
"Tuan Adam, ini manajer keuangan kita yang baru."
"Alvian, kenalkan ini Tuan Adam. Putra Tuan Ray direktur perusahaan ini." Ardi memperkenalkan Adam dan Alvian. Di depan karyawan, Ardi akan berubah sikap 180 derajat. Ia menjadi bersikap formal dan melupakan persahabatan mereka.
"Alvian."
"Adam. Semoga kamu betah bekerja di sini ya. Jika ada apa-apa, katakan saja pada Ardi."
"Baik Tuan, terima kasih." Alvian tersenyum.
"Ya sudah saya tinggal ya. Tunjukkan kinerja terbaik kamu." Adam menepuk bahu Alvian dan berlalu dari tempat itu. Alvian mengiyakan dan bahagia memiliki bos sebaik Adam.
***
Ya Allah, ya Tuhanku.
Ampunilah segala dosa hamba-Mu
Jadikanlah hamba istri yang baik.
Jadikan hamba istri yang salihah.
Jauhkanlah hamba dari golongan-golongan istri yang durhaka.
Wanita itu kini tengah bersimpuh di hadapan Allah, Sang Pencipta alam semesta beserta isinya. Meluapkan segala keresahan dan kesedihan. Hanya mampu berserah dan mengharapkan adanya keajaiban, agar suaminya rela ikhlas menerimanya sebagai istri.
Di atas sajadahnya, wanita itu selalu meluahkan isi hatinya, kepedihannya. Hal yang tak pernah bisa ia katakan pada siapapun. Karena Haura ingin menjadi wanita salihah, yang mampu menjaga aib rumah tangganya. Hanya kepada Sang Pencipta, ia mengatakan segala isi hatinya.
Tak jarang, ia menangis di sujud sepertiga malamnya. Bukan menyesali apa yang terjadi. Hanya saja wanita itu berharap kelak suaminya akan berubah dan seutuhnya bisa menerima kehadirannya sebagai seorang istri. Seperti dirinya yang berupaya untuk mencintai suaminya. Membina rumah tangga yang sakinah hingga tua nanti.
Haura percaya, suatu saat nanti suaminya akan mencintainya. Menerimanya sebagai istri, walau hal itu akan terjadi entah kapan. Entah ia harus menghitung hari, minggu, bulan, tahun atau bahkan seumur hidupnya.
***
"Mas ... Mas ... " panggil Haura tergesa-gesa.
"Mas Adam. Dimana sih kamu Mas?" Haura mencari ke setiap sudut ruangan. Sudah tentu Adam masih berada di kamarnya karena hari masih pagi. Tapi Haura mengira Adam sudah bangun, karena biasanya pada jam seperti itu Adam sudah pergi jogging.
"Dimana sih kamu Mas? Ada telepon dari Mama," gumam gadis itu seorang diri sembari kesana kemari mencari suaminya.
Haura melangkahkan kaki ke kamar Adam. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk.
__ADS_1
"Mas Adam," panggil wanita itu tanpa bosan menyebutkan nama suaminya.
Adam tak ada di kamarnya. Haura terus melangkah masuk ke dalam, memastikan keberadaan suaminya.
"Mas ...."
"Ya Allah ...." Haura menutup kedua matanya karena melihat Adam yang keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang.
Dengan sigap, Adam meraih handuk dan melilitkannya di pinggang. Menutup bagian bawah tubuhnya.
"Ada apa? Pagi-pagi buta sudah teriak-teriak," tanya Adam dengan nada suara ketus yang seperti biasanya. Dingin dan sedikit kasar.
"Anu Mas." Pikiran Haura blank seketika, lupa ingin mengatakan apa. Gara-gara melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia masih menutup matanya menggunakan telapak tangan.
"Anu apa? Buka mata kamu. Sampai kapan kamu mau bicara sama aku dengan menutup mata begitu?"
"Eh, ada telepon dari Mama." Haura melepaskan tangannya dari kedua matanya. Dengan ragu, ia membuka mata dan melihat Adam yang sudah mengenakan handuk untuk menutup miliknya.
"Ya sudah. Nanti biar aku telepon balik. Aku mau ganti baju dulu. Awas minggir." Adam mendorong Haura yang tadinya duduk di kasurnya. Hingga wanita itu berdiri kembali.
"Lain kali kalau masuk, ketuk pintu dulu. Atau kamu mau lihat ini?" Adam membuka kembali handuk yang dililitkan di pinggangnya. Menampakkan miliknya pada Haura tanpa rasa malu.
"Kyaaa... "Haura berteriak dan langsung keluar dari kamar Adam. Ia begitu ngeri melihat milik lelaki yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
***
"Ra.. Berdandanlah yang cantik! Jangan sampai kamu membuat aku malu."
"Memangnya, kita mau kemana Mas?"
"Ada acara makan malam perusahaan. Jadi kamu harus mendampingiku. Jangan banyak tanya!" jawab Adam dengan sedikit membentak.
"Anu ... Anu ... Haura nggak usah ikut ya Mas," tolak Haura dengan sedikit ketakutan.
"Cerewet kamu ya. Dosa tahu membantah perkataan suami terus. Sana cepat bersiap." Dengan kasar Adam mendorong bahu Haura.
Haura segera masuk ke kamarnya dan merias diri sebisanya, nyatanya ia hanya wanita kampung polos yang tak pandai merias diri.
Dua puluh menit kemudian, Haura sudah siap dan menghampiri suaminya.
"Lama banget sih dandan gitu aja. Bukannya cantik juga. Ayo cepat! Keburu acara dimulai." Adam mendahului melangkah ke mobil. Haura hanya mampu mengikuti suaminya dari belakang.
__ADS_1
Seperti biasanya, dalam diam Adam memacu mobil miliknya menuju sebuah hotel ternama di kota itu. Haura juga tak berani banyak bertanya. Setengah jam, akhirnya mereka sampai di tempat makan malam.
Sesampai di tempat parkir, Adam segera turun dari mobil. Namun lain dengan Haura, jangankan keluar dari mobil. Wanita itu diam tak bergeming dari duduknya.
Dengan emosi Adam menghampiri pintu mobil tempat Haura duduk dan membukanya.
"Ngapain diam di situ? Kamu bukan Cinderella yang harus diperlakukan seperti tokoh utama dalam pesta. Cepat keluar! Semua orang pasti sudah menungguku," perintah Adam kesal.
"Mas ... Rara di sini saja ya? Nggak usah masuk. Rara tunggu di mobil saja. Rara belum pernah menghadiri acara seperti ini. Rara takut, Rara akan mempermalukan Mas Adam," ucap Haura terbata-bata. Tangannya meremas gaun yang dia pakai. Haura begitu gugup dan tidak nyaman. Belum pernah ia pergi ke tempat seperti itu seumur hidupnya.
"Jangan manja! Kamu kira aku senang sekali mengajak kamu ke pesta? Lihat ekspresi wajahku! Apakah kamu lihat aku senang?" Haura menggeleng lemah. Ia tahu, suaminya tak benar-benar berniat mengajaknya. Ia yakin ada suatu sebab yang membuat ia diajak ke pesta.
"Kalau bukan Papa yang meminta aku mengajakmu, tak sudi aku pergi dengan wanita yang sepertimu." Ucapan Adam terasa sangat menusuk hati. Suaminya mengajaknya hanya karena desakan mertua.
"Ingat, jangan mempermalukan aku! Turun cepat! Atau aku akan menyeretmu keluar dari mobil."
"I-iya Mas," jawab Haura ketakutan. Haura tahu jika suaminya tak pernah main-main dengan ucapannya.
Haura mengikuti dari belakang. "Ayo, gandeng tanganku! Kamu mau mama dan papa mencurigai hubungan kita?"
"Iya Mas, maaf." Haura melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri Adam yang besar dan berotot. Rasanya sungguh menyesakkan, harus berpura-pura semua baik-baik saja. Harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia.
"Jangan lupa senyum," bisik Adam ketika mereka memasuki aula pesta. Haura mencoba menarik bibirnya, menahan tangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku kasih gaje story hari ini.. Jangan senyum² sendiri ya.. Cukup author saja yang senyum² saat mengetik 😂😂😂
__ADS_1
Gitu aja. Happy Reading my lovely readers.