Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Pergi


__ADS_3

Keesokan harinya, Adam pergi ke kantor lebih awal. Ia sengaja bangun pagi-pagi dan meninggalkan rumah sebelum wanita itu bangun. Ia ingin menghindari Haura, belum sanggup bertatap muka dengannya. Ada rasa bersalah dan menyesal melingkupi hati Adam. Adam juga menyadari akan adanya tatapan kebencian yang Haura tunjukkan ketika ia mengambil mahkotanya dengan paksa. Adam yakin, istrinya akan membencinya setelah ini. Bahkan, hubungan mereka akan kembali ke titik awal. Saling membelakangi dan memunggungi. Akan sangat sulit dipersatukan kembali.


Namun, di sisi lain setan dalam dirinya seakan membenarkan semua perbuatan kejamnya. Ia merasa semua yang terjadi adalah haknya. Tubuh wanita itu sepenuhnya miliknya. Tak ada yang salah jika ia memaksa Haura untuk melayaninya. Dan mengenai penganiayaan yang ia lakukan, lelaki itu hanya ingin menunjukkan kekuasaannya. Tak ingin jika Haura sampai mengkhianatinya. Ia begitu cemburu hingga ia khilaf menyakiti istrinya.


Adam menyesal kenapa ia tak bisa menahan diri dan bisa berbuat sekejam itu tadi malam. Entah setan mana yang merasukinya. Adam merutuki dirinya sendiri, mengapa ia tak dapat menahan emosinya. Pikirannya begitu gelap diselimuti amarah. Melupakan hati nuraninya sehingga ia sudah kehilangan akal sehat.


Semalaman penuh, ia memilih tidur di sofa ruang keluarga. Takut tak bisa menahan diri dan menerkam istrinya lagi. Karena semalaman Haura pingsan dan tak berpakaian. Jangankan untuk tidur bersama, untuk menyelimutinya saja ia tak sanggup. Takut kalah lagi dengan godaan setan. Takut akan lebih menyakiti Haura. Sehingga ia memilih menjauh daripada menyakiti istrinya lagi.


Adam tidur dengan gelisah dan merasa sangat bersalah. Hingga fajar menjelang, ia baru bisa memejamkan mata. Sehingga ia bangun tidur dengan wajah yang kusut.


Sebelum pergi, ia mengintip keadaan Haura yang mengenaskan karena perbuatannya. Hati Adam seperti disayat. Melihat wanita polos itu terluka lahir batin karena perbuatannya. Ia memilih segera pergi dan menghindar.


"Maafkan aku Haura," gumamnya seorang diri. Wanita yang masih terlelap itu bahkan tak dapat mendengar perkataan suaminya.


Beberapa waktu kemudian, Haura terbangun dengan sekujur tubuh yang sakit. Wanita itu kembali menangis mengingat semua perbuatan Adam tadi malam. Tubuhnya remuk redam. Sungguh biadab suaminya, memperlakukan dirinya seperti itu.


Dengan tertatih, menahan sakit di punggung dan bagian intinya ia menuju kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa lengket karena suaminya. Bau Adam terasa di seluruh tubuhnya. Dan Haura benci hal itu. Dia jijik dengan dirinya sendiri.


Wanita itu merasakan sakit dan nyeri ketika ia buang air kecil. Entah bagaimana lelaki itu mengoyaknya tanpa ampun hingga ia merasakan sakit begitu. Mengingatkan lagi dengan penyiksaan yang dilakukan suaminya. Ia menangis lagi.


Ia menyalakan shower untuk membasuh tubuhnya. Kemudian ia mengambil cairan sabun yang begitu banyak. Ia gunakan untuk menggosok seluruh tubuhnya. Seakan-akan ada kotoran yang harus ia enyahkan dari tubuhnya. Ia memandang pantulan tubuhnya di cermin kamar mandi. Semuanya merah kebiruan. Ada bekas hisapan dan ada bekas gigitan.


Haura menggosoknya lagi dengan tangannya. Berharap semua jejak itu menghilang. Lama ia membersihkan diri. Hingga ia menggigil kedinginan dengan kulit yang membiru pucat. Barulah ia keluar dari kamar mandi.


Wanita itu segera mengganti bajunya. Takut-takut jika suaminya kembali dan akan menerkamnya.


Selesai mengganti pakaian, Haura mengambil koper miliknya. Ia memasukkan semua baju usangnya ke dalam koper tanpa membawa baju-baju bagus yang Adam dan mama mertuanya belikan. Ia tak membawa apa pun, bahkan ponsel yang dibelikan Medina tak ia bawa. Haura hanya membawa sedikit uangnya untuk membayar taksi nanti.


Haura memperhatikan keadaan sekeliling rumah. Ia bernafas lega, karena sumber dari kesakitannya tak ada di rumah. Segera ia memanggil taksi dan turun ke bawah menunggu taksi datang. Keputusannya sudah bulat, ia tak sanggup lagi mendampingi Adam. Atau mungkin sementara ia tak mau bertemu dengan suaminya yang seperti iblis itu. Urusan pernikahan mereka biarlah ia pikirkan nanti ketika ia sudah tenang.


Tak lama menunggu, taksi sudah datang. Ia segera naik taksi dan meninggalkan rumah itu. Rumah yang menyiksa ia lahir dan batin. Rumah yang memberikan ia segala penderitaan itu.


***

__ADS_1


"Rara?" Wanita itu bergitu shock melihat keadaan sahabatnya yang memilukan. Wanita itu datang dengan wajah pucat dan sembab. Dengan membawa sebuah koper besar. Elsa menatap kondisi sahabatnya yang pelik tanpa berkedip. Ia yakin sahabatnya sedang dalam masalah.


"Kenapa Ra?" Elsa mengguncangkan lengan Haura. Ia menatap tajam wajah sendu sahabatnya.


"Aw ...." Haura merintih karena tanpa sengaja Elsa menyentuh bekas luka cambukan.


"Ma-maaf ... Ayo masuk Ra!" ajak Elsa membimbing Haura masuk ke dalam apartemennya. Ia menyentuh Haura dengan ragu, takut menyakiti sahabatnya. Dalam benak Elsa berkecamuk, apa yang terjadi hingga disentuh saja sahabatnya kesakitan.


"Duduk dulu Ra. Aku ambilkan minum!" Elsa meninggalkan Haura di ruang tamu dan membuatkan sahabatnya minuman dingin. Lima menit kemudian, Elsa datang dengan segelas orange jus.


"Minum dulu Ra!" perintah Elsa dengan iba. Dengan bibir bergetar, Haura menyesap minuman yang dibuatkan oleh Elsa.


"Ceritakan Ra! Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Elsa khawatir.


"Hu..hu..hu.." Haura menangis sesenggukan.


"Rara ...." Elsa menarik Sahabatnya ke dalam pelukannya.


"Kenapa Ra? Apa yang terjadi padamu?" Elsa ikut menangis tanpa alasan.


"Boleh, tapi kamu harus menjelaskan padaku!"


"M-mas Adam ...."


"Kenapa dengan suamimu, Ra?" tanya. Elsa tak sabar. Haura menaikkan kaos lengan panjangnya dan menunjukkan seluruh luka di tubuhnya yang membiru.


"Astagfirullah Ra ... Siapa yang melakukan Ini Ra?" Haura terdiam membisu, ia menangis.


"Jangan katakan kalau suamimu yang melakukannya," ucap Elsa marah. Haura mengangguk lemah.


"Ya Allah Ra ... betapa malang nasibmu," Elsa memeluk sahabatnya hati-hati dan keduanya menangis tersedu-sedu.


"Kau tahu El ... dia ... dia ... memperlakukan aku seperti binatang El. Mas Adam memperkosaku tanpa ampun, hiks hiks," tangisnya pilu.

__ADS_1


"Ap-apa?" Elsa semaki tersedu membayangkan penderitaan Haura. Ia memeluk Haura erat-erat.


"Bolehkan El? Aku tinggal di sini?" tanya Haura lirih.


"Itu kita bicarakan nanti. Kita obati dulu lukamu ini Ra." Elsa menggenggam jemari Haura dan membawanya ke kamar.


"Buka bajumu Ra!" perintah Elsa.


"Aku malu dan jijik melihat tubuhku sendiri El."


"Buka saja Ra. Aku akan mengobati lukamu. Jika kamu tak tahan untuk melihatnya, kamu tutup mata saja."


Dengan perlahan, Elsa membantu membuka kaos yang dipakai Haura. Haura menutup matanya enggan menatap keadaan dirinya sendiri. Elsa dapat melihat jejak kebrutalan Adam di sana sini. Pantas saja Haura malu, bekas hisapan dan bekas gigitan di sana-sini. Dan punggung putihnya berubah menjadi biru karena perbuatan biadab suaminya.


"Tahan sedikit ya Ra," ucap Elsa menangis seraya mengoleskan salep luka di punggung Haura. Gadis itu tak bisa menahan air matanya melihat penderitaan sahabat karibnya.


"Malangnya nasibmu Ra," batin Elsa sedih.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Waaa... banyak sekali komentar episode kemarin. Maaf ngga bisa balas satu per satu.


Love you all readers....


__ADS_2