Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Semakin Menjadi


__ADS_3

Sikap Haura semakin hari semakin menjadi, Adam semakin pusing untuk menuruti semua kemauan istrinya. Terkadang wanita itu begitu manja, namun terkadang juga ketus padanya. Adam jadi bingung bagaimana harus bersikap. Jika ia bersikap manis, wanita itu akan ketus padanya. Namun ketika ia bersikap lebih dingin, wanita itu akan menangis tiba-tiba dan mengatakan hal tak masuk akal. Mengatakan kalau Adam sudah tak menyayanginya lagi.


Seperti pagi itu, Haura sama sekali tidak ingin melihat wajahnya atau mendengar suaranya. Padahal semalam, ia dan Haura baru saja melewati malam panjang yang panas dan menyenangkan. Dan semalaman penuh, wanita itu tak ingin sedikit pun terlepas dari pelukannya. Namun keesokan harinya, sikap Haura berubah 180 derajat lagi. Ketus, bahkan tak ingin melihat wajahnya. Membuat kepala Adam pening untuk sekedar memikirkannya.


"Sana pergi kerja! Jangan bicara padaku sebelum aku mengajakmu bicara." teriak Haura tanpa membuka pintu.


"Iya, tapi Mas mau berpamitan Ra. Mas ingin mencium keningmu seperti biasanya. Buka dulu pintunya. Sebentar saja," bujuk Adam yang sudah rapi masih setia mengetuk pintu kamar mereka. Kamar yang akhir-akhir ini bisa jadi tempat terlarang untuk ia masuki ketika Haura marah atau kesal. Ia sabar menunggu Haura membuka pintu, karena kebiasaannya mencium kening istrinya tak bisa ia lewatkan begitu saja.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin melihat wajahmu. Hari ini kalau perlu sepulang kerja pakai topeng atau masker. Biar Rara tak perlu memandang wajah Mas. Sungguh Rara mual melihat wajah Mas Adam yang kumal itu." Ucapan Haura yang ketus begitu mengena di hati Adam. Benarkah ia jelek dan kumal? Sehingga wanita itu bahkan ingin muntah jika melihatnya?


Adam buru-buru menuju ruang keluarga yang ada kaca besarnya. Ia memperhatikan wajahnya yang tampan. Wajahnya bersih dan belum lama bercukur, hanya ada sedikit bulu halus yang mulai tumbuh.


"Wajahku tampan dan bersih seperti biasanya. Apanya yang kumal? Hah, mungkin bulu halus yang mulai tumbuh ini yang membuat Rara tak suka."


Adam segera menuju kamar mandi dekat dapur dan berniat untuk bercukur. Ia melupakan jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Adam segera memencet cream untuk bercukur dan mengolesnya ke pipi dan dagunya secara merata. Dengan terampil laki-laki itu mencukur bulu halus yang baru saja tumbuh. Hingga kini wajahnya terlihat mulus.


"Nah, kalau begini kan nggak kumal lagi dan aku bisa menemui Haura." Adam keluar dari kamar mandi dapur yang sekarang juga menjadi kamar mandi keduanya semenjak Haura uring-uringan dengan bahagia.


"Ra, lihatlah! Mas sudah bersih. Tidak kumal lagi. Ayo sayang buka pintunya."


Ceklek. Pintu terbuka.


"Stt ... jangan bicara! Hm ... lumayan sudah. tidak sekumal tadi."


"Mas ganteng kan?" Adam lupa jika Haura melarangnya bicara.


"Hueekkk ...." Wanita itu segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan bening dari perutnya. Tentu saja tak ada apa pun yang keluar, karena wanita itu bahkan belum makan apa pun.


Adam menyusul Haura dengan sangat khawatir. Ia meletakkan kembali tas kerjanya di ranjang. Dengan sabar lelaki itu memijit tengkuk istrinya.


"Kamu sakit sayang? Ayo kita ke dokter."


"Tidak. Aku tidak mau. Aku sehat-sehat saja. Hanya saja aku tak ingin mendengar suaramu. Jadi aku mohon Mas jangan bicara, atau aku akan muntah lagi."

__ADS_1


"Hahh, baiklah Mas tidak akan bicara lagi sampai kamu menyuruh Mas bicara." Adam menghela napas panjang. Ia harus bersabar berkali-kali lipat. Tak ada cara lain ia hanya bisa mengalah dan menuruti perkataan istrinya.


Adam mengambil secarik kertas dan menuliskan kata demi kata di kertas itu.


Mas akan berangkat kerja, kamu beneran tidak apa-apa?


Haura mengangguk.


Adam menulis lagi.


Bolehkah Mas mencium keningmu?


"Boleh, asal jangan bersuara. Dan aku akan memejamkan mata. Tak mau melihat wajahmu yang jelek itu," jawab Haura.


Demi Masha yang selalu datang mengacau di rumah beruang, Adam lagi-lagi harus bersabar mendapatkan ejekan bahwa wajahnya jelek. Apakah ia harus operasi plastik, agar istrinya tidak menyebutnya jelek lagi? Hah, Adam rasa lama-lama ia bisa gila.


Cup. Adam mendaratkan sebuah kecupan di kening Haura yang sudah memejamkan mata.


Ia menuliskan lagi di secarik kertas.


Haura membaca apa yang ditulis Adam dan mengangguk-angguk paham. Adam memberikan senyuman dan segera pergi bekerja.


Mood Adam pagi itu benar-benar rusak. Rasanya ia sedang menaiki rooler coaster, perasaannya diombang-ambingkan oleh istrinya sendiri. Ia jadi malas ke kantor. Dan di pertengahan jalan ia berubah pikiran. Adam gamang dan gundah gulana. Ia tak ingin lagi pergi kerja, kalau pun ia pergi ke kantor. Ia tak yakin kalau ia tidak akan melampiaskan emosinya pada semua pekerjanya. Dengan pikiran yang kalut, ia memutar kemudinya menuju ke arah yang berlawanan dari kantor. Lebih baik ia menemui wanita kesayangan yang dapat menentramkan hatinya.


***


Lima belas menit kemudian, lelaki itu sudah sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah rumah besar dan mewah sudah ada di depan matanya. Rumah itu terlihat sepi seperti biasanya. Ia segera keluar dari mobil dan tanpa ragu melangkah masuk. Setelah memencet bel beberapa kali, pintu terbuka. Seorang wanita cantik dan anggun menyambutnya dengan senyuman manis di wajahnya. Wanita yang ia rindukan saat ini. Wanita yang ia harapkan bisa mengobati kegalauannya. Biar saja, hanya kali ini saja ia berpaling dan membohongi Haura bahwa ia pergi bekerja.


"Sayang ...." Wanita itu terkejut karena lelaki kesayangannya yang telah lama tak datang, tiba-tiba datang berkunjung.


"Tumben pagi-pagi datang kemari."


"Adam rindu ...." Lelaki dewasa itu bersikap sangat manja dan segera memeluk wanita cantik itu. Wanita itu membalas pelukan Adam dengan mesra tanpa canggung. Wanita itu juga menciumi pipi pria yang sangat ia rindukan. Dan Adam tanpa rasa malu ia menikmati kemesraan itu, merasakan hangatnya pelukan wanita yang sudah lama tak ia rasakan.

__ADS_1


"Kamu tidak kerja?" Adam menggeleng lemah.


"Apa kamu sakit?" Lagi-lagi lelaki itu menggeleng.


"Ya sudah ayo masuk." Wanita itu dengan sabar menggandeng tangan Adam.


"Duduk dulu. Kamu mau minum apa?"


"Teh mungkin biar kepalaku rileks. Eh, ada makanan apa? Aku lapar."


"Hah? Kamu belum sarapan?" Adam menggeleng. Wanita itu jadi tahu jika Adam sedang ada masalah.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini."


Tak lama wanita itu kembali dengan membawa dua gelas teh hangat dan sepiring roti tawar.


"Hanya ada ini saja, belum sempat masak. Kamu mau?" Tanpa menjawab Adam langsung melahap roti tawar yang sudah dioles dengan selai cokelat.


"Pelan-pelan nanti tersedak. Tidak akan ada yang mengambil makananmu itu."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Duh! Siapa wanita yang ditemui Adam ya? Apa Adam berselingkuh karena kesal dengan sikap Haura?😥😥😥 Sebelum lanjut ke episode selanjutnya komenin dulu dong.


__ADS_2