
Suasana dingin yang begitu mendukung membuat mereka berdua melakukan lagi dan lagi. Seolah tak ada rasa bosan saling menikmati tubuh masing-masing. Tak ada hal lain selain bercinta. Sampai keduanya tak sanggup lagi untuk sekedar membuka mata. Dalam lelah penuh kepuasan mereka saling berpelukan di dalam tenda kecil itu.
Kini wanita itu sepenuhnya telah membuka hati dan diri. Melupakan semua mimpi buruk yang pernah menimpanya. Karena sesungguhnya kesabaran, ketulusan dan cinta yang Adam berikan membuat Haura takhluk dan memaafkan lelaki itu. Membuat Haura sembuh dari trauma akan masa lalu yang kelam itu.
Haura mengabaikan rasa perih yang sedikit terasa. Karena sungguh rasa nikmat itu lebih mendominasi. Dan malam itu menjadi malam terindah, walaupun Adam tak menyiapkan hal mewah. Haura tetap menyukainya dan terasa sangat spesial sekali. Karena yang dilakukan suaminya sedikit tak lazim. Dan jarang terpikirkan oleh orang lain. Bermalam si sebuah tenda kecil, hanya berdua. Menikmati udara segar di ketinggian sekitar tiga puluh meter. Berpayungkan langit yang dipenuhi bintang-bintang yang bertebaran.
Dan menjelang subuh, keduanya terbangun dengan malu-malu. Baru tersadar jika kulit mereka saling bergesekan dan melekat semalaman penuh tanpa penghalang apa pun. Baru tersadar jika mereka saling berbagi udara untuk bernafas. Saling membagi kenikmatan dan kehangatan.
Haura apalagi, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Mengingat tingkahnya yang begitu liar tak seperti biasanya. Ia juga sangat malu bila mengingat suara-suara aneh itu tak henti meluncur dari bibirnya.
"Mas, Rara malu." Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kenapa harus malu?"
"Rara ... Rara ... sangat liar ya tadi malam?"
"Hahahaha, sayang ... tidak apa-apa.. Mas menyukainya. Mas suka semuanya. Mas suka apa yang kita lakukan malam ini. Mas suka suara manja yang keluar dari bibir ini."
Cup
Adam mengecup bibir Haura sekilas.
"Mas Adam ih!" rengek wanita itu manja. Adam sangat suka dengan sisi lain yang Haura tunjukkan saat mereka bercinta. Istrinya seperti anak kucing kecil yang malu-malu. Begitu polos dan menggemaskan.
"Ra, dingin ... lagi yuk!"
"Ah, eh ... nanti lagi ya Mas? Anu, itunya Rara perih." Ada rasa malu yang sangat besar ketika Haura mengucapkannya. Tapi rasanya miliknya sudah terlalu lelah untuk melayani Adam. Dan Haura yakin jika mereka melakukan lagi, belum tentu dalam hitungan menit kegiatan mereka akan berakhir.
"Apakah sakit sekali?" tanya Adam penuh rasa sesal. Ia ingat jika semalam ia terlalu brutal. Tak tanggung-tanggung mereka melakukannya dalam empat ronde dan dalam durasi waktu yang panjang.
"Eng-enggak, hanya sedikit perih."
__ADS_1
"Maaf ya, sayang. Semalam Mas tak dapat menahan diri. Mas khilaf, sehingga tidak memikirkan kamu."
"Nggak papa kok Mas. Rara suka," ucap wanita itu malu-malu. Ia merutuki dirinya sendiri yang terdengar sangat b*nal.
"Benarkah? Apa di lain waktu kamu mau melakukannya lagi?" Haura mengangguk malu.
"Rara malu Mas, jangan dibahas lagi."
"Tidak apa-apa sayang. Kita kan suami istri. Membicarakan hal seperti ini bukan hal yang tabu."
"Tapi tetap saja ...." protes wanita itu.
"Em, kita turun yuk Ra! Kita mandi dan salat subuh berjamaah."
"Mas akan menjadi imam Rara?" tanya wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"I-iya ... mungkin Mas belum bisa jadi imam yang sempurna. Tapi Mas akan berusaha. Mas akan belajar lagi."
"Mas yang berterimakasih. Karena kamu kehidupan Mas yang buruk kini jadi membaik. Mas juga berterima kasih pada Papa yang sudah mencarikan jodoh sebaik dan sesalihah kamu."
"Iya Mas. Mari kita mulai semuanya dengan lebih baik. Mari kita saling menyayangi dan mencintai. Membina rumah tangga yang indah."
"Yuk turun! Sebelum waktu subuh datang."
Adam melilitkan selimut di tubuh Haura. Sedangkan dirinya hanya memakai celana boxer miliknya. Lalu Adam membantu istrinya untuk berdiri.
"Aw ...," erang Haura ketika ia melangkahkan kakinya. Pusat tubuhnya terasa sangat sakit dan perih.
"Kenapa Ra? Sakit ya? Maafkan Mas Ra."
"Tidak apa-apa Mas. Hanya saja, Rara mungkin belum bisa menyesuaikan ...."
__ADS_1
Dalam satu gerakan Adam menggendong Haura.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Turunkan Rara Mas. Rara takut, Rara akan jatuh."
"Mana mungkin Mas akan menjatuhkan istri Mas yang cantik ini? Tenanglah Ra, kalau kamu meronta terus mungkin kita akan benar-benar jatuh dari tangga." Seketika Haura jadi lebih tenang. Kini Adam fokus menapaki tangga untuk turun ke bawah. Haura yang ketakutan hanya bisa mengalungkan tangan di leher Adam untuk berpegangan. Matanya terpejam tak ingin melihat ke bawah. Merasa ngeri, takut jika sampai terjatuh. Adam tersenyum melihat istrinya yang bersembunyi di dadanya. Rasanya sungguh indah. Kebahagiaannya tak terlukiskan kata-kata.
Sesampai di kamar mandi Adam menurunkan Haura dan seketika menarik lepas selimut yang sempat membalut tubuh istrinya.
"Mas!" Haura kebingungan untuk menutupi bagian tubuhnya. Karena kini tak sehelai benang pun menutup tubuhnya.
"Tenang Ra. Mas kan suami kamu. Tak perlu malu. Mas janji tidak akan melakukannya lagi pagi ini."
"Tunggu sebentar Ra." Adam menyalakan air hangat, mengisikannya dalam bath up. Tak lupa ia menuangkan beberapa tetes antiseptik di dalam bak mandi. Ia menyentuh air sebentar, setelah dirasa suhu air sudah pas. Ia mendekati Haura dan memasukkan istrinya ke dalam bath up. Haura hanya menurut saja, tak berkata apa-apa. Begitu bahagia diperlakukan bak ratu. Begitu merasa berharga dan disayangi.
Haura begitu rileks, miliknya yang semula perih kini terasa nyaman. Air hangat dan antiseptik yang Adam siapkan benar-benar mujarab. Wanita itu semakin kagum pada suaminya. Tak lama Adam mengambil sabun dan menggosok tubuh Haura.
"Mas, Rara bisa sendiri." Wanita itu kembali gugup ketika suaminya menyabuni tubuhnya.
"Tidak apa Ra. Mas kan sudah janji tidak akan melakukannya lagi." Kini lelaki itu mencuci rambut istrinya.
"Tapi Rara malu."
"Apa yang membuatmu malu? Setiap inci di tubuhmu Mas juga sudah melihatnya."
"Mas Adam ih ...."
Adam begitu gemas melihat Haura yang malu-malu seperti itu. Kemudian keduanya tertawa bahagia dan bercanda. Terkadang Adam menggoda Haura hingga pipi wanita itu bersemu merah. Sungguh indah cinta mereka. Layaknya pengantin baru, hubungan mereka tengah hangat-hangatnya. Begitu manis.
Kegiatan mandi mereka berlanjut dengan mandi besar dan setelah itu mereka salat subuh berjamaah.
Haura sangat bahagia dan terharu. Sampai air mata tak hentinya mengalir dalam doanya. Kesabarannya selama setahun lebih ini benar-benar berbuah manis. Kini ia tak harus sholat sendiri lagi. Kini ada Adam mau berubah dan menjadi imamnya. Haura bersyukur keinginan kecil yang selalu menjadi doa-doanya kini terwujud sudah.
__ADS_1