
"Anu mbak, anu.. Mbak Me tiba-tiba pingsan. Saya nggak punya nomor suaminya. Ponsel Mbak Me juga dikunci dengan pola, saya tidak tahu cara membuka kuncinya,"kata Laila menjelaskan.
"Ya sudah, aku kembali ke butik. Kamu coba sadarkan Me. Ada minyak putih di laci meja."
"Baik Mbak, cepat ya Mbak. Mbak Me pucat banget soalnya."
Akhirnya Zaskia memutar balik mobilnya kembali ke Butik. Ia segera menghubungi kliennya untuk menunda pertemuan sampai nanti sore. Beruntung, klien Zaskia mau mengerti setelah mendengar cerita dari Zaskia.
Lima belas menit, Zaskia sudah sampai lagi di butik miliknya. Zaskia lari tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan. Begitu sampai, Medina sudah dibaringkan di sofa ruangan itu.
"Mbak," kata Laila langsung dipotong Zaskia.
"Belum sadar juga?" tanya Zaskia.
"Belum Mbak."
"Ya sudah, kamu cari bantuan. Soalnya kita nggak akan sanggup mengangkat Me berdua."
"Baik Mbak." Laila berlari keluar meminta pertolongan.
"Ya Allah Me. Kenapa bisa begini? Bangun Me!" Zaskia menggosok-gosok perut Medina dengan minyak kayu putih, berharap wanita itu akan membuka mata.
Beruntung ada seorang laki-laki yang Bisa Laila mintai bantuan, ia segera meminta orang itu untuk membantu mengangkat Medina.
Zaskia dan Laila segera membawa Medina ke rumah sakit setelah menutup butik. Mereka terpaksa melakukannya karena kekurangan pegawai. Karena Rani yang masih dalam masa bercuti setelah melahirkan.
Di dalam perjalanan, Zaskia mencoba menghubungi Ray. Namun, Ray tak mengangkat panggilan darinya. Sehingga ia menyuruh Laila mengirimkan pesan singkat pada Ray menggunakan ponselnya.
Setelah sampai di rumah sakit terdekat, Medina segera di tangani dokter. Zaskia menyuruh Laila kembali ke butik, takut ada pelanggan yang datang. Sementara ia menunggu sampai Ray datang.
Zaskia menunggu dengan harap cemas. Dua puluh menit akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Zaskia cemas.
"Beliau dehidrasi dan kecapekan. Karena kurangnya asupan gizi dan kelihatannya sedikit stres. Mungkin harus dirawat di sini selama beberapa hari untuk memulihkan keadaan beliau. Dan ada kabar bahagia, Nyonya Medina saat ini tengah mengandung. Usia kandungan menginjak usia lima minggu."
"Apa? Alhamdulillah Ya Allah," ucap Zaskia sangat bahagia. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Mohon kedepannya lebih diperhatikan keadaan Nyonya. Sebab kehamilan di trimester pertama sedikit rawan. Mungkin Nyonya Medina harus mengurangi aktivitas fisik. Dan suaminya bisa lebih sering meluangkan waktu untuknya. Sekedar mengajaknya berjalan-jalan dan menghirup udara segar, biar Nyonya rileks dan nyaman."
"Baik Dok, terimakasih," ucap Zaskia bahagia.
"Bolehkah saya menemuinya Dok? "
"Boleh, nanti setelah perawat sudah memindahkan Nyonya ke ruang rawat beliau. Ya sudah saya permisi dulu ya Nyonya."
Zaskia mengiyakan dan mengucapkan terimakasih pada Dokter.
Drrtt drtt
Ponsel milik Zaskia bergetar, Zaskia segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum Ray."
"Waalaikumsalam. Kia, bagaimana keadaan Me?" tanya Ray di seberang telepon dengan nada cemas.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Nanti saja aku jelaskan, kamu segera ke sini."
"Rumah Sakit Kasih Bunda. Kamar Mawar nomor tujuh. Okay?"
"Baiklah Ki, aku sudah dekat."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zaskia menutup telepon dan menyimpan kembali ke dalam tasnya. Terlihat para perawat membawa Medina ke ruang rawat. Zaskia segera mengikuti dari belakang. Ia sangat bahagia. Akhirnya sahabatnya akan mendapatkan kebahagiaannya lagi. Setelah sekian lama penderitaan dan kesedihan karena kehilangan putranya. Memang tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran bayi itu tak akan mampu melenyapkan sosok Adam di hati mereka. Namun, setidaknya Medina akan sedikit lebih bahagia.
Lima menit, Ray sudah sampai di rumah sakit. Ray berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan cemas. Dengan peluh membasahi kening pria itu dan nafas yang memburu ia terus berlari. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Beberapa orang yang berada di rumah sakit menatap heran padanya. Namun, laki-laki itu tak menghiraukannya. Yang terpenting, ia segera menemui kekasih hatinya.
Ray sangat ketakutan. Ia takut terjadi apa-apa pada istrinya. Ia sudah menderita dengan kehilangan oma dan Adam. Jika kali ini Medina sampai kenapa-kenapa, ia tak tahu lagi bagaimana hidupnya. Ia takkan punya siapa pun lagi dan hanya akan ditemani kesepian.
Kriett
Ray membuka pintu dan mendapati istrinya yang masih terpejam. Di tangannya sudah terpasang infus untuk mengembalikan cairan tubuhnya.
__ADS_1
"Kia, bagaimana kondisi Medina? Hah ... hah ...." Ray menetralkan nafasnya yang masih memburu.
"Duduk dulu Ray. Nah, minum dulu!" Zaskia menyerahkan sebotol air mineral pada Ray.
Dengan cepat lelaki itu menenggak isi botol hingga tandas.
"Kamu tak usah khawatir. Kata dokter Me hanya kecapekan dan sedikit stres. Jadi Me harus istirahat penuh. Kamu juga ajaklah dia jalan-jalan biar dia rileks."
"Dan ada satu kabar bahagia untuk kalian. Medina saat ini hamil Ray," kata Zaskia menitikkan air mata mengingat hari-hari pilu yang sudah dilewati Ray dan Medina.
"Benarkah?" Zaskia menganggukan kepala.
"Alhamdulillah ...." Ray sangat bersyukur atas rezeki yang Allah berikan.
"Jaga Medina baik-baik ya Ray. Jaga bayi kalian. Mungkin kamu bisa kurangi waktu kerja kamu dan fokus pada Medina. Nikmati kebersamaan kalian. Kalian harus egois saat ini. Lupakan dulu masalah Adam. Karena bayi kecil yang berada di perut Medina saat ini lebih membutuhkan kasih sayang kalian."
"Terimakasih,Ki."
"Ah, Ray. Maaf aku harus pergi. Aku ada janji dengan klien. Karena tadi Medina pingsan aku jadi mengundurnya. Aku pergi ya Ray. Selamat untuk kalian." Zaskia menepuk pundak Ray dan meninggalkan tempat itu.
"Terimakasih banyak Kia," ucap Ray sebelum Zaskia keluar dari pintu.
Sementara itu di Kuala Lumpur
Bocah yang kini sudah berusia delapan tahun itu tengah meringkuk memeluk lutut. Ia menangis. Hatinya pilu, mengingat nasibnya yang seperti tawanan. Ia merindukan orang tuanya. Ia menyesal percaya pada opanya yang tega memisahkannya dengan orang tuanya.
"Kenapa menangis sayang?" tanya Ilham memeluk cucunya.
"Opa bohong!" Bocah itu menangis sesenggukan.
"Opa bilang akan antar Adam pulang kalau Adam jadi anak yang baik. Mana buktinya Opa? Opa jahat. Adam terlalu lama di sini. Adam mau pulang. Adam rindu dengan mama dan papa. Pasti mereka sangat sedih dan khawatir Adam pergi. Hu hu hu ...."
"Adam, mama dan papa kamu nggak sayang sama Adam. Yang sayang Adam itu Opa. Opa yakin mama dan papamu sudah bahagia di Indonesia. Mereka sudah melupakanmu." Ilham mencoba mencuci otak cucunya.
"Opa bohong! Mama dan papa nggak mungkin melupakan Adam. Mereka sayang Adam," kata Adam marah.
"Baiklah, Opa berjanji lebaran nanti kita pulang dan menetap di Indonesia," kata Ilham menenangkan cucunya. Entah perkataannya benar atau tidak.
__ADS_1