
Dengan wajah yang kusut, wanita itu sedang asyik menganyam tikar pandan di teras rumah. Tikar itu nantinya akan dijual ke pasar, bisa menambah penghasilan untuk membeli bumbu dapur. Jemarinya dengan terampil menjalin satu per satu daun pandan, merangkainya dengan rapi dan bagus. Hingga tiga perempat bagian tikar tercipta. Sungguh gadis itu sangat ulet.
Haura memutuskan untuk membuat tikar pandan lagi sebagai penghilang kebosanannya melalui detik demi detik di kampung itu. Memang benar kampung itu tempat ia dilahirkan dan bertumbuh dewasa. Tempat ia mendapatkan kasih sayang penuh dari ayahnya. Namun, sekarang semua terasa asing dan hampa. Keinginannya hanya satu pulang ke rumah suaminya yang ada di Bandung. Ia merindukan suasana rumah yang hangat walau hanya ada mereka berdua. Ia merindukan gelak tawa yang tercipta ketika Adam tak henti merayu dan menggodanya.
Sembari menganyam, wanita itu terhanyut dalam lamunannya. Bayang-bayang Adam selalu memenuhi kepalanya. Tak ada hal lain yang ia pikirkan di setiap detik, kecuali suaminya. Ia merindukan senyum, tawa, bahkan ekspresi Adam yang serius.
Hingga akhirnya suara ayahnya membuyarkan lamunan wanita itu. Ia tersentak dan tersadar, bagaimana keadaannya saat ini. Begitu rumit dan kemungkinan ia tak akan bertemu lagi dengan suaminya.
"Ra, ayah ingin ke rumah Pak Kades sebentar. Ada urusan. Kamu jaga rumah ya Nak," ucap Ibrahim seraya memakai sandal selop miliknya.
"Baik Ayah." Haura memaksakan senyumnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam wr wb."
Ibrahim segera meninggalkan rumahnya menuju rumah kepala desa dengan berjalan kaki, karena rumah kepala desa yang tidak seberapa jauh. Meninggalkan Haura yang masih asyik memainkan jemarinya dengan pandangan yang kosong. Gadis itu melanjutkan lamunannya dan khayalannya. Kerinduannya pada Adam semakin besar.
Tin tin
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang ia kenali berhenti di halaman rumah itu. Menyadarkan Haura dari dunia imajinasinya. Dan apa yang ia khayalkan kini menjadi nyata. Lelaki yang ia rindukan kini benar-benar ada di hadapannya. Senyum Haura merekah indah mengetahui kedatangan orang itu. Lelaki yang berhasil membuat pikirannya carut marut selama dua hari ini. Ia yakin suaminya datang untuk menjemputnya. Haura begitu kegirangan menyambut Adam.
__ADS_1
Ia menyongsong kedatangan suaminya. Dan ketika Adam baru saja menutup pintu mobilnya, Haura dengan tak sabar menghambur memeluk tubuh kekar Adam tanpa rasa malu. Mengabaikan pandangan kepo dari para tetangganya. Mengabaikan bisik-bisik yang terdengar sumbang di telinganya. Ia yakin akan menjadi topik perbincangan ibu-ibu esok hari. Tetapi rasa rindu Haura lebih besar, jadi ia masa bodoh dengan apa kata para tetangganya. Toh, Adam suaminya. Halal untuknya memeluk bahkan mencium lelaki tampan itu.
"Mas Adam. Rara rindu," seru wanita itu. Haura meletakkan kepalanya di dada Adam. Tempat ternyaman untuk dirinya. Ia begitu merindukan dada bidang yang menjadi favoritnya itu.
"Aku juga me ...."
"Hei! Lepaskan putriku!" Sebuah suara yang lantang membuat Adam menarik diri dan melepaskan pelukan Haura.
"Ayah ...." Adam ingin meraih tangan Ibrahim ingin memberi salam, namun lelaki tua itu dengan kasar menepis tangan menantunya.
"Untuk apa lagi kamu ke sini?" tanya Ibrahim ketus.
"Adam ingin menjemput Rara, Yah."
"Yah, Adam minta maaf. Adam minta ampun. Adam memang bersalah. Hukum saja Adam sesuka hati Ayah. Asal jangan pisahkan Adam dari Rara."
"Kau pikir aku akan memaafkanmu? Setelah kamu mengkhianati putriku dan kamu bahkan tega melakukan perbuatan biad*b itu ...." Suara ibrahim tercekat di kerongkongannya. Dadanya kembang kempis dengan napas memburu menahan amarah yang ada dalam hatinya. Rasanya ia ingin meninju wajah menantunya saat itu juga. Namun Ibrahim sadar, dia lelaki tua yang sudah berumur. Harus bisa mengendalikan emosinya. Adam hanya menelan salivanya susah payah. Merasa sangat bersalah dan berdosa. Sekali pun Haura sudah memaafkannya.
"Adam tahu, perbuatan Adam tak termaafkan. Tapi izinkan Adam menebus kesalahan Adam. Izinkan Adam membahagiakan Rara." Adam berlutut memeluk kaki Ibrahim. Memohon pada mertuanya agar dimaafkan. Haura menatap suaminya dengan air mata yang bercucuran. Rasanya sangat menyesakkan untuk ketiga orang itu.
"Lepaskan! Jangan berlutut di hadapanku. Kita hanya pantas berlutut di hadapan Tuhan. Lebih baik kamu pulang. Lupakan putriku. Cari kebahagiaanmu sendiri. Aku yang akan menjaganya mulai saat ini. Biar aku yang akan membahagiakannya."
__ADS_1
"Adam mohon Yah. Beri Adam kesempatan sekali lagi. Adam menyesal."
"Sudah biasa seperti itu, penyesalan datang di kemudian hari. Dan semua sudah terlambat. Aku tak dapat mempercayakan putriku padamu lagi. Aku tak ingin melihatnya menderita lagi. Karena dia putriku yang berharga."
Ibrahim meninggalkan Adam begitu saja dan menarik tangan Haura. Kemudian membawa paksa anak perempuannya masuk rumah. "Ayo Ra masuk! Tak perlu lagi kamu bersedih memikirkan laki-laki yang seperti itu."
"Maafkan Rara, Mas. Rara tak dapat berbuat apa-apa."
Haura masuk ke dalam rumah dengan tak henti menatap Adam dengan teramat sedih. Tak rela terpisah dengan orang yang sangat ia rindukan. Belum puas ia memandang wajah tampan itu. Namun apalah daya, ia terpaksa harus mengikuti kehendak ayahnya.
Adam mengusap wajahnya frustasi. Kebingungan bagaimana lagi caranya untuk mendapatkan maaf dari mertuanya. Akhirnya Adam memutuskan untuk pantang pulang sebelum berhasil mendapatkan maaf Ibrahim. Ia hanya akan pergi ketika Hauranya juga berhasil ia bawa pulang.
***
Adam memutuskan untuk tidur di dalam mobil yang ia parkir di depan halaman rumah Haura. Dan malam itu pandangan Adam tak sedikit pun terlepas dari jendela kamar Haura. Berharap istrinya akan membuka jendela untuknya. Agar ia dapat melihat wajah yang ia rindukan. Namun sia-sia, bahkan jendela itu tak bercelah barang sesenti pun.
Di siang hari pun, ia tak melihat batang hidung istrinya. Sungguh, mertuanya benar-benar ingin memisahkannya dari Haura.
Berhari-hari Adam masih bertahan tidur di mobil itu. Namun Ibrahim masih saja mengabaikannya. Tak peduli pada apa yang ia lakukan. Adam tak akan menyerah. Ia harus berhasil mendapatkan maaf dari Ibrahim apa pun caranya.
***
__ADS_1
"Mas, aku merindukanmu. Kasihannya kamu Mas. Harus tidur di mobil begitu. Badanmu pasti sakit semua kan? Lihatlah kamu juga terlihat lebih kurus," ucap Haura lirih sembari mengintip dari lubang kecil di jendela. Wanita itu bahkan tak berani membuka jendelanya lebar-lebar hanya sekedar untuk memandangi wajah yang ia rindukan itu. Harus diam-diam mengintip di malam hari, tanpa sepengetahuan ayahnya.
Ia bersedih untuk suaminya, ia terus berdoa agar ayahnya mau memaafkan Adam.