
"Wow ...." Zaskia begitu takjub sampai menganga tak percaya.
"Kamu cantik pakai jilbab seperti ini Me. Terlihat ayu, manis dan penuh karisma," puji Zaskia tulus.
"Oh jadi kalau aku nggak pakai jilbab jelek gitu,"sahut Medina pura-pura marah.
"Bukan seperti itu Darling, maksudku tambah cantik. Cocok sekali kamu pakai jilbab. Kalau aku lelaki, konform aku jatuh cinta sama kamu." Zaskia mencubit kedua pipi cabi itu dengan gemas.
"Iya lah, kamu saana sini juga jatuh cinta," ejek Medina.
"Ah iya Ki. Nanti tolong berikan cincin ini kepada Mas Ray. Okay?" kata Medina seraya melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Okay ... tapi kenapa harus aku? Harusnya kamu sendiri yang berikan," tanya Zaskia menerima cincin dengan keheranan. Medina menggeleng malas.
"Ya sudah. Look at that. Aku letakkan cincin itu di laci ini." Zaskia menarik laci yang berada di bawah televisi. Kemudian meletakkan cincin dan menutupnya kembali.
"Ayo kita berangkat Ki! Sudah siang nih," ajak Medina tak sabar ingin mulai bekerja di butik milik Zaskia.
"Datang siang juga nggak papa. Aku kan bosnya," jawab Zaskia menyengir.
"Iya kamu bos, Lha saya? Ayolah! Nanti kamu dikira pilih kasih terhadap anak buah." Medina yang tak sabar segera menarik tangan Zaskia, yang terlihat santai padahal waktu sudah sedikit siang.
"Hei, hei ... sabar Me. Kok malah kayak kamu yang jadi bosnya?" Zaskia akhirnya menurut saja ditarik-tarik menuju ke mobil.
Di dalam mobil Medina teringat sesuatu. Dia segera mengaduk isi tasnya. Ketika menemukan benda yang dicari, segera dibuka dan ia mengambil benda kecil berukuran nano itu dan mematah-matahkan dengan jari jemarinya.
"Hei apa yang kau lakukan?"ctanya Zaskia sesekali melirik perbuatan Medina. Medina enggan menjawab pertanyaan temannya.
"Kamu kira dengan mematahkan sim card itu akan menyelesaikan masalah, dan kamu pikir Ray tak akan pernah menemukanmu, begitu? Kalau Ray mau, dia bisa saja mencarimu kemanapun kamu pergi." Zaskia masih saja bicara walau Medina tak menjawab.
"Aku tak mau lagi melibatkan Ray atau siapa pun itu ke dalam hidupku yang rumit. Sekarang aku ingin menanggung kesalahanku sendiri." jawab Medina.
"Tapi kan Me, kamu butuh seseorang yang bisa menjagamu, memberikan sandaran padamu saat kamu lemah seperti ini. Kamu nggak akan bisa melewati semua ini sendirian Me," ujar Zaskia berusaha mematahkan ego Medina.
"Kamu kan ada?" kata Medina tersenyum.
"Enak saja. Kamu pikir aku mau terus direpotkan ibu-ibu hamil yang super galak kayak kamu. Dan lagipula, aku sebentar lagi mau menikah Me. Jadi nggak mungkin untuk terus menjagamu," jawab Zaskia.
"Ya Allah ... beneran Ki? Kamu mau menikah?" tanya Medina girang.
"Ya benerlah, masak bohong."
"Sama siapa?" tanya Medina penuh semangat .
"Dengan Arif lah Me. Siapa lagi? Kekasihku cuma Arif seorang," jawab Zaskia berbunga-bunga.
"Ihhh, happy nya ... selamat ya Ki, aku turut bahagia." Medina memeluk sahabatnya yang tengah mengemudi dengan gemas.
"Iya ... Sudah Me. Aku lagi mengemudi nih, " kata Zaskia tertawa bahagia.
"Ki, kamu sudah mau menikah. Sedangkan aku sudah hamil tapi belum menikah. Miris ya hidup ku?"ucap Medina sedih.
"Sudahlah Me, jangan sedih lagi. Yang terpenting sekarang kamu dengan baby harus sehat dan bahagia. Masalalu tak perlu disesali. Walau aku menikah nanti, aku tetap sahabatmu yang akan selalu ada untukmu." Zaskia mencoba menguatkan sahabatnya.
"Thanks ya Ki, kamu yang terbaik,"ucap Medina tulus.
"Baikan mana sama Ray?" goda Zaskia.
"Kia ... merusak mood saja. Jangan bicarakan dia lagi. Okay?" Medina sebal mendengar sahabatnya lagi-lagi membahas Ray.
"Iya, iya Nyonya."
***
"Rani," panggil Zaskia.
"Iya, Mbak." Seorang pekerja di butik Zaskia yang bertubuh kecil berjalan mendekat ke arah Medina dan Zaskia.
__ADS_1
"Kenalkan, ini Medina. Teman Mbak yang akan bekerja di sini mulai hari ini. Tolong kamu ajari Kak Me ya? Sekalian tolong jaga sahabat Mbak ini dengan baik. Mbak mau pergi dulu. Okay?" perintah Zaskia.
"Dadah Me." Zaskia melenggang keluar dari butik.
"Lho, mau kemana kamu Ki?" Medina mengira Zaskia akan di butik untuk mengawasi para pekerjanya.
Zaskia berbalik dan mendekati Me kemudian berbisik di telinga Medina. "Aku mau ketemu Arif dulu, sudah rindu banget Me."
"Huu ... dasar!"
***
Di kantor Arif
"Kenapa sih dari tadi nggak bisa dihubungi? Please Me jangan buat MasRisau," kata Ray berbicara sendiri. Berkali-kali menekan nomor Medina, namun tetap sama hanya dijawab oleh operator jaringan.
"Kamu nih aneh banget Ray."
"Maksudmu?" tanya Ray tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Dia masih fokus mengetikkan berpuluh pesan ke nomor Medina, setelah tak berhasil menghubungi melalui panggilan suara.
*Assalamualaikum Me.
Me.
Me, kenapa nggak aktif?
Me, please jawab!
Me, Mas risau.
Me, kamu baik-baik saja kan?
Me, tolong setelah aktif hubungi Mas.
Medina, aku rindu*.
"Ray siapa kekasihmu?" tanya Arif setelah melihat gelagat aneh sahabatnya.
"Aurel. Siapa lagi? Pertanyaanmu dari tadi aneh Rif," jawabnya malas.
"Siapa yang kamu risaukan?"
".................."
"Entahlah, bagaimana pemikiranmu Ray. Semestinya yang harus kau khawatirkan adalah kekasihmu. Tapi malah wanita hamil yang belum lama kamu kenal yang membuatmu gusar."
"Sudahlah Rif. Aku pusing jadi tambah pusing mendengar celotehanmu," kata Ray sedikit marah.
kring kring kring
"Halo Me, kamu ...." Ray mengangkat telepon dengan bahagia.
"Me? Me siapa, Mas?" tanya orang yang di seberang telepon.
"Ahh, kamu salah dengar sayang," elak Ray.
"Nggak, nggak mungkin Aurel salah dengar," kata Aurel marah.
"Benar sayang. Eh, ada apa ini? Tumben jam segini telepon?" Ray mengalihkan pembicaraan.
"Mas, kenapa nggak bilang kalau Mas sudah ada di Bandung? Aurel sekarang ada pekerjaan di Jakarta.Aku cari di tempat kerja kamu. Eh, rupanya kamu nggak ada. Aku tanya oma katanya kamu sudah ada di Bandung. Tunggu seminggu lagi pekerjaan Aurel selesai akan ke apartemen mas," kata Aurel melupakan pertanyaan mengenai nama yang Ray sebut.
"Tumben, biasanya kalau Mas suruh ke apartemen banyak alasan, sibuk lah, ini lah itu lah," ucap Ray heran.
"Em, aku kan kangen. Lagipula kita belum cari baju untuk pertunangan kita," kata Aurel.
"hem," jawab Ray malas.
__ADS_1
"Oke sudah ya, Mas. Aurel mau mandi, ada pemotretan siang ini. I love you babe." Aurel menutup telepon.
"Me too," jawab Ray malas.
Ray menghela nafas. "Untung saja Aurel nggak curiga," batin Ray.
Arif yang memandang ekspresi wajah Ray yang pelik, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sayang ...." Zaskia yang baru datang menghambur memeluk Arif, kekasihnya.
"Eh sayang, kenalkan ini sahabat aku Ray," kata Arif terpotong oleh Zaskia dan Ray.
"Kamu."
"Kamu," kata Ray dan Zaskia berbarengan.
"Kalian saling mengenal?" tanya Arif bingung.
"Ah itu Rif, wanita yang aku ceritakan adalah sahabat Kia," jawab Ray.
"Oh, jadi yang buat kamu galau itu sahabat ...."
"Mmmphh ... mmphh ...." Ray langsung membekap mulut Arif.
"Mari duduk, Rif. Jangan bicara macam-macam, okay?" Ray memberi kode Arif agar tetap diam karena malu pada Zaskia.
"Kia, aku sudah mencoba menghubungi Me berkali-kali. Namun, nomornya tak aktif," kata Ray setelah mereka duduk.
"Em, itu anu itu ...." Zaskia bingung mau bicara apa.
"Anu Ray, kamu tahu kan Medina itu kan bandel banget? Dia sudah mengganti nomornya. Katanya sih, takut Bunda menghubungi dia. Aku yang sahabatnya ini pun nggak dikasih nomor barunya. Terus dia juga sudah pindah dari rumahku." Zaskia terpaksa berbohong sesuai instruksi Medina.
"Kamu nggak menahannya?" tanya Ray marah.
"Kamu sendiri tahu sifatnya bagaimana kan Ray?" elak Zaskia.
"Bagaimana jika Gibran mencarinya?" tanya Ray cemas.
"Apa? Si-siapa?" tanya Zaskia gugup.
"Gibran! Dia kan tak pernah bosan memaksa Medina agar kembali padanya. Medina tak mau kembali, dan jika Gibran sampai tahu Medina sendirian pasti akan dimanfaatkan olehnya bukan?" kata Ray sedikit meninggi karena mengkhawatirkan Medina.
"Ng-nggak mungkin." Wajah Zaskia memucat seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seperti biasa aku mengharapkan dukungan kalian dengan kasih like, komentar dan vote kalau perlu.
Terimakasih ya, buat yang sudah membaca dan memberi dukungan selama ini.
Aku juga terhura eh terharu banyak yang like dan kasih komen untukku yang pemula ini.
Salam sayangku untuk kalian.
__ADS_1
❤❤❤