orang yang lebih baik lagi."


Kemudian Adam menceritakan segalanya tentang dirinya. Segala keburukan-keburukan dirinya di masa lalu. Dengan menangis Adam juga bercerita tentang peristiwa penculikan dan juga tentang Ray bukan ayah kandungnya. Haura ikut menangis mendengar cerita Adam. Walaupun sebagian besar ia sudah mendengarnya dari mama mertuanya. Namun mendengar bagaimana pilunya lelaki itu berbicara, membuat hati Haura teriris perih. Ia paham betul perasaan lelaki itu.


"Mas, mulai sekarang Mas Adam nggak boleh sedih. Karena ada aku di sini. Mas Adam punya Rara."


"Maukah kamu menerima suami seburuk aku, Ra? Bahkan setelah apa yang aku perbuat padamu?"


"Kamu adalah orang terbaik yang Allah pilihkan Mas. Rara tahu Mas Adam orang baik. Hanya saja, dulu Mas Adam pernah salah jalan. Dan Rara tak pernah mempermasalahkannya. Besar harapan Rara agar Mas Adam berubah lebih baik dan jangan sampai jatuh ke lubang yang sama lagi."


"Ra, lihatlah langit! Indah bukan?" tanya Adam yang memeluk Haura dari belakang.


"Iya Mas. Indah banget."


"Maaf ya. Tidak sesuai harapan kamu. Harusnya kita menginap di hotel bintang lima atau di villa besar di pedesaan. Kenyataannya, Mas hanya membuat tenda sederhana di atap. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Mas terkesan pelit ya Ra?"


"Mas salah. Rara sangat menyukainya. Rara suka hal apa pun asal bersama Mas."


"Ra, apakah ka-kamu mencintaiku?"


"Ah, bicara apa aku ini." Adam menjadi canggung karena pertanyaan yang ia ajukan.


"Mas, apakah debaran seperti ini adalah cinta?" Haura meletakkan tangan Adam di dadanya yang berdegup kencang.

__ADS_1


"Ap-pakah rasa gugup ini juga cinta?"


"Apakah rasa rindu selama aku di rumah mama, itu juga bisa dikatakan cinta?"


"Rara tak tahu Mas. Yang Rara tahu, Rara tak ingin kehilangan Mas Adam. Tak ingin sedetik pun terpisah dari Mas Adam. Dan selalu merindukanmu siang dan malam."


"Kamu serius?" Haura menganggukan kepalanya.


"Terima kasih, Ra." Adam mendekap erat tubuh mungil itu.


Adam sangat bahagia mendengar pernyataan Haura. Walau mungkin Haura belum sepenuhnya mencintainya, Adam akan selalu sabar menunggu. Menunggu sampai hanya dirinya yang ada di hati wanita itu. Walaupun entah kapan hal itu terjadi.


Dengan lembut ia menatap mata bening Haura. Perlahan Adam menempelkan kening mereka, mengikis jarak di antara keduanya. "Ra, aku sangat mencintaimu."


Satu kecupan lembut mendarat di kening Haura. Haura memejamkan mata menerima kehangatan yang Adam berikan. Rasanya sungguh nyaman diperlakukan sedemikian rupa.


Entah berapa kali Adam mengucapkan kata cinta padanya malam itu, diiringi kecupan di mata pipi hidung dan bibirnya. Haura merasa sangat berharga, ketakutan dan rasa gugup yang biasa ia rasakan menghilang entah kemana. Rasa resah dan gelisah itu musnah sudah. Bahkan, kejadian di malam itu sudah lenyap dari pikiran Haura.


Adam memberanikan diri memagut bibir Haura, menggoda nakal istrinya agar membuka mulut. Terkadang ia menj*lat, menghisap atau menggigit kecil bibir atas dan bawahnya. Hingga wanita itu takhluk dan membuka membuka mulutnya. Mengizinkan lidah Adam menelusup masuk dan bertaut dengan lidahnya. Tak lupa lelaki itu mengabsen setiap deretan gigi istrinya. Hingga ciuman mereka terlepas di saat keduanya hampir kehabisan nafas.


Dengan nafas memburu terbungkus nafsu, keduanya saling bertatap mata. Menyiratkan rasa yang ada. Mungkin jika dapat berucap, lelaki itu akan mengucap kata 'maaf'. Namun ia rasa ini bukan saat yang tepat. Ia takut menghancurkan kemesraan yang terjalin saat ini. Dan wanita itu sangat ingin mengucapkan 'miliki aku', sayang ia terlalu malu untuk mengucapkannya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hampir saja lupa update wkwkkwkwk


__ADS_2