
Ray pulang dari rumah Aurel dengan wajah yang berseri-seri. Percintaan dirinya dengan Aurel akan segera menemui titik bahagia. Setelah penantian selama empat tahun akhirnya wanita yang selalu mengatakan belum siap menikah dengan Ray, membuatnya terkejut sekaligus bahagia. Karena kini Aurel sendiri yang mengajukan pernikahan terlebih dahulu padanya.
Sepanjang jalan ia bersiul-siul kecil menyenandungkan lagu kesukaannya. Tiba-tiba ia teringat pada Medina. Ia merasa harus membagi perasaan bahagianya pada kekasih pura-puranya itu. Terlebih dari kemarin ia tak menghubungi wanita itu. Jujur jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan wanita berpipi cabi itu. Namun ia seperti ragu akan menelepon wanita itu atau tidak. Ia juga mengingat permintaan Aurel yang melarang ia kembali ke Jakarta. Ia sedikit bimbang akankah menepati janji bahwa akan berada di sisi Me sampai akhir, atau mengingkari janjinya pada Medina demi Aurel calon istrinya.
Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di dashboard berbunyi nyaring bertepatan ketika ia berhenti di lampu merah. Ia meraih ponsel tersebut melihat id penelepon. Ia tersenyum senang melihat nama penelepon, kemudian dengan segera menghubungkan ke earphone miliknya. Dan dengan gerakan cepat, ia meletakkannya di kedua lubang telinga.
"Assalamualaikum Mas," sapa Medina di seberang sana dengan begitu lembut, suaranya menenangkan hati. Membuat Ray terpaku mendengar kelembutan suara Medina yang ditujukan untuknya.
"Waalaikumsalam Me," jawab Ray dengan berbinar.
"Kemarin sampai di Bandung jam berapa?Kenapa Mas tak kasih kabar ke Me?" tanya Medina sedikit sendu, ada nada kesedihan di suaranya.
"Ah, Mas sampai rumah sudah sore Me, sekitar pukul lima sore. Maaf Mas tak sempat menghubungi Me. Sampai di sini baterai ponsel habis dan Mas tidak menyadarinya," jawab Ray sedikit gugup. Ia memang sengaja tak menghubungi Medina karena ia tak ingin perasaannya pada Aurel semakin tergoyahkan. Ya, Ray sudah menyadari bahwa perhatiannya pada Medina bukan hanya sekedar rasa kasihan ataupun simpati. Melainkan perasaan sayang, bahkan mungkin lebih tepatnya ia telah jatuh cinta kepada gadis malang itu.
"Oh begitu, lebih baik buang saja ponselnya. Keseringan nggak ada baterainya jadi buat apa punya ponsel?" canda Medina garing. Entah mengapa ada kesedihan di dalam hatinya, membayangkan lelaki yang selama hampir dua minggu mendampinginya kini tengah berbahagia dengan calon tunangannya dan melupakannya.
"Hehehe." Ray tertawa ringan mendengar kata-kata Medina.
"Bagaimana keadaan Me? Sudah baikan?" tanya Ray penuh perhatian.
"Alhamdulillah Mas. Semua baik-baik saja. Tinggal menunggu pemeriksaan besok. Kalau hasilnya bagus besok Me sudah di izinkan pulang," jawab Medina.
"Syukurlahh," ucap Ray lega.
"Oh ya Me. Mas ada berita bagus," ucap Ray dengan bahagia.
"Apaan tuh?" tanya Me penasaran.
"Pokoknya ini berita paling bagus selama Mas Ray hidup. The best deh pokoknya," jawab Ray berbelit-belit makin membuat Medina penasaran.
"Coba Me tebak!" perintah Ray.
"Mas dapat tender?" tanya Medina.
"Bukan, lebih dari itu.Coba tebak lagi," jawab Ray tertawa.
"Mas dapat lotre?" tanya Medina lagi.
__ADS_1
"No no salah. Coba lagi." Kini Ray tersenyum membayangkan wajah Medina yang penasaran.
"Mas bahagia karena ketemu Aurel?" tanya Medina tak sabar.
"Yups, intinya itu. Tapi yang membuat Mas Ray bahagia adalah ... eng ing eng ...
Mas Ray akan segera menikah dengan Aurel setelah melaksanakan pertunangan sederhana. Mas sangat bahagia Me. Akhirnya penantian Mas Ray setelah bertahun-tahun berbuah manis." Ray bercerita dengan panjang lebar.
Mendengar kabar baik itu malah membuat Medina sangat bersedih. Medina tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes dari manik hitamnya. Dengan segera ditutupnya panggilan telepon tanpa kata atau mengucapkan salam. Ia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa hatinya terasa sangat sakit mendengar berita pernikahan Ray. Lebih sakit daripada ketika ia mendengar rencana pernikahan Gibran.
"Ada apa dengan diriku? Apakah ini cemburu? Arggghhh ... aku sudah gila. Aku tak pantas untuk cemburu. Aku bukan siapa-siapa untuk mas Ray. Aku hanya wanita yang dia kasihani karena kemalanganku. Dan aku yang sudah ternoda ini takkan pernah pantas untuk berada di sisinya. Aku hanya pantas di sisinya dalam akting semata. Dalam kepura-puraan," batin Medina.
Ray yang diseberang telepon heran karena panggilan tersebut terputus tiba-tiba entah karena Medina sendiri yang mengakhirinya atau karena hal lain.
"Halo Me, Me ...," panggil Ray sebelum mendengar nada panggilan terputus.
"Kenapa tiba-tiba mati? Oh, mungkin baterai Me habis," gumam pria tampan itu seraya meletakkan kembali ponselnya ke dashboard. Ia kembali fokus mengendarai mobil menuju rumah oma.
Kini Ray tak sabar memberitahukan pada omanya tenang rencana pernikahannya dengan Aurel.
***
"Bi Sum ... oma mana?" tanya Ray pada asisten rumah tangga kepercayaan neneknya yang tengah mengepel lantai ruang tamu.
"Oh, itu ada di atas Mas. Biasa, di ruang kerja beliau," jawab Bi Sumi menghentikan pekerjaannya demi menjawab Ray.
Ray segera naik ke atas menuju ruang kerja oma yang berada disamping kamarnya.
"Oma sibukkah? Ray mau berbicara sebentar boleh?" tanya Ray berdiri dipintu kepada omanya yang sedang memeriksa dokumen di ruang kerjanya. Nyonya Lidya memang sudah tak pernah lagi datang ke kantor untuk mengurus pekerjaan. Mengingat usianya yang sudah tak muda lagi membuat ia tak bisa bekerja seperti dulu. Namun bukan berarti wanita tua yang penuh karisma itu akan berpangku tangan tak mengurus perusahaan lagi. Kekuasaan masih sepenuhnya ia pegang sampai Ray bersedia dan siap menggantikannya.
"Pentingkah?" tanya Oma balik tanpa menoleh ke arah wajah cucunya.
"Emmm,sangat," jawab Ray singkat.
"Sebentar ya sayang. Ini tinggal sedikit lagi, kamu tunggu Oma dulu di ruang keluarga ya?" perintah Oma sambil masih sibuk membubuhkan tanda tangan di kertas-kertas penting itu tanda persetujuan.
"Oke Oma," jawab Ray berlalu menuju ruang keluarga.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu Oma terlihat menuruni tangga dengan pelan. Tangan kanannya berpegangan pada pegangan tangga menahan beban tubuh ringkihnya. Sedangkan Ray terlihat sedang menonton acara televisi.
"Sayang? Siang tadi kenapa nggak pulang? Kamu sudah makan?" tanya Oma mendekati tempat cucunya duduk. Segera ia ikut duduk di dekat sang cucu kesayangan.
"Ehm, tadi siang Ray mengunjungi Aurel Oma. Dan kami makan bersama di luar," jawab Ray tersenyum manis.
"Oh ... jadi oma dapat menangkap sinyal bahwa yang akan kamu bicarakan ada hubungannya dengan wanita itu ya?" kata Oma dingin. Ada nada tak suka dari bicaranya. Ray hanya mengangguk pelan.
"Behini Oma, Ray sudah bertemu dengan Aurel. Dan dia meminta kita mempercepat rencana pertunangan dan pernikahan. Aurel ingin kita bertunangan dan menikah dengan sederhana saja. Dia ingin akhir bulan ini juga Ray sudah menghalalkan dia oma." Ray menjelaskan dengan gamblang.
"Bukannya dia belum bersedia Ray? Dan kemarin-kemarin dia bilang mau buat pesta yang super meriah agar semua orang tahu dan mengingat pernikahan
kalian?" tanya Oma keheranan sekaligus curiga.
"Iya oma. Tapi Aurel sendiri yang menginginkan agar dipercepat dan dilaksanakan sederhana saja. Nggak papa lah Oma, bisa menghemat pengeluaran yang tidak diperlukan begitu kata Aurel." Ray membela pacarnya.
"Kalau pun keluar uang, itu uang Oma. Bukan uang dia. Kenapa dia yang khawatir? Lagipula waktu satu bulan tak akan cukup untuk menyiapkan segala sesuatunya. Nenek menolak setuju untuk menggelar pernikahan tergesa-gesa seperti ini dan oma mau seperti rencana semula, akan dilangsungkan akhir tahun ini," kata oma tegas.
"Tapi kan Oma.. Kesempatan ini langka, mumpung Aurel bersedia kan lebih baik menyegerakan pernikahan,Ray masih mencoba meyakinkan omanya.
"Tidak Ray. Oma tak ingin kamu membantah oma. Oma sudah putuskan kalian menikah akhir tahun, bukan akhir bulan ini. Kamu bicaralah dengan dia kalau Oma menolak usulannya, " kata Oma beranjak dari duduknya meninggalkan Ray seorang diri.
"Dan kamu Ray. Apa kamu tak curiga sedikit pun? Kenapa tiba-tiba saja wanita itu ingin segera m menikah? Bahkan terkesan terburu-buru. Kamu yakin tidak ada yang dia sembunyikan?" tanya oma sebelum melangkah pergi dengan maksud agar Ray dapat berfikir rasional.
Ray tak menjawab lagi, tampak ia berpikir dengan keras. Sebenarnya hatinya sangat bimbang, bimbang karena ia curiga pada sosok laki-laki yang keluar dari apartemen Aurel tadi pagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.