
Tingkah aneh Haura semakin menjadi. Di sepanjang perjalanan dari bandara, wanita itu diam saja. Adam pun tak berani mengusiknya. Dan Setelah sampai rumah, wanita itu langsung mengurung diri di kamar dan menguncinya. Tak mengizinkan Adam masuk ke dalam.
"Ra, buka pintunya Dek!" pinta Adam seraya mengetuk pintu perlahan.
"Ra, kamu kenapa sih? Mas jadi bingung." Lelaki itu benar-benar merasa payah menghadapi istrinya. Sungguh menurutnya wanita itu membingungkan.
Di dalam pesawat, wanita itu tak henti menggodanya. Meraba tubuhnya sesuka hati. Juga mengendus-ngendus dadanya. Hingga Adam harus mengendalikan dirinya sekuat tenaga. Ia benar-benar tersiksa karena istrinya. Dan ketika sampai di rumah, tanpa kata wanita itu langsung masuk ke kamar mengabaikan dirinya. Adam menjadi semakin bingunh dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Padahal hanya bermula dengan kekesalannya karena honeymoon mereka yang kacau. Dan kini berakhir dengan kemarahan atau lebih tepatnya mood istrinya yang naik turun.
"Ada apa sih dengan Haura? Aku harus bagaimana lagi?"
Akhirnya lelaki itu menyerah. Membiarkan Haura melakukan apa yang dia inginkan. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Mirza.
"Za, aku sudah di Indonesia. Atur pertemuan dengan Tuan Suzuki."
"Mau kapan? Hari ini juga?"
"Heem, lebih cepat lebih baik."
"Baik Dam. Aku akan menghubungi beliau. Nanti aku kabari lagi."
Adam merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa ruang keluarga itu. Sembari menunggu kabar dari Mirza, ia memejamkan matanya yang bahkan tak terasa mengantuk. Hanya saja ia terlalu pusing untuk mengertikan istrinya.
Tanpa ia sadari, Adam tertidur karena lelah. Hingga satu jam kemudian ia terbangun karena terkejut oleh suara telepon dari Mirza.
"Halo," jawab Adam dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Dam, Tuan suzuki bersedia menemuimu satu jam lagi. Aku sudah memesankan meja di restoran Sakura. Kamu bisa kan?"
"Hah? Sekarang?"
"Satu jam lagi Dam. Kamu siap-siap dan segera berangkat. Agar tidak terjebak kemacetan."
"Baiklah, aku mandi dulu."
Adam menutup teleponnya. Ia melangkah ke kamarnya dan memutar kenop pintu. Sial, masih terkunci.
__ADS_1
"Hah ...." Adam mengusak rambutnya dengan kasar. Ingin ia mengetuk pintu dan memanggil istrinya lagi, namun ia urungkan. Karena ia harus segera pergi menemui kliennya. Tak ada jaminan ia tak ingin bermanja dengan Haura dulu sebelum pergi. Dan dapat ia pastikan itu akan memakan waktu yang cukup lama.
Akhirnya Adam memutuskan untuk mandi di kamar mandi dekat dapur. Dan selesai mandi, ia kebingungan. Baju kerja yang akan ia pakai berada di kamarnya, dan ia tak dapat masuk. Akhirnya ia menelepon Mirza lagi.
"Iya, kenapa lagi Dam?"
"Za, restoran itu dekat kantor kan?" tanya Adam memastikan.
"Iya Dam. Bukannya aku sudah mengirim alamat lengkapnya?"
"Bukan begitu, aku hanya memastikan saja. Kalau begitu belikan aku satu set pakaian kerja dan juga satu celana dalam," ucap Adam sebenarnya sangat malu.
"Untuk apa? Bukannya kamu sudah di rumah?" tanya Mirza merasa pelik.
"Sudah lakukan saja. Tak perlu banyak tanya!"
"Ya, baiklah."
"Oh ya, sekalian sepatu dan kaos kakinya jangan lupa."
"Pakai uangmu dulu, tak sempat mau transfer. Nanti aku ganti." Padahal alasan sebenarnya adalah semua barang miliknya berada di kamar yang Haura kunci. Adam bahkan tak memegang uang barang satu sen pun. Untung saja ponsel dan kunci mobil ia bawa.
Ia segera mematikan panggilan telepon. Dan akhirnya Adam terpaksa memakai kembali pakaian yang tadi ia pakai. Sungguh ini pertama kalinya dalam hidupnya harus menderita karena cinta.
***
Adam meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada istrinya. Walau sebenarnya ia khawatir dengan keadaan istrinya yang tak kunjung keluar kamar. Apalagi tak ada sedikit pun suara terdengar dari kamar itu. Namun karena tergesa akhirnya ia mengabaikan istrinya. Lagipula ia takut mengganggu istirahat Haura, dan akan semakin membuat mood wanita itu memburuk.
Dan dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya. Karena waktu yang sangat terbatas. Dan ia masih harus mengganti pakaian lagi di kantor.
Lima belas menit kemudian ia sudah sampai di kantor. Semua pekerja sangat terkejut akan kedatangan lelaki itu. Para karyawan gempar karenanya. Bayangkan saja, Adam memasuki area kantor dengan celana jeans, sweater dan sandal jepit. Sangat berbanding terbalik dengan imejnya selama ini. Biasanya lelaki itu berpakaian rapi dan perfect. Namun, tak sedikit juga karyawati yang terpesona oleh Adam. Adam terlihat tampan dan menawan menggunakan pakaian seadanya itu. Maklum saja, mereka tidak mengetahui perihal pernikahan bosnya itu. Sehingga masih ada saja karyawati yang berusaha menggodanya dan mencari perhatian lelaki tampan itu. Namun Adam selalu bersikap dingin dan tegas di kantor itu. Tak mengindahkan wanita-wanita yang menggodanya.
"Za ...," panggil Adam begitu masuk ke ruangan kerjanya. Ia yakin Mirza ada di ruangannya. Karena lelaki itu yang menggantikan pekerjaannya selama dua hari ini. Dan benar saja, lelaki itu terlihat sibuk mengurus banyak dokumen yang bertumpuk di meja kerja.
Mirza mendongak, menatap penampilan Adam dengan takjub. "Ini benar kamu, Dam?" ledek Mirza tak henti tertawa.
__ADS_1
"Sialan kamu Za. Berani menertawakan anak bosmu."
"Hahaha, maaf Dam. Seumur hidup aku mengenalmu, baru kali ini melihat kamu berpakaian seperti ini."
"Sudah jangan tertawa! Mana bajuku."
"Itu ada di sofa," tunjuk Mirza pada beberapa paper bag di atas sofa.
Tanpa kata lagi Adam membawa pakaiannya ke ruang istirahatnya, yang berada di dalam ruang kerjanya. Disana hanya terdapat satu ranjang ukuran sedang. Dan ruangan itu baru saja dibangun, untuk berjaga jika Adam harus menginap dikantor.
Tak butuh waktu lama Adam sudah siap memakai pakaiannya. Ia keluar dari ruang istirahatnya sambil memakai dasi kerjanya.
"Dam, apa yang terjadi hingga kamu harus membeli pakaian baru? Padahal kamu dari rumah."
"Diamlah! Awas saja jika kamu berani menertawakan aku. Kamu mana tahu kamu kan lelaki bujang. Kamu akan tahu nanti jika sudah beristri."
"Hah? Jadi ini karena istrimu? Hebat! Wanita kalem itu berhasil menakhlukan singa sepertimu."
"Jadi kamu memuji-muji istriku? Kamu suka?" Adam kesal ketika Mirza memuji Hauranya.
"Kamu kenapa sih Dam? Aku kan hanya asal berbicara."
"Jangan pernah kamu memuji istriku. Yang boleh memuji dia hanya aku, suaminya."
"Iya iya, whatever you want. Cepatlah bersiap! Karena Tuan Suzuki tidak suka menunggu."
"Iya bawel. Eh sebenarnya yang bos aku atau kamu?"
"Sekarang aku Dam. Lihat! Yang duduk di kursi kebesaran ini aku bukan kamu."
"Wah, melampau. Kamu dikasih hati minta jantung ya Za."
"Hahahaha ... sudah pergi sana. Dapatkan kesan bagus dari Tuan Suzuki."
"Kalau begitu ... Bos! Pinjamkan aku kartu kreditmu!"
__ADS_1
"Hahhhh???"