Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Bagaimana Ini?


__ADS_3

Warning!


.


.


.


.


.


.


.


.


Adam melepaskan kancing baju istrinya dengan perlahan dan penuh kelembutan. Hingga menampakkan kedua bagian itu. Adam meneguk salivanya dengan susah payah. Berusaha untuk tetap waras. Berpikir dengan akal sehatnya, agar tak membuat kesalahan lagi yang dapat menyakiti Haura.


Adam merengkuh Haura dalam pelukannya dan kembali memagut bibir istrinya. Kedua tangannya mulai bergerilya dengan penuh kelembutan. Tubuh Haura yang sedikit menegang kini berangsur melemas dan menikmati sentuhan suaminya. Ia bertekad untuk menyerahkan diri pada suaminya.


Permainan dan sikap Adam yang begitu lembut membuat wanita itu lupa diri. Seakan terbang ke awan, memeluk bintang di langit. Nyaman dan aman, itulah yang ia rasakan saat ini. Separuh kesadarannya melemah. Hingga satu persatu kain penutup dirinya tanggal, ia tak menyadarinya. Suaminya pun sama dengan dirinya, tanpa sadar kini tak sehelai benang pun membalut tubuh kekar itu. Haura tak tahu, karena ia masih memejamkan mata. Enggan atau takut melihat pemandangan di hadapannya.


Adam masih terus berusaha melakukan yang terbaik. Memberikan sentuhan demi sentuhan penuh kelembutan. Menjamah setiap bagian tubuh dari wanita itu dengan penuh kasih sayang. Mengabaikan rasa nyeri di pangkal pahanya. Yang sebenarnya ingin segera dipuaskan. Namun lagi-lagi kata 'sabar' membuat kesadaran lelaki itu kembali. Ia tak boleh egois, ini usaha untuk menyembuhkan istrinya. Jika istrinya meminta ia berhenti, maka ia harus berhenti saat itu juga.


Ia berusaha membagi kenikmatan di setiap inci tubuh Haura dengan bibirnya. Menghilangkan rasa takut dan cemas dalam hati wanita itu. Meninggalkan jejak-jejak cinta yang bertebaran. Dengan degup jantung yang menggila dan peluh yang bercucuran, wanita itu masih pasrah. Tergelung oleh kabut gairah yang terasa sangat panas dan nikmat.

__ADS_1


Adam kembali fokus ke wajah Haura. Dikecupnya kening istrinya. Kedua mata dan pipi itu dengan sayang. Haura membuka mata, merasakan ketenangan dalam kungkungan lelaki itu. Begitu manis sikap yang Adam tunjukkan.


"Ra, kamu yakin?" Adam menatap Haura dengan mata yang teduh. Wanita itu mengangguk lemah. Bahkan dirinya sendiri pun tak tahu, bisa atau tidak menghadapinya.


"Mas akan mulai, jika kamu merasakan ketidaknyamanan. Katakan Ra. Mas akan berhenti." Haura mengangguk lagi.


Adam memulai pekerjaannya. Mencoba membelah celah sempit itu dengan perlahan dan hati-hati. Haura memejamkan matanya kembali dan mencengkeram sprei bermotif bunga itu menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan. Bahkan celah itu tak melebar sedikit pun. Rasa sakit dan pedihnya tetap sama seperti malam itu. Walaupun lelaki itu melakukan dengan lembut, tetap saja rasanya Haura hancur lebur.


Adam berhasil masuk. Ia berhenti sebentar, agar Haura menyesuaikan diri. Adam seakan menghitung bintang di langit, mencoba tetap mengendalikan diri. Kesabaran lelaki itu benar-benar tengah diuji. Jika saat ini dirinya masih sosok Adam yang dulu, mungkin ia tak akan sanggup sesabar itu.


"Ra, aku akan bergerak. Apa kamu sudah siap?" Haura mengangguk lemah, menyembunyikan rasa sakit di pusat tubuh dan hatinya. Adam memulai pergerakannya, air mata wanita itu bercucuran. Tubuhnya bergetar hebat. Bayang kelam dan mengerikan itu datang lagi. Sakit perih hancur berkeping. Bagaikan gelas kaca yang hancur berkepingan di lantai. Tak terbentuk lagi kehancurannya. Adam yang tergelung nafsu belum menyadari kesakitan istrinya, karena keadaan yang gelap. Juga karena tangis Haura dalam keheningan tanpa suara tak bisa ia dengar. Dan ketika ia mengecup pipi istrinya baru ia menyadari ada sesuatu yang salah. Pipi yang ia kecup basah karena air mata.


"Maaf Ra." Adam menarik dirinya. Tak melanjutkan lagi kegiatannya. Masih dalam kondisi polos ia mendekap tubuh istrinya. Mengabaikan kebutuhan biologisnya yang tak jadi terpenuhi.


"Maafkan aku Ra." Lelaki itu menangis. Nafsu yang membara itu kini menghilang bagai tersiram air hujan karena melihat penderitaan wanita itu. Ia menyesal telah mencipta luka yang begitu dalam, yang entah kapan akan sembuh dan menghilang. Semua gara-gara dirinya.


"Mas tidak salah. Bagaimana ini Mas? Bagaimana jika Rara tak akan pernah sembuh? Ba-bagaimana jika Rara tak bisa menjadi istri yang baik?" Tangis wanita itu semakin menjadi.


"Shhh ... tenang Ra. Kita harus sabar. Mungkin jika tidak bisa secara instan, kita harus pelan-pelan. Mas akan selalu bersabar. Mas akan berusaha menyembuhkan kamu. Sudah sayang." Adam mengecupi kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Mari kita bersihkan diri dan kita tidur."


Tanpa aba-aba Adam menggendong tubuh mungil itu dan mereka mandi bersama. Tak ada nafsu, hanya ada rasa sayang dan sedikit iba yang di rasakan Adam ketika memandikan istrinya. Namun yang lebih membebani lelaki itu adalah perasaan bersalahnya.


Haura POV


Akhirnya aku kembali ke rumah ini. Rumah yang memiliki kenangan buruk dalam hidupku. Namun keputusanku untuk kembali harus aku tanggung sendiri. Bagaimanapun juga aku adalah istrinya. Mempunyai kewajiban untuk mengabdi pada suamiku. Aku ingin menjadi istri yang baik.

__ADS_1


Aku melihat kehancurannya tanpaku. Hidupnya begitu berantakan karenaku. Aku memutuskan untuk mencoba lagi dari awal. Aku ingin membuka hatiku dan berusaha memaafkannya.


Hubungan kami membaik walaupun kesan kaku masih sangat mendominasi. Mungkin karena hatiku belum sepenuhnya terbuka dan Mas Adam masih diliputi perasaan bersalah.


Melihat sikapnya aku benar-benar lega. Sepertinya suamiku telah berubah, menjadi lelaki yang lebih baik. Melihat sikap dan emosinya saat ini. Aku yakin dia benar-benar menyesali sikapnya dulu.


Dan malam ini, aku sendiri yang memberi lampu hijau pada Mas Adam. Aku mengizinkannya menyentuh diriku. Aku ingin menghilangkan bayang hitam yang selama ini menghantuiku. Aku ingin sembuh, aku harus keluar dari lubang hitam ini.


Dengan penuh kelembutan ia menyentuhku. Memberikan aku rangsangan demi rangsangan agar aku nyaman dan menikmati keindahan yang selayaknya dirasakan insan yang bercinta. Aku terhanyut dalam permainannya yang penuh cinta.


Namun ketika ia melakukannya lagi, bayang hitam itu kembali datang. Satu per satu kenangan menyakitkan itu muncul lagi. Memenuhi kepalaku yang masih dapat mengingatnya dengan jelas. Apalagi rasa sakitnya masih sama. Pedih, nyeri, dan sangat sakit. Bagaikan terbelah dua. Oh Tuhan, apakah aku tidak bisa sembuh selamanya? Kepercayaan diriku bahwa aku bisa sembuh dari trauma ini kini musnah sudah. Bagaikan tumpukkan kartu yang susah payah aku susun untuk menjadi istana yang indah. Dengan sekali sentuh saja, semua runtuh tak bersisa.


Tak dapat lagi aku menahan air mataku. Akhirnya ia menyadari bahwa aku tersiksa. Aku belum sepenuhnya lepas dari trauma itu. Dia mengakhirinya begitu saja. Mengabaikan rasa sakit yang mungkin ia rasakan. Dan dengan lembutnya ia menjagaku, memberi perhatiannya untukku. Mas Adam, maafkan aku.


Haura POV End


.


.


.


.


.


Update habis buka. Bagi likenya ya?😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2