
"Iya, kamu beruntung. Kamu hamil dan anakmu akan mendapatkan ayah. Dan aku ... aku hamil tapi dicampakkan begitu saja."
"Anak ini ... anak Mas Adam. Malang sekali nasib anakku. Harus terlahir tanpa ayah. Semua adalah dosaku dan dosa Mas Adam. Anak ini tidak bersalah, tapi harus menanggung kesalahan kedua orang tuanya."
"Apakah kamu tidak tahu? Hubungan kami sudah tercium media. Dan sekarang kami jadi trending topik di berbagai media online."
"Mas Adam tak mau bertanggung jawab. Bahkan ia tidak mengakui bayinya."
Ucapan Isabella berputar-putar di kepala Haura. Seperti sebuah kaset yang diputar berkali-kali. Sangat jelas diingatannya. Membuat kepala Haura terasa semakin sakit.
Wanita itu pulang begitu saja, tanpa bertemu dokter. Hatinya terlanjur sakit mengetahui kenyataan itu. Rasa mual itu terlupakan, tergantikan rasa sakit di hatinya yang begitu dalam. Tidak berdarah, namun terasa sangat menyiksa. Haura kecewa, ternyata Adam membohonginya. Suaminya mengambil ponselnya agar ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Pantas saja suaminya bertingkah aneh pagi ini. Pantas saja semua barang elektronik dijauhkan darinya. Pantas saja ia tidak boleh menerima atau membuat panggilan ke mana pun dan dari siapa pun. Begitu pening Haura memikirkannya. Hingga air mata pun tak hentinya mengalir, membasahi wajahnya.
Di dalam taksi, yang dilakukan wanita itu hanya menangis dan melamun. Begitu parah lukanya, melebihi rasa sakit ketika dulu Adam menyelingkuhinya. Karena sekarang hatinya milik Adam seorang. Karena ia sangat mencintai suaminya. Haura benar-benar hancur. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tak dapat dipungkirinya jika Adam sudah berubah. Ia yakin sekarang suaminya setia. Tapi Isabella sudah terlanjur hamil. Bayi Isabella membutuhkan seorang ayah. Bagaimana nasib bayinya kelak? Apakah ia harus egois memiliki Adam untuknya dan untuk anak-anaknya sendiri? Sementara wanita lain harus membesarkan anaknya sendirian tanpa dukungan seorang ayah? Juga dalam kejamnya cercaan dan hinaan masyarakat luas, yang menganggap anak luar nikah adalah sebuah aib.
Haura bingung harus berbuat apa. Haruskah ia melepas Adam untuk Isabella? Tapi bagaimana dengan nasib buah cinta mereka yang sedang berkembang di rahimnya? Bagaimana jika anaknya menanyakan tentang ayahnya? Tapi jika diteruskan, bagaimana dengan wanita malang itu? Dan bagaimana perasaan anaknya jika suatu ketika ia mengetahui bahwa ia punya saudara yang berbeda ibu? Ah, Haura pening memikirkannya.
"Bu ...."
"Bu ... maaf Bu, kita sudah sampai." Ucapan sopir taksi membuat Haura tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengusap air matanya menggunakan lengan bajunya.
"Oh iya maaf Pak," ucap Haura masih belum bisa berpikir jernih.
"Pak, bolehkah Bapak menunggu saya sebentar dan mengantarkan saya lagi ke gang Mawar?"
"Iya Bu, bisa." Sopir taksi menyanggupi permintaan Haura.
"Mohon tunggu sebentar ya Pak. Saya masuk ke dalam mengambil barang saya sebentar. Anda bersedia menunggu kan Pak? Nanti saya ganti uang untuk waktu yang terbuang."
"Baik Bu. Saya akan menunggu."
Haura segera masuk ke rumahnya. Dalam tangis, ia menyusuri rumah yang selama setahun ini ia tinggali. Rumah yang memberinya kenyamanan. Ia segera masuk kamar dan mengeluarkan semua pakaiannya dari almari pakaian. Dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Setelah siap, ia menatap kamar mereka sebentar. Mengenang masa indah dan bahagia bersama Adam. Mengenang indahnya cinta dan kebersamaan mereka, hingga tanpa terasa air mata mengalir lagi. Sebenarnya ia tak rela meninggalkan suaminya. Tapi ia harus berkorban demi Isabella dan bayinya. Ia tidak boleh egois. Akhirnya dengan tergesa ia membawa turun kopernya. Dan dengan taksi itu ia meninggalkan rumah penuh kenangan itu.
Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di sebuah rumah besar namun asri. Ia segera membayar ongkos taksi seperti yang ia janjikan. Dengan dada berdebar, ia memasuki rumah itu. Rumah yang sempat ia tinggali dulu.
"Assalamualaikum," ucap Haura seraya mengetuk pintu besar yang terbuat dari kayu jati itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," seorang wanita paruh baya yang memakai daster membuka pintu untuknya.
"Eh, Nyonya Muda. Silakan masuk." Haura memaksakan senyumnya. Imah sedikit penasaran dengan koper yang Haura bawa. Apakah ada masalah? Apakah majikan mudanya akan tinggal lagi di rumah itu?
Imah tak ingin berburuk sangka dan lebih memilih untuk memanggil majikannya.
"Eh, sayang. Sudah lama? Kamu ...." Ucapan Medina terhenti ketika melihat menantunya membawa sebuah koper berukuran besar.
"Ada apa sayang?" Medina mendekat ke arah menantunya. Ia segera merangkul dan mengajak Haura duduk di sofa.
Tak menjawab pertanyaan mama mertuanya, wanita itu malah menangis.
"Ra, katakan Nak. Apa maksud semua ini? Kenapa kamu menangis?" Medina memeluk menantunya erat-erat. Baru saja kemarin mereka berbahagia, kenapa kini menantunya datang dengan membawa koper besar dan dalam keadaan menangis. Sungguh Medina sangat mengkhawatirkan anak dan menantunya itu.
"Ma, aku ingin bercerai!"
"APA??"
Sementara itu di kantor.
"Pa, biar Adam jelaskan. Adam dan Isabella sudah lama putus, Pa. Adam sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu. Sumpah Pa."
"Lalu ini apa, ha?" Ray membanting majalah yang berisi foto Adam dan Isabella yang berpelukan di dalam kamar wanita itu. Amarah Ray sudah berada di ubun-ubun. Bukan masalah harga saham yang merosot, tapi karena menantunya. Ia tak rela Adam menyakiti Haura lagi.
"Itu fitnah Pa. Waktu itu Adam hanya mengantar dia pulang. Isabella bilang dia sakit. Hanya itu saja, tak terjadi apa pun, Pa."
"Bahkan aku, ayahmu tidak bisa percaya akan ucapanmu. Bagaimana jika istrimu tahu? Bagaimana jika besanku tahu? Perjuangan kamu selama ini akan sia-sia Dam." Ray memijit pelipisnya yang terasa sangat pening.
"Adam akan menyangkalnya Pa."
"Lalu media akan semudah itu percaya, begitu?" ucap Ray terdengar sinis.
"Kalau perlu kita lakukan tes DNA, Pa."
"Iya kalau negatif, kalau bayi itu positif anak kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Argh, bagaimana ini?" Rasanya Adam ingin menangis dan menjerit. Semalaman penuh ia tidak dapat tidur karena memikirkan masalah ini. Namun, ia tak kunjung dapat penyelesaian. Hanya satu masalahnya. Keraguannya. Ia ragu apakah yang dikandung Isabella anaknya atau bukan. Ia sendiri tak yakin. Dan Adam tak ingin menerima kenyataan jika memang benar wanita murahan itu mengandung anaknya.
"Papa tak dapat berbuat apa-apa, jika kamu sendiri juga ragu."
"Tapi Pa ... Adam bersumpah. Adam sudah lama tidak menjalin hubungan dengan wanita itu."
Kring kring kring.
"Assalamualaikum, iya Ma. Ini Papa bersama Adam."
"...."
"APA?"
Dan tanpa disadari Adam, sebuah badai besar telah menerpa keluarga kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mau ditamatin hari ini sebenarnya.
Aku mau keluarin semua episodenya tapi nanti likenya ngga merata, ada yg ngga kebagian like. ada yang ngga dikomen 😥😥😥
__ADS_1
Jadi satu-satu saja updatenya ya 😊😊😊