
Wanita tua itu terbaring lemah di ranjang tempat tidurnya. Sudah seminggu lebih wanita itu tidak turun dari tempat tidur. Tak ada anak atau pun saudara yang merawatnya. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga yang membantu merawat dirinya dengan sabar dan telaten.
Pilu, begitu menyedihkan ketika di masa tua tak ada seorang anak yang menemaninya. Sungguh masa tua yang kelam, ketika anaknya yang pernah diharapkan sebagai tempat bergantung telah lebih dulu meninggalkan dunia yang fana ini. Sedangkan suami yang harusnya sudah berhenti dari dunia kerja di usia senjanya masih harus sibuk mengurusi pekerjaan di kantor. Demi ribuan bawahan yang mengais rejeki di perusahaannya.
Wajah wanita itu memucat kehilangan harapan. Ingin rasanya ia segera menyusul putranya yang sudah di alam baka. Namun, tiada daya upayanya hanya bisa menunggu Sang Maha Kuasa memanggilnya. Ia tak sanggup lagi menanggung kesedihan karena kesepian.
"Nyonya ... ayo dimakan. Sedikiiit saja," bujuk Marni pembantu rumah tangga Rika. Wanita paruh baya itu sudah mengabdi selama puluhan tahun di keluarga itu. Marni sudah putus asa membujuk majikannya yang belum makan selama dua hari.
"Nggak Ni. Aku nggak lapar," tolak wanita itu dengan pandangan kosong.
"Bapak kemana Ni? Kerja kah?" tanya Rika.
"Iya Nyonya, Bapak kerja. Mungkin sebentar lagi pulang."
"Nyonya makan sedikit ya? Kalau bapak tahu saya tak bisa membujuk Nyonya makan, nanti saya kena marah lagi nyonya," ucap Marni hati- hati. Ia sudah puas kena amarah majikan lelakinya sejak Rika sakit.
"Aku nggak selera makan Ni. Kamu masakin bubur kacang hijau saja ya Ni? Kok kayaknya enak," pinta Rika.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu Marni ke pasar dulu membeli bahan-bahan," kata Marni gembira akhirnya majikannya menyebutkan makanan yang ingin ia santap.
"Ni, sebelum kamu pergi ke pasar, tolong ambilkan ponselku yang aku cas di nakas itu," perintah Rika lirih.
"Baik, Nyonya. Tunggu sebentar," kata Marni berjalan ke arah nakas dan mengambilkan ponsel milik Rika dan menyerahkannya.
Begitu ponsel diaktifkan, Rika langsung membuka galeri foto di ponselnya. Ia tersenyum-senyum melihat wajah bocah tampan yang sedang bermain bola di sebuah halaman rumah besar.
"Adam," gumamnya lirih.
"Oma rindu Nak. Kamu pasti sekarang sudah besar ya, Nak? Sudah dua tahun kita tak berjumpa." Rika berbicara dengan foto Adam yang ada di ponsel.
"Andai Papa kamu masih ada, pasti Oma akan bebas bermain sama kamu, Nak," kata Rika lagi. Mengingat Gibran yang sudah tidak ada membuat luka di hatinya menganga kembali.
"Sungguh pedih hidupku tanpa seorang anak atau pun cucu," kini Rika menangis.
***
"Em ... menurut hasil pemeriksaan semua baik-baik saja. Nyonya subur, dan Tuan juga tak ada masalah," kata dokter.
__ADS_1
"Tapi kenapa ya Dok, kami sudah dua tahun menjalani program kehamilan tapi belum ada hasilnya?" tanya Medina tak sabar.
"Mungkin anda bisa berusaha lebih lagi. Mungkin di masa subur bisa lebih sering dilakukan. Tambah makanan bergizi dan yang terpenting anda harus rileks nyonya. Jangan sampai stres, karena kondisi psikologi anda juga sangat berpengaruh. Saya yakin akan ada hasilnya. Hanya saja perlu sedikit kesabaran yang lebih," nasehat dokter.
"Dengerin itu sayang, kita jalani saja. Kalau sudah waktunya pasti dikasih kok," hibur Ray.
"Tapi ...." Medina menggigit bibir bawahnya. Ia harus kecewa untuk kesekian kalinya. Karena sudah lama ia tak juga mengandung. Berbagai cara sudah mereka tempuh. Ia meremas kaos yang dipakainya karena begitu kecewa.
"Ini saya berikan vitamin untuk anda. Silakan diminum dengan rutin." Medina sampai hafal dengan vitamin yang ia minum setiap hari. Rasanya begitu muak memakan pil-pil tersebut setelah sekian lama.
"Ah ya mungkin untuk mengurangi stres, anda bisa menciptakan suasana yang tenang untuk Nyonya. Anda bisa mengajak Nyonya jalan-jalan mungkin," kata dokter tersenyum.
Akhirnya setelah urusan selesai Medina dan Ray segera pamit.
Sepanjang jalan ke tempat parkir, Medina hanya berdiam diri dengan wajah yang ditekuk. Berbagai pikiran buruk melingkupi kepalanya. Ia merasa gagal menjadi seorang istri. Ia gagal memenuhi harapan Ray yang ingin menjadi seorang ayah yang sesungguhnya.
Medina begitu putus asa. Setiap orang berkata dengan memakan A bisa membuatnya hamil maka ia akan memakannya. Setiap ada yang bilang herbal B bisa memudahkan hamil, maka ia akan mencarinya. Bahkan pengobatan alternatif juga sudah ia coba. Tapi semua nihil. Tak ada satu pun yang berhasil.
"Mas, aku nggak mau ke dokter lagi," kata Medina setelah mereka sampai di mobil. Dengan mata berkaca-kaca ia mencoba sebisa mungkin tak menangis.
"Aku bosan ikut program hamil terus. Aku nggak mau kecewa lagi," kata Medina menangis tersedu. Tak dapat lagi ia menahan rasa sakit di hatinya.
"Lho ... kok malah nangis?" tanya Ray cemas karena Medina mulai sensitif dan menangis. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari tempat parkir.
"Maaf Mas, maaf ...," ucap Medina dengan hati teriris. Begitu sakit rasanya tidak bisa memberi keturunan untuk suaminya. Ia merasa seperti istri yang tak berguna.
"Please kamu tenang ya sayang. Mas kan sudah bilang, kalau Mas nggak mempermasalahkannya. Em ... mari kita jalan-jalan," ajak Ray yang kebingungan tiba-tiba mendapatkan ide untuk mengembalikan mood istrinya.
"Kemana?" tanya Medina mulai tertarik.
"Kamu maunya kemana?" Ray mulai melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
"Terserah Mas saja deh." Medina menyandarkan kepala ke sandaran kursi mobil. Ray membiarkan istrinya, lama-lama Medina tertidur.
Dua jam Ray mengendarai mobilnya, Medina masih tertidur lelap. Mungkin wanita itu kelelahan karena menangis. Ray tersenyum melihat istrinya yang terlihat manis bahkan saat tidur.
Setelah dua setengah jam perjalanan, mereka sampai di sebuah pantai. Ray segera membangunkan istrinya yang tidur lelap.
__ADS_1
"Eh, kita ada di mana Mas?" tanya Medina mengucek matanya.
"Pantai. Yuk turun!" ajak Ray.
Ketika Medina turun dari mobil. Ia begitu rileks disambut oleh tiupan angin lembut yang berhembus sedikit kuat. Suara ombak berkejaran memenuhi pendengarannya. Medina takjub, lama ia tak pergi ke pantai. Terakhir kali ia pergi, sewaktu ia memutuskan untuk cuti dari kuliahnya di Harvard.
Ray menggandeng tangan istrinya layaknya sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Mereka berjalan mendekat ke arah pantai.
"Hari ini, aku bukan suamimu. Anggap aku sebagai kekasihmu. Kita kembali ke masa kita berusia 17 tahun. Sedang menikmati indahnya jatuh cinta dan berpacaran. Menikmati masa muda yang indah. Lupakan semua masalah hidup kita. Kita kembali ke masa yang penuh kebebasan dan tanpa beban," kata Ray sangat romantis.
"Em ... sekarang jam dua siang. Kontrak sebagai pacar akan berakhir enam jam kemudian. Jadi kamu bebas meminta atau menyuruh Mas apa pun. Mas sebisa mungkin akan menurutinya," kata Ray tersenyum manis.
"Baiklah, aku setuju," jawab Medina bahagia.
"Janji ya nggak akan menolak apapun yang aku minta."
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa klik like dan favorit
Dan dukung dengan memberi vote ya
Selamat hari jumat
Thankyou.
__ADS_1