
"Baik Nak. Kami semua baik-baik saja. Nak Adam juga rutin mengirimi kami uang. Jadi ayah tak perlu lagi mengkhawatirkan kebutuhan sehari-hari kami." Ada rasa sesak di dada Ibrahim ketika mengucapkannya. Seakan ia telah menjual anaknya pada keluarga Ray.
"Alhamdulillah Rara ikut bahagia."
"Ra, mari kita pulang!" Kalimat yang Ibrahim ucapkan membuat Haura bingung sekaligus terkejut.
"Mak-maksud Ayah apa?"
"Ra, tak perlu kamu menutupi semua dari Ayah. Ayah tahu kamu menderita di rumah ini. Ayah menyesal Ra. Maafkan Ayah sudah memaksakan perjodohan ini."
"Apa yang Ayah katakan? Rara bahagia Yah. Rara bahagia hidup dengan Mas Adam. Mas Adam baik terhadap Rara."
"Tidak perlu kamu berpura-pura lagi. Ayah sudah dengar semua dari Elsa. Ayah tahu apa yang diperbuat suamimu. Dan ayah tak rela putri kesayangan Ayah diperlakukan seburuk itu. Maafkan Ayah yang sudah membuat kamu menderita." Deg. Perkataan Ibrahim membuat lidah Haura kelu. Hal yang sangat ingin ia sembunyikan dari ayahnya kini sudah diketahui oleh pria paruh baya itu. Entah bagaimana bisa Elsa mengadukan semua pada ayahnya.
"Yah, lupakan saja semua yang buruk. Dan sekarang Rara dan Mas Adam sedang memperbaiki hubungan kami. Jadi Ayah tenang dulu, ya?" bujuk Haura bingung harus berkata apa.
"Tidak Ra! Kamu tidak usah berpura-pura bahagia di depan Ayah. Hanya karena tak ingin Ayah bersedih. Mari kita pulang Nak. Meski Ayah tak bergelimang harta, Ayah masih sanggup untuk menjaga kamu."
"Ta-tapi Yah ...."
"Kenapa Nak? Biasanya kamu tak pernah membantah perkataan Ayah."
"Bukan begitu Ayah. Mas Adam benar-benar sudah berubah. Hubungan kami baik-baik saja. Mas Adam sangat menyayangi Rara."
"Sudahlah Ra. Tidak perlu membohongi diri kamu sendiri. Mungkin orang miskin seperti kita memang tak pantas untuk tinggal di rumah yang bahkan seperti istana ini."
"Ayah salah paham ...."
"Tidak mungkin Ayah salah paham. Ayah mendengar sendiri perbincangan Elsa dan Alvian. Kamu akan ikut Ayah pulang kan? Tinggalkan Adam, Nak. Ayah menerima kamu dengan tangan terbuka." Haura diam saja dengan hati yang gelisah. Bingung harus mengikuti ucapan ayahnya atau bertahan.
"Ayo Ra! Ambil baju kamu! Kita pulang ke kampung," ajak Ibrahim karena Haura terlihat gamang.
__ADS_1
"Ra! Dengarkan ayah atau ayah tak akan menganggap kamu anak untuk selamanya."
Duarr
Seperti petir perkataan Ibrahim. Membuat hati Haura sangat sakit. Haura dilema. Di satu sisi ia tak ingin menjadi anak durhaka. Tak ingin membantah ayahnya. Namun di sisi lain ia ingin tetap tinggal, tak rela terpisah lagi dengan suaminya.
"Bagaimana Ra? Kamu ikut pulang atau ingin mempertahankan pernikahan terkutuk ini?" Lagi-lagi hati Haura sakit mendengarkan ayahnya menyebut pernikahannya dengan Adam adalah pernikahan terkutuk.
"Cepat putuskan, Nak!"
"Ba-baiklah Yah. Rara akan pulang bersama Ayah." Haura mengalah. Ia merasa harus menyelesaikan dengan kepala dingin. Ia harus mempertimbangkan emosi ayahnya saat ini. Mungkin di kampung nanti ia dapat membujuk ayahnya dan kembali pada suaminya.
"Bagus! Ayo kita pergi!"
"Rara ambil pakaian Rara dulu Yah. Rara juga harus menghubungi Mas Adam agar Mas Adam tak khawatir."
"Sudahlah ayah berubah pikiran. Tidak perlu membawa apa pun, Ra. Ayah masih sanggup untuk membelikan baju seadanya untukmu. Tidak perlu menghubungi lelaki brengsek itu. Untuk apa? Tak berguna. Jangan bawa apa pun dari rumah ini. Ayo Nak! Kita cepat pergi dari sini."
"Ta-tapi Yah ...." Wanita itu sungguh tak rela dipisahkan dengan buah hatinya. Baru saja cinta itu tumbuh. Baru saja kasih sayang itu tercipta. Kini harus menjauh lagi.
"Ba-baiklah ...." Haura menatap pilu pada rumah yang memberinya kenangan demi kenangan bersama Adam. Ia sungguh sedih meninggalkan rumah besar itu, ah mungkin lebih tepatnya tak rela meninggalkan pemilik rumah itu.
"Maafkan Rara Mas. Rara harus pergi. Rara tak ingin menjadi anak yang durhaka. Bagaimana ini? Bahkan aku tidak bisa sekedar mengabarimu." Air mata tak henti membasahi pipi Haura yang putih mulus itu. Mengalirkan rasa keputusasaan yang mendalam. Di saat cinta telah benar-benar tumbuh. Di saat mereka tengah meneguk manis madu cinta. Lagi-lagi mereka harus terpisah sedemikian rupa. Dan entah kapan mereka akan bersatu lagi. Ah, biarlah takdir yang menentukan jalannya.
***
Perasaan bersalah memenuhi hati Adam. Pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan ia baru saja menginjakkan kaki di rumah itu. Karena ada sedikit masalah di kantor pusat yang harus ia selesaikan. Sehingga ia terlambat menjemput istrinya.
Namun ketika ia membuka pintu, hening yang ia dapati. Seluruh ruangan di rumah itu juga gelap gulita. Adam bertanya-tanya kemanakah istrinya berada. Adam membuka lampu seluruh ruangan dan mencari Haura kemana-mana. Hampa, wanita itu tidak ada. Pikiran Adam melayang ke rumah mamanya. Mungkin saja wanita itu dijemput sopir keluarganya. Karena Adam sempat memberi kabar pada Ray. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul ke rumah mama papanya.
Walau sedikit ada perasaan tidak enak dalam hatinya. Adam mengabaikannya. Ia hanya berpikiran jika Haura sudah terlebih dahulu ke rumah mamanya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Adam sampai di rumah orang tuanya. Setelah beberapa kali memencet bel, Bi Imah baru membukakan pintu untuknya. Bi Imah memandang Adam dengan pandangan yang aneh. Adam bertanya dalam hati, adakah yang salah?
Adam melangkah terus ke ruang makan. Di sanalah Medina dan Ray sudah menunggunya.
"Maaf Ma, Adam terlambat," ucap Adam dari kejauhan.
"Lho, menantu Mama mana?"
"Maksud Mama?"
"Haura mana, Nak?" Sejenak Adam tertegun mendengar pertanyaan Medina.
"Bukannya Haura sudah duluan kemari? Di rumah tidak ada Ma. Lalu kemana dia?" Wajah Adam berubah menjadi merah karena marah dan gelisah.
"Tidak Nak. Haura belum kemari."
"Apakah kamu melakukan sesuatu lagi, Dam?" tanya Ray penuh selidik.
"Apa maksud Papa? Adam tak melakukan apa pun Pa. Hubungan kami juga baik-baik saja."
"Ya Allah Ra. Kamu kemana?" ucap Adam lirih.
"Ya sudah Pa. Papa lanjutkan saja makan malam kalian. Adam harus mencari Haura. Siapa tahu ia sedang dalam masalah."
"Hati-hati Nak. Tetap hadapi dengan kepala dingin, Dam. Ingat kendalikan emosi kamu."
"Iya Pa."
Adam melajukan mobil ke rumahnya lagi. Ia harus memastikan sesuatu lagi. Sesampai di rumah, ia segera naik ke lantai atas. Ke kamar mereka. Dibukanya seluruh isi lemari. Dan lemari masih dalam kondisi seperti semula tak ada satu benda pun yang berubah. Koper Haura juga tergeletak di atas lemari. Adam jadi bingung ke mana istrinya. Diambilnya ponselnya dan menghubungi istrinya.
Tririring
__ADS_1
Bunyi dering ponsel memenuhi ruangan itu. Getaran ponsel menggetarkan nakas yang berada di dekat ranjang mereka.
"Kemana kamu Ra? Bahkan kamu tak membawa ponselmu. Kemana lagi Mas harus mencari? Mas sangat gelisah Ra ...."