Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Dia Pantas, Sangat Pantas


__ADS_3

~Ketika semua orang di dunia meninggalkanmu, hanya keluargalah yang akan selalu ada untukmu, yang mampu menerimamu apa adanya. Bahkan dalam keadaan paling buruk sekali pun.~


Amy Larahati


"Apa Dok? Gagal ginjal?" tanya Ray terkejut.


"Benar Tuan. Karena sudah parah, jalan terbaik adalah dengan operasi pencangkokan."


"Tapi saya rasa anak saya selama ini baik-baik saja. Tak pernah mengeluhkan sakit. Saya tak percaya jika anak saya menderita sakit itu."


"Mungkin anak anda tak terlalu menghiraukannya Tuan. Hasil pemeriksaan lab tak mungkin salah Tuan."


"Ya sudah Dok. Lakukan apapun untuk menyembuhkan anak saya. "


"Jalan terbaik adalah dengan operasi cangkok ginjal Tuan. Kalau tidak, Tuan Adam harus rutin cuci darah."


"Mungkin .... "


"Mas, apa yang terjadi?" Medina yang baru datang menginterupsi pembicaraan Ray dan dokter.


Akhirnya dokter menjelaskan sekali lagi. Medina sangat syok mendengar kabar putranya. Ada rasa sedikit penyesalan di hati Medina karena sudah mengabaikan Adam.


"Ambil ginjal saya saja Dok. Saya ibunya," kata Medina seraya menangis.


"Untuk itu harus dilakukan tes kecocokan dulu Nyonya."


"Saya juga mau di tes Dok. Jika ginjal saya cocok. Ambil saja punya saya. "


"Ta-tapi Mas ...," protes Medina.


"Sudah sayang. Ini juga tanggung jawab Mas. Mas Papanya," kata Ray mantap. Medina benar-benar tak habis pikir terbuat dari apakah hati suaminya yang begitu baik hati. Adam bukan anak kandungnya, namun Ray sanggup memberikan dunianya pada Adam. Sayang, Adam tak pernah peka dan menyadari kasih sayang Ray.


Medina dan Ray mengikuti instruksi dokter untuk melakukan pemeriksaan kecocokan ginjal. Dan saat ini Tuhan benar-benar sudah menggariskan begitu adanya. Selain wajah Adam yang mirip dengannya walau bukan anak kandung Ray. Ternyata ginjal Ray juga cocok untuk Adam.


Ada perasaan lega dalam hati Medina, karena putranya akan baik-baik saja. Namun, rasa bersalah datang bersamaan. Karena lagi-lagi Ray harus mengorbankan hidupnya untuk Adam. Sedari awal pengorbanan Ray tak terhitung jumlahnya. Dari menikahi Medina, menganggap Adam putranya sendiri. Dan sudah dua kali Ray menyelamatkan kehidupan Adam yang diambang kehancuran.


Dokter segera menjadwalkan operasi pencangkokan ginjal. Ray tak ada masalah. Ia sanggup melakukannya kapan saja.


Saat ini mereka tengah menunggu putranya yang masih terbaring belum juga membuka mata. Adam terlihat begitu pucat dan ringkih.


"Mas, benarkah kamu akan melakukan ini? "tanya Medina dengan tatapan sendu.


"Tentu Me. Kenapa? Kamu juga sama seperti Adam? Meragukan kasih sayang Mas?" jawab Ray berkaca-kaca. Medina menggeleng.

__ADS_1


"Bukan. Medina hanya merasa kalau pengorbanan Mas terlalu besar. Apakah Adam pantas menerima kasih sayang dari Mas Ray yang sebesar ini?"


"Tentu. Dia pantas, sangat pantas. Dia putraku Me. Jika saat ini dia sedang tersesat, maka tugas kitalah untuk menunjukkan jalan yang benar."


"Kau tahu Me? Bahkan jika Mas harus memberikan kedua ginjal Mas. Mas sanggup. Apalah artinya nyawa lelaki tua sepertiku dibanding dengan hidup putra kita yang berharga? "imbuh Ray menangis.


"Dunia orang tua adalah anak-anaknya."


Medina tak sanggup lagi menahan air matanya. Pengorbanan Ray dan ketulusan Ray membuat ia sadar. Ia harus membawa Adam ke jalan yang benar. Ia harus bersama Ray mencoba untuk menghadapi cobaan demi cobaan dari Allah.


Adam yang mendengar suara orang tuanya yang setengah berbisik mulai terusik dan membuka mata.


"Ak-aku ada dimana?" tanya Adam mengerjapkan mata.


"Kamu di rumah sakit sayang," ucap Medina lembut.


"Apa yang terjadi?" tanya Adam masih linglung.


"Kamu pingsan Nak. Kamu sakit, tapi Mama dan Papa akan mencoba mengobati kamu. Jadi semangat ya Nak."


"Nggak, Adam mau pulang saja," Adam berniat untuk melepas paksa infus di tangannya.


"Sabar Nak. Kamu menderita gagal ginjal. Please, kita obati kamu dulu. Jika nanti kamu sudah sehat, terserah jika kamu tak mau lagi berhubungan dengan kami."


"Akan aku pastikan kamu akan berubah Nak. Mama semakin yakin jika Mama dan Papa harus segera menikahkan kamu dengan Haura."


"Operasi?"


"Iya akan dilakukan operasi pencangkokan ginjal."


"Siapa yang mendonorkan ginjalnya untuk Adam?" tanya Adam penasaran.


"Emmm ... pokoknya ada orang baik yang mendonorkan ginjal untukmu.Tak usah dipikiran, kita fokus ke kesembuhan kamu," timpal Ray. Ray takut jika Adam akan menolak jika tahu pendonornya adalah dirinya.


"Kenapa Papa peduli pada Adam?"


"Ah ... pantaskah Adam memanggil Papa Ray dengan sebutan Papa?" Adam tersenyum miris.


"Dam, dengarkan Papa. Kamu adalah anak Papa. Papa sayang kamu, tulus. Selamanya Papa Ray adalah papa kamu. Maafkan kami Dam, jika selama ini kami menyembunyikan semua ini. Mama dan Papa hanya tak ingin menguak semua luka lama. Tapi Papa janji akan menceritakan segalanya."


"Apakah kamu mau memaafkan Papa?" Adam bimbang. Sebenarnya ia juga terlanjur menyayangi Ray walaupun kadang sering berselisih paham. Akhirnya hati Adam melunak, ia mengangguk kecil. Ray bahagia segera memeluk Adam.


"Setelah sembuh kamu harus pulang," bisik Ray di telinga Adam.

__ADS_1


Sehari setelahnya operasi dilakukan. Medina dan Mikha menunggu dengan cemas. Doa tak henti dipanjatkan pada Yang Maha Kuasa agar semua berjalan lancar.


Keluarga Kia juga datang setelah mendengar kabar Adam. Mereka sudah melupakan segalanya. Dan berusaha memaafkan kesalahan Adam.


Keira juga terlihat sangat cemas dan gugup. Walau masih ada rasa sakit hati, tak dapat dipungkiri jika gadis itu khawatir pada Adam. Apalagi perasaannya pada Adam bahkan belum berkurang sedikitpun. Tak hentinya Keira mendoakan yang terbaik bagi Adam.


Dua jam operasi selesai dilakukan. Dokter keluar dari ruang operasi dan memberi kabar gembira.


"Operasi sukses dan berjalan lancar. Hanya tinggal memantau keadaan pasien. Bagaimana respon tubuh pasien terhadap ginjal baru itu. Semoga saja semuanya oke," kata dokter tersenyum.


"Baik terima kasih Dok," ucap Medina lega.


"Sebentar lagi pasien dan pendonor akan dipindahkan ke ruang rawat. Untuk sementara biarkan pasien beristirahat. Pasien juga masih dalam pengaruh bius. Jangan terlalu ramai ya. Jika mau menengok sebaiknya satu-satu," nasehat dokter.


"Baik terima kasih Dok."


Dua puluh menit akhirnya Ray dan Adam sudah dipindahkan ke ruang rawat. Medina menghampiri Adam sebentar, sekedar melihat keadaan putranya yang baik-baik saja.


Setelahnya, Medina menuju ruang rawat Ray. Disanalah pria tua itu terbaring belum sadarkan diri. Ray masih dalam pengaruh obat bius.


Medina mendekat ke arah Ray. Duduk di samping kekasih hati. Mengambil tangan dan mengecupnya berkali-kali. Medina merasakan keberuntungan yang luar biasa karena memiliki Ray di hidupnya. Lelaki yang menyelamatkan kehidupannya berkali-kali. Lelaki yang sanggup memberikan dunianya untuk seorang Medina.


Semakin besar rasa cinta Medina untuk Ray. Cinta yang tulus kepada tuan sempurna. Lelaki baik hati tanpa cela. Lelaki penyabar dan sangat bertanggung jawab.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sambil menunggu novel ini update, baca novelku yang lain ya


Minah I Love You

__ADS_1


Dua Polisi Tampan


terima kasih


__ADS_2