Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Adam?


__ADS_3

"Begitulah ceritanya Ray." Oma mengakhiri ceritanya. Oma menghapus air mata yang sesekali mengalir dari mata tuanya.


"Jadi Ray dulu dekat dengan Medina?" tanya Ray bahagia. Senyum manis tak hentinya ia sunggingkan.


"Iya sayang," jawab Oma tersenyum.


"Mungkin sebab itu juga Ray merasa dekat dengan Me sejak pertemuan kami yang pertama kali. Sehingga Ray memutuskan untuk menolongnya," ucap Ray tersenyum.


Kring kring kring


Suara ponsel Oma menghentikan pembicaraan mereka.


"Iya, halo Assalamualaikum." Oma menjawab panggilan itu.


"............"


"Bukankah mereka sudah putus hubungan ya Tuan?" kata Oma.


"................"


"Saya sedang ada keperluan di Jakarta, di tempat keponakan saya," jawab Oma.


"................."


"Baik, nanti saya smskan alamatnya," jawab Oma kesal. Oma masih mencoba sabar dan bicara sopan. Terdengar lawan bicara Oma berbicara dengan nada meninggi. Oma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Sudahlah, tak ada lagi yang perlu kita perdebatkan lagi. Kita nikahkan saja mereka sesuai dengan kemauan ibu mereka berdua," kata Oma setelah menutup telepon.


"Baik, Ray akan menikahi Medina," ucap Ray mantap. Dalam hati Ray berbunga-bunga mendengar Oma bahkan Bunda merestuinya untuk menikah dengan Medina. Ray tak menyangka akan semudah ini. Padahal dari awal Ray sudah berniat untuk melepas segalanya jika Oma tak mendukungnya. Ia sanggup hidup pas-pasan asal bersama wanita yang ia cintai. Walaupun nyatanya Ray sudah dapat berdiri dengan kakinya sendiri tanpa warisan dari Oma.


"Tidak," tolak Medina cepat.


"Kenapa lagi Me?"


"Memang Me mencintai Mas Ray, tapi Me harus memilih Gibran. Anak ini masih berkesempatan untuk mendapatkan nama ayahnya. Jadi Medina lebih memilih untuk menikah dengan Gibran," ucap Medina berkaca-kaca.


"Tapi kan Me ...." protes Bunda terhenti ketika Ray berbicara.


"Maaf Bunda, Ray ingin bicara empat mata dengan Me sebentar." Selesai bicara Ray menarik tangan Medina dan membawanya ke kamar mereka.


"Begitulah Ibu, kelakuan mereka berdua selalu membuat Mutia pusing," kata Bunda memegang kepalanya melihat Ray menarik Medina seenaknya.


"Maklumilah orang yang lagi jatuh cinta Mut," bela Oma tersenyum.

__ADS_1


Di kamar Medina dan Ray.


"Me ... aku mohon menikahlah denganku. Masalah Adam kita bisa bicarakan baik-baik. Aku sanggup mengganti namaku menjadi Abdullah demi Adam, aku akan menyayangi Adam seperti anak kandungku sendiri. Aku janji Me," bujuk Ray.


"Adam?" tanya Me bingung.


"Iya, anak kita Me. Mas rasa Adam adalah nama yang sesuai," kata Ray mengelus perut Me yang masih belum nampak buncit. Ada rasa bahagia ketika Ray menyentuh perutnya dan memberikan nama untuk buah hatinya. Sungguh pesona laki-laki ini luar biasa.


"Tapi Mas ... memang Me mencintai Mas Ray. Tapi Me merasa sangat egois. Me rasa ini tak adil untuk Mas Ray. Karena Mas Ray lebih pantas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dan sempurna dari Me," kata Medina.


"Mas akan terima kamu apa adanya. Mas mencintai kamu dan Mas hanya ingin menikah denganmu Me.aku mohon ... berikan aku kesempatan untuk menyayangi dan membahagiakan kalian. Jika aku menikah denganmu dan suatu saat nanti kita akan punya anak. Mas juga janji akan memperlakukan mereka dengan adil. Mas akan menganggap Adam sebagai anak kita," ucap Ray penuh permohonan.


"Me, apakah kamu tak ingin hidup denganku, Kak Arkamu ini?" tanya Ray dengan tatapan memohon.


"Apa sih Mas. Bercanda di waktu yang nggak tepat." Medina malu bukan kepalang, mengingat masa kecilnya yang mengikut Ray kemana-mana.


"Benarkah kamu mencariku setiap kali liburan sekolah Me?" tanya Ray yang ditanggapi dengan anggukan kepala Medina.


"Jadi kamu mencintai Mas kan?" Medina mengangguk lagi.


"Kalau begitu, kita menikah," ucap Ray tak dapat dibantah.


"Baiklah kalau begitu, tapi ... Medina punya syarat untuk Mas," kata Medina mengalah. Ray terdiam mendengar dengan penuh perhatian.


Dilantai bawah.


"Ray! Ray!" Pria paruh baya itu berteriak-teriak dirumah Medina. Di belakangnya berdiri Aurel yang menangis di pelukan ibunya.


"Maaf Tuan, harap anda menjaga sikap," ucap Oma tak suka dengan tingkah laku Tuan Rendi.


"Kalau cucu anda bisa menjaga sikap, saya tak akan berada di sini dan bersikap seperti ini," jawab Rendi dengan suara menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Lelaki tua itu melupakan di manakah ia berada. Sehingga tanpa adab masuk kerumah orang dan membuat keributan.


"Jaga bicara anda Tuan!" Oma mulai tersulut emosi.


"Saya tak peduli yang saya inginkan hanyalah agar Ray menikahi putri saya karena dia sudah membuat anak saya hamil," kata Rendi penuh emosi.


"Aurel, apa yang sudah kamu rencanakan bersama Reno?" tanya Oma menahan amarahnya.


"Reno? Tidak usah membawa-bawa nama orang lain. Tidak ada rencana apa pun Nyonya, saya mempunyai bukti jika cucu andalah yang melakukan semua ini," bela Rendi.


"Silakan Nyonya melihatnya sendiri, bagaimana kelakuan cucu anda," kata Rendi menyerahkan sebuah ponsel ke Lidya.


"Astagfirullah ...." Oma beristigfar begitu melihat foto Ray dalama keadaan telanjang dipeluk Aurel.

__ADS_1


"Anda sekarang percaya Nyonya? Huh, katanya keluarga terhormat," cibir Rendi.


"Ray ... Ray ...," panggil Oma dari lantai bawah.


Ray dan Medina yang sedang asyik berbincang segera turun ke lantai bawah karena mendengar keributan dan panggilan Oma. Ray berjalan di depan diikuti oleh Medina di belakangnya.


"Iya, ada apa ini Oma?" tanya Ray setelah berhasil menapaki anak tangga terakhir.


"Coba kamu lihat ini siapa?" tanya Oma seraya menunjukkan foto itu dengan suara yang meninggi.


"Ta-Tapi," ucap Ray terbata-bata setelah melihat fotonya di dalam ponsel. Ray sungguh bingung. Medina mengintip dari belakang tubuh Ray. Deg, hati Medina begitu sakit melihat pemandangan yang luar biasa menyakitkan di ponsel tersebut. Medina segera berlari menuju ke lantai atas lagi. Medina begitu kecewa, lelaki yang ia puja dalam hatinya sama saja dengan mantan kekasihnya, Gibran. Medina berlari dengan linangan air mata. Baru saja Ray melamarnya dan kini ia mendapati kenyataan pahit ini.


"Aku tak menyangka kamu ternyata sama aja mas sama Gibran, Kalian sesuka hati mempermainkan wanita dan melakukan perbuatan tak pantas itu." batin Medina menangis.


"Me ... dengarkan Mas!" Ray ingin berlari mengejar Medina namun dihentikan oleh Oma. Ray tak dapat berbuat apa-apa.


"Mau kemana kamu Ray? Tetap disini!" titah o


Oma tak dapat dibantah. Mata Ray masih memandang ke lantai atas. Namun Ray tak dapat bergerak karena cengkeraman tangan Oma.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Wah, bagaimana ini?


Akankah mereka bisa bersatu?


Pantengin ya? Seperti biasa kasih like, vote dan komentarnya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2