
"Adam, mau kemana lagi kamu malam-malam begini?" tanya Ray menghentikan langkah putranya yang akan pergi keluar. Adam sudah terlihat rapi dengan pakaian kasualnya.
"Kenapa lagi Pa? Ini belum malam Pa. Baru juga pukul tujuh. Adam bukan anak gadis yang harus Papa khawatirkan dan Papa larang-larang. Adam sudah dewasa. Bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jangan terlalu mencampuri urusan Adam," jawab Adam kasar.
"Jaga mulut kamu Nak! Hormati papa kamu!" perintah Medina. Adam memutar bola matanya malas, merasa akan ada drama lagi malam itu.
"Dam, Papa ingin bicara sebentar, tak perlu berlama-lama. Lima menit cukup," pinta Ray.
"Papa dan Mama sudah pergi ke desa itu. Kami sudah menawarkan perjodohan, tinggal menunggu jawaban dari Haura. Jadi kamu harus bersiap jika sewaktu-waktu kamu harus menikahinya."
"Apa? Jadi Papa benar-benar tega menggadaikan hidup Adam hanya karena balas budi? Sebenarnya Adam ini anak Papa bukan? Terhadap Mikha saja Papa tak pernah memaksa," ucap Adam penuh emosi.
Deg.
Wajah Ray dan Medina pucat pasi mendengarkan ucapan Adam.
"Mama nggak suka kamu ngomong kasar begitu sama Papa. Apa kamu tak ingat siapa yang sudah membesarkan kamu dan mendidik kamu Dam?" kata Medina dengan nada meninggi.
"Sudahlah, terserah kalian. Anggap saja aku menyetujuinya. Adam kan hanya sebuah boneka untuk Mama dan Papa," kata Adam meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pamit. Ray hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada bidangnya.
"Keterlaluan kamu Dam," ucap Medina emosi.
"Sabar Me."
"Tapi Mas ...."
"Sudahlah sayang, lebih baik kita istirahat. Kuat harus ekstra sabar menghadapi anak seperti Adam," hibur Ray menenangkan istrinya.
***
Sementara itu di studio.
Wanita itu melenggak lenggokan tubuhnya di atas catwalk. Dengan lampu terang menyoroti tubuhnya yang seksi dan cantik. Dia bagai dewi yang bersinar terang. Bagai bintang bersinar yang paling terang dari yang lainnya. Puluhan kali kamera menangkap gambar terbaik yang disuguhkan oleh Isabella. Gadis itu begitu mahir membuat gaya yang mempesona. Apapun pakaian yang dan make up yang melekat di tubuhnya. Selalu berhasil membuat ia semakin bersinar.
Gadis itu sudah begitu lelah, namun masih ada lagi gambar yang harus diambil. Ia harus profesional, jadi ia tak boleh mengeluh. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Tetapi wajah Isabella berubah kesal dan masam, karena ada satu adegan yang diulang-ulang karena fotografer kurang merasa puas dengannya. Isabella yang sudah lumayan letih menjadi sebal dan kesal. Ingin rasanya segera pergi dari tempat itu.
Namun senyum di wajah Isabella mengembang lagi ketika ia melihat sang kekasih hati sudah datang. Ia begitu bergembira. Karena malam ini Isabella ingin havefun di sebuah klub malam bersama Adam. Dan kedatangan Adam, khusus untuk menjemputnya.
Tinggal adegan terakhir, Isabella harus berjalan ke depan menampilkan kesan seksi dan hot. Dengan mengenakan gaun berwarna merah darah dan highheel tujuh senti dan warna senada. Dilangkahnya yang ke-enam, nasib malang menghampiri Isabella. Karena tak fokus heel sepatunya tersangkut di karpet dan ia terjatuh.
"Aduh ... aduh," rintih Isabella. Dino sang fotografer ingin menolong Isabella, sayang Adam lebih dulu menolong gadis itu. Dino marah, tangannya mengepal di samping tubuhnya yang membatu.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Adam khawatir.
"Aduh, sakit Mas," rintih Isabella. Pergelangan kakinya memerah dan mulai membengkak.
"Ya sudah kita ke rumah sakit," kata Adam khawatir.
"Ya sudah hari ini cukup sampai di sini. Kamu pergi ke dokter saja dulu," kata Dino akhirnya. Ia tak tega melihat Isabella yang kesakitan.
Dengan sekali angkat Adam menggendong tubuh Isabella. Dino menggeram, andai saja dia yang ada di posisi Adam.
***
Lima belas menit kemudian Isabella dan Ray sudah sampai di rumah sakit. Isabella segera mendapatkan penanganan.
"Keadaan kaki Nona Isabella tak apa-apa Tuan. Hanya tinggal menunggu pulih. Anda harus bedrest untuk satu minggu," kata dokter.
"Oh ya, ini resep obatnya. Silakan tebus di apotek depan," kata dokter lagi.
"Baik Dok. Terima kasih," ucap Adam.
Adam memapah Isabella sampai di ruang tunggu obat. Adam segera mengambil antrian untuk menebus obat. Ia akan kembali ke tempat duduk Isabella ketika ada suara ringkih seseorang memanggilnya.
"Adam, kaukah itu Nak?" Adam menoleh.
Deg.
"Anda mau apa lagi?" tanya Adam dingin.
__ADS_1
"Opa rindu Nak," kata Ilham yang terlihat sudah sangat tua dan ringkih. Dia duduk di sebuah kursi roda di dorong seorang suster. Adam yakin, tak ada seorang pun yang mau mengurus opanya sehingga Ilham menyewa seorang suster.
"Maaf, saya sudah bahagia dengan kehidupan saya. Saya tak ingin ada hubungan lagi dengan anda."
"Apakah Ray memperlakukanmu dengan baik Nak?" tanya Ilham.
"Apa maksud anda?" tanya Adam bingung.
"Uhuk, uhuk. Rupanya sampai saat ini kamu belum mengetahui hal yang sebenarnya," kata Ilham sedikit tertawa.
"Apa maksud anda?" tanya Adam.
"Apakah Papamu itu adil kepadamu dan pada adikmu?" Adam diam tak menjawab.
"Sudah aku duga. Apakah kamu tak pernah menyadari sesuatu?" tanya Ilham lagi.
"Saya tak tahu apa yang sedang anda bicarakan. Anda tak perlu memprovokasi saya lagi. Saya sudah dewasa, tak akan pernah bisa anda pengaruhi lagi. Maaf saya permisi," kata Adam acuh dan membalikkan badan berniat meninggalkan Ilham.
"Kamu pasti tak akan percaya bahwa kamu bukan anak kandung Ray. "
Duarrr
Langit seakan gelap gulita. Kata-kata Ilham berdenging di telinga Adam. Tubuh Adam serasa lemas dan mati rasa. Ia tak dapat berkata-kata. Lidahnya terlalu kelu untuk bertanya lebih lanjut. Ia kembali menoleh ke arah Ilham.
"Ma-af saya tak akan pernah terperangkap lagi dengan jebakan anda," ucap Ilham dengan terbata-bata. Ada getar dalam suaranya.
"Buat apa Opa berbohong. Karena kamu cucu Opa maka dulu Opa berusaha mengambilmu dari tangan mereka. Opa menyayangimu karena kamu darah daging Opa. Kamu anak dari putra Opa, Gibran yang sudah meninggal dunia. Opa tak menyangka mereka pandai menyembunyikan fakta ini. Kalau kamu tak percaya tanya saja pada mama dan papamu itu," kata Ilham.
"Sudah jangan cuci otak saya lagi. Maaf, saya harus pergi," kata Adam meninggalkan Ilham dengan perasaan yang campur aduk. Ia begitu penasaran, benarkah apa yang Ilham katakan. Apa karena ini juga, orang tuanya tega ingin menjodohkan ia dengan gadis kampung.
"Issy, maafkan Mas harus pergi. Mas ada urusan penting. Nanti aku suruh Ardi ke sini menemanimu. Oke?" kata Adam pamit pada Isabella dan memgecup kening kekasihnya sebelum pergi.
"Ta-tapi Mas."
"Maaf, Mas benar-benar harus pergi sekarang," kata Adam tak ingin mendengarkan apapun yang dikatakan kekasihnya saat ini.
__ADS_1
"Mas ... Mas ... Adaaam ... Adaamm ...," teriak Isabella tak peduli dengan tatapan orang yang berada di kawasan rumah sakit.