Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Khawatir


__ADS_3

Hari masih pagi ketika Adam terbangun dari tidurnya. Baby Adam semalaman tidur lelap. Hanya terbangun beberapa kali untuk menyusu dan mengganti popok. Dia begitu anteng Seolah mengerti sang papa tak ada menjaganya. Kini Oma dan Bunda yang sudah lebih dulu bangun tengah sibuk bermain dengan Adam. Sesekali terdengar gelak tawa dari dua wanita itu.


Medina juga sudah bangun tidur. Melihat kemesraan putranya bersama Bunda dan Omanya, Medina menjadi bahagia. Sungguh Medina merasa beruntung disayangi orang-orang di sekelilingnya. Medina ingat ia tak membuka ponsel sejak semalam, ia segera mengecek ponsel miliknya. Ada beberapa pesan dari Ray yang tertera di layar ponsel. Medina segera membuka pesan yang dikirimkan Ray.


11.15


Me.. Sudah tidur?


11.28


Baby Adam rewel nggak?


11.33


Mas rindu kalian


11.48


Selamat tidur sayang-sayangnya papa


Medina tersenyum geli membaca pesan yang Ray kirimkan. Terlihat sekali Ray merindukan dirinya dan baby Adam.


04.50


Maaf ya Mas, Medina dan Adam semalam sudah bobok


Medina mengetikkan balasan pada Ray dengan senyum-senyum sendiri. Lama Medina menunggu balasan dari Ray. Namun sampai setengah jam ia tak mendapatkan respon dari Ray. Jangankan menelepon, membalas pun tidak.


"Mungkin Mas Ray belum bangun," pikir Medina.


"Oh ya Me, siapa nama lengkap Adam?" Perkataan bunda membuyarkan lamunannya tentang Ray.


"Ehm, nanti saja tunggu Mas Ray ya Bunda. Aku rasa Mas Ray lebih berhak menentukan nama untuk Adam," jawab Medina bijak.


"Bagus Nak, begitulah yang namanya keluarga. Harus saling menyayangi dan menghargai. Meskipun Ray bukan ayah kandung Adam. Tapi kebaikan dan kasih sayang Ray melebihi kasih sayang papa kandungnya Adam. Jadi Ray juga punya hak atas Adam. Ray juga berhak memberi nama putranya. Setelah kalian menikah nanti, apa-apa pun harus kamu bincangkan dengan suami kamu, ingat itu Me!" nasehat Bunda sembari mengelus rambut Medina dengan sayang. Medina tersenyum dan mengiyakan perkataan bundanya. Medina berjanji akan selalu berada di sisi laki-laki baik hati itu.


Kring kring kring.


Ponsel Bunda berdering. Ada nama Alif terpampang di layar telepon.


"Ya Allah, anak Bunda yang satu ini. Pagi-pagi buta sudah menelepon," kata Bunda.


"Kan waktu sini dan Indonesia berbeda Bunda. Di Indonesia pasti masih sore." Medina menjelaskan.

__ADS_1


" Ah,iya ... bunda lupa." Bunda terkikik geli.


"Assalamualaikum Bunda," sapa Alif dari jauh sana. Rupanya pemuda itu melakukan panggilan video.


"Waalaikumsalam, ada apa bocah nakal?" seloroh Bunda.


"Bunda tega, meninggalkan Alif sendirian dirumah. Alif nggak diizinkan ikut. Padahal Alif kan juga mau lihat keponakan Alif yang paling lucu? Alif mengerucutkan bibir pura-pura marah.


"Kamu kira Bunda di sini bersenang-senang? Kamu kira ongkos pulang pergi dari sini ke Indonesia murah hingga kamu mau ikut?"


"Kalau kamu mau sampai di sini, usaha dong. Tunjukkan prestasi kamu, kamu bisa kuliah di sini dengan mengejar bea siswa seperti kakakmu. Kamu pahamilah keadaan Bunda yang tak seberapa kaya untuk menyekolahkan kamu di universitas sebagus ini, semahal ini," omel Bunda.


"Iya, iya ... Alif juga tengah berusaha agar seperti Kakak, Bun. Tapi kalau menunggu Alif kuliah di sana keburu anak Kak Me besar," gurau Alif.


"Mana baby ? Alif mau lihat baby Bunda," rengek Alif layaknya anak kecil yang meminta permen.


"Baby Adam di box bayi Lif."


"Oh jadi namanya Adam? Bunda kan bisa arahkan kamera ke baby Adam, aku Pamannya, Bun. Aku ingin berkenalan juga," jawab Alif asal.


"Kalau kamu sadar kamu pamannya. Beri contoh yang baik pada Adam. Jangan minta uang jajan lagi pada Bunda. Nggak malu sama baby Adam sudah gede masih suka minta uang?" goda Bunda.


"Ahhh, Bunda. Tapi kan Alif masih sekolah? belum bisa kerja? Bagaimana dong?"


"Ya Allah ... lucunya. Tampan kayak om Alif," kata Alif narsistik.


"Salah ... Adam itu adalah wujud Ray kecil. Lihatlah Lif, dia sangat mirip dengan kakak iparmu," kata Bunda bahagia.


"Iya ... Iya ... Alif percaya, baby Adam punya Papa Ray yang ganteng."


"Baby ... pulanglah ke Indonesia. Baby Adam tak ingin berjumpa dengan Paman? Kalau baby sudah pandai jalan nanti, Paman ajari main bola deh," tutur Alif.


"Iya Paman, tunggu Adam pulang ke Indonesia ya?" Bunda menjawab dengan suara anak kecil.


"Ya sudah ya, Lif. Jaga diri kamu. Jangan keluyuran. Jaga rumah baik-baik," nasihat Bunda.


"Iya ... iya, beres."


"Ya sudah. Assalamualaikum Bunda. Dadah dedek tampan." Alif melambaikan tangannya ke arah Adam.


"Waalaikumsalam," jawab Bunda menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Me, kayaknya Bunda dan Oma harus pulang dulu ke apartemen kamu. Kasihan kalau Oma kecapekan," kata Bunda.

__ADS_1


"Iya Bunda, Bunda ajak saja Oma pulang. Kasihan Oma. Kayaknya nanti Mas Ray juga ke sini deh. Jadi kalian jangan khawatir. mudah-mudahan hari ini sudah boleh pulang," kata Medina tersenyum.


"Ya sudah ya sayang Oma dengan Oma buyut pulang dulu ya," pamit Bunda dan Oma.


"Kami pulang dulu ya Nak. Maklumilah keadaan Oma yang tua renta ini," pamit Oma pada Medina.


"Mana mungkin Omanya Medina tua renta? Omanya Medina kan wonder woman," kata Medina cekikikan.


"Bisa saja kamu. Pandai ya kamu mengata orang tua." Oma pura-pura marah.


"Maaf Oma. Me Bercanda." Medina terkekeh geli.


Akhirnya Oma dan Bunda benar-benar meninggalkan Medina dan Adam. Untung saja Adam tidur anteng, tidak rewel.


Medina meraih ponselnya mengetikkan nama Ray dan segera membuat panggilan. Namun, kini Medina harus menelan kekecewaannya. Ponsel Ray tidak aktif.


l"Dimana kamu Mas? Medina khawatir."


Sementara itu di wilayah Boston


"Berapa lama lagi montirnya datang Cris?" tanya Ray tak sabar.


"Sekitar dua puluh menit lagi Tuan," kata Cristian.


"Telepon lagi Cris!" perintah Ray.


"Maaf Tuan, sinyal menghilang." Cristian menunjukkan layar ponselnya.


"Kalau aku tahu akan begini, lebih baik kamu yang bawa mobil pulang ke Cambrige. Aku bisa naik pesawat," gerutu Ray.


"Padahal tinggal dekat saja kenapa harus mogok?" Ray tak hentinya menggerutu.


Ray merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


"Argggh, kenapa semalam pakai lupa menge- charge ponsel," geram Ray menggunakan bahasa Indonesia yang tak dimengerti oleh Cristian. Cristian terbengong-bengong tidak paham apa yang bosnya katakan.


"Bagaimana ya Cris?" tanya Ray gelisah.


"Maaf Tuan, tak ada yang bisa kita lakukan. Ini kawasan hutan. Sinyal sedikit susah Tuan." Cristian menggedikkan bahunya.


"Jarang taksi yang mau dipanggil ke sini Tuan. Karena kebanyakan taksi yang dipanggil ke daerah ini menjadi korban modus perampokan," kata Cristian membuat Ray sedikit ngeri.


"Pasti Medina dan baby Adam sudah menungguku." Tubuh Ray lemas. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu datangnya bantuan.

__ADS_1


__ADS_2