Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Baby Panggil Papa Okay?


__ADS_3

Kediaman Ilyansyah


"Bagus, awasi terus pergerakan wanita itu. Jangan sedikit pun terlepas dari pandanganmu. Kalau semua lancar aku akan berikan bonus tambahan. Ingat jalankan dengan baik, jangan sampai wanita itu tahu keberadaan kamu. Karena dia mempunyai hal yang sangat berharga, sehingga kita harus mendapatkan dia segera," kata lelaki paruh baya itu berbicara entah dengan siapa di telepon, sambil menikmati sarapan pagi dirumahnya.


"Siapa itu Pa?" tanya Rika penasaran .


"Orang suruhan Papa. Apa Mama tahu? Gadis itu sekarang ada di Bandung, jadi semakin mudah aku mengawasinya," kata Ilham tersenyum licik kemudian menyesap kopi hitam yang dibuatkan istrinya.


"Gadis? Siapa?" tanya Rika penasaran. Gibran yang duduk di kursi rodanya sembari menikmati suapan makanan dari mamanya ikut mendengarkan.


"Siapa lagi? Medina. Wanita yang mengandung cucu Mama. Darah daging kita yang akan memberikan kita harta berlimpah," jawab Ilham meninggalkan meja makan dan mengambil tas kerjanya tanpa berpamitan. Rika hanya bisa menggelengkan kepala karena suaminya sama sekali tak khawatir pada kondisi anaknya malah mempedulikan harta dan harta.


"Medina, benarkah kau ada di Bandung?" batin Gibran.


***


"Kiaaaa ...." Medina menghambur memeluk Zaskia yang sudah berdiri menyambut di halaman rumah. Sedangkan Ray sendiri sibuk menurunkan koper milik Medina dari dalam bagasi.


"Me, I miss you." Zaskia memeluk Medina erat-erat. Saking bahagianya karena lama tak jumpa mereka berpelukan sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


"Me, ingat dalam perut itu ada bayinya. Jangan melompat-lompat seperti itu. Bahaya," nasehat Ray sembari menarik koper milik Medina dengan penuh perhatian.


"Hai, Tuan sempurna," sapa Zaskia dengan ramah.


"Apa? T-tuan sempurna?" Ray membulatkan mata, mendengar sapaan dari sahabat Medina.


"Iya, kata Me ... mmphh ... mmmphh ...." Kini mulut Zaskia dibekap oleh Medina sebelum sahabatnya itu bicara macam-macam lagi.


"Ah, Zaskia memang suka begitu Mas. Suka ceplas-ceplos seenaknya. Mohon maklum ya," kata Medina sebelum Zaskia lebih mempermalukan dia lagi. Medina juga memberikan kode pada Zaskia agar berhenti berceloteh. Zaskia meronta-ronta melepaskan tangan Medina dari mulutnya.


"Enak saja, situ sendiri yang bilang kalau Ray adalah tuan sempurna. Dan kini aku yang jadi kambing hitam," batin Zaskia.


"Kenalkan saya Zaskia Nur Fatia, sahabat Medina." Zaskia mengulurkan tangan tanda perkenalan setelah terlepas dari cengkeraman Medina.


"Saya Rayga Arkana Dewanto, Suami Medina. Tapi bohong," ucap Ray menerima uluran tangan Zaskia disambut gelak tawa dari ketiganya. Tapi entah dengan Medina yang merasa sedikit sedih ketika Ray mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Saya bawa masuk koper Me dulu ya? Kalian silakan bicara berdua. Oh ya maaf ya Mas, saya tak bisa mengizinkan laki-laki masuk rumah," kata Zaskia menarik koper Medina. Zaskia sedikit meringis karena koper sahabatnya itu begitu berat.


"Ah, no problem. Hati-hati nona, Koper Me berat," kata Ray mengingatkan Zaskia.


"Memang, sudah biasa koper dia berat begini," jawab Zaskia yang akhirnya dengan susah payah berhasil menarik koper masuk rumah.


"Berat banget, apa sih isinya?" Zaskia menggerutu pelan.


"Mas ...," ucap Medina setelah Zaskia tak nampak lagi batang hidungnya, namun perkataannya langsung dipotong oleh Ray.


"Nggak usah mengucapkan terimakasih," ucap Ray seolah tahu jalan pikiran Medina.


"Tapi Mas kan belum mendengar perkataanku," kata Medina kembali.


"Shhhhh ... nggak perlu Me, Mas nggak mau mendengar ucapan terima kasih. Karena bersama Me, Mas juga mendapatkan banyak kenangan manis dan pengalaman-pengalaman berharga. Mas bahagia mengenalmu Me," ucap Ray tulus.


"Ye ... memang Medina mau mengucapkan terimakasih apa? Orang nggak." Medina berkilah.


"Mas tahu apa yang Me pikirkan. Mas melakukan semuanya dengan ikhlas lahir dan batin. Jadi sekali lagi Mas katakan, Mas nggak mau mendengarkan ucapan terima kasih darimu," jawab Ray.


"Mas akan menangis, kamu akan merasa bersalah jika mengatakannya," kata Ray sambil pura-pura membuat ekspresi anak kecil yang hendak menangis.


"Abang Macho kini berubah jadi sensitif ya?" gurau Medina.


"Mas nangis ya? Beneran nangis nih," ancam Ray dengan nada lucu.


Kini keduanya tertawa.


"Emm, Me tetap akan mengatakan ucapan perpisahan buat mas Ray." Medina berubah serius kembali.


"Jangan sedih-sedih ya Me?"


"Iya, iya. Nggak sedih kok. Hanya sebuah kalimat yang sedikit short and sweet," kata Medina.


"Mana ada ucapan perpisahan short and sweet? Yang ada pasti sedih." Ray

__ADS_1


"Ada, khusus untuk Mas Ray dari Medina," kata Medina tulus.


"Okay, give it!" perintah Ray.


"Mas Ray, terimakasih sudah hadir dalam kehidupan Medina yang penuh dengan kerumitan ini, terima kasih sudah menolong Medina. Maaf jika selama ini Medina menyusahkan dan merepotkan Mas Ray. Me tidak tahu apa yang akan terjadi jika Mas Ray tak datang ke kehidupan Me. Terimakasih untuk segalanya Mas," ucap Medina menitikkan air mata haru.


"Oh ya, mengenai biaya rumah sakit, dan juga ongkos kesini. Me akan ganti ya, Mas? Me tak mau berhutang budi terlalu banyak," tambah Medina.


"Me ... Mas melakukan semua dengan ikhlas. Me tak perlu mengganti apa pun. Dan Mas tidak akan pernah menerimanya," tolak Ray dengan tegas.


"Me, Mas mau minta sesuatu dari kamu. Meskipun kita akan berpisah ke jalan masing-masing, jangan sampai hubungan kita terputus sampai disini ya? Jangan sampai kita seperti orang asing jika bertemu lagi. Please ... kita akan saling menghubungi setelah ini walau sebatas lewat telepon. Mas mohon Me, jangan pernah berpikir untuk menjauh dari Mas." Medina terdiam mendengar permintaan kecil yang terasa ringan di telinga orang lain namun tidak untuknya. Medina akan sangat sulit mengendalikan perasaannya, jika Ray seakan memberinya harapan untuk tetap dekat. Harapan yang sudah dimiliki wanita lain.


"Ingat Me! sampai kapan pun aku adalah Papa dari bayi yang tengah kamu kandung, dan ketika dia lahir ke dunia ini dia wajib dan harus memanggilku Papa. ingat PAPA." Medina tak mampu mengatakan apa pun. Hanya mampu terdiam menahan rasa sesak dan air matanya, agar tidak membanjir di depan Ray. Sungguh wanita itu sebenarnya sangat ingin bersama Ray. Kalau bisa, ia ingin mengikat Ray agar tak bisa pergi jauh dan melarikan diri darinya. Namun ketika kembali ke realitas, ia berusaha kembali untuk menerima kenyataan.


"Sayang, Baby ... ingat ya? Saat kamu lahir ke dunia nanti kamu harus panggil Papa. Okay sayang? Papa Ray, terdengar manis." Ray mendekatkan wajahnya dengan perut Medina dan seakan-akan sedang berbicara dengan bayi Medina.


"Hmm ya sudah, Mas pulang ya? Sana kamu masuk! Istirahat, kasihan baby kecapekan," perintah Ray.


Medina mengangguk. Ray masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil menuju apartemennya. Medina yang melepas kepergian Ray hanya bisa menyembunyikan tangisnya. Ia melambaikan tangan kepada Ray, dan dibalas dengan senyum manis penuh pesona.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2