Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Sadarkan Diri


__ADS_3

Wanita itu duduk memeluk lututnya dalam kesedihan. Sudah tiga hari berlalu, dan rasa sakitnya masih sama. Ia masih menunggu dan menunggu, percaya bahwa suaminya akan datang dengan senyuman manis untuknya. Percaya jika Adam baik-baik saja.


Wanita itu bagaikan mayat hidup. Pucat pasi dan terlihat tak punya semangat hidup. Tak makan, tak minum, tak juga bicara. Ibrahim dan anak-anaknya bingung bagaimana lagi membujuk Haura untuk makan. Karena wanita itu tak bergeming, tak mengindahkan perkataan keluarganya.


Ia sangat hancur karena kabar buruk itu. Namun, ia masih belum bisa percaya. Ia mengingkari semua kenyataan itu. Dalam hati selalu berkata, itu bukan perahu suaminya. Ini hanya mimpi buruk. Yang ketika ia terbangun nanti semua akan baik-baik saja. Suaminya hanya pergi sebentar dan akan segera kembali.


Ibrahim sangat sedih melihat keadaan putrinya. Berkali-kali ia gigih membujuk Haura untuk makan. Namun, putrinya seakan tak mendengarkan perkataannya. Tak mengizinkan barang sesuap makanan pun masuk ke dalam mulutnya.


Ibrahim sangat menyesal. Andai ia sedikit saja mengalah, semua tak kan jadi seperti ini. Dan kini ia harus menyaksikan kehancuran hidup putrinya. Ibrahim juga sampai lupa belum memberi kabar pada Ray dan Medina. Ia juga bingung harus berkata apa. Perasaan bersalah menyiksa batin lelaki tua itu.


Tapi Ibrahim masih belum mau menyerah. Ia terus menyisir area laut dekat perahu ditemukan. Mencari keberadaan menantunya. Bertanya ke sana kemari, siapa tahu ada yang melihat menantunya. Walau hasilnya sama saja, nihil. Sepotong pakaian pun tak ditemukan.


Ia akan terus mencari menantunya. Semua ia lakukan demi Hauranya. Ia kini sadar jika putrinya benar-benar mencintai Adam. Dan melihat kegigihan Adam, ia tahu lelaki itu juga sangat menyayangi putrinya. Maka ia berjanji dalam hati. Jika menantunya kembali dengan selamat, ia tak akan menghalangi atau memisahkan cinta mereka berdua.


***


"Uhuk ... uhuk ..." Lelaki asing itu terbatuk-batuk hingga dadanya naik turun kembang-kempis. Perlahan ia membuka matanya yang terasa sangat berat.


Satu kata yang langsung terlintas di kepalanya adalah kata 'asing'. Ia kebingungan, ingatan terakhirnya membawanya ke momen ketika ia mendapatkan banyak kerang mutiara. Setelah itu ingatan tentang kejadian selanjutnya seakan menghilang. Yang ada hanya gelap. Dan kini ia berada entah dimana. Ia mengedarkan pandang, rupanya ada sosok gadis muda yang tidur di kursi dekat ranjangnya. Wajahnya terlihat lelah dalam lelap tidurnya.


Adam beringsut bangun dan memaksakan tubuhnya masih lemah untuk duduk. Ia memegang kepalanya yang terbalut perban karena nyeri yang tiba-tiba menghantam.


"Arggghh ...," erang Adam merasa sangat kesakitan. Ia meringis merasakan kepalanya yang berdenyut hebat.


"Eh, Anda sudah bangun?" Gadis itu terbangun karena terkejut oleh suara Adam yang kesakitan.


"Anda tenang dulu. Saya akan panggil ayah saya." Gadis itu bangkit dan segera berlari memanggil ayahnya, sang kepala kampung.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya pria berambut putih yang baru saja datang karena dipanggil oleh putrinya.


"Maaf, saya ada dimana?"


"Tenang dulu Nak. Kamu di kampung Pinang. Saya Ali, kepala kampung di sini. Dan ini anak saya Lilis. Kami menemukan kamu terdampar di pinggir pantai dalam kondisi yang cukup parah. Nama kamu siapa Nak? Dari mana asal kamu?" tanya pria itu dengan sabar.


"Saya Adam dari Bandung Pak."


"Bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini?"


"Arghh ... kepalaku sakit. Ceritanya panjang Pak." Adam kembali mengerang dan memegang kepalanya yang sangat sakit.


"Baiklah, kamu istirahat saja. Nanti setelah kamu pulih, kamu bisa menceritakan semuanya."


Adam kembali berbaring di ranjang itu. Tubuhnya masih terasa sangat lemah dan lemas hanya sekedar untuk duduk. Ia mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa karena rasa lapar yang mendera. Perut kosongnya tak sabar minta diisi.


Kruyuukkk


"Lis, tolong masakkan bubur untuk Tuan Adam. Setelah masak segera bawa kemari."


"Baik Yah."


"Maaf Pak Ali, saya jadi banyak merepotkan kalian."


"Tidak apa-apa Nak. Kami senang bisa membantu kamu."


"Terima kasih banyak Pak."

__ADS_1


Sepeninggal Lilis, Adam menceritakan tentang dirinya pada Pak Ali, sang kepala kampung. Pak Ali hanya mangut-mangut mendengarkan dengan seksama. Akhirnya ia paham bagaimana Adam bisa terdampar di pantai. Pak Ali merasa kasihan pada Adam. Ia berjanji akan mengantarkan Adam pulang kalau lukanya sudah pulih dan membaik.


Dari balik tirai seorang gadis mendengarkan percakapan ayahnya dan Adam dengan diam-diam. Ingin mengetahui apa yang ayahnya dan Adam bicarakan. Ia sangat tertarik untuk mengetahui hal tentang lelaki yang sudah ia rawat itu. Namun setelah mendengar semuanya ia kecewa, lelaki yang dia suka ternyata sudah berkeluarga. Tanpa terasa air mata membasahi pipi gadis manis itu.


Dan akhirnya dalam dua hari ke depan, Adam masih tinggal di keluarga itu. Adam terharu dengan kebaikan hati mereka. Tanpa bantuan mereka, mungkin saat ini dia sudah tidak ada di dunia ini. Ia jadi paham apa yang Ray rasakan dulu. Pantas saja Ray merasa sangat berhutang budi pada mertuanya. Dan benar saja, budi baik tidak akan bisa dibayar dengan uang berapa pun jumlahnya.


***


"Hati-hati di jalan ya Nak. Maaf Bapak tak bisa menepati janji untuk mengantarkan kamu sampai ke sana. Ada urusan mendadak di Balai Musyawarah."


"Tidak apa-apa Pak Ali. Saya sangat berterimakasih pada Bapak dan Lilis yang sudah menyelamatkan dan menjaga saya selama ini. Maafkan saya jika saya terlalu merepotkan."


"Kami senang bisa menolong orang lain. Jadi jangan merasa terbebani ya?"


"Kalau begitu saya pamit ya Pak. Oh ya mana Lilis?"


"Dia bilang tidak bisa mengantar. Katanya dia sedang kurang enak badan."


"Oh iya kah? Kasihan, pasti Lilis sakit karena kelelahan mengurus saya." Adam jadi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nak. Nanti Bapak kasih ramuan yang bapak buat juga akan segera membaik. Ya sudah itu Husein sudah menunggu kamu. Hati-hati di jalan. Salam untuk keluarga kamu."


"Baik Pak, saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam wr wb."


Adam naik ke perahu Husein yang akan mengantarkan ia pulang. Ia melambaikan tangan ke arah Pak Ali yang masih berdiri di tepi pantai memandang perahunya yang semakin menjauh.

__ADS_1


Tanpa diketahui satu orang pun, dengan diam-diam gadis itu melihat kepergian lelaki yang sudah ia rawat berhari-hari. Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipinya. Ia salah sudah jatuh cinta pada pria beristri.


"Andai kamu tahu Bang. Lilis jatuh cinta pada Bang Adam. Lilis cinta sama Bang Adam. Kenapa kita baru dipertemukan di saat kamu sudah menikah?"


__ADS_2