
Alarm dalam volume sedang berbunyi, membangunkan Adam yang masih terlelap tidur. Rasa kantuk yang teramat masih terasa, namun keinginan untuk memastikan suatu hal lebih besar. Ia mengucek matanya dan segera membuka mata. Dan dengan lemah lembut ia membangunkan sosok mungil yang tidur meringkuk memeluk guling.
"Ra, bangun Dek!"
"Hmm ...."Wanita itu terlalu mengantuk karena hampir semalaman ia tak bisa tidur.
"Sayang, bangun!"
"Mas, ini belum masuk waktu subuh kan?" tanya Haura malas.
"Belum. Ayo Dek. Kita ke kamar mandi," ajak Adam tak sabar.
"Mau ngapain Mas? Lihat! Jam empat masih kurang."
"Menurutlah sayang, sebentar saja. Nanti kamu boleh tidur lagi."
"Iya, iya ... mau ngapain sih." Haura terpaksa bangkit. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar.
"Dek, sini!" Adam sudah terlebih dahulu berada di dalam kamar mandi.
"Dek kamu pipis di wadah ini ya. Sebentar Mas ambil barangnya."
"Barang apa lagi sih? Mas Adam mengigaukah? Aneh-aneh saja," gumam wanita itu seraya mengucek matanya yang masih mengantuk dan terasa lengket. Kesadarannya belum kembali secara sempurna. Membuka mata pun terasa sangat sulit.
Haura segera kencing di wadah yang sudah disiapkan Adam. Agar suaminya tidak cerewet lagi. Karena ia tahu, Adam tak akan berhenti mengganggunya sebelum ia menuruti kata-katanya.
"Sudah?" tanya Adam yang sudah kembali ke kamar mandi dengan mata berbinar. Ia menggenggam tiga buah tespect di tangannya.
"Hah?" Haura terkejut ketika Adam mencelupkan satu buah tespect. Beberapa detik mereka menunggu, dan satu garis merah nampak sempurna di permukaan tespect. Dan keduanya berdebar menunggu air seni merambat ke permukaan lain hingga tercetak dua garis merah sempurna. Hampir saja Adam menjerit bahagia. Dugaan mamanya benar, istrinya kini tengah berbadan dua. Ada Adam Junior di dalam perut istrinya. Yang akan ia timang sembilan bulan lagi.
Takut jika ada kesalahan atau kurang akurat, Adam lantas mencelupkan dua testpect lainnya. Dan setelah Beberapa saat menunggu, hasilnya sama. Dua garis merah tercetak sempurna.
"Ra, kamu benar-benar hamil sayang. Aku akan menjadi seorang ayah." Adam mengecupi kepala Haura berkali-kali. Hati pria itu membuncah bahagia.
"Benarkah ada bayi kecil di dalam perutku? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Haura memastikan.
"Iya sayang. Ini benar, bukan hanya mimpi." Haura sangat bahagia. Ia akan segera menjadi wanita yang sempurna dengan menjadi seorang ibu. Setelah setahun lebih pernikahan mereka, akhirnya Adam Junior hadir. Rasa kantuk wanita itu lenyap digantikan rasa bahagia yang teramat.
Haura mengelus pelan perutnya. Senyuman tertarik sempurna di antara tangis haru wanita itu. Sungguh bahagia ia akan jadi seorang ibu.
__ADS_1
"Mas, bagaimana Mas tahu kalau aku hamil?" tanya Haura di sela keharuan mereka.
"Karena sikap kamu pelik. Eh, sebenarnya aku juga tidak tahu. Tapi pagi itu aku datang ke rumah mama. Aku bercerita jika sikap kamu akhir-akhir ini berubah. Dan aku sulit untuk memahamimu. Dan mama bilang kemungkinan besar kamu hamil."
"Jadi kamu menjelek-jelekan aku di depan mama ya Mas?"
"Eng-enggak, Mas kan hanya meminta nasehat."
"Bilang saja kalau iya. Pasti kamu bilang hal-hal buruk tentangku."
"Misalnya?" goda Adam.
"Entahlah, aku mana tahu. Kan yang menceritakan Mas."
"Aku hanya bilang jika istriku ini buas di ranjang."
"Ap-apa? Mas Adam keterlaluan. Bagaimana aku bisa menghadapi mama kalau begini? Malu Mas."
"Hehehe, bercanda Dek. Aku tak pernah menjelekkan kamu Ra. Karena kamu adalah wanita yang terbaik untuk Mas."
"Benarkah?"
"Iya sayang." Adam mengangkat tubuh Haura hingga wajah Adam berada di depan perut Haura.
***
"Apa? Jadi Haura diperlakukan secara tidak pantas di kantor?" tanya Ray pada Mirza. Ray begitu marah mendengarkan laporan dari Mirza.
"Iya Tuan."
"Lalu, Adam diam saja?"
"Tuan Adam ingin memecat security dan bagian resepsionis yang telah bersikap tidak sopan. Tapi Nyonya Haura melarangnya, Tuan." Ray mangut-mangut mendengar laporan dari Mirza. Mirza benar-benar tangan kanan Ray yang paling Ray percaya dan paling setia. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia di tangan lelaki muda itu.
"Hem, kalau begitu adakan syukuran pernikahan mereka dan juga syukuran rumah baru di rumah Adam."
"Tapi Tuan, bukankah mereka sudah lama menikah dan menempati rumah itu?"
"Lakukan saja! Tidak masalah. Undang semua orang. Termasuk karyawan kantor. Agar mereka dapat mengenali menantuku. Agar ke depannya tidak terulang kejadian yang serupa. Aku juga merasa bersalah karena waktu itu tidak membuatkan pesta untuk anak dan menantuku."
__ADS_1
"Lalu bagaimana Tuan? Haruskah saya memberitahukan pada Tuan Adam?"
"Tidak perlu Za. Besok kirim orang untuk menghias rumah Adam dan menyiapkan semua termasuk katering. Besok, dia yang terkejut pasti akan langsung bertanya padaku."
"Baik Tuan. Ada apa-apa lagi yang harus saya kerjakan?"
"Tidak Za, terima kasih. Aku mempercayakan padamu."
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Mirza undur diri.
***
"Selamat Tuan, anda akan menjadi seorang ayah. Usia kandungan istri anda sudah masuk tujuh minggu. Keadaan baby dan ibunya sehat." Adam dan Haura saling pandang dengan bahagia.
"Terima kasih Dok," ucap Adam bahagia.
"Pada masa trimester pertama ini, saya sarankan agar Nyonya jangan melakukan pekerjaan yang berat. Perbanyak makan makanan bergizi. Agar bayi mendapatkan asupan yang cukup. Karena pada trimester pertama ini adalah masa paling penting untuk pembentukan otak bayi."
"Dok, istri saya sering muntah. Dan itu membuat saya khawatir kalau-kalau mereka kekurangan nutrisi."
"Tidak apa-apa Tuan. Hal itu wajar. Itu karena perubahan hormon dalam tubuh Nyonya. Saya akan menuliskan resep obat untuk mengurangi mual dan juga vitamin pendukung lainnya."
"Nyonya Haura, walaupun terasa mual. Anda tetap harus memaksakan diri untuk makan. Jika mual yang anda rasakan tak kunjung mereda, silakan datang lagi kemari."
"Baik Dokter, terima kasih."
"Apa ada hal yang ingin ditanyakan lagi?"
"I-itu Dok. Saya ingin bertanya, apakah kami ... boleh ... melakukan 'itu'."
"Mas Adam ...." Haura sangat malu dan mencubit perut suaminya.
"Aw, Dek. Sakit," erang Adam.
"Ini hal penting sayang, jadi Mas harus menanyakannya. Mas tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian."
"Iya tidak apa-apa. Banyak pasangan muda yang juga menanyakannya kok. Boleh Tuan, asal dalam kategori aman. Sebisa mungkin lakukan dengan hati-hati ya Tuan. Karena usia kandungan Nyonya masih rentan."
"Baik Dok. Jadi aman ya Dok?" tanya Adam berbinar.
__ADS_1
"InsyaAllah aman Tuan, mungkin anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut dari buku atau internet. Mengenai cara untuk melakukan dengan aman."
"Baik Dok, terima kasih."