Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Di Pesawat


__ADS_3

Akhirnya honeymoon pasangan muda mudi itu harus berakhir. Mungkin lebih tepatnya, terpaksa harus di akhiri. Sehingga siang itu mereka kembali ke Indonesia. Haura biasa saja tak terlalu kecewa, karena ia tahu tugas suaminya. Namun Adam terlihat kesal dan kecewa. Acara yang ia nantikan sejak lama harus terganggu lagi. Padahal ia masih ingin menikmati momen berdua dengan Haura. Tak rela harus berakhir secepat itu.


Sedari pagi pria itu terlihat masam dan kesal. Enggan berbicara atau pun tersenyum. Bahkan, lelaki itu tak makan apa pun sedari pagi. Hanya segelas jus mangga yang mengisi perutnya yang kosong. Haura hanya diam saja, tak berani sekedar menegur. Karena ia tahu bagaimana sikap Adam ketika moodnya memburuk.


Di pesawat, wajah Adam pun ditekuk sempurna. Enggan untuk sekedar menyunggingkan senyumannya. Lelaki itu benar-benar kesal dengan keadaan yang memaksanya harus pulang. Tempat yang dulu membuatnya tak betah, kini sangat berat untuk ia tinggalkan. Karena hanya dalam waktu dua hari, mereka dapat menciptakan kenangan demi kenangan yang indah. Menghapus semua memori buruknya di masa kecil.


"Mas ...," panggil Haura sedikit takut. Ia tahu mood suaminya buruk. Bahkan sejak bangun tidur dan membantunya mengemas pakaian, suaminya sedikit pun tak tersenyum padanya.


"Hm," jawab lelaki itu singkat. Masih enggan untuk berbicara. Ia tak menoleh ke arah istrinya, asyik sendiri melihat awan dari jendela pesawat.


"Mas Adam marah? Haura punya salah?" tanya wanita itu berkaca-kaca. Entah mengapa perasaan wanita itu kini sangat halus dan mudah sekali tersinggung.


"Eh, lho kenapa menangis?" Adam membalikkan badan dan merasa bersalah karena membuat istrinya menangis. Dengan ibu jarinya, ia mengusap air mata di pipi istrinya.


"Mas Adam dari pagi nyuekin Rara. Rara salah ya? Rara membuat Mas Adam kesal ya?" tanya wanita itu makin tersedu. Membuat beberapa penumpang lainnya menoleh pada mereka.


"Shhh ... Sayang, jangan menangis lagi ya? Maafkan Mas. Mas tidak marah padamu. Mas hanya kesal karena momen romantis kita di ganggu Mirza."


"Mas, Bang Mirza nggak salah. Semua karena perusahaan. Kan perusahaan punya Mas Adam bukan punya Mirza?"


"Jadi kamu membela Mirza? Kamu suka Mirza?" Entah mengapa lelaki itu begitu cemburu mendengar istrinya membela asisten pribadi papanya.


"Apaan sih Mas. Dari tadi ketus mulu. Sekarang malah mencurigai Rara. Siapa yang suka Bang Mirza? Kapan aku ketemu Bang Mirza? Bahkan aku hanya sekedar tahu namanya." Haura kesal dan duduk menyamping membelakangi Adam. Ia marah karena sikap Adam yang kekanakan.

__ADS_1


Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa pelik dengan sikap Haura. Ternyata wanita itu memang unik. Sebentar bahagia, sebentar tertawa, sedih lalu menangis. Dan dalam sekejap saja bisa marah dan ngambek.


"Maaf Ra. Mas tidak bermaksud seperti itu." Haura tidak bergeming dan memejamkan mata.


"Ra ...." Adam mengguncang lengan istrinya, berharap wanita itu tak akan marah lagi. Namun sia-sia Haura masih enggan menoleh.


"Sayang, maafkan Mas ya. Mas salah sudah bicara yang bukan-bukan. Mas hanya cemburu mendengar kamu membela lelaki lain." bujuk Adam lagi. Akhirnya Adam menyerah dan membiarkan Haura menenangkan diri.


Beberapa waktu kemudian, wanita itu duduk seperti biasa. Namun wajahnya terlihat memerah dan sedikit pucat. Sepertinya wanita itu merasa tidak nyaman.


"Ra ...." Adam tersenyum senang karena istrinya tak lagi membelakanginya.


"Hueekkk ...." Tiba-tiba saja Haura muntah dan sebagian mengenai baju Adam. Ia tak tahan lagi mengeluarkan isi perutnya yang serasa di aduk-aduk.


"Ma-maaf Mas, Rara mual sekali. Rara benar-benar tak bisa menahannya. Rara tak sengaja." Wanita itu ketakutan. Takut Adam akan lebih marah lagi padanya. Hingga air mata mulai membanjiri wajahnya.


"Hei, jangan menangis Ra. Mas tidak marah kok. Sebentar Mas ganti baju dulu di toilet. Pegang ini Ra. Jika mual lagi, pakai saja ini." Adam memberikan sebuah thinkstock pada Haura.


Adam melepas seat belt-nya dan berdiri. Kemudian ia menarik ransel miliknya yang berada di bagasi atas dan mengambil satu kaos ganti. Ia juga meminta satu kantong plastik pada pramugari untuk menyimpan bajunya yang kotor.


Beberapa menit kemudian Adam sudah kembali dari toilet. Lelaki itu nampak lebih segar. Sepertinya ia sudah tidak terlalu kesal.


"Sayang, masih mual?" tanya Adam penuh perhatian. Haura mengangguk mengiyakan dengan memejamkan mata.

__ADS_1


"Mau Mas pijitin?" Kini wanita itu menggelengkan kepala.


"Ya sudah kamu tidur saja dulu. Sini sandar di bahu Mas." Adam menepuk bahunya agar Haura menyandar padanya. Seperti anak kucing yang manis, Haura menurut saja.


"Biasanya juga tak pernah mabuk perjalanan kan, Ra? Waktu berangkat kemarin juga baik-baik saja. Kamu nggak sakit kan, Dek?" tanya Adam sembari mengelus kepala Haura. Haura menggeleng lagi.


"Mas, jangan berbicara. Rara jadi mual lagi," larang wanita itu.


"Lho, kok bisa?" Adam mengerjap tak percaya akan kata-kata yang Haura ucapkan.


"Nggak tahu. Setiap Mas Adam berbicara, Rara akan mual. Jadi diamlah!" ucap wanita itu sedikit ketus.


"Apa Rara sakit ya? Aneh sekali sikapnya. Baru sekali ini wanita ini berani bersikap ketus padaku. Apakah ada suara seseorang yang membuat orang lain mual?" batin Adam semakin keheranan. Ia merasa apa pun yang ia lakukan serba salah.


Lama kelamaan Haura menenggelamkan wajahnya di dada Adam. Mengendus bau yang menurutnya sangat manis di sana. Haura bergerak-gerak mencari spot ternyaman untuknya. Tangan kirinya memeluk Adam erat-erat. Agar lelaki itu tidak bergerak-gerak.


"Dek, apa yang kamu lakukan?" tanya Adam menahan napasnya sepersekian detik. Adam merasa kegelian juga terangsang akibat perbuatan Haura. Apalagi ketika napas hangat Haura menyapa dadanya. Dan kini tubuh bagian bawahnya tak bisa ia kendalikan karena perbuatan istrinya. Wajar ia lelaki normal. Sentuhan Haura di titik sensitifnya dapat mengakibatkan hal fatal. Sayang Haura tak mengindahkannya, seolah tak mendengar ucapan Adam. Karena baginya sangat nyaman menghirup aroma tubuh suaminya, rasa mual dan pusing yang ia rasakan bisa menghilang dengan melakukan hal itu.


"Dek, nanti di rumah saja ya kita lakukan? Jangan di sini! Sebentar lagi juga sudah akan mendarat kok," bisik Adam di telinga Haura. Rasanya ia sangat tersiksa gara-gara Haura. Dalam hati ia mengumpat karena pikiran kotornya yang tiba-tiba datang.


"Lakukan apa? Rara hanya nyaman dengan posisi begini. Jangan berpikiran yang bukan-bukan." jawab Haura tanpa rasa bersalah. Perkataan Haura membuat wajah Adam memerah sempurna karena malu. Menurutnya Haura sudah menggodanya, dan tanpa rasa bersalah wanita itu mengucapkan hal itu.


"Ah, sial. Sakit sekali," batin Adam tak dapat berkutik.

__ADS_1


__ADS_2