
Suasana kafe cukup ramai di siang hari itu. Ada yang datang sekedar untuk minum kopi. Ada pula yang tengah membuat janji temu.
Siang itu Adam tengah menunggu klien pentingnya di sebuah kafe. Ia memesan secangkir kopi dan mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu klien. Ia terlalu sibuk, hingga tak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.
"Baby, apa kabar?" sapa Isabella dengan mesra.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Adam tak suka.
"Baby, ini kafe. Semua orang bebas untuk datang ke sini," jawab Isabella tersenyum manis. Senyum yang dulu berhasil membuat Adam jatuh cinta setengah mati.
"Nggak usah basa-basi. Apa tujuan kamu menemuiku?" tanya Adam ketus. Adam yakin wanita itu datang bukan tanpa alasan. Ada maksud terselubung, dibalik kehadirannya yang tiba-tiba di kafe itu. Entah bagaimana caranya, wanita itu bisa tahu ia ada di kafe itu.
"Sayang, Adam. Di dalam sini ada baby kamu. Aku ingin kamu bertanggung jawab. Menikahlah denganku." Isabella mengambil tangan Adam dan meletakkannya di perut Isabella.
"Apa? Itu bukan bayiku. Jadi aku tak akan pernah menikahimu." tolak Adam menepis tangan Isabella yang masih menggenggamnya.
"Apa kamu yakin, ini bukan anak kamu?"
"Issy, aku hanya melakukannya denganmu enam bulan yang lalu. Jadi bisa dipastikan kalau anak ini bukan anakku."
"Sekarang, lebih baik kamu pergi dari sini. Aku sudah cukup berbahagia dengan istriku. Jangan ganggu aku lagi!" usir Adam.
Isabella berdiri, kemudian terhuyung jatuh ke dalam pelukan Adam.
Cekrek cekrek cekrek
"Issy, jangan seperti ini." Adam berusaha mendorong tubuh Isabella. Sayang, upayanya gagal. Isabella semakin menempel padanya.
"Sayang, kepalaku sakit sekali. Aduh."
"Bangun Issy. Banyak orang yang melihat kita." Adam jengah karena semua pengunjung kafe kini tengah memperhatikan mereka berdua.
"Mas, antarkan aku pulang," ucap Isabella dengan memelas.
"Baiklah aku akan mengantarmu." Akhirnya Adam mengalah sebelum wanita itu berbuat lebih jauh lagi. Ia terpaksa memapah Isabella sampai ke mobil.
Sesampainya di rumah Isabella ia kembali memapah wanita yang terlihat lemas itu. Ketika naik tangga, Adam terpaksa menggendong Isabella. Karena wanita itu berkata jika ia tak kuat lagi untuk sekedar berjalan.
Adam menggendong Isabella, ala bridal style dan membawanya ke atas. Isabella mengalungkan kedua tangannya di leher Adam, seolah takut akan jatuh.
__ADS_1
Dibaringkannya wanita itu di ranjangnya. Tangan Isabella tak terlepas juga dari lehernya.
"Lepas Issy, aku harus pergi. Klien sudah menungguku. Tenang saja, aku akan memanggil dokter untukmu."
"Tak bisakah kamu tetap di sini, Mas?" pinta Isabella manja.
"Isabella. Jangan kira aku tak tahu. Aku sekarang sudah berbahagia dengan istriku. Please, sudahi drama murahanmu ini."
Dengan kesal Adam meninggalkan Isabella menuju ke kafe tempat ia membuat janji. Tak ada lagi rasa untuk wanita itu. Kini, hanya ada rasa benci dan jijik terhadap wanita tak tahu malu seperti Isabella.
"Dino ... Dino, where are you?" panggil Isabella setelah Adam pergi.
Dino keluar dari persembunyiannya. Dan menghampiri Isabella.
"Give me, I wanna see ...." Isabella mengambil kamera dari tangan Dino dan melihat satu per satu foto hasil tangkapan Dino.
"Good, I like it!" puji Isabella.
"When I can get it?" tanyanya menatap tajam pada Dino.
"May be three days later," ucap Dino mendekat ke arah Isabella. Hingga lelaki itu berada di depan Isabella hanya berjarak beberapa puluh senti.
"Tiga hari sudah cepat Isabella."
"Then, how much I must pay for it?" tanya Isabella.
"Tak perlu, aku hanya perlu kamu bayar dengan tubuhmu." Dino semakin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Isabella.
"Dino, jangan bercanda!" ucap Isabella tak suka.
"Kalau kamu tak mau memberikan bayaran yang pantas, aku juga tak akan memberikan foto-foto ini," ancam Dino.
"Bagaimana?"
"Okay, you will get it. But not now. Aku akan memberikannya ketika foto-foto ini juga sudah siap."
"Okay, aku menantikannya. Sekarang berikan ciumanmu sayang."
Isabella tersenyum miring. Ia mengecup kedua jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian menempelkannya ke pipi Dino. "Nah, sudah."
__ADS_1
"Kerjakan dulu dengan baik, baru aku akan memberikan apa yang kamu mau."
Jawaban Isabella membuat Dino meradang. Hanya sebuah kecupan saja wanita itu tak mau memberikan padanya.
"Lihat saja nanti! Aku akan menikmati tubuhmu sepuas hatiku. Tubuh yang hanya ada dalam fantasi liarku, akan menjadi milikku tiga hari lagi," batin Dino kesal.
Akhirnya Dino memilih pergi dari rumah Isabella dan mengerjakan tugasnya. Dan pada akhirnya wanita itu akan jatuh ke pelukannya.
***
"Dam!" panggil seorang pria di kantor Adam. Adam menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan langkah kakinya.
"Eh, Aldo," ucap Adam setelah membalikkan badannya. Adam sangat bahagia, karena sudah lama tak bertemu dengan Aldo.
"Tumben mau datang ke kantorku. Ada apa, Bro?" tanya Adam sembari memeluk sahabat lamanya sejak SMA.
"Em, kebetulan aku ada urusan di dekat sini. Mari kita minum kopi atau apalah," ajak Aldo.
"Sure, I will. Let's go!" Adam merangkul Aldo dan mengajaknya ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantornya.
Selama perjalanan, mereka saling bertanya kabar dan bercerita tentang bisnis masing-masing. Karena kedua sahabat itu telah lama tak berjumpa. Hanya ketika Adam menikah saja, Aldo datang. Maklum Aldo jarang di Indonesia, lelaki tampan yang sebaya dengan Adam itu memilih untuk tinggal di Amerika bersama istri bule-nya.
Kini kedua pria itu duduk berhadapan dengan gelak tawa. Setelah memesan minuman, mereka melanjutkan perbincangan mereka tadi.
"Em, Dam. Ada yang ingin aku katakan. Aku dengan Kate kemarin berlibur ke daerah P dan aku sepertinya melihat istrimu di sana," ucap Aldo ragu.
"Iya, memang istriku ada di kampungnya." Adam mengiyakan perkataan sahabatnya.
"Tapi Dam, aku ...."
"Tapi apa Al?" Adam mengernyitkan kening penasaran.
"Aku melihat istrimu bersama lelaki lain. Ehem, ini buktinya. Ketika Kate memintaku untuk mengambil gambarnya, aku tak sengaja melihat istrimu. Jadi aku sengaja mengambil gambar wanita yang ada di foto ini untuk memastikan padamu." Aldo menyerahkan ponsel miliknya dan ada gambar Haura dan Alvian di sana.
Adam membuka gambar satu per satu dengan wajah yang memerah karena marah. Wanita yang ia tinggalkan di kampung halamannya ternyata kini tengah asyik bersama dengan mantan kekasihnya. Dan benar saja, Alvian tak nampak di kantornya. Yang berarti lelaki itu sengaja untuk bercuti untuk menemui istrinya.
"Kirim semua foto itu kepadaku Al. Aku harus memastikannya," ucap Adam dengan kilatan amarah di matanya.
"Awas saja jika kamu mengkhianatiku!" batinnya geram.
__ADS_1