Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Apakah Ini Mimpi?


__ADS_3

Perjalanan Haura pulang ke rumah Adam terasa sangat cepat. Haura rasa ia belum siap untuk bertemu dengan Adam. Apa yang akan ia katakan? Kata pertama apa yang harus ia ucapkan? Bagaimana jika nanti suasananya canggung? Bagaimana jika ia terkena serangan panik lagi? Sejujurnya wanita itu hanya pura-pura baik di depan Ray dan Medina. Tak ingin membuat kedua orang yang sangat menyayanginya risau. Tapi Haura sadar jika ia adalah istri Adam. Sudah kewajibannya untuk berada di sisi lelaki itu.


Ia merem*s jemarinya sendiri sedikit gugup. Jantungnya berdetak cepat seiring semakin dekatnya tempat yang ia tuju. Mulutnya komat-kamit berdoa semoga ia kuat. Haura juga meyakinkan hatinya lagi. Ini yang terbaik. Keadaan yang salah saat ini harus diperbaiki. Walau ia tahu ini tak mudah untuk hatinya. Ia harus kembali kepada Adam, tempat seharusnya ia berada. Surganya.


"Nyonya ...."


"Nyonya muda, kita sudah sampai," ucap Pak Anto lagi karena majikannya terlihat melamun dan tak segera turun dari mobil.


"Eh, Oh ... iya Pak." Haura tersadar dari lamunannya.


Haura membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya keluar dengan sedikit gugup. Pak Anto ikut turun membantu menurunkan koper miliknya.


"Biar saya saja yang mengangkatnya Pak. Bapak boleh pulang ke rumah Papa dan melanjutkan pekerjaan."


"Kata Tuan, saya harus membawakan barang bawaan sampai ke rumah Nyonya."


"Ya sudah, Bapak tolong angkatkan sampai pintu saja. Nanti biar Haura yang bawa masuk."


"Baik, Nyonya." Pak Anto segera mengangkat koper sampai depan pintu.


"Kalau tak ada hal yang harus saya kerjakan lagi saya permisi dulu, Nyonya."


"Bapak tak ingin singgah sebentar? Haura buatkan minum dulu."


"Eh, nggak usah. Saya pamit ya Nyonya. Non Mikha sudah menunggu. Saya harus mengantarnya ke sekolah."


"Baiklah Pak. Terima kasih. Sampaikan salam untuk Papa dan Mama. Tolong katakan jika saya baik-baik saja."


"Sama-sama, Nyonya. Baik, akan saya sampaikan."


Haura segera masuk ke rumah setelah Pak Anto pergi dari rumahnya. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang sempat ia bawa waktu meninggalkan rumah.

__ADS_1


Gelap. Suasana yang mencekam terlihat ketika Haura memasuki rumah yang sebulan lebih ia tinggalkan. Ia menarik paksa koper miliknya dengan susah payah.


Sesampai di lantai dua, pemandangan yang mencengangkan terlihat di matanya. Suaminya tidur sembarangan di sofa ruang keluarga memeluk jilbab miliknya. Haura dapat melihat dengan jelas suaminya yang lebih kurus. Terlihat pucat. Jambang yang berantakan menghiasi wajahnya yang tampan. Haura menjadi kasihan, walau jika mengingat apa yang terjadi ia masih kesal.


Meja di depan Adam sangat berantakan. Plastik sisa makanan berserakan. Ada beberapa cup mi gelas yang menumpuk di sana. Juga botol plastik dan kaleng aneka minuman. Haura hanya memandang suaminya dengan prihatin. Kehidupan lelaki itu begitu berantakan tanpanya. Ia dapat membayangkan bagaimana selama ini lelaki itu hidup.


Dengan sedikit gemetar wanita itu menyentuh pundak suaminya dan mengguncangnya pelan. "Mas, bangun!"


Adam mengerjapkan mata. Ia mengucek matanya berulang kali merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat ketika membuka mata. Wajah manis yang membuat hidupnya berantakan tengah menatap dirinya intens. Terlihat begitu manis dan teduh di matanya.


"Apakah ini mimpi? Jika mimpi maka aku tak ingin terbangun lagi," batin Adam.


"Mas, pindah ke kamar saja kalau mau tidur. Tak nyaman kan kalau tidur di sini? Nanti badan Mas sakit semua." Suara lembut itu menyapu telinga Adam. Memberikan kehangatan di hati lelaki itu. Sedangkan Haura sendiri merasakan de javu.


"Benarkah ini kamu, Ra? Kamu pulang? Atau kamu pulang ingin mengambil barang-barangmu?" tanya lelaki itu dengan dada yang menyesakkan. Ia duduk dan menatap wajah istrinya yang ia rindukan.


"Iya Mas. Ini Rara. Rara kembali."


"Mas, le-lepaskan! Rara tak bisa bernafas." Haura meronta dan melepaskan pelukan Adam. Ia tak nyaman diperlakukan demikian. Mengingatkannya pada kejadian yang tak mengenakkan hatinya.


"Oh, maaf." Adam mengusap air matanya yang sempat menetes. Haura mengalihkan pandangan, agar degup jantungnya tak menggila lagi. Namun, disalah artikan oleh Adam. Adam mengira jika Haura jijik dengan ruangan yang begitu kotor itu.


"Ma-maaf berantakan semua. Mas akan bereskan." Adam mengambil plastik besar dan memasukan sampah itu ke dalamnya. Haura menahan lengan kekar suaminya dan menggelengkan kepala.


"Ah, eh ... kamu mau minum ya? Atau mau makan? Sebentar Mas ke dapur." Adam berlalu ke dapur tanpa bisa Haura cegah.


"Hahhhh ...." Haura menarik nafas panjang.


"Akhirnya aku kembali ke rumah ini. Ya Allah kuatkan hatiku. Semoga Mas Adam benar-benar berubah. Semoga aku bisa mengatasi masalah yang mungkin saja muncul. Papa Ray yang lelaki saja bisa menghadapi Mas Adam selama puluhan tahun karena begitu besar cintanya. Aku istrinya juga harus bisa, karena ... aku juga menyayanginya," batin Haura.


Ia segera membersihkan meja yang penuh sampah berserakan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Kemudian ia turun ke bawah untuk membuangnya ke tong sampah depan rumah. Tak berapa lama, ruangan itu kini lebih enak dipandang.

__ADS_1


Adam keluar dari dapur dengan membawa semangkok mi instan dan segelas teh hangat.


"Ra, maaf hanya ada ini saja. Setiap hari ini saja yang Mas makan. Karena Mas tak bisa memasak makanan lainnya. Sungguh bodoh aku. Hahahaha ...." Dengan miris Adam menertawakan dirinya sendiri.


"Sudahlah, lain kali jangan sering-sering makan mi instan. Tidak baik untuk kesehatan. Mulai hari ini Rara yang akan memasakkan makanan sehat untuk Mas Adam," ucap Haura penuh makna. Ia berbicara dengan membuang muka, tak sanggup menatap mata suaminya.


"Benarkah? Nah, Mas suapkan Ra." Adam bahagia mendengar ucapan Haura. Ia sedikit lega, wanita itu mau bicara padanya. Walau entah istrinya memaafkannya atau tidak.


"Mas makan sendiri saja. Rara sudah makan di rumah Mama. Rara capek Mas, Rara istirahat dulu ya?" tolak Haura menepis sendok yang Adam sodorkan. Pria itu tersenyum kecut, mendapatkan penolakan. Ia merasa pantas diperlakukan demikian. Adam merasa jika pun Haura menampar atau memukulnya, ia pantas untuk itu. Haura berdiri dan hendak melangkah ke lantai tiga, kamar lamanya.


"Tidur di kamar Mas saja, Ra. Kamar atas belum dibersihkan. Kan lama tidak digunakan. Kamu jangan takut. Mas nggak akan melakukan apa pun. Mas janji tidak akan mengganggu kamu," ucap Adam menghentikan langkah Haura yang menapak di anak tangga pertama. Haura menarik senyum di bibirnya dengan terpaksa.


"Baiklah, Rara istirahat Mas." Haura memutar badannya dan akan masuk ke kamar Adam.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seperti biasa, minta jempolnya ya.

__ADS_1


Untuk yang sudah kasih vote banyak banget, terima kasih. 😘😘


__ADS_2