Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Cinta yang Istimewa


__ADS_3

"Ya sudah, akhir bulan ini saja kita menikahnya," jawab Ray asal.


"What?" Aurel berteriak bahagia.


"Tapi Oma pasti tidak akan setuju. Aku takut Oma marah," kata Aurel menggelayut manja di lengan Ray.


"Masalah Oma, biar Mas yang atur," jawab Ray.


"Benarkah?" Aurel berjingrak kegirangan.


"Benar sayang," jawab Ray mencuri pandang ke arah Medina.


"Sayang, Mas ada sesuatu buat kamu." Ray merogoh saku celananya mengeluarkan cincin berlian, dengan kasar ia menarik dari kantong celananya hingga terjatuh di antara kaki Medina. Ray memang sengaja menjatuhkannya ke arah Medina.


Medina menundukkan badannya memungut cincin tersebut dan segera mengembalikannya pada Ray.


"Ini cincinnya Tuan," kata Medina mengulurkan cincin ke tangan Ray dengan tersenyum kikuk.


"Maaf Tuan, Nona ... saya permisi ke belakang sebentar," Medina undur diri ke toilet.


"Ya ampun, cantiknya cincin ini," puji Aurel bahagia. Ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan semanis ini sebelum menjalankan rencananya. Lamaran dan juga cincin. Meskipun tak ada kesan romantis ketika Ray mengajaknya menikah, ia tetap bahagia. Jika tahu begini, tak perlu susah-susah untuk menyusun rencana licik itu.


"Mas, aku tak menyangka kamu akan melakukan hal manis seperti ini," ucap Aurel manja. Ray hanya tersenyum.


"Pakaikan di jari Aurel dong Mas?" pinta Aurel dengan wajah berseri-seri menyerahkan cincin ke tangan Ray kembali.


"Emm, kamu tunggu Mas di mobil sambil pakai cincin ini dulu ya? Mas mau ke toilet sebentar, okay?" Ray menyerahkan cincin ke tangan Aurel dan dengan tergesa menyusul Medina ke belakang.


Sesampai di pintu toilet, Ray segera mengetuk pintu dan memanggil nama Medina.


"Me, dengarkan Mas," bujuk Ray.


"Buat apa Mas di sini, pergi!" teriak Medina dari dalam toilet sampai suaranya menggema memenuhi toilet.


"Me, jangan marah. Mas cuma bercanda tadi." Ray masih setia berdiri di depan pintu toilet.

__ADS_1


"Me tak peduli Mas mau menikah akhir tahun atau akhir bulan ini atau akhir minggu ini sekalipun," kata Medina marah.


"Kenapa kamu marah kalau benar-benar tak peduli?" tanya Ray. Medina terdiam membisu.


"Me, Mas sayang, Mas cinta sama kamu Me. Mas tak akan menikah dengan Aurel. Dan Mas tahu kamu juga mencintai Mas kan Me? Mas mohon terimalah Mas, jangan bohongi hati kamu sendiri Me," tambah Ray.


"Me bilang tak peduli, kubilang pergi! I dont wanna see your face again," kata Medina mulai menangis.


Ray masih berdiri mematung di depan pintu dengan kalut. Ia mengacak rambutnya kasar karena frustasi. Ia bingung bagaimana lagi caranya membuat Medina menyadari perasaannya dan meyakinkan Medina agar percaya akan cintanya. Ray sengaja mengajak Aurel ke butik itu untuk membuat Medina cemburu. Tapi nyatanya Medina tetap keras kepala. Ray tahu Medina juga mencintainya. Tapi entah mengapa wanita itu memungkiri perasaannya. Karena tak ada lagi suara dari Medina, Ray akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Zaskia yang mendengar perbincangan mereka hanya bisa mengelus dada. Ia sedikit gemas dengan sahabatnya yang keras kepala itu. Padahal ia akan mendukung sepenuhnya jika Medina bersama Ray.


***


"Mari masuk, silakan anggap seperti rumah sendiri ya? Maaf rumah orang bujang hanya ala kadarnya dan mungkin sedikit berantakan," kata Ray seraya menarik koper milik Aurel. Aurel dan Reno mengikut di belakang Ray mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen yang berukuran minimalis itu. Ada dua lantai di sana. Ada satu set sofa, dua kamar tamu dan dapur sederhana yang menyatu dengan ruang makan dilantai satu. Dilantai dua hanya ada kamar Ray dan ruang kerjanya.


"Nggak papa Ray, terimakasih sudah memberikan tumpangan tempat tinggal untuk saya," kata Reno tersenyum .


"Oh ya, kamu pakai kamar yang sebelah kiri itu ya? Tapi maaf agak sempit. Yang di tengah itu untuk Aurel. Kalau kamu mau sembahyang bisa naik ke atas di kamarku. Agak luas sekedar untuk sembahyang," kata Ray.


"Baik Ray, sekali lagi terimakasih," kata Reno.


"Sayang, Mas mau bicara sedikit," kata Ray setelah Reno masuk ke dalam kamarnya.


"Iya bicaralah!" kata Aurel sembari mengaduk tas miliknya entah mencari apa.


"Mas mau minta maaf," kata-kata Ray membuat Aurel menghentikan kegiatannya.


"For?" tanya Aurel penasaran.


"Mas, nggak bisa lanjutkan hubungan kita lagi Aurel. Mas minta maaf, Mas nggak bisa menikah denganmu. Bukan salah kamu. Tapi semua ini salah Mas, Mas sudah jatuh cinta pada orang lain. Mas yakin kamu akan menemukan orang lain yang lebih baik dari Mas," kata Ray penuh rasa bersalah. Senyum Aurel yang tadinya mengembang di wajahnya menghilang. Kini amarah melingkupi kepalanya.


"What? Mas jangan bercanda! Baru tadi Mas bilang kita akan menikah akhir bulan ini kenapa tiba-tiba berubah seperti ini," kata Aurel marah.


"Maafkan Mas, Mas juga tak tahu kalau akhirnya menjadi seperti ini. Mas tidak menyangka perasaan Mas akan berubah. Mas sudah mencoba melupakan dia. Tapi perasaan Mas semakin dalam padanya. Sedetikpun Mas tidak bisa melupakan dia," kata Ray.

__ADS_1


"No! Mas Ray jahat, siapa wanita itu? Katakan! Siapa wanita itu biar aku kasih pelajaran." Aurel mengamuk tak dapat menerima kenyataan.


"Kamu tak perlu tahu siapa dia, yang pasti aku sangat mencintainya. Cintaku padanya sangat istimewa, sehingga Mas tak dapat jauh darinya," kata Ray.


"Mas tidak bisa lakukan ini padaku. Please jangan bahas wanita lain, okay? Kita lanjutkan rencana kita untuk menikah dan aku akan membantu Mas melupakan wanita itu," bujuk Aurel.


"Tidak bisa Aurel, kalau pun kita melanjutkan rencana ini semua hanya akan sia-sia. Kita tak akan pernah bisa bahagia. Hati Mas sudah berubah, cinta untukmu sudah hilang tak bersisa. Hanya ada dia di hatiku. Hanya ada namanya yang tersimpan disini." Ray menunjuk dada bidangnya.


"No ... aku tak mau dengar apa pun lagi. Aku tak dengar, aku tak dengar." Aurel menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya dan lari ke kamarnya meninggalkan Ray sendiri.


Ray mengusap wajahnya kasar. Ia tahu tak akan semudah itu Aurel menerima keputusannya dan melepasnya. Tapi Ray melakukan semua demi kebaikan mereka berdua. Ray tak ingin membohongi hatinya dan Aurel. Ray tak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta.


Reno hanya menyaksikan pertengkaran mereka berdua diam-diam. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo.. Siapa yang gemas sama Medina?? Siapa yang emosi karena jalan ceritaku begitu?


Kalau kalian jadi Medina mau kembali bersama Gibran atau memilih move on bersama Ray. Apa alasan kalian memilih Ray/Gibran ?


Nikmati saja alurnya ya. Emang hidup kan nggak semulus kulit durian wkwkkwkw.


Endingnya sudah aku tentuin kok. Jadi jangan marah ya? jangan pindah ke lain hati pulak.

__ADS_1


Jadi kalau Author menyebalkan jangan di timpuk pake batu ya? Timpuk aja pake like komen atau vote..


😂😂😂


__ADS_2