Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Hari Baru


__ADS_3

Sudah lima bulan, Ray dan Medina sudah tinggal di Amerika, semenjak kembali dari Indonesia. Mereka tinggal di apartemen Ray yang ternyata tak jauh dari area universitas. Meskipun satu rumah, Ray tak pernah bersikap yang tidak semestinya pada Medina. Medina dan Ray tidur di kamar yang berlainan. Ray setia menunggu dan memegang teguh janjinya pada Medina. Ia akan sabar menunggu sampai Medina melahirkan, baru Ray akan menikahi Medina.


Di sela kesibukan kerjanya, Ray juga selalu memperhatikan Medina dan baby Adam. Ray sangat menyayangi mereka berdua. Tak sekali pun Ray mengabaikan mereka. Bahkan Ray sanggup melepas pekerjaannya di kala Medina membutuhkannya. Ray juga selalu menemani Medina check up dengan rutin. Sungguh Ray adalah sosok ayah dan suami idaman. Medina merasa beruntung mendapatkan kasih sayang dari pria tampan itu.


Terkadang Oma datang untuk mengunjungi Ray dan Medina. Perkataan Oma yang menyatakan tidak menerima buah hati yang bukan darah dagingnya hanyalah bualan belaka. Karena Oma menerima Medina dan buah hatinya sepenuh hati. Oma sangat menyayangi Medina beserta bayinya. Berbeda dengan perkataan Oma pada Aurel.


Sungguh kehidupan yang lucu telah menyatukan mereka berdua. Sepasang kekasih masa kecil yang lama tak bersua saling jatuh cinta lagi. Setelah mengalami beberapa cobaan akhirnya mereka akan segera bersatu. Hanya tinggal menunggu kelahiran Adam, maka Medina akan segera menjadi istrinya.


Kini musim gugur telah tiba. Bertepatan dengan berlalunya bulan Agustus menuju ke bulan September. Udara tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Dengan suhu sekitar sepuluh sampai dengan dua puluh lima derajat celcius.


Hari itu weekend, bertepatan dengan hari libur Ray. Sehingga Ray mengajak Medina sekedar jalan berdua. Walau hanya sekedar keluar berjalan-jalan menghirup udara segar atau makan, Medina sudah sangat bersyukur lelaki itu selalu memberikan seluruh waktu luangnya untuk menemaninya.


Medina mengenakan sweater besar lengan panjang dan coat berwarna coklat untuk menghalau rasa dingin yang menerpa tubuhnya. Perut membuncitnya menambah kesan cantik dan seksi. Medina tak lupa menggunakan boots agar nyaman dalam berjalan. Ray juga sama memakai sweater dan coat berwarna senada. Ray terlihat sangat tampan.


Mereka terlihat serasi. Seperti pasangan suami istri. Apalagi dengan perut Medina yang membuncit, membuat orang mengira mereka adalah pasangan yang sudah menikah. Ray hanya tersenyum jika orang-orang mulai mempertanyakan hubungannya dengan Medina. Ray juga tak pernah malu berjalan dengan Medina yang perutnya membuncit.


Benar, perut Medina yang semula masih rata kini telah membuncit karena kandungannya sudah menginjak bulan ke sembilan. Hal itu semakin membuat Ray menyayanginya. Selama kehamilan Medina, Ray sangat protektif. Ketika Ray ada pekerjaan jauh yang mengharuskannya untuk menginap, maka ia akan menyuruh asisten rumah tangganya untuk menemani Medina. Karena Ray tak ingin calon istrinya kelelahan. Ia tak pernah mengizinkan Medina melakukan pekerjaan apapun. Pun ia takkan tega meninggalkan wanita itu seorang diri. Apalagi semenjak kandungannya menginjak sembilan bulan. Ray tak pernah meninggalkan Medina. Ray takut jika sewaktu-waktu kekasih hatinya melahirkan.


Medina masih dalam masa bercuti. Hal itu sering membuat ia bosan. Namun Ray yang banyak akal membuat ia selalu nyaman dan bahagia. Di pagi hari Ray akan menemani Medina berjalan santai demi kesehatan bayi mereka. Dan ketika siang hari Ray bekerja, Medina akan mengikuti kelas ibu hamil di lokasi yang terdekat dengan apartemen. Di ujung minggu Ray juga tak jarang mengajak Medina jalan-jalan berdua. Walau sekedar jalan ke mall atau cafe bahkan kadang hanya ke sebuah taman. Namun dengan cara sederhana itu membuat Medina merasa sangat bahagia.


Ketika berjalan berdua, tak jarang Medina merasakan cemburu. Pasalnya banyak wanita yang melirik dan menatap Ray penuh dengan ketertarikan. Bagaimana mereka tak tertarik. Ray sangat tampan dengan kulit putih bersihnya, ditambah dengan bentuk tubuh yang atletis menambah pesonanya.


Namun Ray sama sekali tak mengabaikan mereka yang berniat menggodanya. Ray acuh tak acuh. Jangankan melirik mereka, memberi senyuman pun tidak. Senyuman dan perhatian Ray sepenuhnya untuk calon istrinya dan anaknya.


"Mas, sudah pegel nih kaki aku," protes Medina setelah mereka berjalan santai di Harvard Square selama lima belas menit. Sore itu Ray sengaja mengajak Medina berjalan santai agar bayinya sehat. Namun tubuh Medina sedikit payah, karena perutnya yang semakin membesar dan juga kakinya yang sedikit membengkak.


Mereka jalan santai Menikmati langit yang berwarna jingga. Sangat indah ketika dipadu padankan dedaunan mapel yang berhamburan di sana-sini. Ada daun yang berwarna kuning, ada yang kecokelatan, ada juga yang coklat kemerahan. Terlihat sangat cantik. Suasana menjadi sedikit hangat dan romantis untuk berkencan.


"Iya sabar ya sayang. Itu ada bangku di sana," tunjuk Ray pada sebuah bangku berwarna putih di bawah pohon mapel.


Ray menggenggam erat jemari Medina menyalurkan kehangatan dari tubuhnya. Senyum manis tak henti tersungging dari bibirnya. Dibawanya wanita itu ke bangku yang dimaksud dengan sabar dan pelan. Ray tahu betul penderitaan Medina setelah kehamilannya semakin besar.

__ADS_1


"Tunggu Mas disini ya, Me. Ingat! Jangan kemana-mana!" perintah Ray setelah Medina duduk di bangku itu.


"Mas, mau kemana? Aku nggak mau sendirian disini," ucap Medina manja. Semenjak menginjak usia tujuh bulan kehamilan, sikap Medina berubah menjadi sedikit manja dan kekanakan.


"Mas mau belikan kamu minum. Itu ke kedai yang di sana," tunjuk Ray ke arah kedai yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kamu pasti haus kan?" kata Ray mengelus kepala Medina berbalut jilbab yang sedikit terbang karena diterpa angin. Medina menganggukkan kepala dan tersenyum. Ray segera meninggalkan Medina di tempat itu dan membeli air mineral.


Medina sendiri mulai kedinginan karena angin lembut berhembus sedikit kencang. Ujung coat dan hijab miliknya menari-nari di terbangkan angin. Medina bersidekap berharap bagian tubuh depannya sedikit hangat. Medina lupa mengenakan syalnya, apalagi ia tak menyangka akan sesejuk itu.


Beberapa menit kemudian, dari jauh Ray berjalan menghampirinya dengan dua botol air mineral. Senyum manis masih menghiasi wajahnya. Dari jauh Ray melihat kekasihnya yang kedinginan. Ia mempercepat langkahnya agar segera menghampiri wanita itu.


"Dingin ya sayang?" Medina tersenyum dan mengangguk. Ray melepas syal miliknya dan melilitkan ke leher Medina.


"Nanti Mas kedinginan ...." Belum sempat Medina melayangkan protes sudah dipotong oleh Ray.


"Sudah, Mas kan lelaki. Lelaki harus kuat biar bisa melindungi kekasihnya," jawab Ray tersenyum.


"Biarin, kan cuma sama kamu doang gombalnya, jadi nggak papa dong?" Ray terkekeh.


"Ini minum dulu Me! Setelah ini kita mampir ke restoran dekat rumah saja ya? Baru kita pulang ke rumah." Medina mengangguk lagi.


"Kamu masih kuat jalan?" tanya Ray khawatir.


"Iya Mas ... tenang saja." Medina tersenyum, namun sedikit terlihat pucat.


Ray memapah Medina menuju restoran yang letaknya tak seberapa jauh dari sana. Sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka sampai di restoran itu.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai semua ...


Sesuai janji aku lanjutin season 2.


semoga aku selalu di limpahi ide dan inspirasi sehingga kalian nggak bosan dan kecewa.


Tetap stay ya..


Jangan lupa klik like, favorite dan kasih vote juga komentar kalian,


Atas dukungan kalian aku ucapkan terimakasih. Apalah arti diriku tanpa kalian 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2