
Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam membisu. Rencana untuk jalan-jalan di mall sore itu hancur berantakan. Karena melihat wajah kakak iparnya yang pelik, Mikha memutuskan untuk mengakhiri upayanya untuk mempersatukan kakaknya. Mikha rasa sementara cukup sampai di sini dulu.
Mikha sangat tidak enak hati, karena ia sudah bersekongkol dengan kakaknya untuk merencanakan hal ini. Apalagi selama perjalanan, kakak iparnya diam saja. Tak menunjukkan rasa marah sama sekali. Membuat Mikha lebih takut, jika tindakannya bisa berakibat fatal pada kejiwaan kakak iparnya.
Mikha juga sedikit gugup, takut jika papanya mengetahui apa yang telah terjadi. Pasti papa Ray akan sangat marah jika tahu dirinya membantu Adam. Tapi demi apa pun juga, Mikha tak menyesali tindakannya. Mikha tak ingin keduanya berpisah. Mikha ingin Adam dan Rara bersatu kembali.
Karena gelisah, akhirnya Mikha memberanikan diri untuk buka suara, "Kak, maafkan Mikha."
"Untuk apa?" jawab wanita itu acuh tak acuh. Menambah rasa bersalah dalam hati Mikha.
"Kak Rara baik-baik saja? Ampuni Mikha Kak. Mikha tahu Mikha bersalah," sesal gadis manis itu.
"Nggak papa, Dek. Jangan khawatir, Kakak baik-baik saja." Wanita itu menepiskan senyuman yang sedikit ia paksakan. Mikha tak tahan lagi untuk tidak menangis, perasaan bersalahnya semakin besar.
"Lho kok nangis? Jangan nangis dong. Kakak hanya ... hanya belum siap untuk bertemu dengan Kak Adam. Ini terlalu tiba-tiba."
"Be-benarkah Kakak tidak apa-apa? Mikha takut Kak Rara akan sakit lagi."
"Shhhh ... sudah jangan menangis lagi. Atau Mama akan bertanya macam-macam. Lihatlah Kakak baik-baik saja." Haura merengkuh adik iparnya ke dalam pelukan. Ia sebenarnya sedikit kesal dengan semua yang Mikha lakukan. Namun ia tahu Mikha ingin yang terbaik untuknya dan Adam. Haura tak tega melihat adik iparnya menangis karenanya.
"Mikha tahu, Mikha mungkin terdengar egois. Tapi Mikha ingin Kak Rara dan Kak Adam bersama lagi. Mikha ingin kalian bahagia," ucap gadis itu sembari menyeka air matanya yang membanjir dengan lengan kausnya.
"Iya sayang, cukup menangisnya." Hanya kalimat itu yang dapat Haura ucapkan.
Haura mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengusap wajah Mikha yang penuh air mata dengan penuh kasih sayang. Satu hal yang membuat Haura terenyuh, di balik kebawelan dan keisengan Mikha. Ternyata gadis belia itu begitu halus perasaannya. Mudah merasa dan sangat menyayanginya.
"Maafkan Kak Rara ya sayang. Kak Rara hanya butuh waktu. Biar waktu yang akan menjawab segalanya. Jika Kak Rara dan Kak Adam berjodoh, kakak yakin akan ada jalan untuk kami."
***
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Dengan terburu gadis itu ingin segera masuk ke dalam kamarnya.
"Kak, Mikha masuk ke kamar dulu ya?" Gadis itu menunduk karena malu dengan wajah sembabnya.
"Iya, kamu beneran nggak papa kan, sayang?" Haura memastikan adik iparnya baik-baik saja.
"He'em ... Mikha masuk dulu Kak." Mikha berlari menuju kamarnya, tak ingin mama dan papanya tahu dirinya baru saja menangis.
__ADS_1
"Lho kok cepat sekali, sudah pulang?" tanya Medina yang berpapasan dengan Mikha di ruang tamu.
"Iya Ma," jawab Mikha singkat menyembunyikan wajahnya. Tak perlu waktu lama, gadis itu berlari masuk kamar dan menguncinya.
"Lho ada apa ya, Pa?"
"Papa nggak tahu dong Ma. Mama nggak kasih uang saku ya tadi?" gurau Ray.
"Sudah kok ...." Ucapan Medina terhenti ketika melihat wajah yang sama sedihnya memasuki rumah. Medina jadi tahu, pasti ada masalah dengan putri dan menantunya.
Haura mendekat dan menyalami kedua mertuanya dengan takzim.
"Nak, ada apa dengan Mikha? Kenapa Mama lihat sepertinya anak itu habis menangis?" tanya Medina tak sabar.
"Eh, itu ... anu Ma."
"Hmm?" Medina mengernyitkan keningnya semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Mana mungkin Mikha menangis. Mungkin Mikha hanya lelah." Haura berusaha menyembunyikan hal yang terjadi. Takut adik manisnya mendapatkan amarah kedua mertuanya.
"Oh begitu, ya sudah kamu juga istirahat saja kalau begitu," ucap Medina tersenyum.
***
"Mikha, buka pintunya sayang. Mama buatkan jus mangga kesukaan kamu." Hening. Tak ada suara sedikit pun dari dalam kamar Mikha. Hingga Medina mengulang memanggil putrinya.
"Mikha ... Mikha sayang," panggil Medina khawatir.
Ceklek, pintu terbuka.
Nampak gadis belia itu menguap dengan wajah bantalnya. Masih ada sisa sembab di wajah manisnya.
"Boleh Mama masuk?" tanya Medina.
"Masuk saja Ma. Biasa juga langsung masuk tanpa harus minta izin Mikha."
"Anak gadis Mama sudah dewasa ternyata ya? Pintar sekali bicara seperti itu." Medina meletakkan nampan yang berisi segelas jus itu di atas nakas.
__ADS_1
"Iya Ma. Mikha kan memang sudah besar. Hanya saja, Mama dan Papa terkadang memperlakukan Mikha seperti anak kecil." Medina terkekeh geli melihat ekspresi anaknya yang bersungut-sungut menggemaskan.
"Nak, kenapa kamu tadi menangis?" tanya Medina mengelus rambut anaknya dengan sayang. Seorang ibu memang peka. Sepandai-pandai anaknya menyembunyikan segalanya, seorang ibu pasti tahu dan dapat merasakannya. Ikatan batin ibu dan anak terlalu kuat.
"Eng-gak siapa juga yang menangis?"
"Mama mengenal Mikha lebih baik dari siapa pun. Mikha tak bisa membohongi Mama."
"Maafkan Mikha ya Ma." Mikha menceritakan semua yang terjadi termasuk dengan kesedihan Mikha yang melihat kakaknya terlihat tak baik.
"Mama tahu, niat Mikha baik. Tapi itu urusan orang dewasa. Lebih baik Mikha jangan ikut campur. Bukan apa sayang, Mama takut nanti kamu ikut terluka. Urusan orang dewasa terlalu rumit, Nak. Sudah, biarkan Kak Adam dan Kak Rara yang menyelesaikannya sendiri. Dan apa kamu lupa? Ada Mama dan Papa di sini. Mama akan berupaya sekuat tenaga agar semua baik-baik saja. Mama juga berharap mereka akan bersatu lagi."
"Ta-tapi bukankah Mama dan Papa bilang akan mengurus perpisahan mereka?" Pertanyaan Mikha membuat Medina tersenyum.
"Kalau Mama dan Papa benar-benar ingin memisahkan mereka. Mungkin saat ini Kak Adam dan Kak Rara bukan suami istri lagi. Kamu tenang saja. Kalau mereka saling mencintai mereka akan bersama lagi, kok."
"Terima kasih Ma. Lega hati Mikha mendengarnya."
"Oh ya Ma. Apa tidak sebaiknya Mama sempatkan waktu untuk menengok Kak Adam? Mikha kasihan lihat Kak Adam. Dia terlihat lebih kurus, wajahnya pucat dan matanya menghitam. Mikha rasa Kak Adam juga tak baik-baik saja."
"Iya sayang, kapan-kapan Mama akan ke rumah Kakak. Mama juga merasa jika Mama terlalu mengabaikan Kakak. Mungkin saat ini Kak Adam sedang sedih dan kesepian. Masalah Kak Rara, serahkan pada Mama. Jangan risau, okay?"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Gaje nggak sih, jujur author bodoh lagi buntu kehabisan ide untuk menyambungkan dengan cerita selanjutnya 😂😂😂
Tetap tak tahu malu, author minta jempol ya 😜😜