Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Dua Porsi?


__ADS_3

Namun Haura sedih lagi ketika membuka pintu. Suaminya tidak ada dimana pun. Pasti lelaki itu marah dan kecewa karena ia tak mengizinkannya masuk kamar. Jangan-jangan lelaki itu pergi dan tak kembali lagi. Jangan-jangan suaminya benar-benar meninggalkannya karena muak akan sikapnya. Seketika air mata membanjir lagi di wajah cantik itu. Ia menyesal sudah mendiamkan Adam.


Tubuh wanita itu luruh ke lantai. Ia menangisi suaminya yang pergi entah kemana dengan tersedu-sedu. Dalam pikirannya Adam sudah meninggalkan dirinya karena muak. Ia jadi sangat sensitif dan mudah menangis, hanya dengan membayangkan jika Adam pergi meninggalkan dirinya. Apalagi jika mengingat wajah suaminya tampan. Pasti banyak wanita di luar sana yang dapat menarik perhatian suaminya.


"Mas, kamu kemana? Jangan tinggalkan Rara! Rara minta maaf Mas, sudah marah-marah tak jelas." Wanita itu menangis menyesali sikapnya tadi. Ia menyesali sikap buruknya pada suaminya.


Adam datang dengan wajah yang memerah dan penuh peluh. Ia lari dari halaman rumah karena mengkhawatirkan Haura. Tak sabar ingin megetahui kondisi wanita itu. Dan benar saja, istrinya tengah menangis entah karena apa. Kini lelaki itu berjongkok di hadapan istrinya. Berusaha untuk menenangkan wanita itu.


"Dek, kenapa menangis?" Suara Adam membuat Haura terkejut dan juga lega. Akhirnya orang yang ia cari sedari tadi datang. Kegelisahannya sirna sudah. Suaminya tidak meninggalkan dirinya. Namun tak serta merta membuat air matanya berhenti mengalir. Malah semakin membanjiri wajah manisnya.


"Mas Adam kemana saja? Mas marah sama Rara? Mas Adam mau meninggalkan Rara ya? Mas Adam muak ya dengan Rara yang kekanakan? Atau Mas Adam sudah bosan mengertikan Rara?" tuduh Haura sambil menangis tersedu-sedu. Adam mendekap erat kepala Haura dan mengelus punggung istrinya, berharap wanita itu akan lebih tenang. Akhirnya setelah lebih tenang, wanita itu mau balas memeluk suaminya. Adam sungguh bingung karena baru saja datang sudah diberondong dengan berbagai pertanyaan.


Adam pusing memikirkannya, baru tadi siang wanita itu marah padanya sampai mengunci dirinya. Tak mau berbicara padanya. Tapi kini wanita itu menangis dan menuduhnya meninggalkan wanita itu. Sungguh rasanya se-amazing itu menghadapi istrinya yang belakangan sangat labil. Sangat berbeda dengan sosok Haura-nya dulu. Yang kuat dan pantang menangis di hadapannya.


"Dek, siapa yang meninggalkan Adek? Siapa yang marah? Siapa yang bosan? Mas tidak marah atau bosan pada istri Mas. Mas juga tidak meninggalkan kamu. Buktinya Mas sekarang Mas ada di sini. Jangan menangis lagi ya?"


"Kalau begitu Mas kemana saja? Kalau begitu Mas Adam kenapa pergi tanpa pamit?"


"Ra, Mas pergi menemui klien dari Jepang. Kamu tahu sendiri kan sayang, ada sedikit masalah di perusahaan? Mas kan sudah mengetuk pintu kamar kita, tapi kamu marah dan tak mau membukakan pintu untuk Mas, sayang."


"Hiks ... hiks ... jangan tinggalkan Rara Mas. Rara minta maaf. Rara juga tidak tahu kenapa sekarang Rara menyebalkan begini."


"Shh ... Mas tidak akan kemana-mana. Lihatlah! Mas di sini bersamamu. Dan tidak mungkin Mas meninggalkanmu. Karena Mas Adam sangat menyayangimu, Dek. Dan kamu ... ti-tidak menyebalkan kok." Adam mempererat pelukannya di tubuh mungil wanita itu.


"Benarkah Mas menyayangiku?" tanya Haura dengan manja. Dengan air mata yang membanjir ia mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Iya Ra. Mas sayang Rara."

__ADS_1


"Kalau begitu gendong." Wanita itu mengulurkan tangannya manja. Adam hanya mampu menghela napas panjang, ia masih ngos-ngosan dan bermandikan keringat. Kini istrinya minta ia menggendongnya. Namun lelaki itu menurutinya tanpa mengeluh. Karena ia sangat menyayangi Haura, tak ingin lagi istrinya marah dan menangis. Dengan sekali angkat ia menggendong istrinya dan dibawa ke kamar.


"Sabar Dam," batin lelaki itu.


"Mas, ini baju siapa? Rara baru lihat." Haura memperhatikan baju baru Adam betul-betul dan merasa asing dengan baju itu. Rasanya suaminya tidak mempunyai baju model begitu.


"Iya Ra. Ini baju baru," jawab Adam seraya membuka pintu kamar.


"Kapan Mas belanja?" Seingatnya ia dan Adam belum pernah membeli baju untuk Adam yang seperti itu.


"Tidak Ra. Mas tidak berbelanja."


"Lalu siapa yang membelikan?" tanya Haura dengan nada meninggi, penuh rasa curiga dan cemburu.


Ia mengendus dada Adam, takut ada parfum wanita lain yang tercium di sana. Adam dibuat heran oleh Haura. Sekarang istrinya suka sekali mengendus tubuhnya seperti seekor kucing. Haura bernapas lega, bahkan tak satu pun bau parfum tercium di kemeja Adam.


"Oh ... begitu ...." Hati Haura diliputi perasaan bersalah pada suaminya. Gara-gara dirinya suaminya kesusahan. Kini wanita itu berbaring dengan nyaman di ranjang. Dan Adam duduk di sampingnya. Sejenak Haura dan Adam sama-sama terdiam.


Kruyuuukkk


Suara perut Haura memecah keheningan di antara keduanya. Haura lapar.


"Kamu lapar? Ya Allah Mas lupa membawakan makanan untuk kamu. Karena Mas terlalu sibuk mengkhawatirkan kamu tadi, tidak ingat jika kamu belum makan sayang." Haura menggigit bibirnya karena malu.


"Sebentar, kita pesan delivery saja ya." Adam mengambil ponselnya dan ingin memesan makanan.


"Tidak usah Mas. Boros," tolak Haura.

__ADS_1


"Sesekali tidak apa-apa Ra. Lagipula kamu terlalu lelah untuk sekedar memasak kan?"


"I-iya sih."


"Kamu mau makan apa sayang?"


"Rara ingin ayam goreng dengan lalapan."


"Okay, Mas pesankan dulu."


"Dua ya Mas."


"Iya sayang. Mas juga masih lapar, tadi hanya makan sedikit di restoran."


"Dua untuk Rara sendiri."


"Hah?" Lelaki itu mengerjapkan mata tak percaya. Dua porsi untuk dirinya sendiri?


"Tidak boleh? Ya sudah tidak usah pesan." Haura marah dan menutup wajahnya dengan selimut.


"Ah, eh ... tidak Ra. Dua porsi ya? Boleh kok. Mau lima porsi juga boleh."


"Benarkah?" Haura membuka selimutnya dengan wajah yang sumringah. "Kalau begitu, tambah terong dan tempe tepung goreng."


"Eh, i-iya ...." Adam menekan ponselnya menambah jumlah pesanan. Dalam hati Adam gelisah, takut istrinya sakit atau bagaimana. Dua porsi makanan dan masih tambah lainnya? Padahal setahunya selama ini istrinya hanya makan dengan porsi yang sedikit.


"Mas, mandi sana! Bau keringat." perintah Haura seraya menutup hidungnya. Sungguh ajaib, baru saja wanita itu mengendus-endus dirinya dan sekarang? Haura bilang dirinya bau? Adam benar-benar tak berkutik dengan sikap istrinya belakangan ini.

__ADS_1


__ADS_2