Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Genting Highland


__ADS_3

Warning!


Setelah seharian puas bermain di Skytropolis Funland, mengunjungi Chin Swee Temple, Bee Farm, dan mengelilingi Sky Avenue mall akhirnya mereka kembali ke hotel tempat menginap. Hari itu harus mereka akhiri, karena mereka berdua cukup lelah dan penat. Apalagi kaki mereka yang tak berhenti jalan terasa nyeri dan pegal. Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan kegiatan jalan-jalan mereka keesokan harinya lagi.


Dan kini Haura ingin mandi karena badannya terasa lengket. Ia cukup berkeringat banyak walaupun udara cukup dingin. Mungkin karena wanita itu terlalu bersemangat untuk bermain. Ia terlalu bergembira menikmati liburannya saat ini.


"Mas, Rara mandi dulu ya? Baru nanti giliran Mas Adam." ucap Haura kepada Adam yang berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya. Mungkin lelaki itu sedang memantau perusahaan.


"Nggak mau barengan?" goda Adam. Ia meletakkan ponselnya di meja nakas. Karena Istrinya lebih menarik perhatiannya dibandingkan pekerjaannya.


"Apa sih Mas. Kalau Mas ikut Rara mandi yang ada bukannya bersih malah ...."


"Malah apa?"


Tririring


Telepon Adam berdering, membuat perhatian lelaki itu terbagi. Ia segera mengangkat panggilan itu. Dan kesempatan itu tidak di sia-siakan Haura untuk segera masuk ke kamar mandi. Ia lega dapat terlepas dari kejahilan suaminya.


"Iya Za, ada apa?"


"Dam, ada masalah sedikit dengan kerjasama dengan Tuan Suzuki dari Jepang."


"Za, kamu kan tahu kondisiku?"


"Iya Dam, tapi aku tak bisa mewakilimu untuk menghandlenya. Karena beliau hanya ingin bernegosiasi denganmu. Menolak jika aku mewakilimu."


"Apa kamu tidak bilang pada beliau kalau aku sedang tidak di Indonesia?"


"Sudah Dam. Aku sudah bilang kamu sedang ada urusan di luar negeri. Tapi beliau tak mau tahu Dam."

__ADS_1


"Argh, bagaimana ini? Aku belum bisa pulang. Aku berencana akan di sini selama satu minggu. Dan aku takut istriku akan kecewa, jika kami tergesa-gesa pulang. Baru juga dua hari kami di sini."


"Bagaimana lagi Dam. Tuan Suzuki klien penting kita. Aku juga terpaksa harus menghubungimu. Kamu tahu sendiri bagaimana Tuan Suzuki. Tak pernah main-main dengan perkataannya dan juga tidak sabaran."


"Apa Papa juga tak bisa membantu menghandlenya?"


"Aku rasa tidak, Tuan Suzuki bersikukuh memberi waktu untuk mengatur pertemuan denganmu sampai lusa sebelum beliau kembali ke Jepang. Kata beliau jika kamu memang tak berniat untuk menemuinya lebih baik kerja sama dibatalkan."


"Ah ... sial. Bagaimana ini? Em, baiklah aku akan membicarakannya dengan istriku dulu. Nanti aku kabari secepatnya. Kalau Tuan Suzuki menghubungi lagi katakan jika kamu menunggu keputusanku."


Adam mematikan panggilan telepon dengan kesal. Ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Haura. Namun ada-ada saja masalah yang datang.


Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Haura yang masih di kamar mandi. Ia akan ikut berendam, agar pikirannya lebih jernih. Ia mencoba keberuntungannya, memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Ia menyeringai, tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia masuk ke kamar mandi diam-diam, dan melihat Haura menikmati sesi berendam dengan menutup mata. Adam tersenyum, lalu ia melepaskan satu per satu kain penutup tubuhnya dan ikut masuk ke dalam bath up.


"Aa ... Mas Adam. Rara terkejut." Wanita itu bergerak gelisah karena kini Adam mendekap tubuh polosnya dari belakang.


"Tadi kan Mas kan sedang meng-ang-kat telepon," ucap wanita itu terbata-bata ketika Adam mer**as lembut salah satu puncak dadanya. Membuat tubuh Haura menggelinjang hebat.


"Siapa yang menelepon Mas?" tanya Haura menyandarkan kepala di dada suaminya, tak tahan dengan gerakan tangan Adam yang semakin menjadi.


"Mirza," jawab Adam enggan.


Cup


Adam mengecup lembut pipi istrinya. Di saat hatinya gelisah seperti saat ini, istrinyalah yang menjadi obat mujarab untuk kekesalanya. Wajah Haura jadi bersemu merah karena gugup, walaupun ini bukan pertama kalinya Adam menciumnya. Tetap saja wanita itu belum terbiasa menerima sentuhan sentuhan eksotis dari suaminya.


"Ada masalah?" tanya Haura ketika melihat wajah Adam yang muram.


"Em, sedikit." Cup. Adam mengecup bibir istrinya dengan gemas. Ia mengulanginya sampai beberapa kali. Menikmati sensasi ketika bibir mereka bersentuhan. Membuat si kecil di bawah sana tumbuh besar dengan sendirinya.

__ADS_1


"Mas Adam bohong."


"Tidak Ra. Mas tidak bohong. Memang sedang ada masalah di perusahaan," jawab Adam sedikit meninggi karena masih kesal.


"Bukan begitu maksud Rara, Mas. Rara yakin bukan masalah biasa, karena wajah Mas Adam menunjukkan jika masalah itu mungkin rumit."


"Hahhh ... baiklah Mas akan bicara jujur. Mas harus bagaimana Ra? Saat ini perusahaan sedang dalam masalah dan memerlukan kehadiran Mas." Adam mengecupi tengkuk Haura dan menyerukan hidungnya di siku leher istrinya. Menghirup aroma dari sana berharap hatinya lebih tenang.


"Kita pulang saja Mas. Lain kali kita bisa ke sini lagi."


"Tapi ini honeymoon kita Ra. Mas ingin memberikan yang terbaik untukmu. Mas tidak ingin menghancurkan momen kita."


"Tapi perusahaan juga penting Mas. Rara sudah cukup bahagia kok. Asalkan Mas Adam selalu bersama Rara, Rara tidak masalah. Rara juga sudah puas bermain di sini. Tidak apa-apa jika kita harus pulang lebih cepat."


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian. Kita pulang besok. Kita bisa kembali ke sini lagi lain kali."


"Ra, tidakkah suamimu ini mengecewakan? Lebih mementingkan perusahaan dibanding istrinya."


"Tidak. Mas Adam adalah suami terbaik. Dan juga jadilah bos yang baik. Ratusan pekerja bergantung pada perusahaan Mas. Jadi kesampingkan dulu kepentingan pribadi kita demi para pekerjamu. Perusahaan harus baik-baik saja Mas demi orang banyak. Kita tidak boleh egois."


"Terima kasih Ra. Terima kasih kamu sudah mau mengerti keadaan Mas." Adam takjub akan sosok Haura yang begitu sabar dan legowo.


"Iya Mas. Tidak apa-apa, jangan sedih atau kesal lagi. Rara tak suka melihat wajah Mas Adam muram. Rara lebih suka melihat bibir ini tersenyum." Cup. Haura mengecup bibir Adam, berharap suaminya lebih tenang.


"Nakal kamu ya Ra? Mas harus menghukummu sayang," bisik Adam ketika mengartikan kecupan Haura untuk menggodanya. Bisikan manja Adam membuat seluruh tubuh Haura meremang. Lelaki itu menggigit gemas telinga istrinya. Menghantarkan rasa geli dan panas ke seluruh tubuh wanita itu. Apalagi ketika nafas hangat Adam berhembus di ceruk lehernya. Membuat Haura semakin gelisah.


"Aa ...." Haura terkejut ketika tanpa pemanasan Adam langsung menyerangnya. Tak lupa kedua bibirnya memagut lembut bibir istrinya, membungkam jeritan hingga hanya terdengar lenguhan. Saling berciuman dan berbagi rasa. Dengan gerakan lembut hingga cepat lelaki itu memasuki istrinya. Memberi kenikmatan lagi dan lagi. Hingga satu jam kemudian sesi mandi mereka baru berakhir.

__ADS_1


__ADS_2