Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Jangan Pergi


__ADS_3

Masih kisah Ray dan Medina sewaktu kecil ya, jadi readers jangan bingung kalau aku tulis tiga bulan kemudian , 😂😂😂


.


.


.


.


.


.


.


Tiga bulan kemudian.


"Bu, kami datang kemari karena ingin berpamitan pada Ibu, kami akan tinggal di Jakarta," kata Mutia dengan sedih.


"Kenapa harus pindah Mut? Tidak bisakah kalian tetap di sini?" tanya Oma juga ikut sedih.


"Maaf ya Bu, Mutia terpaksa juga harus ke Jakarta. Kami harus ikut ayah Me yang dipindah tugaskan Bu. Maaf ya Bu jika selama ini kami merepotkan," kata Bunda dengan berkaca-kaca. Mutia sudah menganggap Lidya sebagai ibunya sendiri.


"Iya Nak nggak apa. Kalau ada waktu datang kemari ya? Ibu yang sangat berterimakasih karena kalian Arka menunjukkan banyak perkembangan akhir-akhir ini," kata Oma menghela nafas panjang. Rasanya begitu berat melepas keluarga Mutia yang akan pergi.


"Jika boleh meminta, Ibu ingin tetap menahan kalian disini, tinggal di rumah ini juga tak apa-apa. Ibu malah senang," kata oma sedih.


"Mutia hanya seorang istri Bu, harus menuruti apa pun perkataan suami. Maaf ya Bu, kalau kami harus pergi," ucap Mutia sedih.


"Iya nggak papa, kalian jaga diri ya? Kalau bisa sesekali tulislah surat," nasihat Oma. Karena dulu masih jarang orang yang memiliki handphone.


"Baik Bu, InsyaAllah ...." Mutia memeluk dan mencium pipi Oma layaknya ibu kandung.

__ADS_1


"Bun, Me kangen cama akak, Me mau peluk akak bental y Bun," kata Me menggoyangkan tangan ibunya membuat Mutia dan Oma menghentikan kegiatan penuh haru itu. Mereka tertawa karena sedari tadi melupakan keberadaan gadis kecil itu.


"Iya ... sana temui akak," kata Bunda menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.


Me segera berlari menuju kamar Ray. Kamar yang bernuansa Doraemon itu tak secerah kehidupan penghuninya. Ya, kehidupan anak lelaki yang masih sangat belia itu penuh kepedihan dan suram. Dan di sanalah Me dapat melihat dengan jelas anak lelaki itu duduk termenung melihat keluar jendela.


"Akak, Me datang." Me menghambur memeluk Ray dari samping. Tak lupa Medina mengecup pipi Ray berulang kali. Ray hanya diam dan mengedipkan mata tanda menyadari kehadiran Medina.


"Akak, Me tak paham kata Bunda, tapi Bunda bilang cama Oma kalau Me akan pindah, pindah itu apa ya?" kata Medina kecil yang polos seperti berpikir.


"Kalau Me ke Jakalta bica ketemu akak lagi nggak?" tanya Medina sedih. Ia keberatan jika harus berpisah dengan Ray.


Ray yang menangkap maksud dari perkataan Medina menjadi cemas dan sedih. Ingin bocah itu mengucapkan kalimat "jangan pergi". Tapi seolah mulutnya terkunci rapat tak dapat mengucapkan kata-kata seringan dan sesingkat itu. Bocah itu berubah menjadi murung.


"Sayang, mari kita pulang," ajak Bunda yang ingin segera pulang untuk mengemas barang-barang. Medina memeluk Ray erat-erat dan menggelengkan kepala. Ia enggan berpisah dengan kakak yang paling ia sayangi.


"Sayang jangan rewel ya? Kita harus ikut ayah, l maafkan Bunda ya Nak harus memisahkan kalian. Tapi Bunda janji kalian akan bertemu lagi suatu saat," kata Bunda meyakinkan Medina.


Selesai bicara dengan Ray, Bunda langsung menggendong Me dan meninggalkan kamar Ray.


"Tidaakk bunda ... Me mau akak, Me cuma mau akak ...." Medina berteriak histeris dan meronta-ronta dipelukan bundanya.


"Maafkan bunda Nak," kata Bunda menangis.


"Kami pamit ya Bu." Mutia mengecup punggung tangan Lidya dan menangis.


"Hati-hati ya Nak," Oma menangis melihat kepergian mereka tanpa bisa menahan agar mereka tak pergi.


"Me, turuti Bunda ya? Kalau Me jadi anak baik nanti Bunda ajak Me ketemu akak lagi, okay? Me mau kan ketemu akak?" bujuk Oma dan mengecupi pipi gadis gembul itu. Medina mulai tenang walau masih terisak.


"Aku yakin jika mereka berjodoh, mereka akan disatukan lagi," batin oma melepaskan kepergian mereka.


Seminggu setelah kepergian Medina dan keluarga, Ray mau berbicara. Oma sangat bahagia dengan perkembangan cucunya. Namun kenyataan pahit menghampirinya kembali ketika bocah itu selalu mencari-cari Medina dan menangis.

__ADS_1


"Oma ... Arka cuma mau baby Me," teriak Ray kecil menangis meraung-raung.


"Iya sayang, nanti Me kesini lagi ya? Arka sabar tunggu Me datang ya? Tapi Arka makan dulu kalau mau ketemu Me," bujuk Oma. Namun Ray kecil tak memahami perkataan omanya. Yang ia tahu ia hanya ingin bertemu dengan gadis kecilnya.


Setelah Ray mengenal emosi, ia bukannya menjadi tenang. Setiap hari ia hanya meminta untuk bertemu Medina. Ray semakin depresi. Ingin Oma mencari keluarga Medina, namun nomor yang Mutia berikan tak dapat dihubungi. Oma juga tak tahu alamat mereka di Jakarta. Karena kondisi yang semakin buruk, Oma dengan sangat terpaksa membawa Ray tinggal di Amerika. Disanalah Ray dibawa ke psikiater ternama dan Ray dibuat melupakan segalanya. Ray benar-benar melupakan semuanya. Ray lupa kejadian tragis yang menimpa orang tuanya. Ray juga lupa pada gadis kecilnya Medina. Ray berubah menjadi pribadi baru, ia tumbuh sehat dan ceria. Oma bisa bernafas lega. Andai sejak awal ia tahu ada metode yang seperti itu, ia sudah mengobati Ray sedari dua setengah tahun lalu setelah kecelakaan terjadi.


Sedangkan Medina semakin tumbuh menjadi gadis yang cantik dan imut. Medina selalu pulang ke Bandung untuk menemui kekasih kecilnya. Namun, bertahun-tahun ia selalu mengunjungi rumah yang layaknya istana itu tanpa bertemu sosok yang ia rindukan. Hanya hampa yang ia dapatkan dalam penantian.


Medina selalu datang ke rumah Ray sampai ia duduk dibangku SMP, setelah ia lulus SMP ia tak lagi datang mengunjungi rumah Itu. Medina takut kecewa lagi jika tak bertemu dengan orang yang ia rindukan itu.


Hingga akhirnya sepuluh tahun kemudian, Mutia mengurusi penjualan tanah leluhur karena menetap di Jakarta dan tak bisa bolak balik mengurus ke Bandung. Namun tak disangka, jika nyonya Lidya lah yang membeli tanah leluhurnya. Saat itulah mereka kembali berhubungan dan semakin erat. Namun Ray yang sedari kecil tinggal di Amerika belum pulang, jadi Bunda tak mengenali wajah Ray yang sudah beranjak dewasa.


Sedangkan Oma selalu datang mengunjungi keluarga Me yang tinggal di Jakarta.


flashback off


"Begitulah ceritanya Ray," ungkap oma menceritakan segalanya.


.


.


.


.


.


Begitulah penjelasan hingga mereka tak saling mengenali.


Klik like komen dan vote jangan lupa 😊


Maaf jika typo bertebaran

__ADS_1


__ADS_2