Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kecemburuan Adam


__ADS_3

Adam pulang ke rumah dengan dipenuhi emosi. Perkataan Aldo dan bukti-bukti pertemuan Haura dengan Alvian masih jelas di ingatannya. Adam marah dan begitu cemburu. Pikirannya tak tenang dan kacau. Tapi apa yang harus ia perbuat? Wanita itu bahkan tak ada di hadapannya, Haura belum pulang ke rumahnya. Ingin ia bertanya pada Haura kapan wanita itu pulang. Tapi Adam enggan, ia masih terlalu marah pada istrinya. Berani-beraninya wanita itu menemui Alvian di belakangnya.


Adam melangkah dengan gontai. Pria ity terlalu kalut untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. Karena tak mungkin ia menyusul istrinya. Besok ada pertemuan penting dengan klien. Tak mungkin bolak-balik ke kota P dalam waktu semalam. Apalagi pasti mertuanya akan bertanya-tanya. Adam merasa frustasi karena setidak berdaya itu.


Pintu terbuka dan rumah yang ia tinggalkan dalam kondisi gelap, kini dalam keadaan terang benderang oleh cahaya lampu. Rumah yang sedikit berantakan kini menjadi rapi dan bersih.


Aroma wangi masakan memenuhi indera penciumannya. Wangi khas masakan istrinya. Menggoda perutnya yang terasa sangat lapar. Membuat Adam sangat yakin jika 'wanita itu telah pulang'.


"Assalamualaikum," ucap Adam melepaskan sepatunya.


"Waalaikumsalam." Terdengar suara kompor dimatikan. Wanita itu bergegas menghampirinya dengan senyum manis. Dan seperti biasanya, ia mengecup punggung tangan suaminya.


"Mas, sudah pulang? Sini Rara bawakan tasnya. Mas mau mandi atau makan dulu?" tanya Haura dengan mata yang berbinar. Lain dengan Adam, wajahnya masih kusut dan masam. Yang Haura tahu, suaminya pasti lelah setelah bekerja seharian.


"Ayo makan dulu! Mas lapar," ucap Adam dengan tatapan datar. Haura merasa ada yang aneh dengan suaminya. Tapi ia tak ingin berpikiran buruk lagi. Dalam hati sudah berjanji akan menjadi istri yang baik.


Mereka menikmati makan malam dengan kebisuan, tanpa sepatah kata pun. Haura yang menyadari mood suaminya yang buruk juga tak berani bertanya. Tak ingin merusak hubungan mereka yang baru saja membaik. Padahal jika bisa wanita itu ingin memeluk tubuh kekar suaminya saat itu juga.


"Mas capek? Mau Rara pijat?" tawar Haura pada Adam yang kini merebahkan diri di sofa ruang keluarga. Pria itu menutup matanya dengan menggunakan lengan kanannya yang kekar.


"Tidak perlu. Nanti saja."


"Mau mandi sekarang? Rara siapkan air hangat untuk berendam ya? Biar Mas Adam rileks," ucap Haura dengan lemah lembut.


"Hem," jawab Adam dengan enggan. Haura masih berusaha bersabar menghadapi suaminya.


Setelah menyiapkan air hangat untuk berendam dan menaruh wewangian aromaterapi ke dalam air, ia memanggil suaminya. Adam masuk ke kamar mandi dan sudah melepas seluruh pakaiannya, hanya sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.


"Persiapkan dirimu. Pakailah baju yang Mas siapkan di tempat tidur itu dan pakailah parfum. Tunggu aku di ranjang," bisik Adam membuat wajah Haura merona seketika. Ia segera keluar dari kamar mandi dengan degup jantung yang tak beraturan.

__ADS_1


Adam segera masuk ke dalam bathup dan mencoba merilekskan tubuhnya. Namun sayang, foto-foto haura bersama Alvian berputar-putar di pikirannya membuat ia segera beranjak dari bathup. Tak jadi menikmati sesi berendamnya. Ia segera membilas diri dengan air shower dan keluar dari kamar mandi dengan tak sabar.


Di dalam kamar, Haura segera memakai gaun tidur yang sudah dipersiapkan oleh Adam. Haura sebenarnya tak ingin memakai gaun yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Ia malu memakainya, karena bahan gaun sangat tipis. Namun, ia takut Adam akan semakin murka. Sehingga terpaksa memakainya. Tak lupa ia memakai parfum yang dibelikan Adam. Sehingga Haura terlihat sangat seksi dan segar.


Haura segera naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Gadis itu malu melihat penampilannya sendiri. Segera ia mengambil novelnya dan membacanya. Entah benar-benar membaca ataukah hanya untuk mengalihkan rasa gugupnya. Wanita itu benar-benar gugup dan perasaannya bercampur aduk.


Ceklek


"Ra, bagaimana kabar ayah? Baik-baik saja kan?" tanya Adam tiba-tiba setelah keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai sebuah bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Adam sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ba-baik Mas. Seperti waktu Mas di sana juga kan baik?" jawab Haura tersipu. Ia menunduk dalam-dalam, melihat bentuk tubuh suaminya. Entah apa yang akan terjadi malam ini.


"Lalu, bagaimana kabar Alvian?" tanya Adam dengan nada sinis. Haura yang semula menunduk kini mendongak menatap mata suaminya. Bagaimana bisa Adam menanyakan tentang Alvian padanya.


"Vian? Kenapa Mas tiba-tiba menanyakan Vian pada Rara?" tanya Haura keheranan.


"Mas ... sebenarnya kemarin ...." belum sempat wanita itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Adam mendekat dan meletakkan telunjuknya di bibir Haura. Meminta istrinya untuk menghentikan penjelasannya.


"Ssttt ... tak perlu dijelaskan lagi sayang." Kini tangan Adam bergerak nakal membelai pipi Haura. Membuat seluruh tubuh gadis itu meremang. Detak jantungnya semakin menggila.


"Kamu cantik Ra. Malam ini adalah malam yang spesial untuk kamu." Adam menarik tengkuk Haura dan menempelkan bibirnya ke bibir Haura dan memagut mesra. Wanita yang tak berpengalaman itu hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Menikmati apa yang diberikan suaminya.


Tapi tiba-tiba Adam membalikkan badannya dan memelintir tangan Haura.


"Aduh Mas, sakit ...," erang wanita itu tak dapat bergerak. Sekarang posisinya menelungkup dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Adam mencengkeram kedua tangan istrinya hanya dengan menggunakan tangan kirinya. Dia menindih tubuh Haura dari belakang.


Tangan kanan Adam bergerak mencari ponsel di atas nakas. Setelah membuka kunci ponsel, ia membuka galeri yang berisikan beberapa foto Haura bersama Alvian di pantai. Haura menatap tak percaya pada foto-foto itu. Bagaimana bisa pertemuan singkatnya dengan Alvian bisa di ketahui oleh Adam. Ia bukan sengaja menemui mantan kekasihnya, hanya kebetulan saja mereka bertemu di pantai.


"Apa ini Ra? Jelaskan!" bentak Adam murka.

__ADS_1


"Lepaskan Rara Mas, Rara akan jelaskan semua."


"Jelaskan apa lagi? Waahhh ... romantis sekali ya? Jalan-jalan di tepi pantai berduaan sambil berpegangan tangan. Kamu senang kan? Pasti 'cinta lama bersemi kembali'. Iya kan? Setelah ini kamu mau meninggalkan aku dan kembali pada kekasihmu itu, ya? Jawab Ra!" bentak Adam masih dalam posisi menindih istrinya.


"Sakit Mas ... sakit ...." Gadis itu kini mulai menitikkan air mata.


"Rara ke pantai bersama Hana dan Fauzan. Rara menemani Hana dan Uzan bermain. Dan tak sengaja bertemu Vian. Kami hanya berbicara sebentar saja Mas," ucap gadis itu terisak-isak.


"Benarkah? Sayangnya aku tak sebodoh itu." Adam masih belum melepaskan Haura.


"Iya Mas. Alvian menemuiku untuk mengajak Rara memulai hidup bersamanya. Vian meminta Rara untuk meninggalkan Mas Adam. Tapi percayalah! Rara tak akan pernah melakukan hal itu."


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf kek rooler coaster aku ombang-ambingkan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2