
"Adam, benar Bapak ini Opa kamu?" tanya Pak Satpam memastikan. Adam menganggukkan kepala.
"Ah, maafkan saya ya Pak. Karena saya belum pernah melihat anda sebelum ini," kata Pak Satpam tak enak hati.
"Tidak apa-apa Pak. Ya sudah, kami pulang dulu ya pak?" pamit Ilham menuntun Adam masuk ke mobilnya.
Sepuluh menit kemudian Medina baru tiba di sekolah. Dengan peluh membasahi dahinya Medina mencari keberadaan putranya.
"Maaf Pak Satpam, apakah sekolah sudah berakhir, Pak?" tanya Medina dengan nafas yang memburu.
"Iya Bu, sudah sekitar dua puluh menit sekolah usai," jawab Pak Satpam melirik ke jam di pergelangan tangan kirinya.
"Maaf, anak saya Adam mana ya? Yang biasa saya jemput itu, Pak? Anak yang berkulit putih dan ada lesung pipitnya itu Pak?" tanya Medina khawatir.
"Oh ... Adam tadi dijemput oleh kakeknya Bu," kata Pak Satpam menjelaskan.
"Kakek? Kakek siapa, Pak?" tanya Medina terkejut.
"Tadi ada bapak tua berumur sekitar lima puluh tahun lebih. Tingginya segini nih. Ada sedikit uban dan memakai mobil sedan mewah. Adam juga mengiyakan kalau itu kakeknya Bu," kata Pak Satpam menjelaskan dengan gamblang.
"Ya Allah ... siapa ya? Apa mungkin Om Ilham ya?" gumam Medina gelisah.
"Ya sudah Pak, terimakasih." Medina buru-buru kembali ke mobilnya. Dengan gelisah ia pulang ke rumah berharap Adam sudah ada di rumah ketika ia pulang.
Dengan pikiran tak tenang Medina mengendarai mobilnya. Ingin ia segera menghubungi Ray. Namun, Medina ingin memastikan keberadaan Adam lebih dulu. Lima belas menit kemudian Medina sampai di rumah. Namun hampa yang di dapatkannya. Adam tak ada, Medina lemas seketika. Medina panik. Sambil menangis, ia segera menghubungi Ray.
Ray dengan tergesa pulang ke rumah. Semua janji temu dan meeting ia cancel. Tak peduli apa pun resikonya. Sesampai di rumah ia melihat Medina menangis sesenggukan dan mengatakan Adam tidak ada di sekolah.
"Mas, tadi Oma terkena serangan jantung tiba-tiba. Me bawa Oma ke dokter dulu, jadi Me telat menjemput Adam. Ketika Me sampai di sekolah Adam tidak ada. Bagaimana ini, Mas? Bagaimana?" Medina semakin tersedu-sedu.
"Tenang Me. Kamu sudah tanyakan satpam atau guru?" tanya Ray berusaha tenang. Jika ia panik seperti Medina, semuanya hanya akan semakin runyam.
"Me sudah tanyakan Pak Satpam, katanya Adam dijemput opanya. Siapa ya Mas yang menjemput Adam? Apa mungkin Om Ilham? Tapi beliau tidak mengatakan apa pun," kata Medina putus asa.
"Bentar, Mas telepon Om Ilham."
Berkali-kali Ray mencoba menghubungi nomor Ilham namun nomornya tidak aktif.
"Ck, nggak aktif. Sial ...." Ray menggeram frustasi.
"Bagaimana ini, Mas?" kata Medina berlinang air mata. Hatinya seakan-akan ditusuk menggunakan benda tajam.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi. Lebih baik kita cari di rumah Om Ilham. Siapa tahu memang Adam di sana," kata Ray yang sebenarnya juga panik.
Dengan terburu mereka berdua menuju rumah Ilham. Namun ketika sampai di rumah itu, suasana sangat sepi. Asisten rumah tangga atau sopir Ilham juga tidak ada. Medina dan Ray memanggil berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Medina putus asa, kemana lagi ia harus mencari putranya. Medina menangis sejadi-jadinya menyalahkan keterlambatannya menjemput Adam.
"Assalamualaikum," sapa seorang wanita paruh baya dari pagar samping rumah Ilham.
"Waalaikumsalam," jawab Ray.
"Bapak dan Ibu mencari pemilik rumah ini ya?"
"Iya Bu, apakah Ibu tahu penghuni rumah ini kemana? Kok sepi sekali ya?" tanya Ray mendekati ibu-ibu itu.
"Belum lama mereka pindah Pak. Sekalian juga dengan asisten rumah tangga juga sopir mereka," kata ibu itu menjelaskan.
" Maaf Bu, kapan Ibu melihat mereka pergi?" tanya Ray gusar.
"Belum lama sekitar satu jam yang lalu."
"Apakah ibu melihat ada seorang anak kecil Bu?" tanya Ray gelisah.
"Ah, iya benar. Saya baru melihatnya hari ini. Pak Ilham membawa seorang anak kecil kira-kira berusia tujuh tahun. Anaknya putih, tampan. Tingginya kira-kira segini," kata Ibu itu menjelaskan.
"Apakah Ibu tahu mereka pindah kemana?" tanya Ray berdebar.
"Adam ... anak mama ...." Medina menangis di pelukan Ray. Ray bingung harus berbuat apa.
Sementara itu di bandara
"Opa, kita mau kemana? Tadi opa bilang mau antar Adam pulang?" tanya Adam ketakutan. Ia sangat yakin opanya tak berniat memulangkannya ke rumah. Adam bingung opanya akan membawanya kemana dan kenapa harus naik pesawat.
"Iya ... tapi Adam harus nurut sama Opa. Adam temani Opa jalan-jalan sebentar saja. Ya?" bujuk Ilham.
"Ni, semua barang sudah kamu urus?" tanya Ilham pada asisten rumah tangganya.
"Sudah pak, semua sudah beres."
"Bagus."
"Terus kapan pulangnya?" rengek Adam ingin menangis.
"Ya nanti kalau Adam jadi anak baik dan nurut Opa akan antar Adam pulang ke rumah," jawab Ilham setelah berbincang dengan Marni.
__ADS_1
"Tapi jalan-jalannya nggak lama kan Opa? Kalau mama nyariin bagaimana?" tanya Adam berkaca-kaca.
"Eng-enggak lama kok. Sebentar saja kok. Mama nggak akan nyariin, Opa sudah bilang sama mama kalau Opa mengajak Adam jalan-jalan," bohong Ilham.
"Ya sudah Adam mau jadi anak baik dan nurut. Tapi Opa janji cepet pulangkan Adam ya, Opa? Janji?" Adam mengacungkan jari kelingkingnya dan meminta Ilham berjanji. Ilham menyambut dengan senyuman di wajahnya.
"Pesawat kita sudah akan berangkat. Yuk Adam," Ilham menuntun Adam untuk mengantri masuk ke pesawat. Adam polos mengikuti semua perkataan Ilham karena takut tidak dipulangkan.
***
Ray mencari Adam kesana kemari seperti orang gila.Ia berusaha mendapatkan info tentang putranya. Medina kembali ke rumah sakit karena khawatir dengan keadaan oma. Sungguh situasi yang sangat sulit untuknya dan Ray.
"Nona, apakah saya bisa bertemu dengan Pak Ilham?" tanya Ray kepada
resepsionis di perusahaan Ilham.
"Ah, maaf Pak. Perusahaan ini sudah dijual. Sekarang pemiliknya bukan Pak Ilham lagi," jawab wanita itu.
"Maaf, apakah anda tahu dimana Pak Ilham sekarang?" tanya Ray penuh harap. Ia berharap mendapatkan titik terang.
"Saya kurang tahu. Tapi menurut gosip yang beredar di kantor. Beliau pergi ke luar negeri Pak. Entah ke negara mana saya juga tak tahu," jawab resepsionis itu lagi.
"Makasih ya, Mbak," jawab Ray lemas. Ia pergi dari tempat itu dengan putus asa. Ray bingung harus mengatakan apa pada Medina. Ia yakin wanita itu akan sangat terpukul. Ia merasa frustasi, bagaimana lagi ia bisa menemukan Adam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin beberapa part akan berisi kisah sedih. Tapi nanti akan ada akhir bahagia kok. Yakinlah setelah hujan akan ada pelangi yang indah.
__ADS_1
Aku nangis nulis part ini. Sedih.
Dukung dengan like dan vote ya.