
"Ayo Ma! Kita pergi dari tempat ini. Urusan kita sudah selesai," ucap Ray tanpa menoleh ke arah Adam yang kini menangis sesenggukan.
Medina mengikuti langkah Ray dengan menatap iba pada putranya. Ingin ia memeluk dan menguatkan Adam. Namun kali ini ia harus tegas. Ia harus memberikan pelajaran hidup yang berharga pada putranya. Agar Adam tak lagi memperlakukan orang lain seenaknya sendiri. Agar Adam bisa lebih menghargai orang di sekitarnya.
Adam sangat menyesali perbuatannya. Sungguh, hidupnya sekarang hancur karena perbuatannya sendiri. Dan sebentar lagi, ia akan benar-benar kehilangan istrinya. Karena Ray tak pernah main-main dengan ucapannya.
Adam menyesal dan berjanji untuk memperjuangkan Rara. Apa pun nanti hasilnya, tak semudah itu ia melepaskan Haura. Wanita yang kini membuat ia hampir gila hanya sekedar memikirkannya.
"Akan aku cari kamu Ra! Walau pun sampai ke ujung dunia sekali pun," ucap Adam dengan tekad yang kuat.
***
"Kakak ... Alhamdulillah kakak sudah sadar ...," ucap Mikha bahagia melihat kakak iparnya membuka mata.
"Aku ada di mana?" tanya Haura lemah.
"Kakak ada di rumah sakit. Kakak butuh apa? Ah, iya sebentar ...."
"Bik Imah, panggilkan dokter! Cepat!" perintah Mikha.
"Iya Non." Bi Imah segera memanggil dokter sesuai perintah majikannya.
"Kakak ... haus," ucap Haura begitu lirih.
"Oh iya, sebentar. Mikha ambilkan." Dengan cekatan gadis itu mengambilkan air mineral untuk kakak iparnya. Mikha membantu Haura untuk duduk dengan menata beberapa bantal sebagai sandaran Haura. Mikha begitu telaten merawat kakak iparnya. Karena kini ia tulus menyayangi Haura.
"Kenapa kakak bisa ada di sini? Bukankah kakak ...."
"Oh iya lihat ini kak. Apa kak Rara tahu? Mikha kemarin dibelikan gelang ini oleh seorang cowok di sekolah Mikha. Dia ketua OSIS, dan sangat populer di sekolah. Mikha bahagiaa ... banget." Mikha berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Agar Haura tak bersedih lagi.
"Iya sayang, gelangnya bagus," puji Haura. Ia mengelus rambut Mikha dengan lembut, menjadikannya rindu pada Hana. Walaupun belum lama ia berkunjung, ia merindukan sosok adiknya.
"Kak Rara. Kak Rara jangan sedih lagi ya? Kakak kan punya Mikha, Mama, Papa dan ...." Mikha tak jadi melanjutkan kata-katanya mengingat pesan mamanya.
"Dan ada Bi Imah juga di sini, hehehe," ucap Mikha.
"Iya Mikha, terima kasih ya sayang."
"Iya kakak. Kakak, nanti kita tinggal sama-sama di rumah Papa ya? Nanti Kak Rara ajari Mikha belajar merajut. Okay?"
"Iya sayang. Nanti kak Rara ajari Mikha."
"Oh, dokter sudah datang. Mikha keluar dulu ya Kak. Nanti kita sambung lagi." Haura tersenyum dan menganggukkan kepala. Mikha dan Bik Imah segera keluar ruangan karena dilakukan pemeriksaan.
Tak lama terlihat kedua orang tuanya sudah kembali ke rumah sakit dengan wajah yang sedikit kusut. Namun gadis manis itu tak berani sekedar bertanya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Kakak, Nak?" tanya Medina dan Ray yang baru datang.
"Kakak sudah sadar Ma. Sekarang sedang diperiksa oleh dokter."
"Alhamdulillah ...." Medina dan Ray bernafas lega.
Tak lama dokter keluar dari ruang rawat Haura. Medina langsung mengikuti dokter ke ruangannya.
"Nak, kamu jaga Kakak sebentar ya? Mama dan Papa mau berbicara dengan dokter dulu," pamit Medina.
"Siap Mama," ucap Mikha dengan semangat. Medina lega, akhirnya Mikha bisa menerima dan menyayangi Haura.
Di ruangan dokter.
"Keadaan Nyonya Haura sudah cukup stabil. Hanya tinggal memulihkan lukanya. Tapi ...."
"Tapi apa, Dok?" tanya Ray tak sabar.
"Kejiwaan Nyonya Haura masih sangat labil. Jangan sampai ia shock atau depresi lagi. Mungkin bukan hanya bunuh diri. Nyonya bisa stress bahkan gila," ucap dokter.
"Bagaimana caranya agar putri kami tidak mudah stres, Dok?" tanya Ray.
"Hindarkan hal-hal yang membuat ia histeris atau ketakutan. Ciptakan rasa aman dan nyaman dengan memberikan perhatian pada pasien. Sejauh ini saya lihat, beliau sudah cukup tenang dan peran keluarga cukup berpengaruh baik. Sesering mungkin beri pasien dukungan berupa tindakan atau ucapan. Yakinkan Nyonya agar kepercayaan dirinya dan semangat hidupnya tumbuh lagi. Seiring waktu Insya Allah akan membaik."
"Untuk sementara, saya mohon obatnya diminum secara teratur. Dan jangan biarkan beliau sendirian. Karena saat-saat sendiri, bisa saja beliau mengingat hal-hal buruk dan berat yang sudah ia lalui. Dan saya takut beliau akan histeris lagi."
"Iya Tuan, terima kasih kembali."
"Dok, kapan kami bisa membawa putri kami pulang ke rumah?"
"Tinggal menunggu luka di tangan Nyonya sembuh Tuan. Tetapi setelah dirawat jalan, saya harap Nyonya tetap dibawa konsultasi ke Dokter secara rutin. Sampai kejiwaan Nyonya benar-benar pulih."
"Baik Dok. Atas bantuan Dokter kami ucapkan banyak terima kasih. Kami permisi dulu ya Dok."
"Baik Nyonya, Tuan."
***
Ting tong ting tong
Adam memencet bel rumah dengan tak sabar. Karena tak seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Adam semakin yakin jika Haura ada di rumah orang tuanya.
"Pokoknya aku harus membawa pulang Haura. Jangan sampai Papa benar-benar memisahkan kami," ucap Adam gelisah. Pikiran buruknya kemana-mana.
"Jangan-jangan Mama dan Papa sudah membawa Haura pergi jauh dariku. Arghhh ...." Adam mengusak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Tiba-tiba terbersit dalam otak Adam untuk bertanya pada Mikha. Ia segera mengetikkan beberapa kata pada Mikha, berbasa-basi menanyakan keberadaan mereka. Lama ia duduk di kursi teras menunggu balasan dari Mikha. Sayang, gadis itu bahkan hanya sekedar membaca pesannya tanpa ada niatan membalasnya. Fix, Mikha sudah bersekongkol dengan Mama dan Papanya. Membuat Adam frustasi, bagaimana caranya mengetahui keberadaan Haura.
Tiba-tiba ia teringat pada Elsa, sahabat Haura. Yang bekerja di satu agency dengan Isabella. Ia harus menemui wanita itu sekarang juga, siapa tahu akan ada titik terang.
Tiga puluh menit kemudian, Adam sampai di studio tempat Elsa bekerja. Tak sulit untuk masuk ke dalam studio, karena biasanya ia mendapatkan akses mudah untuk bertemu dengan Isabella.
"Frans, aku mau bicara dengan Elsa sebentar. Boleh aku meminjam modelmu lima menit saja?" ucap Adam pada Frans. Adam telah mengenal Frans, sejak berkencan dengan Isabella.
"Wow! Setelah Isabella yang super seksi. Sekarang seleramu berubah jadi seperti Elsa yang polos ya, Dam?" gurau Frans.
"Jangan sembarangan bicara Frans! Aku ada kepentingan dengannya. Izinkan aku meminjamnya sebentar saja. Urgent!"
"Okay okay Bro! Bawa dia berapa lama pun kamu mau."
"El!" panggil Frans.
"Iya Kak. Ada apa?" Elsa mendekat ke arah Frans.
"Ada seseorang yang ingin menemuimu. Itu dia!" tunjuk Frans pada Adam yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Bolehkah aku menolak? Aku tak ingin menemuinya," tolak Elsa.
"Please El, aku ingin bicara sebentar."
"Aku nggak mau bicara sama kamu," tolak Elsa.
"Aku mohon. Dengarkan aku sebentar saja." Adam mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Elsa.
"Ya sudah cepat katakan!" ucap Elsa dingin. Wanita itu sangat membenci lelaki yang sudah membuat hidup sahabatnya begitu menderita.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading 😊