
Flashback on
"Ma, untuk sementara Adam titip rumah ya. Mama tolong kirim Imah atau siapa untuk bersih-bersih ya. Tolong jaga tiap barang di rumah Adam. Adam ingin rumah itu tetap bersih dan utuh seperti semula. Karena hanya tinggal rumah itu yang berisikan barang-barang berharga yang penuh kenangan bersama Rara."
"Iya sayang akan Mama urus. Memangnya kamu mau ke mana sayang?" tanya Medina merasa iba dengan putranya.
"Adam hanya ingin menenangkan diri ke tempat yang bahkan belum sempat kami kunjungi. Di sana Adam akan menikmati udara segar, pemandangan hijau dan cuaca yang sejuk agar pikiran Adam jernih."
"Mau mama temankan?"
"Tidak Ma. Mama di rumah saja jaga Mikha. Adam sudah dewasa Ma, jangan anggap Adam seperti anak kecil. Adam juga tidak tahu sampai kapan Adam akan menenangkan diri di sana."
"Baiklah iya iya. Mama tahu putra Mama bukan anak kecil lagi. Kuatkan hatimu Nak. Semoga pikiran kamu lebih tenang dan terbuka setelah kamu pulang dari sana."
"Ya sudah ya Ma. Kunci Adam titipkan pada Ardi. Nanti biar diantar ke rumah."
"Kenapa tidak kamu antar sendiri sayang? Mama juga ingin melihat hidung anak Mama dulu, sebelum kamu pergi."
"Mama ini selalu memperlakukan Adam seperti bayi ... tapi maaf Adam tidak bisa ke sana. Karena sekarang Adam sudah ada di bandara."
"Apa? Dasar anak nakal! Pergi tanpa pamit. Ya sudah hati-hati ya Nak. Mama yakin jika kamu tidak bersalah maka seiring waktu Haura akan kembali padamu. Maafkan Mama ya Nak, sempat tidak percaya padamu."
"Hem, sudahlah Ma. Lupakan saja. Adam sudah terlalu banyak membuatnya menderita. Sudahlah biarkan Rara bahagia tanpa Adam. Biar hidup Rara tenang Ma."
"Tapi Mama sebenarnya ...." Ucapan. Medina terpotong oleh kata-kata Adam.
"Ah, sudah ya Ma. Adam harus bersiap sebentar lagi harus masuk pesawat," pamit Adam.
"Baiklah hati-hati ya sayang." Panggilan telepon pun terputus.
Flashback off
Haura berpikir keras ke mana suaminya pergi. Memang negara tujuan sudah Ardi sebutkan, namun wanita itu belum tahu pasti tempat yang Adam kunjungi. Dan Haura ingat satu tempat yang belum sempat mereka kunjungi, gara-gara masalah perusahaan. Senyum Haura terbit, sepertinya ia tahu di mana suaminya berada.
Dengan mantap wanita itu memutuskan untuk mencari suaminya. Dia akan mencari Adam ke mana pun lelaki itu berada. Dia ingin minta maaf dan memohon ampunan pria itu. Dia akan memohon untuk kembali ke sisi pria yang amat ia cintai. Pria yang sanggup membuat kehidupannya bahagia dan luluh lantak dalam sekejap.
Wanita yang bahkan baru sekali pergi ke Luar Negeri itu dengan nekat menyusul suaminya. Setelah mendapatkan info dari Ardi perihal keberadaan suaminya. Haura memutuskan untuk pergi seorang diri. Medina yang menawarkan diri untuk menemani juga ia tolak.
__ADS_1
Dengan berani wanita itu naik pesawat seorang diri, hanya bersama bayi kecil yang tengah ia kandung. Dengan pengalaman yang minim, ia menyusuri KLIA seorang diri. Bertanya sana-sini karena ia memang belum berpengalaman dalam berpergian jauh. Semua ia lakukan agar dapat bertemu dengan Adam, suaminya.
Dari KLIA, ia menaiki bus menuju ke Pahang dengan bantuan pihak bandara yang memberi info. Dan setelah menempuh perjalanan hampir empat jam, wanita itu akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Tempat yang sejuk dengan pemandangan indah menenangkan jiwa. Tempat yang tenang, jauh dari keramaian.
Wanita itu bertanya ke sana-kemari tentang keberadaan Adam. Dengan sabar ia bertanya ke setiap penginapan yang ada, siapa tahu suaminya menginap di tempat itu. Akhirnya setelah mencari ke banyak penginapan, Haura dapat menemukan hotel tempat Adam menginap.
Haura bahagia, selangkah lagi ia akan bisa bertemu dengan suaminya. Ia bertanya pada petugas hotel, apakah Adam berada di kamarnya. Sayangnya petugas hotel mengatakan jika suaminya tidak ada di kamarnya. Sedari pagi lelaki itu sudah keluar dari kamarnya.
Sementara itu di sebuah kedai teh yang berada di atas perkebunan teh terbesar di Asia Tenggara, Adam tengah menikmati secangkir teh tarik. Sembari menikmati pemandangan perkebunan teh yang terhampar luas sekitar 3200 hektar, laki-laki itu merilekskan diri. Menghirup udara segar dan sejuk bebas polusi. Sejauh apa pun mata memandang, hanya hamparan pohon teh yang terlihat. Kawasan itu begitu hijau dan asri. Di sanalah terlihat juga beberapa pekerja kebun teh sedang memetik daun teh, untuk dijadikan teh yang berkualitas tinggi.
Wajah laki-laki itu sedikit memucat, sepertinya ia kurang sehat. Adam mengenakan sweater tebal yang hangat. Tak lupa syal hangat ia gunakan untuk membalut lehernya. Karena udara pagi itu cukup sejuk. Suasana juga sedikit berkabut.
Setelah tehnya habis, Adam memutuskan untuk turun ke perkebunan. Ia ingin melukis di tempat itu. Dengan kanvas di tangannya, lelaki itu ingin meluapkan semua perasaannya lewat lukisan.
Setelah beberapa waktu berjalan, Adam menemukan spot yang menarik perhatiannya. Dari tempat itu ia juga bisa melihat air terjun di bawah sana. Adam mulai melukis, menggoreskan cat ke atas kanvasnya yang masih kosong. Sesekali laki-laki itu menghela napas panjang, merasa kehidupannya begitu berat.
***
Haura menyusuri perkebunan teh itu dengan hati-hati. Jalanan yang sedikit licin membuatnya waspada. Karena ia harus menjaga bayi yang ada di perutnya. Namun ia tak menyerah meski medan sedikit curam. Ia harus menemukan suaminya. Ayah dari anaknya. Ia bertanya ke sana ke mari dengan memperlihatkan foto Adam kepada pengunjung. Siapa tahu ada yang melihat suaminya. Dan setelah beberapa kali ia bertanya, Haura berhasil mendapatkan info dari seorang pemetik teh yang melihat Adam di bawah sana.
Haura bahagia, tak lama lagi ia dapat melihat wajah yang seminggu ini ia rindukan. Ia juga ingin menghambur memeluk tubuh kekar nan hangat itu.
"Mas," panggil Haura lirih.
Adam menghentikan kegiatannya dan membalikkan badan ke arah istrinya. Hingga Haura dapat melihat lukisan Adam. Ia terpana dengan apa yang suaminya lukis. Ternyata Adam sedang melukis dirinya dengan gamis berwarna putih dan
perut membuncit. Haura tak bisa untuk tidak meneteskan air matanya. Ia menangis haru.
"Kenapa kamu di sini Ra?" tanya Adam dengan hati yang sesak.
"Apakah kamu tidak sabar untuk menceraikan aku, hingga kamu menyusulku ke sini? Tenang saja Ra, aku akan melakukan apa pun untuk kamu dan bayi kita. Em, bayi kamu maksudnya." Perasaan Adam seakan diiris ketika mengatakan hal itu.
"Tidak Mas. Justru sebaliknya, aku kemari karena aku merindukanmu. Aku ingin kembali padamu Mas. Dan ini bayi kita Mas."
"Tapi aku mungkin tak bisa membahagiakanmu Ra. Aku hanya lekaki brenggsek. Yang hanya tahu menyakitimu."
"Jangan katakan itu Mas. Rara minta maaf karena sempat tidak mempercayai Mas Adam. Rara sudah tahu yang sebenarnya. Rara minta maaf Mas, Rara mohon ampun." Wanita itu mengecupi tangan suaminya.
__ADS_1
"Ra, apa kamu yakin akan kembali padaku? Bagaimana jika nanti aku menyakiti hatimu lagi? Bagaimana jika aku tak bisa jadi suami yang baik?"
"Mas Adam adalah yang terbaik untuk Rara. Dan ketika kamu salah nanti, seperti janji kita dulu. Aku akan selalu mengingatkanmu. Kita saling melengkapi."
"Lalu perceraian kita?"
"Bahkan aku belum menandatanganinya Mas. Karena aku juga tak rela terpisah darimu. Mas tahu, seminggu ini Rara menderita karena merindukanmu."
"Kamu yakin ingin kembali padaku?"
"Iya Mas. Seribu persen yakin."
Adam menangis, perasaan lelaki itu bercampur aduk. Haura menarik ujung kerudungnya dan menyeka air mata suaminya.
"Mas akan jadi seorang ayah. Mas harus kuat, sekuat Papa Ray. Tidak boleh menangis lagi."
"Bagaimana jika aku tidak bisa sebijak Papa?"
"Maka jadilah dirimu sendiri wahai Tuan Sempurna. Karena suamiku adalah lelaki yang paling sempurna di mataku. Kamu dan Papa Ray tak pernah sama. Tapi kalian sama-sama laki-laki yang baik. Dan kamu adalah kamu."
Adam menghambur memeluk Haura. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Haura. Menghirup aroma menenangkan dari sana. "Apa kamu tahu betapa hancurnya ketika kalian tidak mempercayaiku? Terlebih kamu istriku sendiri."
"Maafkan aku Mas. Maaf," sesal Haura menitikkan air mata.
"Ah iya, dingin." Adam melepas syalnya dan melilitkan ke leher istrinya.
"Tapi Mas sedang sakit," protes wanita itu.
"Sakit Mas sudah menghilang setelah melihat kamu."
"Mari berjanji untuk bersama selamanya dan menghadapi semuanya berdua." Haura mengulurkan jari kelingkingnya. Dan Adam menyambutnya.
Dengan perlahan Adam merengkuh tubuh Haura ke dalam pelukannya. Dan Adam mencium istrinya di tengah perkebunan teh yang menghijau. Dalam hati masing-masing berjanji untuk selalu bersama, saling percaya dan saling setia.
END
Alhamdulillah novel ini sudah end. Cukup manis kan endingnya? Maaf author kurang sehat jadi belum bisa langsung kasih part ekstra. jadi jangan hapus dari list favorite dulu ya.
__ADS_1
Em, author berencana akan buat novel baru. InsyaAllah.. Doakan project lancar. Baru ketik dapat dikit. Genre masih sama drama, romance penuh liku2 wkwk Nanti kalau udah dapat 20 an eps InsyaAllah akan aku up. Aku akan umumkan di sini jadi jangan hapus dari list favorit dulu ya. Agar nanti kalian dapat notif pengumuman hehe.
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. ngga nyangka tulisanku ada yang baca. Love you All... 😘😘😘