Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Merindukanmu


__ADS_3

"Sudahlah Bu, yang penting cucu dan cicit Ibu kan baik-baik saja." Bunda ikut bicara. Akhirnya Oma diam dan mau mengalah. Tak lagi menyalahkan Ray, cucu kandungnya sendiri.


"Sayang, Oma bawakan kamu buah nih. Makan ya? Biar Adam mendapatkan banyak nutrisi." Medina tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih oma," ucap Medina.


"Me ... ini Bunda bawakan wejah dari Indonesia. Kamu minum, biar ASI kamu makin lancar," kata Bunda membawa tumbler berwarna hitam berukuran setengah liter.


"Apa itu Bun? Jamu ya?" tanya Medina bergidik ngeri karena seumur hidup ia tak suka minum jamu. Menurut Medina, jamu itu lekat dengan kesan pahit dan bau.


"Iya, tapi jangan khawatir. Ini enak kok. Bunda jamin deh," bunda meyakinkan anak perempuannya.


"Tapi ...." Medina ingin memprotes.


"Nggak ada tapi-tapian. Minum! Semua demi Adam. Karena kan Adam kuat menyusu. Biar air susu kamu semakin lancar," perintah bunda tak mau dibantah. Medina hanya bisa merasakan kengerian membayangkan rasa jamu yang tidak karuan.


"Nah, coba!" Bunda menuangkan air berwarna kecoklatan seperti rendaman buah asam itu ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Medina.


"Ta-Tapi Bun. Me kan masih minum obat dokter?" Medina beralasan agar tidak perlu meminum jamu itu.


"Ini nggak akan berpengaruh. Bunda buat sendiri dari bahan alami. Jangan banyak protes. Minum cepat selagi hangat," perintah Bunda.


"Iya, iya ...."Medina terpaksa meminum jamu itu.


Glekk.


Satu detik, dua detik.


"Eh, bener kata Bunda. Enak." Medina segera menghabiskan jamu yang diberikan Bunda. Ada rasa manis, sedikit gurih dan rasa asam yang membuat jamu itu terasa sangat segar. Perutnya juga menghangat karena minuman buatan bundanya.


"Nah, kalau orang tua bicara dengar. Percaya. Bunda kan sudah bilang kalau enak," kata Bunda.


"Iya, Bundaku yang cantik." Medina mengecup pipi Bunda dengan sayang.


"Oma tak disayang?" Oma yang melihat kemesraan mereka memprotes karena iri.


"Iya sini Oma." Oma mendekat dan memeluk oma dengan sayang. Tak lupa Medina mencium pipi Oma dengan sayang.


Kini mereka bertiga berpelukan erat. Ketiganya begitu menyayangi satu sama lain. Medina begitu bahagia memiliki nenek yang baik hati walaupun bukan nenek kandungnya. Oma juga bahagia karena Mutia sudah membuatnya bangkit dari keterpurukan akibat kecelakaan yang menimpa orang tua Ray puluhan tahun yang lalu.


"Oek ... Oek ..."

__ADS_1


Suara bayi mungil itu memecah keharuan dan kemesraan mereka. Mereka bertiga tertawa mendengar baby Adam yang menangis. Seakan bayi mungil itu iri pada bundanya yang sibuk mencium Oma dan Oma buyutnya, hingga melupakan keberadaannya.


"Uluh ... Sayangnya oma ...." Bunda mengangkat baby Adam dari box ingin menyerahkan pada Medina untuk disusui. Namun diurungkannya ketika menyentuh bokong Adam yang berbalut popok sangat lembab dan basah.


"Ah, kamu ngompol ya? Mari kita ganti popok yang baru." Bunda meletakkan kembali baby Adam dan melepas popoknya yang basah.


"Me, kamu nggak pakaikan Adam diapers ?" tanya Bunda sembari membetulkan letak popok Adam.


"Mas Ray nggak kasih Bun. Me nggak nyangka kalau dia itu ribet dan posesif jika mengenai Adam. Katanya takut ruam lah, iritasi lah, kasihan kulitnya nggak bisa bernafas lah. Mas Ray bawel!" Medina menggerutu.


"Hahaha, bagus. Ray benar-benar anak Bunda. Bunda juga nggak akan izinkan Adam pakai diapers. Walaupun zaman sekarang banyak diapers khusus bayi yang baru lahir. Selembut apa pun kan tetap saja mengandung bahan kimia," kata Bunda bangga pada calon menantunya.


"Masak sih Bun. Bukannya katanya aman untuk bayi yang baru lahir. Begitu ya tulisannya di kemasan," kata Medina tak percaya.


"Bagaimana kamu bisa kuliah di Harvard dengan otak kamu yang sangat bodoh ini Me," ejek Bunda membuat Medina kesal.


"Yah ... kan ini pengalaman pertama Medina Bunda, maklum Me tak punya banyak pengetahuan." Medina membela diri.


"Iya, iya ... kamu harus banyak belajar Me. Biar bisa merawat Adam dengan baik," nasehat Bunda seraya mengangkat baby Adam dan menyerahkannya pada Medina.


"Nah, minum sampai kenyang ya sayangnya oma."


Baby Adam segera menyusu dengan rakus. Baby Adam menyusu lama, dari pay**ara kiri berpindah ke kanan sampai ia terlelap kembali.


"Iya Me. Bunda rasa setelah kamu dan Adam keluar dari rumah sakit kita harus segera mengatur pernikahan kalian," kata Bunda membenarkan perkataan Oma.


"Iya Bunda, Oma. Kami sudah merencanakan akan segera menikah. Setelah Medina keluar dari rumah sakit." Medina tersenyum.


Bunda dan Oma tersenyum bahagia mendengar perkataan Medina. Besar harapan mereka agar Medina dan Ray segera bersatu.


Sementara itu di New York


Ray kini tengah meeting dengan klien penting di sebuah restoran. Ray didampingi oleh Cristian, sekertarisnya yang merupakan warga negara Amerika.


Sungguh Ray sangat kebosanan selama meeting berlangsung. Ray merindukan baby Adam. Ray tak bisa fokus pada meeting itu. Baru kali ini sikap Ray sembrono dan tidak profesional gara-gara seorang bayi. Sampai Cristian menyenggol lengan bosnya beberapa kali karena Ray terlihat melamun. Untung klien tidak menyadarinya.


Ray bersyukur karena setelah perbincangan yang cukup alot, akhirnya Ray bisa meyakinkan klien bahwa Ray akan segera mengatasi masalah yang timbul. Ray dapat mempertahankan kepercayaan salah satu klien terbesarnya.


"Cris, aku mau kembali ke Cambrige," ucap Ray seenaknya setelah meeting berakhir.


"Maaf Pak, ini sudah tengah malam. Apa tidak sebaiknya besok pagi-pagi sekali anda kembali ke Cambrige. Sangat berbahaya mengemudi seorang diri di waktu yang terlalu larut seperti ini." Cristian mencoba mencegah kepergian bosnya. Cristian takut terjadi apa-apa karena rawan untuk berkendara di malam hari.

__ADS_1


"Ingat anak dan istri Tuan yang menunggu di sana," bujuk Cristian lagi dengan bahasa inggrisnya yang sangat fasih. Ray termenung membenarkan semua perkataan asistennya yang sudah bertahun-tahun bekerja padanya. Ray sangat mempercayai Cristian.


"Baiklah, aku akan menginap semalam. Bookingkan kamar yang biasa saja untukku," perintah Ray.


"Maaf Tuan, apakah saya tidak salah dengar? Bukannya biasanya Tuan selalu meminta kamar VIP ya?" tanya Cristian keheranan.


"Sudah jangan banyak tanya! Pesankan saja!" Ray tak mau dibantah.


"Bagaimana aku bisa bersenang-senang disini. Menikmati kamar VIP sedangkan anak dan istriku entah bagaimana disana. Sayang, aku merindukan kalian."


Sepuluh menit kemudian Cristian menghampiri Ray yang duduk lemas di lobby hotel.


"Mari Tuan, saya antar ke kamar." Cristian mempersilakan atasannya.


"Baiklah, Cris ... jika kamu tak nyaman dengan kamar biasa. Kamu bisa tukar kamar VIP," kata Ray bangkit menuju kamar yang disebut oleh Cristian.


"Mana berani aku Tuan.Anda saja sebagai Bosku menggunakan kamar biasa. Masak iya aku mau minta kamar VIP?" gumam Cristian seorang diri.


Ray membaringkan kembali tubuhnya yang lelah di kasur empuk itu.


"Baby Adam, kamu lagi ngapain? Papa rindu Nak."


Tiba-tiba Ray merutuki kebodohannya sendiri. "Arghhh ... kenapa aku tak mengambil foto baby Adam?"


"Kalau ada foto Adam kan setidaknya rinduku bisa sedikit terobati. Mau telepon Me juga kasihan jika malam-malam ia harus bangun karena aku." Ray menggeram frustasi.


Akhirnya setelah beberapa waktu dalam kegelisahan Ray tertidur lelap.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa aku ingatkan selalu klik like, favorite. Juga beri komentar dan vote kalian ya.


__ADS_2